UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 23 : Menunggu


__ADS_3

Nungguin ya? 😌


...HAPPY READING📖...


"Keterlaluan kau , Erland. " desis Sheila.


Erland hanya menyeringai, ujung jemarinya mengelus sepanjang sisi wajah dengan gerakan yang lembut. Turun ke leher , dan menarik turun pakaian Sheila hingga jatuh ke lantai .


"Semakin kau membuat ini menjadi lama, kau akan mengundang kecurigaan Arion, Sheila. Semua tergantung padamu. Kau tahu aku tak pernah membuang waktu untuk kesempatan sekecil apa pun, kan?" bisik Erland tepat di telinga Sheila, sengaja mengakhiri bisikannya dengan sebuah tiupan yang menantang kedua kaki wanita.


"Lakukan apa pun yang kau inginkan , Erland ," desis Sheila, ia sekarang sudah menjadi seorang istri dan ini adalah tugasnya walaupun dirinya seperti seorang ******.


Sheila memejamka matanya ketika tangan Erland mulai bergerak menggerayangi kulit telanjangnya dan bibir pria itu mendarat di cekungan lehernya . Dan akhirnya pria itu selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan darinya.


Untuk pertama kalinya , Sheila menyesal telah ikut andil dalam kebohongan besar ini . Merasa kata-kata Erland untuk membongkar pernikahan mereka tak peduli ingatan Arion hilang atau tidak , daripada harus menumpuk kebohongan yang entah akan mencapai apa. Entah dirinya atau Arion yang akan tenggelam dalam tumpukan tersebut, Sheila sungguh berharap hanya dirinya sendirilah yang lebih terluka.


Setelah mengirim pesan pada Austin untuk membawakan pakaian Erland dan menjelaskan situasinya, Sheila segera mengenakan pakaiannya dan membuka pintu kamarnya.


"Maaf, Arion." Sheila benar-benar tak bisa menatap wajah Aidan.


Berkali - kali ia melakukan hal semacam ini di belakang Arion , tetap saja rasa bersalah itu tetap ada dan malah semakin berkembang menyesakkan dadanya. Arion hanya tersenyum meski terheran dengan rambut Sheila yang masih lembab. Telapak tangan terulur menyentuh kening Sheila .


“Demammu sudah turun.” Sheila mengangguk.


"Dan kau malah mengguyur rambutmu , " delik Arion yang langsung melepas tangannya dari rambut Sheila dan membawa wanita itu ke meja rias.


Menyalakan pengering rambut lalu mengeringkan rambut Sheila dengan telaten . " Kau baru saja sembuh dan mandi air dingin seperti ini . Apa kau ingin sakit lagi ?"


Sheila nyaris meneteskan air matanya akan perhatian Arion .


"Aidan ?"


"Hmm? "


"A-aku sangat mencintaimu, walaupun kita tidak tahu takdir kita kedepannya. " ucap Sheila menatap ke cermin.


"Apa yang katakan? Aku akan selalu ada disampingmu. " Sheila hanya bisa tersenyum miris. Sheila mengambil hairdriyer di tangan Arion .


"Biarkan aku melakukannya sendiri . "


"Tidak . Biarkan aku melakukannya untukmu."

__ADS_1


"Nanti kau terlambat ke kantor . "


"Kau pikir aku lebih peduli dengan pekerjaanku daripada dirimu sendiri? Kau tahu kau jauh lebih penting bagiku,Sheila." Sheila menggigit bibir bagian dalamnya dengan pedih. Arion pun satu - satunya hal terpenting di hidupnya .Namun...


"Sheila?" Sheila mengerjap, mengangkat wajahnya dan tatapannya bertemu dengan Arion di cermin.


"Y-ya?"


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


Napas Sheila tercekat, jantungnya membeku. Butuh lebih dari dua detik baginya untuk mengangguk dengan kaku. " A - apa ? "


Arion tiba - tiba mematikan hairdriyer , menaruhnya di meja kemudian berlutut di depan Sheila dan genggam kedua tangan nya. Tatapannya lurus dan dipenuhi keseriusan ketika bertanya, "Apakah kau sudah siap?"


Dan kali ini pertanyaan Arion benar-benar membuat napas Sheila terasa direnggut dari rongga dadanya.


*


*


'Apakah kau sudah siap ? ' Erland terdiam mendengar dengan jelas pertanyaan yang dilontarkan oleh Arion. Dengan handuk yang tersampir di pinggang dan rambut yang masih basah, pria itu berdiri bersandar di wastafel dengan kedua tangan bersilang di depan dada. Memutar wajah ke arah pintu. Merasakan ketegangan yang menyerang Sheila. Ia menunggu jawaban yang akan diucapkan oleh Sheila. Apakah sudah waktunya kebohongan ini runtuh ?


Erland sebenarnya tidak terlalu peduli sekarang atau nanti. Merenggut cinta Arion sama sekali tak ada dalam rencana . Hanya kebetulan saja Sheila berada di tengah jalan ambisinya.


Apakah wanita itu cukup kuat memperjuangkan cintanya? Ataukah pasrah dalam dekapannya? Yang Erland tahu, ia tak akan membuatnya mudah.


"A-aku... " kata itu tersendat di tenggorokan Sheila.


Arion mengangkat wajah Sheila dengan jarinya membuat keduanya saling bertatapan, Aiden berdiri dari berlutut nya dan mengecup dahi Sheila dengan lembut.


"A-Arionn.. " lirih Sheila ketika ia dapat melihat wajah sedih milik Arion namun pria itu tetap tersenyum padanya.


"It's okay, Sheilla." senyumnya


Sungguh, senyum Arion adalah candu baginya. Sheila menubrukkan tubuhnya ke tubuh Arion, memeluk pria itu dengan erat seolah tidak ingin kehilangannya.


"Arion kenapa kau baik sekali padaku... " jerit Sheila dalam hati


Arion mengelus punggung Sheila dengan lembut, membiarkan wanita itu untuk memeluknya sepuasnya. Arion dapat melihat tekanan dalam mata Sheila yang seolah wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu yang besar dan berusaha untuk tegar. Arion ingin menanyakannya, namun tidak jadi, ia hanya bisa membalas pelukan hangatnya.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu? " tanya Arion lembut mengelus rambut panjang Sheila.

__ADS_1


Sheila menggeleng dalam pelukan Arion, air matanya menetes begitu saja, itu alasannya ia memeluk tubuh Arion agar pria itu tidak melihatnya menangis.


Sheila segera menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya pada Arion. Menatap wajah pria itu dengan tatapan bergetar, ia ingin sekali mencium Arion namun Sheila tidak bisa melakukannya karena ada Erland di kamar mandi. Sheila tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu menangis? " tanya Arion mengelus pipi halus Sheila.


"Tidak, Arion. Hanya kelilipan. "


"Baiklah, aku harus pergi ke kantor sekarang. Jika kau merasa belum baikan tolong tetap berada di rumah dan jangan kemana-mana, okay? Aku tidak mau melihatmu sakit lagi. " ucap Arion lembut


Sheila mengangguk dengan antusias.


Sebelum pergi Arion sempat mendaratkan kecupan di bibir Sheila sekolah, kemudian keluar dari kamarnya. Sheila menegang. Ia takut Erland melihatnya.


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Erland dengan handuk yang tersampir di pinggangnya. Pria itu menyenderkan tubuhnya di pintu, menatap lurus kearah Sheila.


Terlihat sangat sexy.


"Kau menyukai kecupan itu? " tanyanya


"Cepat pakai bajumu, Erland. " perintah Sheila tanpa menjawab pertanyaannya.


Erland justru menaikkan sebelah alisnya menatap kearah Sheila dengan menggoda. Sementara, Sheila memutar bola matanya malas dan langsung keluar dari kamar meninggalkan Erland yang tersenyum melihat tingkahnya.


"Pria itu sangatlah menyebalkan.. "


"Merepotkan.. "


"Siapa yang merepotkan? "


Sheila berbalik menatap kearah Austin yang berdiri disana dengan bersedekah dada. Menaikkan sebelah alisnya.


"Kau yang merepotkan! "


"Tunggu.. tunggu, kenapa aku? "


"Tau lah. "


Sepertinya Sheila sedang dalam mood yang tidak baik dan Austin tahu siapa penyebabnya. Tentu saja suami barunya. Austin saja terkadang suka sebal dengan tingkah Erland. Austin mengedikkan bahunya tak acuh dan melanjutkan jalannya kembali.


Bersambung.....

__ADS_1


Lho lho.. udah?? Mau lanjut baca? Eitsss like dulu dong....



__ADS_2