UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 7


__ADS_3

SALAH PAHAM!


"Aku tahu tak ada yang terjadi dengan kita berdua , Erland . Aku tak mungkin melakukan itu denganmu!!" tegas Sheila sambil menggeleng menolak semua tuduhan di mata Erland .


Seringai Erland naik lebih tinggi , dipenuhi kepuasan dan kemenangan yang tak terelakkan . Kemudian tatapannya turun ke arah leher Sheila, dengan jejak merah yang membekas di sana.


“ Lalu bagaimana itu ada di sana? "


Sheila beralih kepada Arion dengan tangan memegang lehernya yang kini menjadi pusat perhatian seluruh orang di ruangan ini . Dan lagi-lagi dia bisa merasakan luka yang terjalin di kedua mata pria itu yang sama besarnya dengan yang dia rasakan.


"I-ini hanya gigitan semut. " Sheila masih saja terus mencari alasan agar bisa mematahkan tuduhan pria itu padanya.


"Apakah gigi semut bisa meninggalkan bekas seperti gigi manusia? "


"Jelas-jelas itu aku sendiri yang membuatnya tanpa sadar. " seringainya


"Kumohon, Rion. Percaya padaku." desak Sheila menatap kearah kekasihnya itu.


Arion hanya terdiam , hatinya benar - benar dicengkeram dengan sorot tak berdaya yang terpampang di kedua mata Sheila. Tak tahan , Arion berpaling dan berpindah ke Erland . Tatapannya menghujam pada kakak keduanya tersebut.


"Aku akan tetap menikah dengan Sheila .Tak peduli kau sudah menodai kesuciannya atau tidak . Aku tetap mencintai . Persetan dengan menjadi penerus kakek, Erland bisa mendapatkannya. " tegasnya


Erland menyeringai .


"Ya , aku memang selalu menang , kan? Jika begitu aku akan menganggap apa yang terjadi semalam sebagai bonus. "


Air mata Sheila jatuh berhamburan,itu sangat melukai hatinya.


"Erland! " peringat Friz dengan tatapan tajamnya .


Suasana kembali menyelimuti keheningan ,kakek Friz mengurut keningnya dan tampak berpikir keras.


"Rion ... "


"Aku tak akan melepaskan Sheila apa pun yang terjadi , Kakek." potong Arion bahkan sebelum Friz memikirkan ujung kalimatnya .


"Bagaimana mungkin Rion akan diam saja memercayakan Sheila pada pria berengsek seperti dia." tunjuk yang kepada Erland


Friz menghela napas dengan berat. Menatap cucu terakhirnya tersebut dengan penuh iba. Bagaimanapun Arion adalah cucu paling muda diantara yang lain, sangat disayangkan harus mendapati perkara seperti ini.


"Hanya saja, siapa yang tahu saat ini Sheila tengah mengandung anakku. Mungkin aku bisa sedikit dipercaya karena anak dalam kandungannya."


"Berengsek kau, Erland!"


Secepat umpatannya berhenti, secepat itu pula tubuh Arion melayang ke depan dan menerjang ke seberang meja. Tinjunya sudah melayang dan siap mematahkan hidung adik bungsunya tersebut untuk kedua kalinya. Tetapi Erland jelas lebih menguasai dalam teknik bela diri , dan dalam satu gerakan gesitnya mencekal tinju tersebut dan berhasil menghindar meski dengan susah payah .


Ya, kemarahan yang membakar diri Arion adalah satu hal lain. Melipat gandakan kekuatan yang sebelumnya tak dimiliki oleh Arion. Tubuh Arion terdorong ke belakang , benturan meja kaca hingga pecah . Kemarahan benar-benar membutakan Arion, pria itu kembali bangkit berdiri.


Dan sebelum keduanya kembali bergulat, kakek Friz berhasil menahan Arion dan Austin menahan Erland. Butuh waktu yang cukup lama bagi Austin dan Friz untuk melerai meski dengan susah payah .

__ADS_1


"Hentikan."


"Pertengkaran bukanlah jalan utama untuk menyelesaikan masalah. Kalian sudah dewasa berpikirlah yang rasional! " tegas kakek Friz


"Seperti anak kecil saja. " dengus Austin mengelus pelipis nya yang sempat terkena pukulan oleh Erland.


Semuanya menyaksikan CCTV yang terpasang di depan kamar ketiganya. Dan Erland terbukti tidak bersalah dengan apa pun yang dituduhkan oleh Arion. Erland dalam keadaan mabuk , begitu pun Sheila yang tanpa sengaja meminum cocktail yang wanita itu kira hanya sirup.


"Cocktail itu sebenarnya milikku." sela Austin


Austin mengakuinya bahwa ia juga tidak sengaja meninggalkan minuman itu disana. Atau lebih tepatnya sengaja? Em itu hanya dirinya yang tau. Untuk soal itu ia tidak akan memberitahu siapapun.


"Aku sungguh tidak sengaja menaruhnya disana. "


"Dan juga tidak menyangka Sheila akan meminumnya. " jelas Austin


Arion menatap kakak tertuanya tajam begitu pun dengan Erland yang menatap Austin dengan seringainya. Austin hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Dengan ketegangan yang semakin meruncing, seluruh anggota keluarga Kyler menunggu keputusan kakek Friz. Pria tua itu mendesah panjang dan berat , menguatkan hati dan membeberkan dengan penuh penyesalan terhadap Sheila yang duduk bersama Yasmine. Beralih pada Arion yang tampaknya sudah diselimuti keputusasaan bercampur kehancuran .


"Maafkan kakek , Sheila. Kakek hanya ingin kalian berdua tahu bahwa keputusan ini sangat berat untuk diambil .Tetapi ini demi kebaikan kalian berdua . ​​Kakek benar - benar menyayangkan kecelakaan ini . Yang memungkinkamu hamil anak Erland. "


Arion menggeram tak terima dan Sheila semakin terisak dalam pelukan Yasmine.


"Kakek memutuskan Erland lah yang akan menikah dengan Sheila hari ini. "


"Mamah terlihat membela Arion." celetuk Erland


"Bukan membela, jika mamah setuju dengan keputusan kakek itu sama saja mamah membenarkan caramu untuk mendapatkan warisan dan Sheila secara tidak benar! Ibu mana yang akan setuju jika anak perempuannya harus bersama pria seperti mu Erland. " ucap Yasmine tajam


"Itu artinya mamah membela Arion daripada Erland yang juga korban disini. Korban keteledoran Austin dan kebodohan Sheila yang menganggap cocktail sebagai sirup. " Erland masih saja membela dirinya


"Dasar tidak tau malu.. " sindir Austin


"Sudah cukup."


Friz bangkit berdiri , sebagai tanda bahwa keputusannya tak bisa diganggu gugat .


"Kakek akan mengizinkanmu tidak datang di acara pernikahan ini." ucapnya pada Arion.


"Sheila tidak mau menikah dengan Erland! " cegah Sheila sebelum kakek Friz beranjak pergi.


Sheila berdiri , berjalan mendekati pria tua itu dan bersimpuh.


"Sheila mohon kek.. "


Arion yang melihatnya pun sekuat tenaga untuk tidak menitihkan air mata sampai kedua telinganya memerah.


"Tidak bisa Sheila, maafkan kakek. "

__ADS_1


Friz berjalan meninggalkan ruangan dengan Sheila yang menangis dibawah sana. Sheila berdiri dan berjalan menuju tempat Erland duduk santai.


"KAU." tunjuk Sheila dengan rahang mengeras bahkan air matanya terus mengalir. Sementara Erland hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Kau harus mengatakan yang sejujurnya Erland! Aku tau kita tidak saling mengenal bahkan tidak dekat sekalipun.Kita hanya orang asing yang kebetulan tinggal satu atap, jadi aku mohon berbicaralah yang jujur kepada kakek. " mohon Sheila


"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. "


"Kau berbohong!" teriak Sheila


"Bukankah buktinya sudah ada? Kau melihatnya sendiri di CCTV. Lagi pula tidak ada untungnya aku berbohong. Kau sendiri yang menyerahkan tubuhmu padaku. "


"Jaga bicaramu! " geram Arion hendak kembali menerjang Erland namun segera ditahan oleh Austin.


Yasmine yang melihatnya mendesah pelan dan beranjak dari sana membiarkan anak-anaknya untuk mengeluarkan unek-unek nya satu sama lain. Walaupun itu tidak akan membuat ayahnya berubah pikiran . Semua baru saja dimulai . Sorot mata Friz Kyler memberitahunya , bahwa semua orang tidak akan berjalan-jalan selain yang dia perkirakan .


"Sudahlah Erland. Jangan terus memancing keributan. " tegur Austin


Erland berjalan mendekati Austin dan membisikkan sesuatu padanya.


"Bukankah kau sengaja menaruh cocktail itu? Kau juga menginginkan warisan kakek juga bukan? Namun, justru aku yang mendapatkan nya."


Erland memundurkan jarak mereka dengan seringaian puas. Keduanya saling menatap tajam, hingga teralihkan ketika Sheila berteriak memanggil Arion yang berlari keluar.


"ARION!!" Sheila bangkit berdiri dan berlari mengikuti Arion yang berlari keluar dengan amarah. Namun dicegah oleh Austin.


"Biarkan dia untuk menenangkan diri. "


"Kenapa kau lakukan ini ?! " jerit Sheila marah pada Erland.



"Kau bohong , Erland ! Kau pembohong! Kau bohong, itu semua hanya alibimu saja!! Bilang kalau kau bohong Erland!" jerit Sheila menggila


Erland hanya menoleh , menyunggingkan seulas senyum kemenangan di ujung bibirnya. Melihat ekspresi itu membuat Sheila semakin naik pitam . Wanita itu melompat berdiri hendak menampar Erland.


PLAK


Satu tamparan berhasil mendarat sempurna di pipi kiri Erland. Namun dengan santainya ia mengelus pipinya sambil tersenyum tipis. Erland terlihat biasa saja akan tamparan yang diberikan Sheila.


Sheila hendak menampar Erland lagi, namun Austin segera menarik pinggangnya dan menahannya, "Tenanglah Sheila... "



"Aku tidak bisa diperlukan seperti ini Austin! " tangisnya di pelukan Austin


Dan tentu saja pengamatan tersebut tak luput dari pengamatan Erland yang mendengus tipis sebagai komentarnya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2