UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 8


__ADS_3

PERNIKAHAN PAKSA


Dengan derai air mata yang masih mengenai seluruh wajahnya, Sheila kembali bejalan dengan kedua kakinya sendiri dan lepas dari rangkulan Austin. Berjalan kearah Erland kemudian menghujankan tinjunya ke dada pria itu. Erland hanya menerima satu dua pukulan Sheila selanjutnya pria itu menahan kedua lengan Sheila dan mendorongnya menjauh . Dan lagi - lagi tubuh Sheila ditangkap oleh Austin yang bergerak sigap di belakang wanita itu sebelum tubuh mungil Sheila tersungkur ke lantai .


"Jaga sikapmu, Erland." desis Austin penuh peringatan .


"Kau tahu kakek sangat ... "


"Ya , ya , ya . Dia cucu emas kakek?"


Austin mengelus pundak Sheila dengan lembut demi meredakan amarah dan tangisannya yang semakin terisak . Tahu apa pun yang dikatakannya tak akan membuat Erland mundur dari keinginan pria itu.


“Kau bohong, Erland!!” air mata kembali merebak di kedua kelopak mata Sheila.


Ia kembali lepas dari rangkulan Austin dan kedua tangannya menghambur ke depan. Tak menyerah untuk mendaratkan satu pukulan di dada Erland. Tetapi sebelum salah satu tangannya sempat menyentuh dada pria itu, Erland menangkapnya. Dengan seringai jahat tersungging di ujung bibir .


"Kau tak pernah menyentuhku. Aku tahu apa yang kurasakan!!" Sheila menatap mata itu dengan berani.


"Ya, kau tak perlu merasakannya. Kau terlalu mabuk untuk mengingatnya. Apa kau juga ingat bagaimana aku menelanjangimu ? " Wajah Sheila merah padam dan serasa terbakar


Ia dan Erland berciuman ?


Sheila mencoba menggali ingatannya kembali. Semakin dalam dan dalam , kemudian kedua matanya membelalak terkejut . Ia dan Erland berciuman . Sheila sedikit mengingatnya. Tetapi kepalanya menolak pemikiran tersebut. Yang membuat Erland terkekeh puas .Erland menarik lengan Sheila ke tubuhnya membuat tubuh Sheila membentur dadanya yang bidang dan keras.


"Apa kau perlu bantuanku untuk mengingatnya ? Mengingat setiap detail bagaimana kita memulai hingga berakhir telanjang bersama diatas ranjang? "


"Erland," desis Austin tajam .


"Kau bilang kau mabuk Erland!!"


"Ya , tapi aku tak pernah lupa apa yang terjadi saat aku mabuk , kan ?" jawab Erland tanpa melepaskan tatapannya pada wajah basah Sheila.


Menurunkan wajahnya , yang kali ini membuat Sheila meronta dan berusaha melepaskan cekalannya .


"Ya ,aku tak pernah tertarik memilikimu . Tapi ... sebagai penerus kakek dan menjadi pemenang di antara kedua kakak dan adikku, aku mendapatkan kau sebagai bonusnya. "


Itu sangat melukai hati Sheila.


"Cukup." gertak Austin melepaskan tubuh Sheila dari Erland .


Erland melepaskannya , masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

__ADS_1


"Sebagai seorang sahabat sekaligus kakaknya, kau juga terlihat sangat protektif terhadap gadis ah maksud ku wanita ini. "


"Sheila adalah adikku. " tegas Austin


"Oh ya? Mari kita lihat sampai kapan kau akan bersembunyi dibalik kata 'kakak dan sahabat' ."


Keesokan Pagi


Acara pernikahan tetap berlangsung seperti yang direncanakan walaupun mundur beberapa jam dari yang tertulis di undangan. Kakek Friz seolah menghindar untuk bertatapan langsung dengan Sheila, membiarkan Erland mengambil kendali atas diri Sheila untuk mempersiapkan semuanya.


Butuh berjam-jam bagi Sheila untuk berurusan dengan riasan dan model rambut . Hingga dirinya siap dengan baju pengantinnya .


Sheila duduk di depan meja riasnya, menatap wajahnya yang dipol make up dan terlihat begitu cantik, meski sorot matanya dipenuhi tatapan kosong. Sejenak Sheila mengamati hasil kerja sang make up artist tersebut yang berhasil menutupi bengkak di kedua matanya dengan sempurna . Sheila tak peduli sekarang sudah jam berapa dan kapan ia akan diseret keluar untuk melakukan pernikahan dengan Erland .


"Mbak tolong jangan terus menangis. Saya kesusahan untuk meriahnya jika anda terus menangis. "


"Maafkan aku. "


"Sepertinya pernikahan ini tidak diinginkan secara pribadi oleh mbak Sheila. Tapi Tuhan punya jalan tersendiri untuk umatNya. " perias wanita itu terlihat fokus merias matanya beserta kata-kata yang lembut.


"Terimakasih."


Bagaimana keadaan pria itu saat ini ? Apakah Arion masih berpikir bahwa dia telah tidur dengan Erland? Pertanyaan tersebut berputar - putar di kepalanya seperti kaset rusak . Membuat otaknya serasa berkarat .


Suara ketukan pelan dari arah belakang membangunkan Sheila dari lamunan patah hatinya . Wanita itu tak bergerak, tapi bola matanya bergerak melirik ke arah pintu. Dengan kedua tangan yang mengepal di pangkuan, menunggu dengan tegang siapa yang akan masuk dengan kemarahan yang masih membekukan dadanya. Pintu bergerak terbuka, dan wajah Austin muncul. Pria itu sudah rapi dan mengenakan setelan jas nya.



Sheila langsung berdiri dan berjalan kearah Austin dengan mengangkat gaunnya yang sedikit berat. Gadis itu terisak pelan meski tak ada air matanya yang jatuh menerima uluran kedua lengan Austin dan kembali jatuh ke dalam pelukan pria itu.


"Sudah jangan menangis...Kau sangat cantik, Sheila." gumam Austin


"Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu untuk membantuku? Apa sungguh tidak ada cara lain?"


Austin menggeleng tanpa daya .


"Kau tahu Erland meletakkan lima pengawal di depan pintu kamarmu.Jadi aku tidak bisa melakukan apapun. "


" Erland memang sengaja ingin menguasai harta kakek itu . Itulah sebabnya aku mengubahmu tentang makan malam kalian yang berlangsung begitu lancar dan tepat seperti yang kau inginkan. "


"Dia hanya membiarkan kalian lengah , sebelum menyerangmu."

__ADS_1


"Walaupun begitu kau akan tetap aman dalam perlindungan kakek Friz sesuai dengan kesepakatan bersama Erland. "


Sheila mengerjap tak mengerti .


"Kesepakatan?"


"Kau ingat kata - kata kakek sebelum pergi ."


Sheila mencoba mengingat , tapi kepalanya terlalu dipenuhi oleh Arion dan membuatnya tak bisa mengingat apa pun . Yang ia ingat dari semua kalimat panjang lebar kakek Friz aat itu adalah keputusan dirinya yang harus menikah dengan Erland. Sheila tak mendengar selebihnya .


"Semua ini belum selesai. Erland belum sepenuhnya menang . "


Kening Sheila berkerut , mencoba mencerna lebih banyak penjelasan Austin .


"Kakek punya hak untuk membatalkan semuanya jika Erland terbukti tidak bisa bertanggung jawab kepadamu . "


Kedua mata Sheila melebar , seketika harapan terungkap dalam tatapannya . Ia masih punya harapan . Ia dan Arion masih memiliki harapan untuk bersama.


"Apakah sudah selesai? "


Yasmine masuk kedalam bersamaan dengan pria paruh baya yang masih tampak muda. Dia adalah ayah dari Austin, Arion dan Erland. Siapa lagi jika buka om Justin. Seperti nya pria itu pulang dari perjalanan bisnisnya ketika mendengar berita dirinya bersama Erland.


"Ayah? Sejak kapan ayah datang? " sapa Austin


"Baru saja. "


"Kau baik-baik saja Sheila? " tanya Justin


"Sheila baik-baik saja om. "


Mungkin ..lanjut nya dalam hati


"Maafkan kesalahan anak om yang brengsek itu. Setelah mendengar kabar jika kau dan Erland yang akan menikah membuat om shok berat. Namun apalagi, semuanya sudah terjadi. " ucap Justin mengelus bahu Sheila


"Sebaiknya kita turun kebawah.. " sela Yasmine


Sheila berdiri dibantu oleh Austin dan tante Yasmine, berjalan beriringan. Sedari tadi jantungnya terus berdecak sangat kencang. Ia sangat nervous. Buku-buku jarinya sampai memutih dan berkeringat dingin. Apakah ini benar-benar terjadi pada hidupnya yang malang ini? Kenapa hidup Sheila sangat tidak sesuai dengan ekspektasinya bersama Arion. Sheila ingin sekali membawa Arion kabur bersama, namun itu sangat mengambil resiko yang terlalu besar. Karena yang mereka lawan adalah kakeknya sendiri. Pemimpin perusahaan terbesar di negara ini, akan sulit untuk bersembunyi dari para anak buah kakek Friz yang tersebar luas di kota maupun pelosok desa.


"Tuhan jika engkau menyayangiku, hamba hanya ingin pernikahan ini batal agar hamba bisa bersatu bersama Arion kembali.. " pinta Sheila


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2