UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 24 : Wangi Parfum


__ADS_3

...HAPPY READINGđź“–...


Langkah Arion sempat tersendat ketika melihat Erland yang baru saja keluar dari ruang tamu dan melintasi ruang tengah . Pakaian kakaknya itu sudah rapi dan siap berangkat ke kantor .


"Kenapa ? "


Austin yang mendadak muncul di belakang Arion menepuk pundak pria itu . Sekilas ia melihat punggung Erland yang menghilang di balik pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang makan .


Arion menggeleng singkat tetapi kemudian kemunculan Sheila seketika menambah kerutan di kening . Sesaat tatapan mereka bertemu dan Austin yang menyadari ada sedikit kekakuan di antara keduanya , berusaha mencairkan suasana dengan menghampiri Sheila lebih dulu .


"Kau sudah lebih baik ?" Sheilamengangguk .


"Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak pergi ke kantor , Sheila."


Arion muncul di belakang Austin. “ Kau baru saja ..."


"Aku sudah baik - baik saja , Arion." Sheila memaksa satu senyuman untuk pria itu .


“Aku tak ingin membuat kakek khawatir dengan hal ini."


"Sesekali membuat kakek khawatir tidak akan membuatnya terserang penyakit jantung , Sheila."


Austin merangkulkan lengannya di pundak Sheila, setengah meletakkan berat badannya pada wanita itu . Yang langsung mendapatkan pukulan di pundak dan dorongan dari Arion. Membuat Austin nyaris terjungkal jika tidak segera menyeimbangkan tubuhnya dengan baik .


"Kau tahu dia baru saja sembuh dari sakitnya, kan? " dengus Arion dengan jengkel. Menarik pundak Sheila mendekat ke arahnya .


"Ada apa ini ribut - ribut ?" Yasmine muncul dari arah kamar utama .


"Sheila? Apa kau sudah sembuh ? "


Sheila mengangguk . Membiarkan Yasmine menyentuhkan punggung tangannya di kening wanita itu .


"Bukankah kau harus beristirahat selama beberapa hari?"


"Sheila baik - baik saja, mah." Yasmine tampak tak setuju, tetapi Austin langsung merangkul pundak mamanya .


"Hari ini, Austin yang akan menjaga Sheila. Seharian penuh dan dengan sepenuh hati . "


Arion dan Sheila mengerut penuh tanya . Austin memberikan cengiran kudanya.


"Hari ini Austin ada beberapa pertemuan di kantor Sheila dan Erland. Setelah selesai , Austin akan menjaganya." Yasmine langsung mengangguk setuju .


"Baguslah..... .Kalau begitu ayo semua ke meja makan. Sebelum kalian berangkat ke kantor. "


Sheila dan Arion sengaja melambat di belakang Yasmine dan Austin yang masih tak melepaskan rangkulannya pada sang mama.


"Jadi wanita mana yang kau pilih ? " tanya Yasmine .


Austin meringis. Kemudian mencium pipi Yasmine , "Ini."


Yasmine seketika melepaskan rangkulan sang putra dan memukul lengan Austindengan keras.

__ADS_1


"Mama tidak bercanda , Austin. Jika kau tidak segera memutuskan , kakekmu yang akan turun tangan." Austin mendesah panjang .


"Ayolah, Ma. Jangan merusak pagi Austin dengan soal ini. Itu sangat memengaruhi pekerjaan Austin hari ini. "


"Dan apa gunanya semua itu jika kau tidak segera menikah dan mempunya anak , hah ? " Sheila dan Arion hanya tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak yang ada di depannya.


"Kenapa mama tidak mengatur pernikahan untuk Erland saja ?" celetuk Arion . Yang seketika merubah ekspresi di wajah Yasmine dan Austin secara bersamaan .


"Kenapa ? Bukankah dia punya banyak wanita yang bisa ditunjuk dengan mudah . Lagipula sebentar lagi dia resmi menjabat pucuk jabatan di perusahaan utama . Dia akan menjadi bujangan paling dicari di negara ini."


Yasmine dan Austin seketika memperbaiki kebekuan di wajah mereka agar menjadi lebih rileks.


"Ah ya. Kakekmu juga akan mengaturnya . Tapi ... kau tahu Erland lebih keras kepala daripada Austin . Kami sudah menyerah." Yasmine memasang senyum terlalu lebarnya. Kemudian segera mengalihkan pembicaraan tentang menu makanan untuk Sheila .


Ario pun akhirnya menghela napas. Menoleh ke arah Sheila yang menundukkan wajahnya . Arion mengetatkan rangkulannya di pundak wanita itu , mengambil seluruh perhatian Sheila untuk dirinya .


"Kau baik - baik saja?" Sheila mengangguk .


"Kau tahu aku akan bersabar menunggumu , Sheila. Jangan membuat dirimu tertekan . " Sekali lagi Sheila mengangguk .


"Aku hanya ... " Arion mendesah pendek .


“Kau tahu , aku merasa jika tidak segera mengikatmu . Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan menimpa kita berdua . " Sheila teringat mimpi yang diceritaka oleh Arion tadi pagi .


"Itu hanya mimpi , Arion."


"Aku tahu. Aku hanya ketakutan saja . Kau tahu satu - satunya hal di dunia ini yang kutakuti adalah kehilanganmu , Sheila."


"Semuanya pasti akan baik - baik saja."


Arion mengangguk meski firasat itu tak pernah luntur dari dalam benaknya.


Setelah makan pagi selesai , Arion dan Sheila berpamit lebih dulu . Austin menyusul di belakang keduanya .


“Bolehkah aku menumpang mobil kalian ?"


"Tidak." jawab Arion bahkan sebelum Austin menutup mulut .


"Kenapa ?Bukankah kau juga akan mengantar Sheila ? Kita satu arah."


"Tidak , Austin, " tegas Arion.


"Kami tak butuh gangguan . Kami ingin menikmati setiap kebersamaan kami yang sangat berharga."


Austin mendecakkan lidahnya , dan tepat bersamaan saat itu Erland muncul dari dalam rumah . Senyum di ujung bibir Austin bahkan belum naik setengah persen ketika jawaban tegas dan dingin Erland segera melumpuhkan permintaannya .


"Tidak."


"Masih ada tiga kursi kosong di mobilmu."


Kening Arion mengernyit ketika Erland melintasi tubuhnya dan aroma tubuh pria itu tanpa sengaja tertangkap oleh indera penciumannya . Sesuatu yang begitu familiar .

__ADS_1


"Tidak." tegas Erland tanpa mengurangi kecepatan langkahnya . Menuruni anak tangga dua - dua sekaligus dengan langkah santainya , membuka pintu mobil yang sudah disiapkan pelayan dan langsung menghilang dari teras rumah dengan cepat .


"Kenapa aku bisa punya adik menyebalkan seperti dia ?" gerutu Austin .


"Kenapa kau tidak naik mobilmu sendiri?" Pertanyaan Sheila membangunkan Arion dari keterpakuannya .


"Aku sedang ... butuh teman." Austin sengaja memuramkan ekspresi di wajahnya .


"Sahabatku direbut oleh saudaraku sendiri , ” sinisnya pada Arion. Arion mendecakkan lidahnya .


"Kau bisa naik mobil kakek."


Sheila terkikik , sedangkan Austin menampilkan ekspresi horornya," Dan sepanjang perjalanan aku harus diteror untuk memiliki cucu ? Tidak!!"


"Tidak apa? " Suara Friz menyela di antara mereka .


Austin memuat wajahnya memucat , dan saat menoleh ke samping untuk meminta tolong pada Arion dan Sheila , kedua manusia itu sudah menghilang di dalam mobil yang langsung melaju ke gerbang .


Mereka hilang begitu saja. Seperti kecepatan cahaya. Tidak terasa pergerakan nya.


"Kebetulan sekali, Austin. Bukankah hari ini kau akan pergi ke kantor kakek ? Ada yang ingin kakek bicarakan denganmu." Austin mencebik , benar - benar akan menangis . Friz menepuk pundak sang cucu dengan senyum kemenangannya .


“Lihatlah berapa umurmu , Austin. Sudah cukup kau bersenang - senang dengan hidupmu . Sekarang waktunya kau membayar kebebasan yang kakek berikan padamu."


"Umur ku bahkan belum genap 30 , Kek , " rengek Austin ketika Friz mendorongnya masuk ke dalam mobil .


"Ya , cucu teman kakek yang seumuran denganmu sudah mempunya tiga anak . Sementara kakek bahkan satu cucu pun belum. "


"Kenapa kakek tidak memintanya pada Erland saja ? Dia yang sudah menikah. " Friz menghela napas .


"Ya ,kakek juga akan , tapi sekarang kakek butuh memastikan cucu menantu mendapatkannya darimu terlebih dahulu . Kakek sudah mendapatkan satu yang terbaik untukmu. "


"Tapi , Kek ... "


"Turuti keinginan kakek atau perusahaanmu akan kakek ... "


"B - baiklah ! "


Jawaban itu kontan meluncur begitu saja dari mulut Austin tanpa pria itu rencanakan . Yang membuat Austin benar - benar dibuat kehilangan kata - kata bahkan sebelum kakeknya menyelesaikan kalimatnya . Friz menepuk pundak Austin dengan bangga . Kemudian berkata pada sopir .


"Jalan."


Beberapa saat setelah mobil Arion berhenti di depan gedung kantor FK Group , mobil Erland juga muncul. Arion menoleh , melekatkan tatapannya pada Erland yang melangkah keluar .


Dan di saat yang bersamaan , Arion menarik pinggang Sheila. Mendaratkan kecupan di bibir wanita itu . Entah apa yang mendorong Arion melakukan tindakan tersebut , ia hanya mengikuti nalurinya saja . Ya, mungkin ia tak bisa memercayai Erland . Tetapi Sheila adalah hal yang berbeda . Arion memercayai Sheila dengan sepenuh hati.


Sheila tersentak terkejut dengan kecupan Arion yang tiba - tiba di tempat umum seperti ini .


Sedangkan Arion lebih fokus menilai reaksi ekspresi wajah Erland . Tatapan mereka bertemu selama lima detik penuh . Dengan ketenangan yang terkontrol penuh , Erland memutus kontak mata tersebut . Berjalan menaiki tiga anak tangga ke teras gedung dan menghilang dibalik pintu.


...BERSAMBUNG... ...

__ADS_1


...BIASAKAN UNTUK LIKE, KOMENTAR, VOTE DAN BERI HADIAH. FOLLOW JUGA YA. THANKS READERS. ...


__ADS_2