
ARION KECELAKAAN
Langkah Sheila terhenti ketika suara getaran ringan samar - samar terdengar di sekitarnya , Sheila memutar kepalanya , mencari dan menemukan ponselnya yang berkedip - kedip berada diatas nakas. Sheila mengambil ponselnya yang menampilkan nama Austin disama . Sheila melirik ke arah tempat tidur. Erland masih tertelap, ia pun langsung mengangkatnya sementara kakinya melangkah dengan hati-hati menuju pintu kamar.
Mereka sudah sampai di mansion siang tadi,dan mereka kini tengah beritirahat di kamar Erland.Sempat ia menolaknya,namun Erland terus bersikokoh dan memaksanya.
"Ya , Austin?" jawabnya setengah bisikan .
"Ke mana saja kau , Sheila? Aku sudah mencoba menghubungi mu sejak satu jam lalu." Sheila mengernyit mendengar kegelisahan dalam suara Austin.
"Ada apa?"
"Arion kecelakaan."
Langkah Sheila terhenti, tersentak dengan keras hingga ponselnya jatuh ke lantai. Suara bantingannya membangunkan Erland dari tidurnya. Pria itu terduduk, mengernyit melihat Sheila yang berdiri pucut di tengah ruangan dengan ponsel yang terjatuh di samping kaki wanita itu. Apakah ada kabar buruk? Jangan bilang Arion melakukan hal nekat karena kekalahan ini .
Sungguh pengecut.
Erland mengejar Sheila yang sudah pergi menggunakan taksi menuju rumah sakit terdekat.
Begitu melihat Austin di ujung lorong , Sheila berlari menghampiri pria itu dan langsung mencengkeram kedua lengan Austin. Kemeja putih bagian depan pria itu sudah dipenuhi banyak darah, yang membuat Sheila semakin histeris. Suara Sheila bergetar hebat dan air mata jatuh berhamburan ketika ini bertanya.
"Apa yang terjadi dengan Arion , Austin ? "
Wajah Austin terlihat begitu pucat , bahkan pria seriang dan secerewet Austin pun terlihat tak bisa berkata - kata untuk menjawab pertanyaan Sheila . Sheila yang tidak sabar menggoyang - goyangkan tubuh Austin dengan tangisan yang semakin tersedu.
Bagaimana mungkin ada darah sebanyak ini ? Apakah ini darah Arion? Tubuh Sheila rasanya diperas hingga kering oleh pertanyaannya sendiri .
"Apa yang terjadi , Austin? " Suara Yasmine yang datang bersamaan dengan Sheila pun tak kalah histerisnya , dan semakin histeris melihat banyaknya darah di pakaian Austin .
Erland menangkap tubuh mamanya yang hendak jatuh ke lantai , sedangkan Sheila masih terus menggoyang - goyangkan lengan Austin menuntut jawaban .
"Dokter sedang menanganinya . Semuanya akan baik - baik saja . "
Kedua kaki Sheila melemah . Jawaban Austin terdengar meyakinkan tetapi Sheila tahu dalam tatapannya, pria itu pun juga tak yakin dengan jawaban yang diucapkan. Austin menangkap tubuh Sheila dan membawa wanita itu duduk di kursi yang berada tak jauh dari posisi mereka. Mendudukkannya di samping mamanya.
Butuh hampir setengah jam untuk membuat Sheila dan Yasmine kembali tenang . Cukup tenang untuk mendengarkan ceritanya .
"Aku sudah memaka dan merebut kunci mobilnya . Tapi Arion memukulku dan naik ke dalam mobil dalam keadaan mabuk . Aku mengejarnya , tapi .. tapi ... "
Austin berhenti , tampak membutuhkan usaha lebih banyak untuk mengingat kembali apa yang terjadi . Tatapannya langsung menemukan Erland yang berdiri bersandar di dinding lorong rumah sakit tepat disamping mamahnya duduk . Dengan kedua tangan bersilang di depan dada .Austin pun melompat berdiri dan menangkap keruh baju sang adik .
" Semua ini karena kau, Erland !!!"
__ADS_1
Erland diam tak mengatakan apa pun . Dengan kekuatannya , pria itu membebaskan lehernya dari cengkeraman Austin dalam sekali sentakan yang kuat . Lalu mendorong tubuh sang kakak , Erland menatap lurus ke kedua mata Austin yang tengah mentapnya tajam.
"Kaulah satu - satunya orang yang akan bertanggung jawab jawab jika sesuatu terjadi pada Arion.. " ucap Austin diselimuti kemarahan .
"Dia bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri . " Satu kalimat dingin Erland mampu membekukan seluruh kemarahan di wajah Austin .
"Dasar pendendam ! Bisa-bisanya kau berbicara sesantai itu."
"Cukupp ,Austin ! " sergah Justin melerai kedua anaknya
"Apa kalian tidak tahu di mana ini ? " peringat kakek Friz
Austin dan Erland masih saling pandang , tatapan tajamnya saling berbaku hantam. Yasmineyang sudah tampak lebih tenang bangkit berdiri dan menarik Austin untuk kembali duduk di samping Sheila.
Erland melangkah pergi dari sana. Langkahnya sempat tersendak ketika di balik punggungnya mendengar suara pintu ruang operasi digeser membuka. Menyusul suara kakeknya yang bertanya. " Bagaimana keadaan cucu saya , Dok ? "
"Tuan Friz . " ada helaan yang diselimuti kelegaan ketika dokter itu menyapa .
Erland menoleh tanpa memutar tubuhnya, melihatnya dengan ekspresi datar.
"Kami akan menjelaskan secara rinci , tetapi untuk saat ini Anda bisa tenang . Kami berhasil menghentikan pendarahan dan memberikan usaha sebaik mungkin . Dalam dua jam , Anda bisa menemui cucu Anda di ruang perawatan . "
Tangisan Sheila kembali pecah dan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Austin . Namun kali ini tangisan tersebut diselimuti kelegaan yang teramat besar. Itu artinya Arion masih hidup, itu cukup membuat hatinya sedikit lega.
Dokter hanya mengatakan bahwa itu akibat dari benturan di kepala Arion yang cukup keras . Semuanya baik - baik saja karena kondisi vital Arion masih cukup bagus.Dan akhirnya , penantian tersebut berakhir . Ketika di hari keenam , akhirnya Arion terbangun .
Saat itu hanya ada Sheila dan Erland yang berjaga di ruangan tersebut . Yasmine baru saja kembali ke rumah untuk membawakan Sheila pakaian bersih , dan Austin menghindari satu ruangan dengan Erland demit ketenangannya , yang sejujurnya mengundang tanya di kepala Sheila .
Sheila merasa ada sesuatu yang tidak diketahuinya . Namun , benak Sheila sudah dipenuhi kegelisahannya akan keadaan Arion sehingga tak punya waktu untuk mencari - cari masalah lainnya .
Kedua mata Arion perlahan membuka . Kepalanya terasa begitu sakit dan sedikit mati rasa . Tetapi sepertinya masih berfungsi dengan baik .
"Arion ? "
Suara haru bercampur isakan dari arah samping segera menarik perhatiannya . Pria itu berusaha tersenyum di antara bibirnya yang pucat . Menemukan wajah cantik Sheila disana. " Sayang ? "
Arion mengulurkan tangannya , sedikit tertahan dengan jarum infus yang menempel di punggung tangannya . Meringis ketika jarum tersebut sedikit menusuk di sana .
Panggilan familiar Arion sejenak membuat wajah Sheila diam membeku . Begitu pun seluruh tulang pungggungnya karena keberadaan Erland yang kini sudah berdiri tak jauh di belakangnya . Pria itu seolah menunggu dengan waspada
"Di mana aku ? "
"Rumah sakit . "
__ADS_1
"Rumah sakit ? "
"I- ya . A-apa kau tak ingat bagaimana kau bisa ada di sini ? " Arion mengeryit sambil mengelus pelipisnya . Kemudian menggeleng .
Sheila semakin dibuat membeku .
"L - lalu apa yang kau ingat ? " Arion mengernyit tipis . Berusaha sedikit mengingat karena beban di kepalanya yang terasa semakin menekan .
"Aku hanya ingat kita pulang dari restoran . Merayakan ulang tahunmu . Aku melamarmu dan kau menerimanya . " Arion mengambil tangan Sheila. Tersenyum dengan hibirnya yang pucat merasakan cincin di jari manisnya .
"Bagaimana mungkin aku melupakan hari paling membahagiakan di seluruh hidupku , Sheila? "
Kepucutan membekukan bibir Sheila. Sheila segera menurunkan jemari tangannya . Cincin yang melingkar di jari manisnya adalah cincin pernikahannya dengan Erland . Dan lagi , bagaimana mungkin Arion lupa dengan pernikahannya dan Erland ?
"Erland," Sheila menoleh ke belakang .
"Tolong panggilan dokter. "
Erland hanya berdiri tertegun , meneliti ekspresi di wajah Ario. dengan saksama , mencari - cari apa yang mungkin disembunyikan oleh adiknya tersebut .
"Erland ?! " sentak Sheila menyentuh lengan Erland .
Erland mengerjap sekali , kemudian menekan tombol merah yang ada di sisi kepala ranjang .
"Kau yakin tak ingat apa yang membuatmu berada di sini ? " tanya Erland kemudian .
"Kau tak ingat per ... "
"Erland." Sheila segera memotong pertanyaan yang hendak diucapkan oleh Erland .
"Tak ingat apa ? " Arion mengulang kalimat Erland yang belum selesai .
Erland melirik ke arah Sheila , yang menampilkan permohonan teramat sangat .
"Bukan apa - apa . Tunggu dokter akan memeriksamu . "
"Apa ada sesuatu yang perlu kuingat ?" tanya Arion beralih pada Sheila. Sheila menggeleng dengan cepat .
"Semua baik - baik saja , Arion . " Sheila menampilkan senyumnya seapik mungkin sembari bangkit berdiri .
Hatinya hancur melihat kenyataan ini. Arion hilang sebagian ingatannya. Sheila sedikit bersyukur karena itu artinya Arion tidak akan mengingat apa yang terjadi sebelumnya, namun ia juga khawatir dengan kondisinya lebih lanjut.
"Kau sungguh? "
"Iya Arion, semuanya baik. " senyum Sheila dengan sedikit paksaan agar tidak meneteskan air mata melihat kondisi mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...