
Serius masih lanjut baca sampe sini? Aduh, yaudah deh, enjoy ya😉
...HAPPY READING 📖...
Mobil Arion telah sampai di kantornya. Arion hendak ikut turun mengantarnya namun Sheila segera mencegahnya.
"Tidak perlu turun, Arion. Kau juga harus segera pergi ke kantormu, kan." cegah Sheila ketika Arion sudah mengulurkan tangan menyentuh pintu mobil .
Sheila turun dari mobil dan menyempatkan melambaikan tangan pada Arion. Arion membalas lambaian tangan Sheila dengan seulas senyum kaku karena Sheila langsung berbalik begitu saja.Biasanya Sheila akan menunggu mobilnya menghilang dari hadapan wanita itu sebelum berbalik dan masuk ke dalam kantor .
Tangannya mengeluarkan kalung milik Sheila yang ada di saku jasnya . Cukup lama Arion termenung dalam lamunannya ketika pandangannya memukan file yang tadi dibawa Sheila tertinggal di sampingnya . Ia pun menyuruh sopir untuk putar balik .
Arion langsung naik ke lantai sepuluh , tempat ruangan Sheila berada .
" Di mana Sheilaa?” tanya Arion pada asisten Sheila yang baru saja keluar dari ruangan Sheila.
"Oh tuan Arion. Tadi nona bilang akan ke ruangan tuan Friz lebih dulu . "
Arion mengungguk dengan keningnya yang berkerut . Kemudian kembali masuk ke dalam lift dan turun di lantai teratas. Tepat ketika ia keluar dari lift , ia melihat Sheila keluar dari salah satu pintu yang hanya berjarak beberapa meter darinya . Dan jelas bukan pintu ruangan kakeknya. Seperti yang ia ingat terakhir kali. Atau itu adalah ruangan baru untuk Erland?
Beberapa menit sebelumnya.
Senyum kepuasan menghiasi wajah Erland begitu Sheila muncul di ruangannya.
"Tidak terlambat sedetik pun, "
" Ada apa , Erland."
"Pembicaraan serius apa yang perlu kita bicarakan? " Sheila berhenti tepat di depan meja Erland .
Erland tertawa geli sambil mengangkat wajahnya dari berkas berkas di meja dan menatap tajam Sheila, " Kau buru - buru datang kemari karena berpikir kita sungguh- sungguh akan membicarakan hal yang serius?" tanyanya dengan nada mengejek .
Kerutan di kening Sheila seketika tercipta," Kau berbohong? "
" Ah , ngomong - ngomong tentang pembicaraan serius , tentu saja kita memilikinya . Meski ... ada sesuatu yang lain ."
" Apa kau mempermainkanku ? Jangan salahkan aku jika aku mengabaikanmu , Erland." tekan Sheila
Erland mendengus .
" Kau yakin kau berani mengabaikanku? "
" Kau mengancamku? "
Sheila diam selama beberapa saat.
" Aku akan kembali ke ruanganku."
Erland tak menjawab . Sheila berbalik dan berjalan menuju pintu. Menemukan pintu yang dikunci , Sheila langsung menatap Erland dengan dongkol .
"Buka pintunya, Erland."
"Aku belum selesai. "
Mata Sheila terpejam, meghela napas panjang sebelum membalikkan tubuhnya menghadap Erland yang duduk di balik meja , tersenyum licik.
"Apa yang kau inginkan ? "
Erland membuka lengannya.
__ADS_1
" Aku perlu semangat dari istriku sebelum memulai pekerjaanku . "
Bibie Sheila menipis tajam memahami kata semangat yang dimaksud dalam kalimat Erland . Kemesuman pria itu jelas tidak ada duanya.
"Ini di kantor Erland!"
"Ya , seingatku memang ya."
"Buka pintunya Erland!! Aku memiliki setumpuk pekerjaan. "
"Semakin cepat kau kemari, semakin cepat kita memulai pekerjaan kita , Sheila . "
Sheila terdiam , terlihat keras kepala dengan keinginannya untuk keluar dari permainan Aaron . Tetapi jelas kekerasan kepalanya tak akan sebanding dengan kelicikan Erland.Jika ia terus menolak makan akan dipastikan dirinya akan terus berada disini terjebak dengan pria itu.
Sheila pun akhirnya berjalan mendekat dan memutari meja . Erland langsung menangkap lengannya begitu ia berada dalam jangkauan tangan pria itu . Menjatuhkan pantatnya di pangkuan pria itu sebelum menangkap dagunya dan mumpertemukan bibir mereka.
******n Erland selalu panas seperti biasa . Pria itu tak melewatkan sedikit pun rasa manis di bibir Sheila . Membuat ******* itu tak sekedar ******* yang ringan . Bahkan tangan Erland mulai merayup ke dadanya dan...
"Cukup. Erland."
Sheila memberanikan diri mendorong dada Erland antara napasnya yang tersengal. Menyentakkan tangan Erland dari dadanya dan langsung berdiri dari pangkuannya
Ketika Sheila mendorong kursinya menjauh dari meja dan sengaja menekan tombol di bawah meja , kemudian meluncur mencapai pintu . Membuat Aaron terhenyak .
Sheila melangkah keluar dan merapikan rok pensilnya ketika tiba - tibu suara Arion memanggilnya dari arah samping.
" Sheila..."
"A-arion... "
Membuat seluruh tubuh Sheila terpaku dengan keras.
"Ruangan siapa ini ? "
"Kau sudah ada di sini ? " Suara Friz yang tiba - tiba muncul dari arah samping keduanya membuat keduanya menoleh dan Sheila menampilkan wajah terima kasihdi kedua matanya saat sang kakak di waktu yang tepat .
"Y-yaa , kakek? "
" Erland sudah memberitahunya ? "
Sheila menelan ludahnya lalu mengangguk dengan cepat, " B-baru saja."
"Jadi ini ruangan baru Erland? "
"Arion apa yang kau lakukan disini? " tanya kakek Friz
Arion menunjukkan bekas di tangannya dan memberikannya pada Sheila, " Sheila meninggalkannya di mobil . Sepertinya ini berkas yang penting."
Friz mengangguk.
"Sheila , segera ke ruangan kakek . Juga Erland. Kakek harus ke pertemuan lima belas menit lagi."
" Ya, kakek " Sheila mengangguk , lalu beralih ke Arion dan menguatkan hati ketika menatap wajah cucunya itu.
" Terima kasih , Arion. Dan maaf, aku harus pergi." ucap. Sheila dibalas anggukan oleh Arion.
"Ya, pergilah."
Arion masih terdiam di tempatnya setelah Sheila masuk ke dalam ruangan Friz. Menatap pintu di depannya dan tangannya sudah terulur menyentuh gagang pintu ketika pintu dibuka lebih dulu du
__ADS_1
ari dalam dan Erland melangkah keluar.
Terlalkhatterkejut dengan keberadaannya.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" Arion hanya menggeleng.
" Sedikit urusan . "
" Kau tidak terlambat ke kantormu? " tanya Erland
"Aku melihat Sheila keluar dari ruanganmu."
" Lalu ? "
"Apa pekerjaan mu terus membuatmu terlibat dengan Sheila? "
Erland mendengus
"Apa kau cemburu ? "
Arion tak menjawabnya.
"Kau takut di akan terpesona dan jatuh hati padaku? "
"Sheila bukalah gadis yang bisa dengan mudah kau taklukkan seperti wanita-wanita yang lain. Dia berbeda. "
Erland hanya mengedikkan bahunya.
" Lalu apa yang membuatmu meragukannya? Sepertinya hubungan kalian tidak semulus itu , ya? "
" Aku tidak meragukannya."
"Ya , baguslah kalau begitu . "
Arion tak pernah meragukan Sheila. Tapi , perasaan mungganjal di hatinyn tak juga lenyap walaupun ia sudah berusaha meyakinkan diri untuk tetap percaya pada Sheila.
"Hanya saja , jangan pernah mempercayai seseorang lebih daridirimu sendiri , Arion . Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri."
"Apa maksudmu ?" mata Arion mememicing penuh curiga. Erland menggeleng .
" Bukan apa - apa. Kau tahu aku memiliki masalah tentang memercayai seorang , kan..Jadi jangan diambil hati." Erland mengibaskan telapak tangannya di wajah, kemudian melangkah melewati Arion menuju ruangan Friz .
*
*
"Jaga sikapmu, Erland. Kau tahu sekarang bukan saat yang tepat untuk memberitahu Arion tentang hubungan kalian berdua . Dia baru saja memulai kehidupannya. Beri dia waktu sejenak."
Friz langsung memperingatkan Erland ketika baru saja duduk di sofa panjang , berseberungan dengan Sheila yang duduk di sebelah kiri Friz.
"Jadi, mengapa kakek meminta kami ke sini?"
" Sheila kakek berpikir akan memberikan posisi direktur padamu. Bagaimana menurutmu ?"
Sheila membelalak," Kenapa kek?"
"Kau bahkan bekerja lebih giat daripada Austin. Bagaimana mungkin tetap bertahan sebagai manager." "
Tapi ini terlalu ...
__ADS_1
BERSAMBUNG..
EITS TINGGALKAN JEJAK DULU YUK:>