UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 10


__ADS_3

KABUR DARI ERLAND


Erland terus berjalan maju secara perlahan membuat nya mau tidak mau memundurkan diri agar tidak terlalu dekat dengannya. Erland menatap penampilan Sheila dengan intens. Sungguh Sheila bukan wanita yang masuk dalam kategori seleranya untuk naik ketempat tidur. Tetapi...semua berubah ketika wanita itu menerobos masuk kedalam kamarnya dalam keadaan mabuk. Melepaskan pakaiannya karena reaksi panas alkohol yang sudah mengambil alih kewarasannya.


Satu hal lagi yang membuat Erland takjub. Bagaimana mungkin wanita yang terlihat tidak menarik sama sekali , ternyata bisa menjadi begitu seksi tepat didepan matanya. Membuat Erland menahan hasrat yang begitu kuat sepanjang malam karena berbaring dengan tubuh polos milik Sheila disisinya.


Sheila menelan ludahnya ketika Erland terus mendesak maju kedepan. Begitu luasnya kamar ini kenapa langkah  Erland justru mengarah lurus kepadanya,dengan langkah perlahaan membuat Sheila diserang kegugupan.


Tubuhnya terhuyung kebelakang ketika Erland melepaskan sabuk dan melemparkannya kelantai menyusul dengan dasi kupu-kupu yang sudah terurai ditempatnya.


"A-apa yang akan kau lakukan,Erland?"


"Menidurimu?" jawab Erland lugas


Dengan santainya membuka kancing kemeja kedua dan seterusnya ,membuat Sheila teringat perkataan Austin yang berputar dikepalanya.


"Jangan gila Erland."


Senyum Erland naik semakin tinggi hingga tangan itu semakin menurun,tak menyisakan satu kancing pun yang tertaut.Dada bidang dan perut kotak pria itu mulai mengintip dibalik kemeja yang sudah tidak bertaut itu. Kemudian tanganya berpindah keatas , melepaskan kemeja itu dan menjatuhkannya diatas lantai.


"Jangan macam-macam Erland!"


"Cukup satu macam." tanyaya


"Bukankah itu tugas seorang istri?"


Sheila menggenggap erat ponselnya,sudut matanya mulai menelusuri sisi kosong di kanan dan kii Erland. Jaraknya dari pintu cukup jauh,tetapi mungkin ia tetap bisa mencapainya.


Rencana di benak Sheila bahkan belum sepenuhnya terlaksana ketika baru saja hendak berlari, tiba- tiba Erland menyambar pinggangnya dan menjatuhkannya di tempat tidur. Hanya dengan satu kedipan mata.Tubuh polos Erland berhasil menindihinya dan memaku kedua tangannya di disisi kepala Sheila.


"Lepaskan,Erland!"



"Disaat malam pertama kita...kau justru akan mencari mantan kekasihmu itu?" Erland sengaja menyisakan jarak setipis mungkin dianara wajah mereka.


"Apa pedulimu ,Erland?Bukankah kau hanya peduli soal harta kakek?" sinis Sheila yang masih menggenggam erat ponselnya.


"Tentu saja,dengan kau sebagai bonusnya."


"Dengan mendapatkan wanita bekas saudaramu sendiri?" geram Sheila ,jika kedua tangannya tidak ditahan oleh Erland ,sudah dipastika bahwa tamparan akan ia layangkan.


"Oh ya? " Erland terkekeh


"Jika begitu aku akan mengeceknya langsung."


Satu tanganya bergerak mengelus paha mulus Sheila memnuat Sheila membeliak kaget dengan aksi Erland. Pria ini memang sangat sulit untuk dijebak dengan kata-kata.


"Jangan!"


Pria itu justru terkekeh gemas dengan tangan yang semakin nak keatas.Sheila meronta dan mendorong tubuh Erland menggunakan tangan sekalikus kakinya. Dan itu berhasil. Melihat kesempatan itu Sheila langsung bangkit dari atas ranjang. Sheila berlar menuju pintu keluar dan sempat menoleh kebelakang yang melihat Erland tengah duduk dengan santai disana.

__ADS_1


"Untuk kali ini kubiarkan kau pergi Sheila,tapi tidak dengan nanti."


Sheila benar-benar memilih melewati tangga untuk sampai bawah.Berlari sekuat tenaga menuruni anak tangga begitu banyaknya. Walaupun begitu ia baru saja sampai lantai lima,itu artinya drirnya harus melewati lima lantai lagi. Napas Sheila tersengal-sengal ketika telah sampai di lantai bawah .Benar saja tidak ada anak buah Erland disana.Cukup beruntung.


"AUSTIN!!!!"


Sheila berlari menghadang mobil pria itu yang hendak pergi dari sana. Kecerobohan Sheila sontak membuat Austin terkejut dan langsung menginjak rem mobilnya. Pria itu cukup terkejut saat melihat wanita itu berhasil sampai di sini tanpa tertangkap oleh anak buat Erland.


"Bukan pintunya, Austin. " Sheila mengetuk kaca mobil


"Kenapa kau bisa sampai sini? Bukankah Er-"


"Cepat pergi Austin, jangan banyak bertanya. " suruh Sheila khawatir


Mobil keluar dari basement dengan mudah tanpa ada penghalang apapun. Jalanan terlihat sangat lenggang karena memang sudah dini hari. Suasana pun sedikit sepi dan dingin.


"Kau belum menjawab pertanyaanku Sheila. "


"Soal? "


"Kenapa kau bisa kesini."


"Itu sangat sulit, Austin. Benar katamu tadi waktu ditelpon. Erland berusaha mencegahku untuk pergi, namun beruntung aku bisa melarikan diri walaupun pria itu mengucapkan sebuah ancaman padaku. Namun aku tidak peduli. Sekarang aku ingin melihat kondisi Arion. " jawab Sheila


"Ancaman semacam apa yang Erland katakan padamu? " tanya Austin


"Emm.. dia membiarkanku pergi kali ini, namun tidak untuk besok. "


"Kenapa harus takut? " tanya Sheila balik


Austin tersenyum tipis mendengarnya.


"Ancaman Erland tidak pernah main-main, Sheila. Walaupun itu hanya sebuah ucapan semata." ujar Austin


Sheila terdiam. Itu benar. Namun Sheila menganggap apa yang Erland lakukan padanya itu tidak akan seburuk itu. Sheila bisa bela diri walaupun sedikit, itu cukup untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu pria itu melakukan hal yang tidak ia sukai. Hanya waspada bukan berarti bisa menghindar. Sheila menghela napas pelan.


Mobil telah sampai di sebuah club ternama di kota ini. Walaupun malam hari disini justru semakin ramai akan pengunjung. Entah untuk bersenang-senang atau menenangkan pikiran dengan minum. Sheila juga baru pertama kali menginjakkan kakinya disini.


Austin membuka sabuk pengamanannya, " kau tunggu disini saja, biar aku yang masuk kedalam. "


"Aku ikut. "


"Tidak perlu. Cukup tunggu disini. "


"Tap-"


"Dengarkan aku, Sheila. " tekan Austin


Austin keluar dari dalam mobil dan berlari masuk kedalam Sheila benar-benar ditinggal seorang diri di dalam mobil. Menunggu sekitar sepuluh menit membuatnya bosan dan ingin keluar. Sheila memutuskan untuk keluar dari mobil dan bersandar di sisi pintu mobil. Udara menyambut langsung kulit halusnya dengan alunan yang begitu dingin.


"Kenapa lama sekali. "

__ADS_1


Sheila masih menunggu disana. Hingga beberapa menit Austin keluar sambil membopong tubuh Arion yang sudah kehilangan kendali.


Sheila langsung membuka pintu mobil bagian belakang. Austin dengan susah payah memasukkan tubuh Arion disana. Sheila masuk kedalam dan duduk disamping Arion. Sementara Austin kembali duduk di kursi pengemudi.


"Bagaimana dengan mobilnya? "


"Anak buahku akan mengurusnya. " jawab Austin


Mobil melaju kembali menuju hotel. Sheila memangku wajah lelah milih Arion dan mengelus rambut pria itu dengan lembut. Hatinya merasa seperti ditusuk jarum saat melihat kondisi berantakan milik Arion. Rasanya Sheila ingin sekali memeluk pria itu dan mengatakan bahwa ia sangat mencintainya.


"Sheila... " gumam Arion menangkap tangan Sheila yang tengah mengelus rambutnya.


"Jangan tinggalkan aku... "


Air mata Sheila keluar begitu saja mendengar gumaman Arion. Entah sadar atau tidak apa yang tengah pria itu katakan, tetap saja membuat hati Sheila merasa sakit.


Sheila menundukkan kepalanya untuk mencium kening pria itu. Terlihat keduanya saling memejamkan mata menikmati momen yang pasti akan sangat jarang terjadi untuk kedepannya. Satu titik air mata Arion jatuh di pelipisnya.


"Maafkan aku Arion. " lirih Sheila


Austin yang melihat momen itu hanya bisa melirik nya sekilas melewati kaca depan. Jujur saja, ia juga merasa kasihan dengan keduanya, namun harus bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi .


"Erland, aku akui kau sangat brengsek. Tapi aku juga tidak sama bedanya denganmu. " batin Austin


Mobil kembali memasuki kawasan basement. Austin merapat tubuh Arion menaiki lift menuju lantai lima. Sheila juga ikut mendampinginya. Sampai di kamar Arion yang terletak di lantai Lima bersama dengan Austin. Austin merebahkan tubuh Arion diatas ranjang. Sheila langsung membenarkan posisi tubuh Arion.


"Kau harus kembali ke kamarmu Sheila. "


"Tidak. Aku akan disini. "


Austin mengusap rambutnya kebelakang. Terlihat dari matanya bahwa pria itu juga lelah karena kegiatan pernikahannya. Waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Tidak mungkin Sheila kembali ke kamar dan tidak bersama Erland dengan kondisi seperti ini.


"Kau sudah menikah , tidak sepantasnya berada di kamar pria lain. "


"Aku tidak berani kembali kesana, Austin. "


"Kau takut diterkam, Erland? " goda Austin


"Tidak juga. "


Austin menuju kamar mandi dikamar Arion untuk mengeluarkan hajatnya. Sheila duduk disamping ranjang menatap wajah Arion yang terlihat kacau.



Sheila menundukkan wajahnya dan mengecup bibir Arion sejenak sambil memejamkan matanya. Cukup terkejut ternyata Arion membalasnya dengan mata terpejam.


Entah ini benar atau salah. Sheila hanya ingin menikmati malam ini bersama kekasihnya sebelum kembali dalam pelukan Erland sebagai suaminya.


Austin hanya bisa terdiam diambang pintu kamar mandi melihat kejadian didepan matanya.


"Sheila... aku hanya takut Erland mengetahuinya dan kau akan dibuat tidak bisa berjalan nantinya."

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2