UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 14


__ADS_3

HILANG INGATAN


Arion kemudian menyadari lengannya sebelah kirinya yang di perban tebal .


"Sheila , apa ini?"


"I - itu." Sheila menjilat bibirnya yang mendadak kering tak tahu bagaimana menjelaskannya .


"Arion , aku dan Erland perlu bicara sebentar . Bisakah kau menunggu sebentar ? Hanya sebentar . Dua menit."


Arion mengernyit , tetapi tetap mengangguk . Menatap Sheila yang menyeret Erland keluar dari kamar inap . Kemudian kembali . beralih pada lengannya . Rasa sakit di kepalanya semakin menusuk ketika ia mencoba mengingat apa yang membuat lengannya terasa patah seperti ini . Arion pun menyerah dan berhenti mencoba .


"Kenapa ? Kau menyukai keadaan saat ini ?" decak Erland begitu Sheila menutup pintu ruang perawatan Arion .


"Kekasihmu tak mengingat kekalahannya... "


"Apakah bagimu semua ini hanya tentang pertandingan ?" tanya Sheila tak habis pikir


"Tidak."


Tangan Erland terangkat , menyentuh kerah dreses Sheila dan sedikit menurunkannya . Mengelus kismark yang ia tinggalkan di sana dan berucap pelan.


"Ini tentang istriku yang masih memikirkan harapan untuk bersama mantan kekasihnya."


Mulut Sheila terkatup rapat , menarik dirinya menjauh dan kembali merapikan kerah bajunya . Keduanya saling pandang untuk sepuluh detik yang penuh , hingga kemudian dipecahkan oleh suara langkah kaki di ujung lorong . Dokter dengan dua perawat yang mengekor di belakang sang dokter .


"Aku akan menghubungi Austin dan mamah."


Sheila membalikkan tubuhnya dan menghindari interaksi dengan Erland yang selalu membuat dadanya sesak .


Setelah seluruh anggota berkumpul dan mendengar penjelasan dari dokter mengenai keadaan Arion. Friz meminta Yasmine masuk ke dalam ruang perawatan untuk menemani Arion.


Benturan di kepala Arion membuat pria itu mengalami gegar otak ringan sehingga beberapa ingatan terakhirnya hilang. Erland mendengus tepat setelah dokter itu melangkah pergi


"Bagiku ini terdengar seperti omong kosong yang konyol."


"Erland." peringat Friz .


"Kata - katamulah yang terdengar seperti bualan." sahut Austin


"Aku tak yakin ini bukan salah satu triknya karena tak sanggup menghadapi kekalahannya. "


"Aidan tidak sepertimu , Erland." desis Sheila dongkol


Bagaimana mungkin dengan situasi seserius ini Erland berbicara sekasar dan sedingin itu tentang Arion. Erland mendengus keras .


"Dan mungkin saja kau ikut andil dalam situasi ini , kan ? Untuk kembali padanya . Jangan bermimpi Sheila."


"Hentikan Erland . Sheila benar, Arion tidak sepertimu." balas Austin

__ADS_1


"Ah , kau juga ikut andil ?"


Tinju Austin yang sudah mengepal sudah siap melayang . Tetapi Friz segera menghentikannya .


"Cukup kalian berdua ! "


Hening sejenak .


Austin menarik napas dalam - dalam . emosinya sedikit mereda dengan elusan Sheila di pundaknya .


" Tidak bijak jika kita tiba - tiba memberitahu tentang pernikahan Erland dan Sheila , kakek . Kita tidak tahu apa ... "


"Dan menurutmu menyembunyikan pernikahan kami akan membuatnya merasa bih baik ? Lebih baik terluka di awal daripada harus menyimpan kebohongan dengan keadaan yang baik - baik saja." selintas emosi melintasi wajah Erland yang lagi - lagi membungkan kalimat Austin .


"Hentikan kalian berdua." Geraman Friz lebih dalam dari sebelumnya .


"Keadaan Arion sedang tidak baik, ini demi kondisinya. "


Erland langsung menggeram, "Dan bukan berarti dia bisa memanfaatkan kecelakaan ini untuk menjadi pemenang , kan?"


"Kecelakaan malam itu juga kau menggunakan nya untuk mendapatkan Sheila, kan ?" balas Austin cepat


"Kecelakaan itu sama sekali bukan rencanaku . Semua itu hanya kesialan Sheila yang masuk ke dalam kamar pria dewasa yang juga dalam keadaan mabuk." ujar Erland santai


"Kaulah yang paling tahan menetralisir alkohol dibanding kita berdua . Aku yakin kau tahu apa yang kau lakukan dengan Sheila. Kau sadar apa yang akan terjadi setelah malam itu, kan!" tudingan Austin membuat Erland menggeram , walaupun tak bisa menyangkal kata - kata Austin .


Ya , ia memang mengingat setiap hal yang terjadi dengannya dan Sheila malam itu . Friz kembali menengahi kedua cucunyu.


Pandangan Friz heralih pada Sheila yang duduk di kursi . Ekspresi di wajah wanita itu tampak kosong , bercampur gurat lelah dan kantung mata yang semakin jelas di setiap malamnya .


Ya , bagaimana pun ia sudah meminta Sheila untuk beristirahat , namun wanita itu bersikeras untuk tetap menemani Arion seolah takut jika ia pergi sebentar saja.


"Pernikahan ini sungguh - sungguh terjadi , Kakek . Jangan membohongi diri sendiri demi Arion."kerasnya.


"Kakek belum selesai berbicara Erland. "


Erland terdiam , Austin dan Sheila tetap menunggu keputusan meski tahu keputusan tersebut tak akan berpihak pada salah satu dari mereka .


"Kita akan mengatakan yang sebenarnya sampai keadaan Arion kembali normal dan siap menerima kebenaran ini." Erland masih tak puas .


"Semua ini tak akan mengubah siapa pemenangnya . Sheila tetap istrimu."


Kali ini Erland harus merasa cukup puas . Tatapannya menangkap mata Sheila , dengan seringai yang tersamar di ujung bibir pria itu .


"Ya , bagaimana pun aku tak menolaknya menjadi istriku ,kakek bilang aku harus menerima dirinya apa adanya , kan?" pungkas Erland kemudian berbalik dan melangkah pergi .


"Maafkan kakek , Sheila."


Sheila tak tahu harus mengatakan apa ketulusan Friz lagi - lagi membuatnya lebih pasrah menerima keadaan.

__ADS_1


"Sekarang yang perlu kau pikirkan adalah mendampingi Arion hingga sembuh. Selebihnya , kita akan bicarakan lagi setelah keadaan kembali tenang


"Tunggu , Austin." Friz mencegah Austin yang sudah mengangkat kakinya .


"Pergilah dan temani dia." Sheila pun beranjak dan masuk ke dalam ruang perawatan Arion,bertanggung jawab untuk kecelakaan itu .


"Kakek sudah memperingatkan kata - katamu terhadap Erland sebelumnya." Austin mendengarkan .


"Kita semua tahu seberapa banyak yang sudah Erland alami saat itu . Kau tak perlu mendesaknya lebih jauh lagi .Jangan lagi mengungkit hal itu, apa kau mengerti?" Austin mengangguk lagi .


"Pergilah."


Saat Austin masuk ke dalam ,Sheila sedang menyuapkan jeruk ke mulut Arion . Meski dengan kepala di perban , tangan kiri yang dibebat dan jarum infus yang terpasang di punggung tangan kanan adiknya itu terlihat begitu semringah. Tampak jauh berbeda dengan Arion yang sedang patah hati beberapa hari yang lalu


"Kenapa hidungmu ?" tanya Arion, memicingkan mata begitu Austin masuk dan melihat kejanggalan di hidung sang kakak


"Kau bertengkar lagi dengan temanmu?" Austin menatap Sheila yang tampak membeku .


Ya , hidungnya patah ketika bertarung dengan Arion di depan klub demi mencegah adiknya itu naik ke dalam mobil . Austin pun hanya mendengus dan duduk di sofa , meletakkan kedua kakinya di meja


"Ya , ada orang berengsek tolol yang melakukannya."


"Berhentilah membuat masalah , Austin . Kau membuat mama tak bisa tidur dengan nyenyak."


"Katakan itu pada dirimu sendiri Arion.Lahatlah, kamu pikir kantung hitam di mata mama dan Sheila sanpa penyebabnya ?" Arion menampilkan penyesalannya . Dengus Austin.


Arion meraih wajah Sheila dan berucap lembut , "Maafkan aku , Sheila. Aku tak bermaksud membuatmu khawatir . "


Sheila menurunkan tangan Arion dan menggenggam nya, "Tidak apa-apa, Arion."


"Apakah banyak yang kulewatkan dari ingatan terakhirku sampai sakarang ?"


Sheila menggeleng , "Tidak."


"Begitu? berapa lama sejak aku menjemput mamah dan Erland di handara malam itu ?" Sheila tak langsung menjawab .


"Dua minggu yang lalu" jawab Sheila, Arion mengangguk.


"Tak biasanya dia tinggal di rumah selama ini." gumamnya kemudian


"Jadi , Ma. Apa mama tahu kalau Sheila menerima lamaran Arion?" lanjut Arion antusias.


"Sebenarnya kalian yang mengumumkannya di makan malam keluarga." jawab Yasmine yang langsung membuat Sheila dan Austin membagu. Yasmine yang sadar langsung manatap Sheila sejenak lalu kembali pada putra terakhirnya .


"Y-ya , Sheila sudah menceritakannya."


"Oh , benarkah ?" Austin hanya mengangguk tipis ketika Sheila menatapnya


"Baguslah kalau begitu. Aku tidak sabar untuk menikah dengan Sheila." ucapnya tersenyum

__ADS_1


Senyum itu justru melukai hati Sheila. Rasanya ia tidak kuat menjalani kebohongan ini semua, namun untuk sekarang ini yang terbaik untuk mereka, walaupun tidak dengan Arion.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2