
...HAPPY READINGđź“–...
Langkah Arion sempat tersendat ketika melihat Erland yang baru saja keluar dari ruang tamu dan melintasi ruang tengah . Pakaian kakaknya itu sudah rapi dan siap berangkat ke kantor .
"Kenapa ? "
Austin yang mendadak muncul di belakang Arion menepuk pundak pria itu . Sekilas ia melihat punggung Erland yang menghilang di balik pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang makan .
Arion menggeleng singkat tetapi kemudian kemunculan Sheila seketika menambah kerutan di kening . Sesaat tatapan mereka bertemu dan Austin yang menyadari ada sedikit kekakuan di antara keduanya , berusaha mencairkan suasana dengan menghampiri Sheila lebih dulu .
"Kau sudah lebih baik ?" Sheilamengangguk .
"Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak pergi ke kantor , Sheila."
Arion muncul di belakang Austin. “ Kau baru saja ..."
"Aku sudah baik - baik saja , Arion." Sheila memaksa satu senyuman untuk pria itu .
“Aku tak ingin membuat kakek khawatir dengan hal ini."
"Sesekali membuat kakek khawatir tidak akan membuatnya terserang penyakit jantung , Sheila."
Austin merangkulkan lengannya di pundak Sheila, setengah meletakkan berat badannya pada wanita itu . Yang langsung mendapatkan pukulan di pundak dan dorongan dari Arion. Membuat Austin nyaris terjungkal jika tidak segera menyeimbangkan tubuhnya dengan baik .
"Kau tahu dia baru saja sembuh dari sakitnya, kan? " dengus Arion dengan jengkel. Menarik pundak Sheila mendekat ke arahnya .
"Ada apa ini ribut - ribut ?" Yasmine muncul dari arah kamar utama .
"Sheila? Apa kau sudah sembuh ? "
Sheila mengangguk . Membiarkan Yasmine menyentuhkan punggung tangannya di kening wanita itu .
"Bukankah kau harus beristirahat selama beberapa hari?"
"Sheila baik - baik saja, mah." Yasmine tampak tak setuju, tetapi Austin langsung merangkul pundak mamanya .
"Hari ini, Austin yang akan menjaga Sheila. Seharian penuh dan dengan sepenuh hati . "
Arion dan Sheila mengerut penuh tanya . Austin memberikan cengiran kudanya.
"Hari ini Austin ada beberapa pertemuan di kantor Sheila dan Erland. Setelah selesai , Austin akan menjaganya." Yasmine langsung mengangguk setuju .
"Baguslah..... .Kalau begitu ayo semua ke meja makan. Sebelum kalian berangkat ke kantor. "
Sheila dan Arion sengaja melambat di belakang Yasmine dan Austin yang masih tak melepaskan rangkulannya pada sang mama.
"Jadi wanita mana yang kau pilih ? " tanya Yasmine .
Austin meringis. Kemudian mencium pipi Yasmine , "Ini."
Yasmine seketika melepaskan rangkulan sang putra dan memukul lengan Austindengan keras.
__ADS_1
"Mama tidak bercanda , Austin. Jika kau tidak segera memutuskan , kakekmu yang akan turun tangan." Austin mendesah panjang .
"Ayolah, Ma. Jangan merusak pagi Austin dengan soal ini. Itu sangat memengaruhi pekerjaan Austin hari ini. "
"Dan apa gunanya semua itu jika kau tidak segera menikah dan mempunya anak , hah ? " Sheila dan Arion hanya tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak yang ada di depannya.
"Kenapa mama tidak mengatur pernikahan untuk Erland saja ?" celetuk Arion . Yang seketika merubah ekspresi di wajah Yasmine dan Austin secara bersamaan .
"Kenapa ? Bukankah dia punya banyak wanita yang bisa ditunjuk dengan mudah . Lagipula sebentar lagi dia resmi menjabat pucuk jabatan di perusahaan utama . Dia akan menjadi bujangan paling dicari di negara ini."
Yasmine dan Austin seketika memperbaiki kebekuan di wajah mereka agar menjadi lebih rileks.
"Ah ya. Kakekmu juga akan mengaturnya . Tapi ... kau tahu Erland lebih keras kepala daripada Austin . Kami sudah menyerah." Yasmine memasang senyum terlalu lebarnya. Kemudian segera mengalihkan pembicaraan tentang menu makanan untuk Sheila .
Ario pun akhirnya menghela napas. Menoleh ke arah Sheila yang menundukkan wajahnya . Arion mengetatkan rangkulannya di pundak wanita itu , mengambil seluruh perhatian Sheila untuk dirinya .
"Kau baik - baik saja?" Sheila mengangguk .
"Kau tahu aku akan bersabar menunggumu , Sheila. Jangan membuat dirimu tertekan . " Sekali lagi Sheila mengangguk .
"Aku hanya ... " Arion mendesah pendek .
“Kau tahu , aku merasa jika tidak segera mengikatmu . Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan menimpa kita berdua . " Sheila teringat mimpi yang diceritaka oleh Arion tadi pagi .
"Itu hanya mimpi , Arion."
"Aku tahu. Aku hanya ketakutan saja . Kau tahu satu - satunya hal di dunia ini yang kutakuti adalah kehilanganmu , Sheila."
"Semuanya pasti akan baik - baik saja."
Arion mengangguk meski firasat itu tak pernah luntur dari dalam benaknya.
Setelah makan pagi selesai , Arion dan Sheila berpamit lebih dulu . Austin menyusul di belakang keduanya .
“Bolehkah aku menumpang mobil kalian ?"
"Tidak." jawab Arion bahkan sebelum Austin menutup mulut .
"Kenapa ?Bukankah kau juga akan mengantar Sheila ? Kita satu arah."
"Tidak , Austin, " tegas Arion.
"Kami tak butuh gangguan . Kami ingin menikmati setiap kebersamaan kami yang sangat berharga."
Austin mendecakkan lidahnya , dan tepat bersamaan saat itu Erland muncul dari dalam rumah . Senyum di ujung bibir Austin bahkan belum naik setengah persen ketika jawaban tegas dan dingin Erland segera melumpuhkan permintaannya .
"Tidak."
"Masih ada tiga kursi kosong di mobilmu."
Kening Arion mengernyit ketika Erland melintasi tubuhnya dan aroma tubuh pria itu tanpa sengaja tertangkap oleh indera penciumannya . Sesuatu yang begitu familiar .
__ADS_1
"Tidak." tegas Erland tanpa mengurangi kecepatan langkahnya . Menuruni anak tangga dua - dua sekaligus dengan langkah santainya , membuka pintu mobil yang sudah disiapkan pelayan dan langsung menghilang dari teras rumah dengan cepat .
"Kenapa aku bisa punya adik menyebalkan seperti dia ?" gerutu Austin .
"Kenapa kau tidak naik mobilmu sendiri?" Pertanyaan Sheila membangunkan Arion dari keterpakuannya .
"Aku sedang ... butuh teman." Austin sengaja memuramkan ekspresi di wajahnya .
"Sahabatku direbut oleh saudaraku sendiri , ” sinisnya pada Arion. Arion mendecakkan lidahnya .
"Kau bisa naik mobil kakek."
Sheila terkikik , sedangkan Austin menampilkan ekspresi horornya," Dan sepanjang perjalanan aku harus diteror untuk memiliki cucu ? Tidak!!"
"Tidak apa? " Suara Friz menyela di antara mereka .
Austin memuat wajahnya memucat , dan saat menoleh ke samping untuk meminta tolong pada Arion dan Sheila , kedua manusia itu sudah menghilang di dalam mobil yang langsung melaju ke gerbang .
Mereka hilang begitu saja. Seperti kecepatan cahaya. Tidak terasa pergerakan nya.
"Kebetulan sekali, Austin. Bukankah hari ini kau akan pergi ke kantor kakek ? Ada yang ingin kakek bicarakan denganmu." Austin mencebik , benar - benar akan menangis . Friz menepuk pundak sang cucu dengan senyum kemenangannya .
“Lihatlah berapa umurmu , Austin. Sudah cukup kau bersenang - senang dengan hidupmu . Sekarang waktunya kau membayar kebebasan yang kakek berikan padamu."
"Umur ku bahkan belum genap 30 , Kek , " rengek Austin ketika Friz mendorongnya masuk ke dalam mobil .
"Ya , cucu teman kakek yang seumuran denganmu sudah mempunya tiga anak . Sementara kakek bahkan satu cucu pun belum. "
"Kenapa kakek tidak memintanya pada Erland saja ? Dia yang sudah menikah. " Friz menghela napas .
"Ya ,kakek juga akan , tapi sekarang kakek butuh memastikan cucu menantu mendapatkannya darimu terlebih dahulu . Kakek sudah mendapatkan satu yang terbaik untukmu. "
"Tapi , Kek ... "
"Turuti keinginan kakek atau perusahaanmu akan kakek ... "
"B - baiklah ! "
Jawaban itu kontan meluncur begitu saja dari mulut Austin tanpa pria itu rencanakan . Yang membuat Austin benar - benar dibuat kehilangan kata - kata bahkan sebelum kakeknya menyelesaikan kalimatnya . Friz menepuk pundak Austin dengan bangga . Kemudian berkata pada sopir .
"Jalan."
Beberapa saat setelah mobil Arion berhenti di depan gedung kantor FK Group , mobil Erland juga muncul. Arion menoleh , melekatkan tatapannya pada Erland yang melangkah keluar .
Dan di saat yang bersamaan , Arion menarik pinggang Sheila. Mendaratkan kecupan di bibir wanita itu . Entah apa yang mendorong Arion melakukan tindakan tersebut , ia hanya mengikuti nalurinya saja . Ya, mungkin ia tak bisa memercayai Erland . Tetapi Sheila adalah hal yang berbeda . Arion memercayai Sheila dengan sepenuh hati.
Sheila tersentak terkejut dengan kecupan Arion yang tiba - tiba di tempat umum seperti ini .
Sedangkan Arion lebih fokus menilai reaksi ekspresi wajah Erland . Tatapan mereka bertemu selama lima detik penuh . Dengan ketenangan yang terkontrol penuh , Erland memutus kontak mata tersebut . Berjalan menaiki tiga anak tangga ke teras gedung dan menghilang dibalik pintu.
...BERSAMBUNG... ...
__ADS_1
...BIASAKAN UNTUK LIKE, KOMENTAR, VOTE DAN BERI HADIAH. FOLLOW JUGA YA. THANKS READERS. ...