
Ternyata masih lanjut hehehe..
...HAPPY READINGđź“–...
Setelah dua minggu kemudian , Sheila mengantar Arion ke rumah sakit . Retakan di tulang lengannya sudah kembali utuh . Dan saat dokter menanyakan tentang ingatannya , Arion menjawab dengan gelengan .
Ya , tidak ada sesuatu apa pun yang ia ingat lagi setelah acara makan malamnya dengan Sheila malam itu . Dan bukankah memang tak ada sesuatu yang penting yang terjadi sehingga ia perlu mengingatnya .
Semua orang mengatakan baik-baik saja , tetapi Arion merasa kata baik-baik saja itu sungguh tidak bail-baik saja . Akhir-akhir ini , Arion merasa ada sesuatu yang tengah memenuhi pikiran Sheila. Wanita itu menjadi lebih pendiam dan terlihat sering melamun . Dan tak sekali dua kali, Sheila tampak seolah menolak dan menjauh darinya.
Saat Arion menanyakan permasalahan apa yang membuat wanita itu terlihat murung, Sheila hanya menceritakan tentang pekerjaan yang sedikit menumpuk . Beberapa kali, Arion melihat Erland dan Sheila yang saling bicara. Keduanya tampak berada
"Aku tahu dia memang selalu keras jika menyangkut pekerjaan . Apakah aku perlu memberitahunya , agar kau tidak terlalu terbebani? "
Sheila menggeleng .
"Tidak perlu , Arion. Aku bisa mengatasinya . Lagipula , kau tahu sebentar lagi acara peresmian dia sebagai pengganti kakek . Ada banyak hal yang perlu dilakukan . Belum dengan tanggung jawabku yang mendadak menjadi dua kali lipat . Aku hanya berusaha terbiasa , dan memang sedikit melelahkan . "
Arion mengangguk , menggenggam tangan Sheila. Sheila pamit untuk ke toilet sebentar. Ia memuntahkan seluruh makanan yang baru saja ia makan. Perutnya sedikit sakit dan mual. Rasanya benar-benar tidak nyaman.
Setelah beberapa menit saat kembali , dia terkejut melihat ada orang lain yang duduk di meja mereka. Dan semakin terkejut mengenali sosok tersebut adalah Erland Kyler. Keduanya sedang berbincang dengan keseriusan di wajah masing-masing , Sheila segera menghampiri kedua kakak beradik tersebut .
"Kau sudah selesai? kebetulan Erland ada pertemuan di restoran ini , " beritahu Arion pada Sheila yang muncul. Tapi kemudian perhatiannya teralih pada ekspresi di wajah Sheila yang mendadak memucat .
"Kenapa denganmu? Apa yang kau sakit ?" Arion menyentuh pipinya kemudian Sheila segera menggeleng dan duduk kembali di kursinya .
Bersaksi melirik ke arah Erland dengan waspada .Mencoba membaca ekspresi di wajah pria itu. Erland tak pernah merepotkan diri bergabung di meja makan dengan siapa pun atau pun sekadar berteman .Kecuali dengan maksud tertentu .
Tangan Arion kembali terulur menyentuh kening Sheila , terkejut dengan suhu tubuh wanita itu yang tiba-tiba demam dan seketika darah merembes dari salah satu lubang hidungnya.
"Sheila ? "
"Y - ya ?" Sheila menoleh ke samping , menatap terheran dengan kepanikan yang mengubah wajah Arion .Ia tidak sadar akan kondisinya sendiri.
Arion menyambar tisu di meja dan langsung menyeka darah di hidung Sheila .
"Kau deman dan mimisan .Kita pulang sekarang . Erland , kau membawa mobilmu , kan? Bawa kami ke rumah sakit . "
Sheila menggeleng .
"Tidak perlu ke rumah sakit , Arion , aku baik-baik saja. " tolak Sheila dengan kepala yang disandarkan di lengan Arion dan tangan pria yang menahan tisu di hidung , yang tentu saja mencuri perhatian Erland .
"Aku hanya butuh istirahat . Aku ingin pulang saja . "
Erland bangkit berdiri , tak butuh berpikir lebih lama untuk mengangguk setuju lalu melangkah keluar restoran setelah menyelesaikan pembayaran untuk makan siang Arion dan Sheila. Erland menyetir di balik kemudi , Arion dan Sheila duduk di belakang.
Erland melirik ke kaca spion, ujung bibirnya menyeringai dengan Sheila yang berada di pelukan pria lain. Beberapa kali melihat mereka bertemu di kaca spion , yang membuat Sheila merasa tak nyaman . Tapi kepalanya terlalu berat untuk memikirkan ketajaman tatapan Erland. Ditambah badannya yang mulai terasa menggigil. Sheila memilih mengabaikan pria itu dan memejamkan matanya.
Setengah jam lebih keduanya sampai di rumah. Arion langsung membawa Sheila ke paviliun. Meyuruh pelayan untuk membawakan kompres dan obat penurun panas . Setelah memastikan Sheila meminum obatnya dan beristirahat di tempat tidur, Arion keluar.
Melihat mobil Erland yang masih terparkir di halaman rumah . Keningnya berkerut terheran, Erland tidak kembali ke kantor?
Arion pun masuk ke dalam rumah utama dan menghampiri sang kakak di kamarnya. Mengetuk satu kali dan langsung membuka pintu kamar pria itu. Melihat Erland yang malah mengganti setelannya dengan pakaian santai .
"Apa kau punya masalah dengan,Sheila? "
"Kenapa ? " Salah satu alis Erland terangkat.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini tampaknya dia terlihat banyak pikiran."
"Lalu kau pikir ... dia memikirkanku ? " Erland menampilkan cengiran jahilnya .
"Aku tidak bercanda , Erland . Dia tak pernah terlihat seperti itu sebelum kau bekerja di perusahaan ini."
"Dan apakah itu karenaku ? "
Arion tak mengangguk,hanya diam menatap. kakaknya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan hingga repot - repot datang ke kamarku , Arion ? " Erland duduk di sofa , mendapatkan posisinya yang nyaman .
Arion menyipitkan matanya , melemparnya tatapan tajam secara terang-terangan.
“Apakah ... apakah kau tertarik padanya? " kalimat itu muncul dari mulut Arion.
Erland terdiam . Lalu menarik tubuhnya berbaring di kursi dengan kedua tangan yang saling bertaut di depan dada .
"Kenapa ? Kau mulai meragukan kesetiaan Sheila ? Apa yang kau pikirkan kami ... tengah membuat sesuatu yang ... romantis dibelakang mu? "
Arion tak bergeming . Dengan mata yang melekat mengamati ekspresi di wajah Erland lebih dalam.
"Ah romantis ? Kau tahu aku tak pernah melakukan hal semacam itu , kan? Apakah itu cukup menjawab pertanyaan mu? "
"Maksudmu?"
Erland terkekeh . Dan saat menjawab . Keseriusan dalam suaranya meningkat tajam ,"Kupikir kau tahu kenapa , Arion . Dan sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini . Kita tahu ke mana hal ini mengarah . "
Arion mengangguk ketika menangkap sebuah emosi yang menjebak mata kakak itu .
"Dia sakit, bisakah kau sedikit mengurangi pekerjaannya ?"
Erland mengangkat kedua tangannya . Arion terdiam , masih tak bisa menutupi sesuatu yang mengganjal pada sikap Erland. Yang ia sendiri pun tak tahu apakah itu .
"Kenapa ? Masih ada yang ingin kau ceritakan tentang ... kesayangan Sheilamu itu lagi ?"
Arion menggeleng . Berbalik dan berjalan ke pintu .Tetapi langkah mendadaknya terhenti .
"Erland?" Arion berbalik.
Keningnya berkerut tampak mempertimbangkan sesuatu. Erland hanya memutar kepalanya , tanpa merubah posisi duduknya yang sudah nyaman dengan mac di tangan .
"Apa kau dan kakek sedang menyembunyikan sesuatu di belakangku ?"
Raut wajah Erland membeku , meski tak cukup terkejut dan memastikan ekspresinya terpasang santai.
"Juga Austin , mama dan Sheila. Sebenarnya apa yang terjadi sebelum kecelakaanku ? "
Erland masih terdiam menatap lurus kearah mata Arion kemudian tersenyum miring, "Apa kau sungguh-sungguh ingin mengetahuinya?"
x
x
x
Saat makan malam, Yasmine dan Arion membawa seorang dokter untuk mengecek kondisi Sheila. Dokter mengatakan Sheila butuh istirahat yang cukup, tubuhnya kelelahan dan anemia.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan padamu untuk mengurangi pekerjaanmu.Jika begini aku akan meminta pada kakek agar-"
"Jangan katakan apa pun pada kakek, Arion. Semua ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."
Arion mendengus
"Aku suka pekerjaanku , meski tanggung jawabnya sedikit lebih berat dari sebelumnya . Bagaimana mungkin aku harus menyerah hanya dengan satu hal seperti ini ? Lagi pula, ini hanya sakit biasa. Dokter juga bilang aku tak perlu pergi ke rumah sakit, kan. "
Arion menghela napas menyerah .
"Baiklah. Kalau begitu malam ini aku akan menjagamu.”
“Tidak perlu, Arion. Beristirahatlah di kamarmu."
"Kenapa? Kau tak suka aku di sini?"
"A-aku sudah meminum obatku. Aku akan tidur. Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir. " Arion masih tampak meragu .
"Kau yakin ?" Sheila mengangguk yakin.
"Besok kau harus ke kantor . Kau tidak boleh sakit sepertiku," tangannya mengelus lengan Arion dengan lembut.
"Kalau begitu aku akan meminta mama untuk menjagamu. Siapa tahu kau bangun dan membutuhkan sesuatu di tengah malam ... "
"Tidak perlu , Arion, " tolak Sheila lagi dengan nada yang dipastikan tidak menyakiti Arion .
"Aku sungguh - sungguh baik - baik saja , " yakinnya sekali lagi .Sekali lagi Sheila mendesah dengan pasrah .
"Kalau begitu pastikan ponselmu selalu ada di sampingmu . Aku perlu memastikannya sebelum tidur dan hubungi aku jika kau butuh sesuatu . Jangan sampai kau keluar paviliun . Tadi mama juga sudah mengisi kulkasmu dengan banyak makanan jika tengah malam kau lapar dan ingin makan sesuatu."
"Iya , Arion."
"Pastikan daya ponselmu penuh dan kau mendengar setiap nya berdering,"
"Ya, Arion. " Sheila tersenyum akan perhatian Arion yang terlalu berlebihan . Meski sudut terdalam di hatinya menyimpan rasa bersalah yang teramat besar.
"Sekarang tidurlah. "
Arion membaringkan Sheila , menarik selimut dan tak lupa mendaratkan kecupan singkat di kening wanita itu.
"Aku akan membawa kunci paviliun untuk berjaga - jaga." Sheila mengangguk .
"Baiklah . Selamat tidur , sayang." Arion menyalakan lampu nakas dan mematikan lampu utama.
"Selamat tidur juga, Arion. "
Sebelum menutup pintu kamar Sheila, panjang matanya menatap punggung Sheila. Dia tidak menyertakan kata kesayangan yang biasanya mereka ucapkan ketika akan berpisah tidak. Membuat Ario merasa ada sesuatu yang telah hilang darinya. Teringat jawaban yang diberikan oleh Erland tadi siang. 'Apakah kau merasa seperti itu?'
Ariom didera beban yang teramat dalam ketika pertanyaan itu keluar dari benaknya . Ia tak bisa membayangkan hal buruk semacam itu akan terjadi dalam hidupnya. Ia dan Sheila saling mencintai .
Arion tidak bisa membayangkan bayangan hidunya tanpa Sheila. Dan ... Jika keadaan memaksa jawabannya adalah ya , lalu mengapa Sheila menerima lamarannya di acara makan malam perayaan ulang tahunnya yang ke 21 .
Ulang tahun ke 21 ?
Kerutan di kening Arion semakin dalam . Ada sesuatu tentang angka itu yang mendadak memperdalam tuduhan di kepala Arion. Arion mencoba menggali ingatannya lebih dalam. Teringat rencana makan malam keluarga . Ariom bisa melihat kue ulang tahun Sheila . Potongan pertamanya untuk kakek dan mamanya . Lalu dirinya. Oh, ya . Mamanya juga bercerita bahwa ialah yang mengabarkan tentang lamaran tersebut. Sheila mencintainya , begitu pun dengannya . Perasaannya pada Sheila bahkan semakin tumbuh dalam . Lalu apakah sesuatu yang telah hilang itu ?
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Eits tinggalkan jejak dulu yaa:>