
Serius udah sampe sini? fokus kalian hoby membaca ๐
...HAPPY READING ๐...
"Erland?"
Tetapi segera membekapnya menyadari ini masih berada di depan kamar Arion. Takut jika pekikannya membangunkan Arion dan memergoki mereka berdua dengan posisi seperti ini .
Dan sebelum Sheila sempat melepaskan diri dari Erland, pria itu justru menciumnya . ******* bibirnya tanpa memberi kesempatan lagi untuk Sheila menolaknya . Sheila membungkan mulutnya , berusaha menghentikan aksi Erland dengan kegelisahan yang merayapi dadanya .
Melirik ke arah pintu kamar Arion yang masih tertutup. Tetapi Erland benar - benar keterlaluan , pria itu semakin merapatkan tubuhnya ke dinding menggigit bibirnya dan memaksanya membuka mulut . Sebelum kemudian lidah Erland menelusup masuk, mengabsen deretan giginya , Share benar - benar dibuat tak berdaya . Tak diberi pilihan selain pasrah hingga akhirnya Erland menghentikan kegilaan tersebut kelika Sheila nyaris kehabisan napasnya .
"Brengsek." ujar Sheila
Erland terkekeh , tanpa melepaskan bibirnya yang menempel di wajah Sheila. Dengan kesal , Sheila memukul dada pria itu menjauh , meski tak cukup herhasil Erland tetap mempertahankan jarak tubuhnya
" Kejutan..." bisik Erland dengan senyum khas pria itu yan entah bagaimana malah membuat perut Sheila melilit sekaligus merinding .
" Kenapa , kau tak suka suamimu pulang lebih cepat ?"
Sheila menelan ludahnya setelah napasnya kembali normal . " Kau benar - benar sudah gila, Erland, " sergahnya menyempatkan melirik pintu kamur Arion dengan waspada.
"I'm not crazy. Memangnya salah mencium istri sendiri? "
Sheila sama sekali tak berminat menjawab pertanyaaan pria itu, " bisakah kita pergi dari sini lebih dulu sebelum kau berbicara lebih lanjut? "
Erland mengikuti arah lirikan Sheila , dan bukan ia tak tahu . Ia hanya tak cukup peduli dengan kekhawatiran wanita itu. Juga ada sedikit godaan darinya untuk membiarkan mereka terpergok oleh Arion.
" Ah , dia sudah pulang kan. Jadi , malam ini kau tidak bermalam di rumah sakit. "
Sheila lebih tak berminal menjawab yang satu itu. Tahu benar pikiran macam apa yang saat ini tengah mendekam di benak pria itu . Sekali lagi Sheila mendorong dada Erland, masih tak berhasil ia pun menggeliatkan tubuhnya . Tetapi tubuh besar Erland masih kukuh melingkupinya .
โKumohon, Erland."
"Jangan disini. "
Erland terkekeh. โ Aku suka mendengarmu memohon. "
"Apa yang kau inginkan. " ucap Sheila to the point.
"Apa yang aku inginkan?"
"Jangan bertele-tele, Erland! "
"Asalkan? "
"Kita pergi dari sini. "
"Apa pun? " Salah satu alis Erland diangkat dengan licik , dan seringai di ujung bibir .
"Ya. Selama itu tidak merugikan ku. "
__ADS_1
Sheila membiarkan dirinya kembali masuk ke dalam jebakan pria itu lebih dalam . Seringai Erland naik lebih tinggi .
"Baiklah, kita lanjutkan di kamarku . "
Sheila belum sempat mencerna kata terakhir Erland dan tak diberi kesempatan untuk menyela , ketika tiba - tib tubuh Erland menjauh dan lengannya ditarik mengikuti langkah pria itu.
Sejenak pandangan Austin tertegun ketika sempat melihat Erland yang menyeret Sheila masuk ke dalam kamar. Kemudian mendengar suara kunci diputar. Austin memikirkan apa yang tengah dilakukan oleh jangan sammi istri tersebut.
Austin hanya menderah pelan . Merogoh saku celananya dan melihat ponselnya yang berkedip menampilkan nama Raj.
" Ya , aku akan ke sana sekarang , " ucapnya menjawab panggilan tersebut dengan senyum semringah di wajahnya .
Tapi senyum itu segera musnah begitu terdengar langkah kaki mmendekatinya
" Austin? "
Suara Yasmine yang baru menginjakkan kaki di lantai dua , menghentikan langkah Austin.
"Ya. Ma? "
Yasamine memperlihatkan beberapa lembar foto padanya, " Kakekmu meminta mamah untuk memberikan ini padamu. "
Wajah Austin membelalak, dengan bibir membulat sempurna melihat lembaran foto tersebut bergambar seorang wanita . Dan ia yakin setiap lembarnya memiliki gambar yang berbeda . " Apa ini , Ma ? "
"Wanita wanita yang sudah memberikan lamarannya pada kakekmu . "
" Ohh , ayolah , Ma . Arion baru saja keluar dari rumah sakit . Dan ingatannya masih belum kembali . Bagaimana mungkin kita sudah memikirkan-"
"Austin belum siap menikah, mah. "
Yasmine mengambil tangan anaknya dan meletakkan lembaran tersebut di telapak tangan Austin, kemudian hanya mengedikkan bahunya.
"Kau bisa bicarakan sendiri dengan kakekmu."
"Tapi ma-"
"Tidak ada tapi-tapian. "
"Setidaknya biarkan Austin menikah dengan seseorang wanita yang Austin inginkan, ma. "
"Itu juga perlu kau bicarakan dengan kakekmu . Kau tahu mama tak punya kendali untuk yang satu itu "
" Apakah kakek juga mengatakan apa resiko jiku Austin menolak mereka semua ?"
Yasmine tampak berpikir sebentar , kemudian menggeleng, " Mungkin akan dicoret dari keluarga ini ? Atau ... pergi dari rumah ini tanpa membawa apapun selain pakaian yang kau pakai saat itu juga? "
Bibir Austin memberenggut jengkel.
"Dengar, Sheila saja sudah menikah, Austin."
"Sheila dan Erland jelas kasus yang berbeda, Ma."
__ADS_1
Yasmine manggut-manggut, lalu menjawab dengan ringan.
" Ya , tapi mereka tetap menikah . Kau ingin kakek memberimu kasus yang berbeda ? "
Austin mendelik dengan raut panik yang mulai merebak . Yasmine menepuk pundak anaknya . " Kalau begitu jadilah cucu yang baik dan penurut , Austin . Kau tahu kakekmu bisa sangat menyebalkan dan membuat kepalamu sakit kepala jika keputusan pentingnya tidak dituruti . "
Austin melihat lembaran - lembaran foto di telapak tangannya dengan senyum yang melengking yang menyebalkan.
" Terutama jika itu berhubungan dengan pekerjaanmu .Bisa - bisa semua impianmu ..."
"Maaaa.." suara Austin diselimuti rengekan yang malah membuat Yasmine tertawa .
" Lagipula mama juga tak sabar ingin segera menimang cucu dari kalian bertiga. "
"Jika beruntung , sebentar lagi kalian juga akan mendapatkannya dari mereka." kesal Austin
"Ya. Tapi , apa kau tega membiarkan anak Sheila dan Erland tumbuh kesepian tanpa seorang teman pun ? Kau tega membuat keponakanmu kesepian? "
Austin mengerang meski dalam hatinya menahan kejengkelannya, " Mama berlebihan. Amat sangat " tegasnya
Yasmine hanya melempatkan cengirannya.
" Kalau begitu , selamat berjuang . Mama yakin salah satu dari mereka akan mampu membuat dadamu berdebar debar dengan cara yang menyenangkan , Austin . Mama pergi dulu. " Austin hanya memutar kedua bola mata dengan jengah ketika mamanya berbalik dan berjalan pergi .
Meninggalkan sang putra yang melongo melihat lembaran - lembaran foto di sana.
Kemudian Austin kembali menatap ponsel di tangannya yang lain , pemberitahuan panggilannya yang masih belum terputus ketika mamanya tiba-tiba muncul, seketika dia memias menepuk keningnya sambil melepaskan sebuah umpatan.
"Raj.. "
"Why? "
"Aku tau kau mendengarnya. "
Dia terkekeh di seberang sana.
"Hanya sedikit menangkap ketika kau merengek seperti anak kecil pada tante Yasmine. " ucapnya
"Lupakan itu dan jangan pernah mengungkit apalagi membicarakan nya pada orang lain. Aku tak akan segan memecatmu sebagai seorang teman. " ancam Austin
"Hahhaa.. tenang saja. Lagipula aku hanya akan bercerita kepada Zara bukan yang lain. "
Austin melotot kan matanya, gadis itu sangatlah rewel dan sering membuatnya kesal karena terus berdebat dengannya. Jika sampai hal itu terdengar sampai dia, bisa dipastikan gadis itu akan menggodanya seharian penuh.
"Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya, Raj. "
"Tidak.Tenang saja. "
Austin mendengus lalu mematikan panggilan itu dengan sepihak, "Kenapa semua orang sangat menyebalkan hari ini. " dengus Austin melirik kearah kamar Erland kemudian melenggang pergi dari sana.
AYO TINGGALKAN JEJAK:<
__ADS_1
Guyss Thank You so much buat kalian yang udah baca sampai episode ini.. Aaaaaa pokoknya lope sekebon hehe...