
Keesokan harinya, saat Chloe memasuki lorong sekolah yang ramai, dengan penuh semangat. Peristiwa hari sebelumnya telah memberdayakannya untuk membela dirinya sendiri dan menegaskan nilainya. Dia tahu bahwa suaranya penting, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun mengurangi kehadirannya.
Sayangnya tekad itu runtuh seketika saat pulang sekolah di siang hari. Ketika dia berjalan melewati koridor yang ramai, Chloe melihat sekelompok siswi berkerumun, berbisik dan melirik ke arahnya. Dia mengenali mereka sebagai kelompok cheerleader yang juga teman-teman Jack. Chloe sudah mendengar apa yang dikatakan Jack kemarin pada tim cheerleader itu.
Bisik-bisik mereka membuatnya tidak nyaman dan terancam. Chloe mengangkat bahunya dan berjalan semakin mendekati kelompok itu dengan memberanikan diri. Bisik-bisik mereka semakin keras saat dia ada tepat di sisi mereka. Terbukti, mereka memang berniat mengusik ketenangan Chloe.
Gadis itu berjalan cepat-cepat mengabaikan semua tatapan sinis itu. Tapi nahas, Chloe malah tanpa sengaja menyenggol Della. Gadis berambut panjang itu mendelik. Chloe mau tidak mau bertatap mata dengannya, dan dia memberanikan diri berkata "Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" Chloe menari segenap kekuatan dari dalam dirinya, menegakkan bahunya dan berbalik menghadap Della dan teman-temannya. "Aku tidak akan diperlakukan seperti ini lagi!" katanya, suaranya mantap dan kuat.
Kelompok itu terdiam, melihat keberanian Chloe. Della mencoba mendapatkan kembali kekuasaannya, dia mencibir, "Oh, Chloe, hanya mencoba mencari tahu bagaimana seseorang sepertimu berhasil menyusup ke grup kami.”
Chloe telah menghabiskan banyak waktu mendengarkan pendapat orang lain. Sekarang, sudah waktunya untuk membebaskan diri dari penilaian mereka. "Aku bukan penyusup," katanya tegas. "Aku kekasih Jack dan aku pantas bersamanya. Aku tidak akan membiarkan pikiran sempit kalian menentang kami."
Para siswa di sekitar mereka berkerumun menyaksikan penuh rasa ingin tahu. Mereka tidak yakin bagaimana pertikaian itu akan berakhir. Kata-kata Chloe bergema di sepanjang lorong, menarik perhatian para siswa.
Chloe melanjutkan amarahnya. Suaranya semakin kuat pada setiap kata yang terucap. "Aku menolak diperlakukan sebagai orang luar. Aku juga menolak dianggap menimbulkan ketidaknyamanan kalian dengan Jack, hanya karena aku bukan klub basket. Aku memiliki impianku sendiri. Aku suka musik dan aku suka sains. Aku harap kalian bisa menghormati minatku ini."
Tiba-tiba Jack muncul dari kerumunan siswa yang menonton. Dia buru-buru menarik tangan Chloe, menyudahi pertengkaran itu. Setelah mereka terpisah dari kerumunan, Jack berkata, "Chloe, maafkan aku. Seharusnya aku membelamu, dan seharusnya aku tidak membiarkan teman-temanku memperlakukanmu seperti itu. Bisakah kita mulai dari awal?"
Chloe mempertimbangkan kata-katanya dengan hati-hati. Dia masih sakit hati dan tidak yakin. Namun, dia juga sangat mencintai Jack dan ingin membuat semuanya berhasil. "Baiklah," katanya, mengambil napas dalam-dalam.
"Tapi kamu harus mendukungku, bahkan jika itu berarti menentang teman-temanmu."
Jack mengangguk, memahami betapa berat permintaan Chloe. "Aku akan melakukannya. Aku berjanji," katanya tulus. Matanya menatap mata Chloe dengan penuh kasih sayang.
Di asrama, Chloe duduk sendirian di kamarnya. Dia merenungkan peristiwa barusan. Bermasalah dengan teman-teman Jack telah menggerogoti harga dirinya sendiri sekaligus mendorongnya terlalu jauh untuk membela dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia menyadari bahwa dia telah membiarkan keinginannya untuk menyesuaikan diri menutupi kebahagiaannya sendiri. Sudah waktunya baginya untuk mengambil keputusan—demi menegaskan eksistensi dirinya sendiri dan menuntut rasa hormat yang pantas diterimanya dari teman-teman Jack.
Chloe meraih pulpen dan buku catatan dan mulai menuliskan pemikirannya. Dia menulis surat ditujukan kepada Jack. Bagi Chloe dengan menulis, lebih mudah baginya mengungkapkan semua perasaannya.
Jack,
Aku ingin meluangkan waktu mengungkapkan pikiran dan perasaanku, karena aku yakin penting bagi kita untuk melakukan percakapan yang terbuka dan jujur tentang hubungan kita. Kupikir dengan menulis surat, aku mempunyai banyak kesempatan menguraikan perasaanku satu demi satu.
Aku senang menjalani hidup di Arcadia bersamamu. Kamu telah memberiku kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa.
Dalam usahaku menyesuaikan diri dengan dunia Arcadia, kamu membantuku dalam banyak hal. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Aku senang apabila kita bisa terus menjaga hubungan kita.
Aku ingin kamu tahu bahwa aku menghargai semua kisah yang kita bagi. Tetapi aku juga menyadari pentingnya menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri dan menetapkan batasan yang memungkinkan aku dan kamu tumbuh sebagai individu yang bahagia.
Penuh cinta,
Chloe
Keesokan harinya, Chloe berangkat lebih awal. Tadinya dia berniat meletakkan surat itu di loker Jack–mereka telah berbagi kode loker sebelumnya. Tapi Chloe mengurungkan niatnya ketika dari jendela kelas dia menemukan Jack duduk sendirian di kelas. Dia menarik napas dalam-dalam dan mendekatinya, suratnya tergenggam erat di tangannya.
"Jack," katanya, suaranya stabil.
Jack mendongak, keterkejutan melintas di wajahnya. "Chloe, ada apa?"
Chloe duduk di sampingnya dan menyerahkan surat itu kepadanya.
__ADS_1
Alis Jack berkerut saat dia membuka surat itu dan mulai membaca. Chloe melanjutkan, suaranya tak tergoyahkan.
"Aku peduli padamu, Jack, dan aku ingin hubungan kita berhasil. Tapi aku tidak akan membiarkan diriku diabaikan."
Saat Jack membaca kata-kata menyentuh hati yang ditulis oleh Chloe, ekspresinya berubah dari keterkejutan menjadi kesadaran. Dia memahami pentingnya keputusannya dan kekuatan yang dibutuhkannya guna menyelamatkan hubungan mereka.
Akhirnya, dia menatap Chloe, matanya dipenuhi campuran penyesalan dan pengertian. "Chloe, aku tidak pernah ingin kamu merasa seperti itu. Aku minta maaf karena tidak menyadari dampak tindakanku terhadapmu."
Chloe mengangguk, matanya mencari-cari ketulusan Jack dari rona wajahnya. "Aku menghargai permintaan maafmu, Jack. Tapi aku ingin kau mengerti bahwa ke depannya, aku tidak ingin memaksakan menyesuaikan diri dengan duniamu."
Ada jeda di ujung sana, dan Chloe menahan napas, menunggu jawaban Jack.
"Aku mengerti, Chloe," kata Jack akhirnya, nadanya menyesal. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi, dan aku berjanji untuk memperbaikinya."
"Terima kasih, Jack," katanya tegas.
Jack mengulurkan tangan dan meraih tangan Chloe, cengkeramannya kuat namun lembut. "Aku tidak ingin kehilanganmu."
Senyum kecil tersungging di sudut bibir Chloe. "Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Jack. Tapi kita perlu bekerja sama untuk menemukan keseimbangan, di mana kebutuhan dan keinginan kita dihormati."
Chloe lega. Kehangatan cinta Jack menyelimuti hatinya yang dingin menerbitkan senyuman di bibirnya. Dia tahu bahwa Jack benar-benar mencintainya dan bahwa dia akan melakukan apa saja untuk memperbaikinya. Tetapi dia juga tahu bahwa dia perlu menegaskan keberadaannya dalam lingkaran pertemanan Jack.
Di hari-hari berikutnya, Chloe melihat perilaku Jack membaik. Dia berusaha mengajak Chloe terlibat lebih sering ke dalam aktivitasnya, sehingga Chloe lebih mengenal teman-teman Jack, kisah-kisah mereka dan lelucon khas klub basket.
Keputusan Chloe membela dirinya sendiri menjadi membawa perubahan positif, tidak hanya dalam hubungan mereka tetapi juga dalam lingkaran pertemanan mereka yang lebih luas.
__ADS_1