
Warning ⚠ Part ini banyak kupu-kupu beterbangan
MALAM PERTAMA
Karena memang hari yang sudah sangat larut bahkan hampir sepertiga malam membuat Sheila tertidur di sofa kamar Arion. Sementara Austin sudah memperingatkan Sheila untuk kembali saja ke kamarnya namun tetap menolak. Jujur saja Sheila takut untuk masuk kembali ke kamarnya, apalagi harus tidur bersama Erland. Sehingga dirinya lebih memilih tidur meringkuk di sofa.
Terdengar langkah kaki berjalan melewati lorong ruangan yang minim percahayaa. Pria itu berdiri di depan sebuah kamar , memegang hendel pintu dan membukanya secara perlahan. Terdengar sedikit lirih suara decitan pintu namun tidak membangunkan dua orang yang tengah tertidur lelap.
Pria itu berjalan perlahan hanya beralaskan sandal khusus didalam hotel. Berjalan mendekati seorang gadis yang tengah tertidur di atas sofa. Memandang wajah itu dengan lekat dan tersungging senyuman miring disana.
Erland. Ya pria itu Erland. Merendahkan tubuhnya menyelipkan salah satu tangannya di lekukan lutut Sheila dan tangan satunya berada di lekukan leher. Mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah.
Sebelum sepenuhnya keluar dari kamar, Erland menyempatkan diri untuk menoleh kearah Arion yang tertidur lelap disana. Kemudian menundukkan wajahnya menatap wajah wanita di gendongannya. Erland tersenyum tipis dan berjalan keluar.
Saat memasuki lift. Tidak sengatan kaki Sheila yang menjuntai ke bawah tersenggol pintu lift membuat gadis itu terbangun. Mengerjapkan matanya dan pandangan langsung bertemu dengan mata coketal terang milik Erland. Betapa terkejut nya saat melihat kondisi tubuhnya yang tengah digendong ala brindalstyle oleh pria itu. Tidak ingin jatuh Sheila langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Erland.
"Kau terbangun rupanya. "
"E-erland apa yang kau lakukan... "
"Membawamu kembali ke kamar kita, apa lagi?" senyumnya tipis
Sheila melotot kan matanya bertepatan dengan pintu lift terbuka. Erland dengan mudah membawa tubuh Sheila melewati lorong lantai 7 .
"Turunkan aku Erland! "
Sheila berusaha memberontak dari gendongan Erland. Namun, pria itu tetap fokus berjalan di temani lorong yang minim pencahayaan.
"Erland! "
"Bisakah kau diam? " pinta Erland ketika sudah sampai di depan pintu kamar
"Turunkan aku disini. Aku tidak mau masuk ke dalam. Aku mohon......" pintar Sheila saat Erland tengah fokus membuka kunci kamarnya
"Diamlah, Sheila. "
Pintu terbuka.
Pria itu masuk kedalam dan menutup pintunya. Menjatuhkan tubuh Sheila diatas ranjang. Sheila meringsut menjauh dengan ekspresi waspada. Bagaimanapun Erland bukan tandingannya, lebih baik dirinya menjaga jarak atau akan terjadi sesuatu yang kembali tidak diinginkan olehnya.
"Jadi....apa selanjutnya?" tanya pria itu entah pada siapa sembari menatap Sheila yang berada diatas ranjang. Sementara pria itu masih berdiri tegak disana.
"Yang jelas tidak seperti yang ada dikepalamu!!"
__ADS_1
"Oh ya? Kau mengetahui isi kepalaku?" smiriknya
Sheila bergerak untuk bangkit dari atas ranjang, namun dengan sigap Erland naik kelas ranjang dan mendorong tubuhnya untuk kembali terlentang. Sekejap mata Erland berada di atas tubuh Sheila dan menindihinya. Sheila hendak mendorong tubuh pria itu menjauh namun tangannya justru langsung ditahan di atas kepalanya.
"Lepaskan! "
"Untuk apa aku melepaskanmu? " ucap Erland lugas. Mendesak wajahnya untuk menyisakan setipis mungkin jarak diantara wajahnya.
Sheila dapat merasakan hembusan napas pria itu yang menerpa wajahnya. Sheila menahan napas , ketika wajahnya memerah.
"Apa yang kau lakukan , Erland! " pekik Sheila ketika tangan pria itu berusaha menurunkan sedikit bajunya, membuat pundak Sheila terekspos.
"Kita tidak bisa membiarkan apa yang dipikirkan semua orang hanya omong kosong , kan? "
Sheila terhenyak.
"Jadi benar? Tidak ada yang terjadi diantara kita tadi malam. Jika begitu aku tidak mungkin mengandung anakmu! " tegas Sheila menatap wajah pria diatasnya.
"Kalau begitu, sudah menjadi tugasku untuk menjadikannya mungkin, bukan? " senyumnya puas
"Ku pikir kau sudah mengetahuinya, seharusnya kau lebih peka terhadap kondisi dirimu sendiri. " senyumnya penuh kelicikan.
Sheila mendeliki tajam. Matanya berusaha mencari celah untuk keluar dari posisi membahayakan ini.
"Mencoba untuk kabur? Sudah ku bilang, jika kau tidak akan bisa pergi setelah kau kembali ke kamar ini lagi. "
"Aku tidak akan pernah mau melakukan itu denganmu. " tegas Sheila mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Erland.
"Kau yakin ? "
Tangan Erland menurunkan kerah kemeja Sheila . Sheila meronta, yang membuat Erland semakin mudah menelanjangi wanita itu.
"Kau ingin cara yang kasar, ya?" Erland memberi tekanan yang lebih demi menahan rontaan Sheila.
Tak cukup kuat tapi juga tak cukup longgar. Sengaja membiarkan Sheila kehabisan tenaga dan berakhir menyerah . Tak lebih dari lima menit, wanita itu sudah kewalahan dan dengan wajah merananya, tak berdaya di bawah tubuhnya.
" Tadi malam, kau tak ingat apa yang sudah aku lakukan padamu, kan? "
Napas Sheila terengah . Sungguh , ia ingin menangis . Tapi kelicikan Erland jelas akan semakin menindasnya . Dan ya , ia memang tak ingat apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Erland hingga berakhir telanjang di tempat tidur pria itu .
__ADS_1
Sheila lelah untuk memberontak. Tenaganya terkuras habis. Ingin rasanya menjerit sekuat tenaga hingga membuat semua orang terbangun. Pikirannya tertuju pada kekasihnya, Arion. Entahlah apakah kata 'kekasih' masih bisa terselip diantara mereka.
"Sekarang aku akan membuatmu mengingat setiap detail keintiman kita tadi malam. "
Seringai di bibir Erland tersungging semakin gelap .
"Aku akan membuatnya menjadi lebih panas dari yang kau berikan padaku tadi malam. Sebagai ucapan terima kasih. Untuk istriku yang tercinta."
Sebelum pernikahan , Sheila yakin harapannya bersama Arion masih ada . Namun , harapan itu tergoyahkan dengan cara Erland menyentuhnya . Menghancurkan kehormatan yang seharusnya menjadi milik Arion . Setiap sentuhan yang diberikan oleh Erland, membuka setiap lapisan ingatan yang terpendam di benaknya .
Sheila sudah cukup dikejutkan dengan fakta tersebut . Ialah yang lebih mencium Erland terlebih dulu. Ialah yang mendorong Erland ke tempat tidur. Dan ialah yang melucuti pakaiannya sendiri sebelum jatuh dengan tubuh polosnya di samping tubuh Erland. Ingatan itu tiba-tiba muncul ketika Erland menyentuhnya sekarang.
Sekarang Erland menyentuhnya dengan cara yang lebih panas dan penuh gairah. Tak memberi kesempatan baginya untuk terbebas dari gairah pria itu yang sudah di ubun-ubun . Memenuhi dirinya dengan rasa sakit, dan... untuk sesaat Erland berhenti. Sebelum kemudian mencumbu dan mencumbunya.
Cumbuan dan dorongan kebutuhan lelaki itu yang semakin meningkat meruncing. Tangan , bibir , dan seluruh tubuh Erland menyentuh setiap inci kulitnya .
Dalam sentuhana dan cumbuan yang lembut sekaligus penuh gairah dan Sheila benar-benar kehilangan dirinya ketika sesuatu yang menyengat sekaligus nikmat mengguyurnya. Menenggelamkannya hingga kehilangan kewarasannya.
Satu hal yang pasti , saat semua ini selesai . Sheila akan membenci dirinya sendiri.
Erland melepaskan diri dari tubuh Sheila kemudian menjatuhkan tubuhnya di sampingnha. Napasnya masih terengah dan kepalanya masih dikeliling taburan bintang . Bibirnya mengerang nikmat, sekaligus dipenuhi ketakjuban.
Entah karena tubuh Sheila atau karena kemenangan yang sudah berada dalam genggamannya , Erland sendiri tak bisa melihat perbedaannya . Yang dia tahu, bonus kemenangannya jelas lebih memuaskan hatinya daripada menjadi pengganti kakeknya.
Erland belum pernah merasa sepuas ini bermain dengan seseorang. Belum pernah merasa terkejut dengan kepuasan yang didapatkannya.
"Mau ke mana kau?" Erland menahan pinggang Sheila ketika wanita itu mulai bergerak turun ke sisi tempat tidur.
"Kamar mandi. "
"Aku belum selesai." Erland menahan pinggang Sheila
"Lepaskan aku, Erland. " Sheila menepis tangan Erland.
Gertakan Sheila tentu malah membuat Erland semakin ditantang . Pria itu malah mencengkeram pinggang Sheila dan mengembalikan wanita itu ke tempat tidur , sebelum kemudian tubuhnya berguling dan menindihinya kembali.
Sheila memiringkan wajahna, tak tahan dengan atapan Erland yang memandang penuh nafsu seperti itu. Ego pria itu jelas sedang bermasalah. Dan menantang Erland dengan cara yang kasar jelas akan membuat pria itu semakin tertantang. Ditambah kekuatannya tentu saja tak akan sebanding dengan kekuatan pria iu. Menelan harga dirinya yang sudah terkoyak, Sheila berusaha menurunkan suara dan egonya.
"Kumohon lepaskan aku."
...BERSAMBUNG...
__ADS_1