UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 15


__ADS_3

PULANG DAN KEBOHONGAN


Empat hari kemudian , dokter menyatakan Arion sudah boleh melakukan rawat jalan di rumah . Meski masih harus beberapa kali kembali ke rumah sakit untuk kontrol tulang lengannya yang retak.


Sepanjang perjalanan pulang , Arion sama sekali tak melepaskan tangan Sheila dari genggamannya. Memain - mainkan jari manis Sheila yang dilingkari cincin tunangan mereka


Ya , Sheila melepaskan cincin pernikahannya bersama Erland . Meski Erland memaksanya untuk terus memakainya. Sheila pun memakai cincin itu sebagai bandul kalung dan membuat Erland sedikit puas.


"Apa kita sudah merencanakan pernikahan?"


Sheila teridiam sejenak , kemudian menggeleng .


" Kita akan mumbahasnya satelah keadaanmu membaik Arion. Ini masih terlalu cepat . Aku_" Sheila menjilat bibirnya yang kering .


Entah berapa kebohongan yang harus la tumpuk untuk Ario . Arion mengangguk,


"Hm, baiklah. Aku akan menunggumu."


"Terima kasih."


Sheila tersenyum. Menekan genggamannya pada jemari Arion yang memenuhi jemarinya . Rasa bersalah di dadanya menumpuk dan semakin menumpuk dengan kebohongan yang terus bertambah setiap ia bersama dengan Arion .


Setelah mengantar Arion ke kamarnya dan Sheila memutuskan kembali ke paviliun . Sheila menatap ponselnya yang menampilkan nama Erland . Pria itu tampaknya tak menyerah bahkan setelah menolak panggilan Erland yang serasa seperti teror .


Sheila duduk di kursi , menarik napas dalam - dalam dan menenangkan emosi di dadanya sebelum memutuskan untuk mengangkatnya.


"Ya Erland."


"Kau tahu mengangkat panggilanku juga adalah salah salu syarat aku membiarkanmu menemani pria itu, kan? " Suara Erland langsung menyambutnya dengan nada ancaman yang begitu kental .


"Aku tak mungkin mengangkat panggilan di depan Arion , Erland . Apa kau tidak mengerti." kesalnya


"Hmm dan ini mulai membuatku dirugikan."


Mata Sheila terpejam . mendesah pelan . Mengingat titah Friz yang berisi bahwa mereka harus menyembunyikan pernikahan mereka di depan Arion. Namun, Erland tetap tak mau dirugikan dengan keputusan tersebut . Di belakang Arion , pria itu tetap menuntut dirinya untuk menjadi istri yang baik dan patuh . Dan Sheila tak mengerti kenapa pria itu mendadak menjadi begitu tertarik pada dirinya mengingat sikap dingin Erland di makan mmalam saat ulang tahunnya .


Beruntung , sekarang emosinya sudah mulai lebih stabil setiap berhadapan dengan sikap Erland yang terkadang begitu kekanakan . Menuntut ini dan itu darinya .


"Maafkan aku . Lain kali aku akan mengangkatnya."


"Baguslah jika kau menyadari kesalahanmu . Jadi bagaimana kabarnya selama aku di luar kota ?"


Sheila memutar bola matanya menyadari nada Erland yang seketika berubah melunak karena ucapan maaafnya , yang sejujurnya pun tak sungguh - sungguh dari dalam hatinya .


"Hari ini Arion sudah boleh pulang"


"Apakah itu berarti dia sudah siap mendengar ....."

__ADS_1


"Erland, kumohon." potong Sheila


Erland terkekeh


"Menurutmu , manakah yang lebih baik . Bahagia di balik kebohongan ataukah terluka karena kejujuran ?"


"Tidak keduanya , Erland."


Kikikan Erland semakin nyaring


"Istriku, benar-benar naif."


"Aku harus pergi , Erland."


"Terburu - buru , heh?"


"Aku baru saja pulang dari rumah sakit dan aku benar - benar butuh ke kamar mandi." Erland tak langsung menjawab


"Baiklah . Kita akan bicara lagi setelah makan malam."


"Ya , aku akan mengangkatnya"


"Hmm , selamat siang , istriku"


Tanpa menjawah sapuan Erland yang sengaja untuk membuatnya jengkel , Sheila memutuskan panggilan dan muletakkan ponslnya di nakas . Kemudian berjalan ke kamar mandi dan ia butuh berendam . Tubuhnya benar - benar terasa lengket dan keningnya pusing oleh sikap Erland yang begitu kekanakan .


"Aku sudah mengatakan padamu untuk banyak beristirahat , Arion." delik Sheila begitu muncul di kamar tidur Arion dengan nampan herisi makan mmala.


Tersenyum dengan lengannya yang tidak diperban disembunyikan di belakang tubuhnya, tampak menyembunyikan sesuatu yang membuat Sheila mengerulkan kening.


"Kemarilah." pintah Arion ketika langkah Sheila tersendat, dengan kening yang masih berkerut Sheila melangkah mendekat .


Meletakkan nampan di meja sudut dan berhenti tepat di hadapan Arion," Ada apa, Rion?"


Arion menunjukkan kalung dengan bandul berlian biru yang seperti tetesan air. Bentuknya senada dengan cincin yang diberikun Arion ketika melamarnya.


"Aku menemukannya di rak. Sepertinya aku lupa memberikannya padamu atau mungkin aku punya rencana sendiri untuk memberikannya padamu."


Sheila melengkungkan bibirnyarnya meski senyum itu tak sampai di matanya . Senyum Arion membuat hatinya semakin hancur. Tentu saja ia ingat kalung itu , Arion tidak lupa memberikan padanya , tetapi Erland lah yang mengambil kalung dan cincin itu kepada Arion.


"Sangat indah.Terima kasih , Arion" Sheila menyentuhkan ujung jemarinya pada bandul tersebut .


"Berbaliklah." pinta Arion kemudian .


"Aku akan memakaikannya untukmu." Wajah memerah Sheila seketika memucul , menelan ludahnya gugup.


Merasakan cincin pernikahannya dan Erland yang menggantung di dadanya,ia takut Arion menanyakan soal cincinnya itu.

__ADS_1


"Arion."


"Kenapa? Kau tak suka dengan kalung ini? " Arion mungernyit merasakan penolakan dalam ekspresi Sheila . Sheila menggeleng dengan cepat .


"Aku ... aku akan menyimpannya saja . Ini ini terlalu bagus jika dikenakan hari biasa saperti ini . Aku akan mengenakannya khusus di hari spesial."


Arion terdiam , tampak herpikir sejenak menatap kulung dan ekspresi di wajah Sheila, kemudium mengangguk.


"Baiklah."


"Sekarang waktunya kamu makan." Sheila mengalihkan pembicaraan sembari mengambil kalung tersebut . Membawa Arion duduk di sofa .


Sheila mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapkan ke mulut Arion . Keduanya mengobrol ringan sesekali tertawa karena lucu, Sheila seketika melupakan sedikit statusnya dengan Arion.


"Lima menit lagi." tawar Arion menahan lengan Sheila yang hendak beranjak .


"Kau mengatakannya satengah jam yang lalu , Arion." senyum Sheila melepaskan tangan Arion dengan lembut .


"Aku masih merindukanmu."


"Aku jugu , Arion. "


"Aku mencintaimu. " Sheila merasakan gumpalan di tenggorokannya semakin membesar .


"Aku juga mencintaimu , Arion . Berbaringlah , aku akan mematikan lampu untukmu . Sebelum mamamu datang dan memergoki kita berdua disini berduaan." tawa Sheila


Arion memberenggut, kemdian menghela napas panjang .


"Aku tak sabar ingin segera menjadikanmu istriku , Sheila. "


Sekali lagi wajah Sheila dibuat pucat oleh kalimat Arion . Memaksa sebuah senyuman menanggapi harapan Arion yang ia tahu akan berakhir pada kesena, sampai Arion mengetahui kebenaran yang sesungguhnya .


"Hanya saja, jangan buat harapanku membuatmu merasa tertekan, Sheila." tambah Arion dengan lembut.


Sheila hanya mengangguk , menahan cairan panas yang muncul di ujung kelopak matanya, Arion adalah pria yang sangat baik. Sheila bangga bisa memilikinya walaupun tidak untuk selamanya.


"Ya , Arion . Selamat malam."


"Selamat malam juga."


Sheila berbalik dan setetes air bening jatuh di pipinya . Ia melangkah keluar dengan kaki lemas, berdiri tepat di depan pintu dengan tangan menggenggam gagang pintu . Menarik napasnya dalam - dalam demi menahan air matanya meleleh lebih banyak .


"Arion, aku harap kau mendapatkan perempuan yang jauh lebih sempurna dariku."


Sheila baru saja melepaskan tangannya dari gagang pintu dan hendak menyeka air mata dengan punggung tangannya ketika tiba - tiba pinggangnya ditarik dari arah samping , kemudian tubuhnya didorong hingga punggung menempel di dinding. Lalu tubuh Erland segera mengukungnya.


" Erland? " Sheila memekik terkejut

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2