Unlikely Pair

Unlikely Pair
Berhasil!


__ADS_3

Suatu sore yang cerah, Chloe duduk di kafe yang nyaman. Kafe itu berdinding luar dari batu-batu gunung kuno sehingga tampak seperti gua tersembunyi. Kursi dan mejanya terbuat dari furnitur kayu pedesaan. Pencahayaan sekitarnya lembut, dan begitu kia membuka pintu, aroma wangi kopi langsung tercium. Dindingnya putih polos tanpa hiasan satu pun sehingga memantulkan cahaya lampu dengan sempurna menciptakan nuansa hangat. Tidak ada interior berlebihan semua diletakkan sesuai fungsinya, menciptakan suasana akrab dan nyaman bagi para pengunjung. 


Musik jaz yang lembut dimainkan sebagai latar belakang, menambahkan sentuhan syahdu. Kafe itu dihiasi dengan rak-rak buku, menunjukkan kecintaan pemiliknya pada sastra dan kreativitas. Pelanggan duduk bersandar di kursi mewah, asyik dengan dunia mereka sendiri atau terlibat dalam percakapan yang hidup tapi tetap tenang. Kafe itu menciptakan lingkungan ramah bagi para siswa yang hendak belajar atau berdiskusi serius. 


Chloe duduk di sudut favoritnya sambil menyeruput secangkir latte kesukaannya. Secangkir kopi yang menenangkan, suasana hangat dan nyaman, berpadu dengan cahaya lembut dari lampu redup dan aroma menenangkan dari minuman yang baru diseduh, membuat Chloe tenggelam dalam pikirannya, merenungkan langkah selanjutnya dari karier menulisnya.  Tiba-tiba Tyler datang dan duduk di kursi di seberangnya, senyum hangat di wajahnya.


“Apa kau keberatan kalau aku bergabung denganmu?" Tyler bertanya, dengan suaranya beratnya.


Choe terlonjak. Lamunannya pun seketika buyar. Lalu tawanya pecah. “Tentu saja boleh.” Mata Chloe berbinar saat dia memberi isyarat agar dia duduk. "Aku sengaja mengundangmu untuk merayakan sesuatu."


Tyler duduk di seberang Chloe di kedai kopi, senyum hangat tersungging di wajahnya saat Chloe berbagi aspirasi dengannya. "Aku mulai menulis lagi," katanya, matanya berbinar-binar. “dan puisiku dimuat di majalah sastra internasional” pekik Chloe gembira.


“Ya… aku tahu. Jack menceritakan itu seharian di klub basket.” Tyler pura-pura cemberut membuat Chloe kecewa kejutannya ternyata tidak istimewa. Walaupun dia senang mendengar Jack membanggakannya di hadapan teman-temannya di klub basket, tetap saja sore ini dia ingin mengejutkan Tyler.


Tyler mencondongkan tubuh ke depan, matanya berbinar antusias. "Chloe! itu berita yang luar biasa! Aku tahu hanya masalah waktu sebelum bakatmu diakui. Selamat!" Mata Tyler melebar, campuran kebanggaan dan kegembiraan menerangi wajahnya. “Aku senang mendengarnya.” kata Tyler tulus. "Aku telah membaca puisimu, dan harus kukatakan bahwa puisimu luar biasa mengagumkan. Kata-kata yang kamu gunakan menyentuh hati dan melukiskan gambaran yang hidup di benak pembaca."

__ADS_1


“Benarkah?” Chloe tersipu malu, menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya. Senyum terkembang di bibir Chloe.


"Sungguh. Aku telah membaca puisi itu berkali-kali dengan cermat, dan kata-kata yang kamu gunakan membuatku sangat terkesan. Tulisanmu benar-benar puitis. Kamu hebat!"


Pipi Chloe memerah saat dia menerima pujiannya dengan rasa terima kasih. "Terima kasih, Tyler. Dukunganmu sangat berarti bagiku."


Tyler bersandar di kursinya, ekspresinya sungguh-sungguh. "Chloe, aku ingin kamu tahu. Bakatmu bukan satu-satunya alasan aku kagum padamu. Tapi semangatmu menghadapi tantangan yang tak terhitung jumlahnya dan tampil lebih kuat setiap saat. Itulah yang membuatku terpesona."


Chloe semakin merona malu. "Terima kasih, Tyler. Dukunganmu sangat berarti bagiku. Aku tidak bisa sampai sejauh ini tanpamu."


Tyler senang sekali mendengarnya. "Chloe, aku selalu percaya padamu, pada bakatmu dan ketangguhanmu. Melihatmu mengejar impianmu dengan penuh semangat itu membuatku kagum. Kuharap, kamu bisa terus menulis dan tidak pernah meragukan dampak kata-katamu pada dunia."


Tyler mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya mengunci manik mata Chloe. "Chloe, kamu berbakat. Kamu memiliki perspektif unik dan menyuarakan masalah yang perlu didengar dunia. Jangan biarkan rasa takut menahanmu dari mimpimu. Ambil kesempatan dan lihat ke mana itu membawamu."


Hati Chloe dipenuhi kehangatan, tersentuh oleh keyakinan Tyler yang tak tergoyahkan padanya. "Terkadang, aku masih merasa sulit percaya pada diriku sendiri. Tapi kamu yang selalu menyemangatiku, itu memberiku rasa percaya diri."

__ADS_1


Tyler mengulurkan tangan ke seberang meja, dengan lembut meletakkan tangannya di atas tangan Chloe. "Chloe, keraguan diri itu alami. Tapi jangan biarkan hal itu menghalangi langkahmu. Kamu memiliki cerita yang perlu disuarakan pada seluruh pembaca."


Hati Chloe berbunga-bunga mengetahui bahwa Tyler sangat yakin pada bakat menulisnya dan keyakinan itu tak tergoyahkan oleh apa pun. Tyler telah menjadi sandaran hatinya melalui masa-masa suka dan duka. Sahabatnya ini selalu menyediakan telinga yang mendengarkan, menawarkan kata-kata bijak, dan merayakan setiap pencapaiannya. Persahabatannya telah menjadi sumber kekuatan, pengingat bahwa dia tidak sendirian dalam menjalani hidup di Arcadia ini.


Tatapan Chloe bertemu dengan Tyler, campuran tekad dan kerentanan bersinar di matanya. "Aku akan berusaha, Tyler. Aku ingin kata-kataku bisa menyemangati pembacaku seperti kamu yang selalu menyemangatiku."


Senyum Tyler meyakinkan. "Kamu pasti bisa. Ketika jalanmu terasa sulit, aku akan berada di sini, menyemangatimu. Kau memilikiku dan….” Tyler berhenti sejenak. “Dan… Jack di sisimu."


"Aku bersyukur memilikimu di sisiku, Tyler," aku Chloe, suaranya penuh ketulusan. "Dukunganmu kokoh dan tulus. Kamu membantuku menemukan keberanian mengejar mimpi-mimpiku. Aku benar-benar senang bersahabat denganmu."


Senyum Tyler melebar, dan dia mengulurkan tangan ke seberang meja, dengan lembut meletakkan tangannya di atas tangan Chloe. "Chloe, suatu kehormatan bagiku bisa menjadi bagian dari perjalanan hidupmu di Arcadia. Melihatmu tersenyum bahagia membuatku juga sangat bahagia. Kamu ditakdirkan untuk menjadi hebat, dan aku akan selalu ada di sini, menyemangatimu."


Hati Chloe dipenuhi rasa terima kasih atas dukungan Tyler yang tak pernah usai. Dia tahu bahwa dia percaya padanya bahkan ketika dia tidak percaya pada dirinya sendiri. "Terima kasih, Tyler," katanya, air mata mengalir di sudut matanya. "Aku perlu mendengarnya."


Tyler meraih tangannya, meremasnya untuk meyakinkan. "Aku akan selalu ada di sini untuk mendukungmu, Chloe. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan."

__ADS_1


Pada saat itu, Chloe menyadari Tyler sangat mempengaruhi hidupnya. Tyler telah menjadi sahabat, cheerleader, dan seniornya. Tanpa Choloe sadari, dan tanpa dapat dikendalikan lagi, persahabatannya dengan Tyer telah melampaui batas-batas norma persahabatan. Chloe waswas, tapi juga senang. Bukankah persahabatan sejati dapat terjalin di antara cowok-cewek? Ini biasa, kan? Suara hati Chloe sibuk menenangkannya bahwa yang dilakukan sekarang saat ini adalah curhat antar sahabat dan bukan selingkuh.


Selama beberapa lama mereka duduk di kafe, Chloe dan Tyler berbagi cerita, tawa, dan impian untuk masa depan. Ketika hari semakin malam, Chloe meninggalkan kafe dengan perasaan gembira dan siap untuk mengambil langkah-langkah teratur dan terarah demi mewujudkan impian menulisnya. Berjalan bersama Tyler menuju asramanya, dia mendapat kekuatan baru agar lebih berani dan bertekad mewujudkan cita-citanya.


__ADS_2