UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
[Chapter17] Kebutuhan Erland


__ADS_3

Lho masih lanjut? Waduh baca chapter ini ekstra sabar๐Ÿ˜”


...HAPPY READING ๐Ÿ“–...


"Arion baru saja keluar dari rumah sakit , Erland. " Sheila menahan tangan Erland yang sudah hampir membuatnya telanjang sepenuhnya di bawah pria itu .


" Ya . Bukankah ini kabar bahagia. Akhirnya adikku itu kembali sehat dan baik - baik saja . Meski ... lengannya seharusnya sembuh lebih cepat , kan ? Sehingga aku tak perlu membagimu lebih banyak dengannya . "


Sheila memejamkan matanya . " Kenapa kau begitu tega padanya ? Apa ada sesuatu di antara kalian sehingga kau melakukan semua ini pada kami ?"


"Lebih tepatnya ini permasalahan kedua kakek kita yang begitu ingin menjodohkan kita. "


" Apa kau tak akan pernah melepaskanku?" Seringai khas pria itu lagi-lagi terbit dengan cara yang menjengkelkan.


" Beri aku satu alasan yang kuat untuk melakukannya."


"Aku mencintai Arion. "


" Aku tahu."


" Aku sayang , Arion . "


"Aku tau. "


"Dia adalah adikmu, apakah tidak membuatmu sedikit pun berempati padanya ?"


"Aku sudah melakukannya dengan membiarkanmu merawatnya, apa itu tidak cukup? "


"Bukankah kau punya banyak wanita yang salah satunya pasti bisa bersedia menjadi istrimu,kan."


"Dan demi semua itu kau menghalalkan cara untuk terlepas dariku ? "


" Ya , tapi mereka tidak bisa membuatku duduk di kursi kakek." Lanjut Erland


"Kau yang datang ke kamarku , Sheila.Kau sudah melihat CCVT itu dengan jelas , kan ?"


" Kau berbohong , bahwa kita tidur bersama! "


"Nah , kita memang tidur bersama , kan?"


Bibir Sheila menipis tajam," Aku benar - benar membencimu , amat sangat. "

__ADS_1


" Karena aku menang dan dia kalah ? "


Setiap kalimat Sheila berhasil dipatahkan oleh Erland,Sheila pun memutuskan diam. Meskipun hatinya dongkol luar biasa melihat seringai di ujung bibir Erland yang semakin tinggi . Dilengkapi kesombongan pria itu yang membuatnya benar-benar sakit kepala.


"Sepertinya waktu untuk menghargai keperawananmu sudah cukup, kan? Sekarang tidak ada alasan kau menolakku."


Sheila tahu sekeras atau mengubah apa pun rontaannya tak akan membuat Erland berhenti menyentuhnya. Dan parahnya kamar Arion ada di samping kamar Erland, akan sangat hijaksana jika tidak ada yang membuat keributan yang akan mengundang Arion menggedor pintu kamar Erland. Sheila pun membiarkan Erland melucuti pakaiannya dan menggunakan tubuhnya sebagai peredam gairah pria itu .


Keesokan paginya, Sheila terbangun dalam keterkejutan oleh ingatan terakhirnya sebelum terlelap. Erland yang mencumbunya tepat saat ia keluar dari kamar Arion. Dan semakin terkejut mengingat di mana dirinya bermalam. Di kamar Erland. Yang berada tepat di samping kamar Arion. Sheila mengangkat tangan kekar Erland yang melilit di pinggangnya dan menyingkap selimut bangkit terduduk. Tapi tubuhnya belum sepenuhnya terduduk ketika pinggangnya tertahan oleh lengan Erland kembali Kemudian ditarik hingga kembali berbaring dalam pelukan pria itu .


"Mau ke mana kau?" bisik Erland dengan wajah menempel di cekungan leher Sheila .


"Aku harus kembali ke paviliun, Erland. Sebelum Arion bangun dan memergokiku keluar dari kamarmu . " Sheila menggeliatkan tubuhnya .


Erland melirik ke arah jam di dinding yang masih menunjukkan jam enam pagi . Lalu bergerak memanjat dan memaku tubuh Sheila di bawahnya . "Morning ***?" tanyanya tepat di atas wajah Sheila.


"Erland kau tid-" Seketika mulut Sheila dibungkam oleh ******n Erland.


Seharusnya pria itu tidak bertanya jika mendapatkannya tanpa mendengarkan jawaban darinya. Dan sungguh, Sheila benar-benar kewalahan mengikuti gairah pria itu yang seolah tak ada habisnya.


Sheila akhirnya berhasil keluar dari kamar Erland satu jam kemudian. Berjalan menuju tangga sambil sesekali mengintip ke arah pintu kamar Arion . Berharap pintu itu tidak terbuka. Biasanya Arion selalu bangun tepat waktu jam tujuh . Dan sekarang sudah jam tujuh lebih sepuluh menit.


Erland benar - benar sengaja membuatnya berada dalam situasi yang sulit . Berharap dirinya terpergok keluar dari kamar pria itu oleh Arion . Sehingga tak perlu repot - repot menutupi hubungan pernikahan mereka .


Jantung Sheila rasanya seperti hendak keluar, memutar kepalanya dengan napas tertahan dan langang mendelik lebar saat menemukan Austin lah yang berdiri di depan nya. Austin menampulkan cengiran kudanya . " Ck , ck , ck . Sedang bersembunyi dari seseorang ? "


Sheila memutar kedua bola matanya sendiri mendesah pelan, " Erland benar benar keterlaluan dengan sengaja menahanku , " gerutunya pada Austin


Austin terkikik . Sheila mengamati pakaian Austin . " Dari mana kau ? Kau bermalam di luar ? " Austin hanya mengedikkan bahunya


" Semalam mama benar - benar membuatku sakit kepala , " terangnya sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaket jeansnya .


"Bisakah kau membantu mengurusnya? Kakek benar-benar tak bisa ditawar lagi."


"Kau hanya perlu memilihnya dengan mata tertutup . Austin . Salah satu dari mereka tak butuh waktu lebih dari lima menit untuk jatuh cinta denganmu . Dan sekarang , lihatlah situasi ku . Apakah menurutmu masalahku lebih ringan darimu ? "


Austin mengerutkan kening lalu manggut-manggut dengan ekspresi penuh penyesalan . "Erland sangat merepotkan,ya? " tanyanya sambil mengulur lengannya dan menurunkan kerah baju Sheila .


Mendengus tipis menemukan kissmark yang mengintip di sana, " dia benar-benar tidak melewatkan sekecil apapun untuk menikmati pialanya. "


Sheila menginjak kaki Austin yang membuat pria itu mengerang dan mengangkat satu kakinya mengeluarkan segala macam umputan karena Sheila tak menahan diri untuk melepaskan kekuatan penuh wanita itu.

__ADS_1


" Kata - katamu lebih menyakitkan , Austin . Tidakkah kau memiliki sedikit emputi untukku ? Sekarang aku tahu kenapa kalian seperti anak kembar identik. Kecuali Aiden. "


Akhirnya Austin menurunkan kakinya ketika rusa sakitnya sudah mereda , meski tak sungguh - sungguh menyembuhkan.


"Benar-benar kau, Sheila.Jelas aku tidak sama seperti Erland."


"Sahabat macam apa kau ini , Austin. " Sheila mencibir dengan jengkel .


" Aku hanya bercanda." belas Austin


" Kau tahu bercandamu memang tidak pernah lucu , kan ? " sinis Sheila .


"Dan berhenti , Austin. " Sheila mengangkat kedua tangannya ketika Austin semakin mendekat hendak memberikan pelukan untuknya .


"Kau bau alkohol. Jangan dekat - dekat."


Austin hanya meringis . "Benarkah?"


"Berapa banyak yang kau minum, Austin?" Sheila jengkel


Yang mendadak memburuk ketika mengingat minuman beralkohol. Yang menghancurkan impian dan harapan sempurna hanya dalam semalam karena minuman sialan itu .


" Tidakkah kau perlu belajar dari pengalamanku Austin? " menghela napas.


"Sedikit belajar . Tapi ... setidaknya aku tak akan menghamili wanita mana pun . "


"Kau yakin? saat kau mabuk,kau adalah manusia paling menjengkelkan . Apa kau tahu itu? "


Austin mengangkat tangannya , menempelkan jari telunjuknya di bibir Sheila,"Sedikit sa-"


"Sheila? " Suara Arion yang tiba - tiba memanggilnya membuat seluruh tubuh Sheila membeku .


Matanya menatap Austin, yang langsung menurunkan tangan dari bibirnya kemudian menatap melewati pundaknya . Senyum jahil pria itu sagera sirna menjadi keseriusan .


" Kau di sini ? " tanya Arion begitu bendiri di antara keduanya .


Sheila berpaling sementaran menyembunyikan kegugupanya dengan menelan ludahnya . Menyempatkan diri melemparkan tatapan bantuan pada Austin . "Y-ya."


"Dia begitu khawatir denganmu. Bangun tidur langsung kemari untuk melihat keadaanmu," jawab Austin dengan nada setenang mungkin.


Senyum segera memenuhi wajah Arion. Pria itu mengulurkan lengannya ke arah pinggang Sheila. Tetapi sebelum berhasil melakukan pukulannya, Sheila mundur. "A-arion aku..."

__ADS_1


HAYO TINGGALKAN JEJAK DULU:>


__ADS_2