UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 9


__ADS_3

HARI PERNIKAHAN


Dengan alunan musik yang lembut , Sheila memegang tangan Justin sambil berjalan perlahan menyusuri lorong menuju Erland yang menunggu di bawah altar bunga .



Sheila melihat kakek Friz menunggu nya dibawah sana bersama Erland. Sheila berusaha menunjukan senyuman sebaik mungkin kepada semua orang yang hadir walaupun itu hanya sebuah senyuman getir.


Sheila bisa mendengar suara isak tangis kakek Friz saat menyerahkan tangannya pada Erland. Sungguh Sheila bisa merasakan ketulusan Friz meski tahu keputusan pria tua itu begitu kejam baginya dan Arion.


Friz melakukan yang terbaik untuk janji pria tua itu pada kakeknya . Menepati wasiat kakeknya dengan penuh tanggung jawab jawab dan kebijakan . Dan dia juga sangat tahu Friz menerimanya sama besar seperti yang diberikan pada ketiga cucu kandungnya.


Bagi Sheila sendiri , Friz adalah sosok kakek dan orang tua pengganti baginya yang hidup sebatang kara di dunia ini . Friz memberinya keluarga dan kasih sayang yang sudah direnggut sejak ia berumur 15 tahun . Untuk sesaat, Sheila menikmati momen yang menyesakkan dadanya. Dipenuhi keharuan dan kebahagiaan akan segala hal yang sudah beliau berikan padanya . Dan meminta tegar meski ia tak menginginkannya, pernikahan ini adalah cara terbaik yang bisa Sheila berikan untuk membalas segala kebaikan kakek Friz. Pria tua itu bahkan menyanyangi Sheila lebh dari apapun.


Tarikan pelan Erland menyela momen haru antara Sheila dan Friz, Sheila mengerjapkan matanya dan membiarkan dirinya dibawa ke hadapan pendeta . Seketika Sheila kembali pada kenyataan .


Keduanya saling bertatapan saat janji pernikahan diucapkan . Sheila dipenuhi tekad yang kuat untuk menjadikan pernikahan ini sebagai titik balik harapannya bersama Arion , sedangkan Erland dengan tatapan kemenangan yang sudah erat berada dalam genggamannya .


Setelah penghulu mengesahkan mereka sebagai pasangan suami istri dengan tepuk tangan yang meriah dari undangan para tamu yang datang .



Penyematan cincin telah dilakukan. Erland menarik pinggang Sheila dan mendaratkan ciuman di bibir wanita itu.



Sheila hanya diam dan berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Bagaimana pun ciuman ini adalah kali kedua setelah ia bersama Arion.


Arion berada disana dan melihatnya.


Arion cedera tepat sebelum bibir pasangan pengantin tersebut bersentuhan. Hatinya benar - benar remuk redam , jantungnya seolah ingin keluar dari dadanya. Pria itu mengepalkan tangannya untuk menarahn perasaan itu.


"Kakek menawarkan mu untuk tidak datang di acara ini." bisik Austin memeluk pundak Arion , mengalirkan dukungannya .


"Hanya untuk membuktikan kekalahan ku? " desis Arion.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Sheila akan tetap menjadi milikku untuk yang pertama dan Erland hanya sebatas status. "


Arion sendiri tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk memenangkan pertandingan ini. Gurat kemarahan yang menggaris di wajah Arion semakin mengeras ketika Arion kembali menatap ke arah panggung , tepat saat Erland melepaskan ciuman dari bibir Sheila dan tatapan pria itu bertemu dengannya .


Seringai terselip di ujung bibir sang kakak, yang membuat Arion mengepalkan tinjunya kuat - kuat . Sungguh, jika bukan karena Austin yang menahan lengannya kuat-kuat untuk tidak mempermalukan diri, Arion yakin ia sudah naik ke panggung dan menghajar Erland.



"Jangan gegabah , Arion. Kau tahu berapa banyak pengawal Erland di sekitar kita , " bisik Austin.


Arion melirik ke sekitar panggung dan juga ke tempatnya dan Austin berdiri sebagai pengiring pengantin .


Erland benar-benar menjaga ketat mereka dari hal-hal yang bisa mengancam rencana pria itu berakhir dalam kekacauan. Ada banyak pengawal berpakaian serba hitam yang disewa oleh kakak sialannya itu, dan kakeknya mengizinkan tindakan pencegahan tersebut. Membuatnya dan Austin tak bisa berkutik.


Arion menyentakkan tangan Austin , tak tahan menyaksikan kemenangan Erland lebih lama lagi . Dirinya butuh minuman keras. Sesuatu yang keras yang membuatnya berhenti memikirkan pernikahan wanita yang lepas begitu saja dari genggamannya . Arion melangkah pergi dari ruang acara.

__ADS_1


Kaki Sheila sudah terangkat ketika melihat Arion yang berjalan pergi , namun Erland menahan pinggangnya. Kemudian pria itu menunduk dan mendekatkan bibir di telinganya.


“Istriku mau ke mana?"


Sheila bersumpah mendengar tawa mencemooh dalam kata istriku yang dibisikkan oleh Erland.


Sheila membalasnya dengan sorot kebencian yang begitu pekat dalam tatapannya. Erland sedikit mengangkat wajahnya, dengan senyum tak pernah goyah sejak acara pernikahan dimulai.


"Aku tak akan menuntut ucapan selamat dari Arion, sebagai bentuk empatiku dia sebagai seorang adik yang baik . Apakah itu tidak cukup untuk menghormati masa lalu istriku?"


Segala macam umpatan siap meluncur dan menyembur dari mulut Sheila ke wajah Erland . Tetapi semua terpaksa tertahan ketika Justim dan Yasmine naik ke panggung untuk menyatakan selamat kepada mereka berdua,menyusul Austin , dan keluarga dekat dan jauh , lalu para tamu undangan. Sementara kakek Friz masih sibuk berbincang.


Acara berlanjut ke acara resepsi , dengan tamu undangan yang lebih umum . Mulai dari kerabat jauh , teman , klien dan rekan kerja . Semua keluarga besar FK Group . Sepanjang acara, Sheila tak henti-hentinya mencari keberadaan Arion.


Ditambah dia sudah benar - benar pegal berdiri dengan sepatuh hak tinggi serga gaun yang begitu beras dan riasan serta hiasan apa pun yang menempel dikepalanya . Acara resepsi akhirnya usai setelah jam menunjukkan tepat jam dua belas malam .


Sheila meninggalkan pelaminan saat Erland menyapa beberapa teman pria itu. Menekan nomor Arion yang masih belum aktif . Namun Sheila tak berhenti mencoba dan terus mencobanya sepanjang perjalanannya menuju kamar hotelnya di lantai tertinggi.


Sampai di kamar yang ditata seindah mungkin untuk pasangan pengantin baru tersebut , Sheila masih dipenuhi kekhawatiran yang semakin meningkat menyesakkan dadanya. Sheila pun memutuskan untuk menghubungi Austin.


"Di mana kau ? Mama panik mencarimu yang menghilang dari pelaminan." tanya Austin diseberang


"Aku di atas. " ******* lega Austin terdengar.


"Kau sendirian? Aku melihat Erland masih berbincang dengan kakek. "


"Ya . Aku ingin mengganti pakaianku dan mencari Arion. Bisakah kau membantuku dan menungguku di basement ? Ah , maksudku. Kau tunggu aku di bawah basement, sekarang . " pinta Sheila


"Aku tidak melihat Arion sejak acara pernikahan selesai . Bahkan di sepanjang acara resepsi .Sekarang aku ingin mencarinya. "


"Dia butuh waktu untuk menyendiri . "


"Aku perlu bicara dengannya . "


"Tidak sekarang , Sheila. "


"Aku tak akan bisa tidur sebelum bicara dengannya . "


"Ya , ini malam pertamamu dengan Erland. Kau memang tidak seharusnya tidur . ” Kedua mata Sheila seketika membeliak dengan jengkel.


"Kami tidak akan melakukan hal seperti itu." tegas Sheila


Austin diam sesaat . " Kau yakin ? "


"Sangat yakin. "


"Aku percaya padamu Sheila namun tidak dengan Erland. "


Sheila terdiam sejenak." Tidak ada yang terjadi tadi malam . Dan lagi , aku bukan seleranya . "


"Hmmm ... sejujurnya aku ingin memberitahumu satu hal , Sheila. Sejak kau muncul di hadapannya dengan pakaian pengantinmu itu , kau sudah menjadi wanita favoritnya . Sekarang . Dia pasti tak akan melewatkanmu . " tawanya

__ADS_1


"Itu tidak lucu Austin." peringat Sheila jengkel


"Sudahlah.. kau tunggu di basement. Aku akan kesana sekarang. "


"Tunggu Sheila. Kau tidak bisa pergi dari hotel ini begitu saja. Dan lagi, Erland pasti sudah meletakkan beberapa bodyguard diseluruh hotel dan tidak akan membiarkan mu berkeliaran untuk mencari Arion. "


Sheila menyadari ketololan nya. Sesaat ketika menaiki lift ke lantai ini dirinya memang berjumpa dengan pria berseragam serba hitam layaknya pengawal. Mereka berdiri di samping lift untuk menuju lantai atas kamarnya berada.


"Aku bisa turun lewat tangga. " kekeh Sheila


"Tunggu aku di basement! "


"Tap-"


Tut


Panggilan dimatikan secara sepihak oleh Sheila yang kini tengah bersiap-siap membersihkan dirinya. Mengganti pakaian dengan yang lebih simpel lalu bersiap pergi. Namun kembali mendudukkan tubuhnya diatas ranjang bertabur kelompok mawar itu lalu mengangkat telpon dari Austin.


"Kau tidak perlu pergi Sheila. Arion berada di salah satu Club terkenal disini dan dia tengah mabul berat. Biar aku saja yang kesana kau cukup mendekam di kamar sembari menunggu Erland datang untuk melakukan hal panas diatas ranjang. " goda Austin


"Jangan bicara omong kosong! Sudah ku bilang aku bukan type nya. "


"Hmm.. ya. Tapi hari ini kau sungguh memesona dan berhasil menamparnya dengan penampilan mu Sheila. Erland pasti tidak akan membiarkan mu pergi semudah itu. "


"Cukup Austin. Atau aku robek mulutmu itu. " jengkel Sheila


Austin terkikik geli.


"Baiklah biar aku yang kes-"


"Aku akan ke bawah sekarang. " potong Sheila mematikan panggilan telpon.


Dan berdiri dan hendak membuka pintu kamar, Erland membukanya terlebih dahulu, Sheila menoleh dan langsung bertatapan dengan manik cokelat Erland yang tajam. Untuk beberapa saat yang lama keduanya saling memandang. Sambil melangkah masuk dan melepaskan jasnya, pandangan Erland tertuju pada penampilan Sheila yang seperti hendak pergi, tercetak senyuman miring disana.


Sheila berjalan mundur untuk menjaga jarak. Erland menutup pintu kamar namun tidak menguncinya.



"Istriku, kau ingin kemana? "


"Bukan urusanmu. " desis Sheila mencoba berani


Pria itu terkekeh dengan tangan masih sibuk melepas kancing kemejanya.


"Hendak bertemu dengan mantan kekasih? "


"Tid-"


"Kau pikir aku akan membiarkan mu pergi begitu saja bertemu dengan Arion disaat malam pertama kita? " smiriknya yang membuat tubuh Sheila merinding.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2