UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 12


__ADS_3

TERLEPAS


"Kumohon, Erland. "


Erland mengernyit, terkejut oleh nada suara Sheila yang mendadak menjadi lebih pelan.


"Aku belum selesai."


"Masih sakit." Kernyitan Erland semakin dalam .


Mencerna kalimat terakhir Sheila untuk sesaat lalu tersenyum ," Ah , ini pertama kalinya untukmu , ya?"


Sheila berharap tempat tidur bisa menenggelamkan seluruh tubuhnya, rasa malu bercampur rona merah yang bercampur aduk di wajahnya . Ia pun menggeliatkan tubuhnya berharap pria itu tidak berminat melakukannya lebih jauh lagi .


"Itulah mengapa kau yakin bahwa tidak ada yang terjadi tadi antara kita kemarin malam, ya ? " gumam Erland mengejek sambil berguling ke samping. Membiarkan tubuh Sheila beringsut menjauh dan turun ke tempat tidur.


"Aku tak berpengalaman dengan perawan, buat dirimu nyuman sendiri. Apakah itu cukup? "


Wajah Sheila semakin tertunduk meski posisinya sudah memunggungi Erland dan duduk di sisi tempat tidur . Sheila menghiraukan nya, dan turun untuk memungut jubah mandinya yang tergeletak di lantai .


"Apakah Arion belum menyentuhmu ? Atau mungkin kalian punya moto hidup semacam no *** sebelum menikah ?"


"Ck , kupikir Arion sudah mencicipimu, sayang sekali lama berpacaran namun tidak pernah merasakannya. "


"Jaga bicaramu! Arion bahkan lebih baik darimu, Erland. "


Menjelaskan semua itu pada pria seperti Erland adalah hal yang sia - sia . Erland tak akan memahami hal semacam itu.Erland tak bisa menahan senyum gelinya melihat Sheila yang sedikit kesulitan tentu saja saat ia berjalan , penyebabnya tentu saja dirinya.


"Perlu bantuan?"


"Aku bisa menggendong mu sampai kamar mandi. "


"Tidak perlu. "


Sheila meringis , setiap langkah yang ia ambil dar membuat pangkal pahanya saling bergesekan yang membuktikan bahwa dirinya sudah tak benar-benar utuh sebagai seorang gadis. Keperawanannya telah direnggut oleh mantan calon kakak iparnya sendiri yang kini sudah menjadi suaminya , Sheila berusaha menguatkan hati.


Apa yang dimilikinya dengan Arion jauh lebih dalam dan kuat dari sekadar kebutuhan dan sentuhan fisik . Tapi sekarang tak yakin apakah Arion akan tetap mau menerima dirinya sendiri dan bagaimana cara mereka kembali bersama . Sheila tak juga mendapatkan jawabannya bahkan setelah satu jam mengguyur tubuhnya di bawah air dingin.



"Maafkan aku Rion.. " lirih Sheila

__ADS_1


Saat Sheila keluar dari kamar mandi, Erland masih terlelap di tempat tidur yang berantakan. Sheila bernafas dengan lega dan kembali ke tempat tidur sembari berusaha tidak menciptakan suara sekecil apa pun . Ia kembali berhasil berbaring di sisi tempat tidur dan membuat jarak sejauh mungkin dengan Erland.


Ini masih pukul 4 pagi dan Sheila rasanya tidak kuat untuk beraktivitas seperti biasanya. Pikiran dan tubuh yang masih lelah kali ini membuatnya lebih mudah terlelap.


Esok paginya, Sheila bangun lebih dulu. Merasakan tubuhnya dililit oleh lengan berotot milik Erland dari belakang dan seluruh punggungnya menempel di dada pria telanjang itu . Serta wajah Erland yang tenggelam di antara helaian berambut di tengkuknya .Napas Erland yang teratur membuktikan bahwa pria itu masih terlelap .


Butuh dua menit lebih turun dari tempat tidur tanpa membangun pria itu lalu berjalan ke kamar mandi dengan serangkaian hal yang akan dilakukannya hari ini. Menelpon Austin , bertemu dan berbicara dengan Arion.Ia turun menuju ruang utama dan berpapasan dengan tante Yasmine," Kau sudah bangun Sheila?" tanyanya


Sheila tersenyum dan mengangguk . Yasmine tersenyum tipis ketika melihat cara jalan Sheila.


"Apa Erland belum bangun?"


"Belum ,tante."


"Panggil mamah saja.Kau sudah menjadi bagian keluarga ini."


"I-iya mahh.."


"Baiklah. Sheilla bisakah kau membangunkan Arion dan Austin ? Mamah sedang bersial-siap untuk kembali ke mansion. ." ucap beliau yang tengah sibuk mengatur barang.


Sheila ingin menolaknya,namun tidak bisa dan mengangguK dan berjalan menuju kamar Austin yang jauh lebih dekat dengan kamar Arion. Namun , ia berpapasan dengan Austi dipertengahan jalan lobi.


"Membangunkan kalian.Kita akan kembali ke mansion, jadi bersiaplah."


"Ooh begitu..apa kau berniat membangunkan Arion, Sheila?" tanya Austin yang dibalas anggukan olehnya. Sheilla berjalan menuju kamar Arion terletak berdampingan dengan kamar Austin.


"Tunggu.." cegah Austin saat melihat Sheilla yang seperti kesulitan berjalan, namun tercetak senyuman penuh arti setelah paham akan apa yang sudah terjadi.


"Apakah sakit? " goda Austin


"Maksudmu?" bingung Sheila kemudian melototkan matanya saat tahu kemana arah pembicaraan Austin, apalagi dengan tatapan menggodanya.


Sheila berbalik melanjutkan langkahnya dengan cepat tidak memperdulikan godaan dari Austin. Sheila berjalan dengan menunduk berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya ,apalagi mendengar teriakan penuh godaan dari Austin. Sementara Austin hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkahnya, namun beberapa detik berubah menjadi datar dan berbalik melanjutkan jalannya.


Membuka kamar Arion dan berjalan menuju ranjang yang terlihat tengah disinggahi oleh sang pemilik. Stella berjalan mendekat dan menatap wajau kacau itu dengan pandangan sendu. Tangannya seolah bergerak sendiri untuk mengusap dahi Arion yang tertutup oleh rambut , memperlihatkan wajah yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat.


"Rion , bangun." panggil Sheila


Mata itu terbuka menampilkan mata hitam yang sangat jernih, keduanya bertatapan selama beberapa detik sebelum pria itu bangun dan mendudukan tubuhnya. Arion menundukkan wajahnya kemudian menoleh kearah Sheila dengan pandangan sayu kemudian tersenyum tipis.


"M-mamah menyuruh kita untuk berkemas dan kembali ke mansion." ucap Sheila bergetar karena canggung.

__ADS_1


Arion bangun dari duduknya namun merasakan sedikit pusing karena pengrauh alkohol semalam. Berjalan begitu saja menuju kamar mandi meningalkan Sheila yang terdiam menatapnya. Sheila tersenyum miris . Beberpa menit kemudian Arion keluar dengan pakaian lengkapnya. Sheila berbalik menatapnya.


"Arionnn tunggu..asshh.." Sheila bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pria itu, namun kain celananya menggesek sesuatu dibawah sana membuatnya meringis.


Arion terdiam pucat.


Melihat bagaimana cara Sheila berjalan dan meringis dibagian itu membuatnya tertawa miris. Arion tida sepolos itu hingga tidak mengetahui apa yang tekah terjadi. Sheila berjalan mendekat berusaha menggapai tangan Arion , ia sangat merasa bersalah ketika melihat wajah miris Arion.


"Jangan menyentuhku." Arion menepis tangan Sheila


"M-maafkan aku Arion , tap-tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan, Erland...Erland yang-"


"Tidak perlu dijelaskan."


Arion berjalan keluar dari kamar dengan guratan emosi dimatanya, meninggalkan Sheila yang terdiam seperti patung.


Arion berbapasan dengan Erland saat hendak memakai lift, keduanya saling bertatapan . Erland menatap wajah adiknya itu dengan seringaian yang tercetak jelas diwajahnya, Arion mati-matian untuk menahan agar tidak menonjok wajah itu.


Sebelum lif tertutup, Sheila berlari menyusul Arion dan betapa terkejutnya ketika didalam lift itu ada Erland juga. Mereka bertiga terjebak dalam lift yang sama.Sheila berdiri disisi keduanya dengan canggung.


Ting


Baru saja sampai lantai dua , Arion terlebih dahulu keluar . Sheila hendak mengejarnya namun pinggangnya langsung ditarik oleh Erland menempelkan tubuhnya dengan Sheila.


Sebelum lift tertutup sempurnya , Arion berbalik danĀ  menggeram rendah melihat pemandangan itu. Sheila menatap wajah Arion yang berbalik dari celah lift yang belum sepenuhnya tertutup dengan pandangan sendu. Erland tersenyum miring sebelum pintu lift sepenuhnya tertutup.


"Brengsek." geram Arion mengepalkan tanganya dan berjalan menuruni tangga dengan emosi meluap-luap.


"Lepas!"


"Aku suamimu bukan dia." ucap Erland mengingatkan.


"Bagaimana bisa aku melihat istriku masih mengejar mantan kekasihnya tepat di depan mataku sendiri?" seringainya, Sheila terdiam .



"Jaga batasanmu, Sheila." bisiknya tepat di telinga Sheila


Sebuah peringatan terekam jelas ditelingaya begitupun saat merasakan benda lembut nan kenyal mengecup dan menjilat lehernya, hingga pintu lift terbuka , Erland menyeret Sheila keluar.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2