UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
[Chapter18] MULAI CURIGA


__ADS_3

Masih kepo juga? Yaudah deh enjoy🤪


...HAPPY READING 📖...


Kening Arion berkerut akan perlawanan Sheila, terlihat bingung akan penolakan itu.


“A-aku belum mandi.”


“Lalu?”


“Aku bau , Arion.” lirih Sheila


Arion malah tersenyum. "Tidak apa-apa, Sheila. Kau pikir itu akan memengaruhi perasaanku..."


"Tidak, Arion." Sekali lagi Sheila mundur untuk menghindar.


" Aku harus ke kamar dan mandi lebih dulu." sahut Sheila cepat


"Aku akan mengantarmu . "


"Tidak perlu , Arion."


Kening Arion berkerut lagi . Seingatnya, Sheila tak pernah menolak ketika ia mengantarnya ke paviliun. Sekedar mengambil barang, mengganti pakaian, apalagi membersihkan diri. Biasanya ia akan menunggu di ruang santai. Sebelum kemudian muncul di ruang makan secara bersamaan dan berangkat kerja bersama.


"Aku tak mau membuat mu menunggu. Jadi aku harus pergi sekarang." Sheila berjalan menuruni anak tangga .


Nyaris saja.


Sheila mencium aroma tubuhnya yang dipenuhi oleh bau Erland. Arion tentu saja akan curiga jika mengendus tubuhnya saat memeluknya.


" Kenapa dengannya ? " tanya Austin balik ketika Arion menatapnya.


" Kenapa dengannya ?" ulang Austin


" Kenapa bertanya padaku? Dia baik-baik saja." lanjut Austin


"Dia menolakku. "


"Hmm.. sepertinya dia sedang PMS. Biasanya wanita akan bersikap tidak bisa ditebak ketika memasuki masa itu. " jawab Austin


"Ah, benarkah? Tapi.."


Austin mengangguk tanpa ragu . " Ck , bagaimana mungkin kau tidak tahu , Arion."


Arion hanya meringis menyentuh sisi kepalanya , " Aku seperti merasa melewatkan banyak hal. Begitukah ? "


"Kau masih ingat Sheila. Tidak ada hal besar selain Sheila dalam hidupmu , kan ?" Arion mengangguk .


" Itu berarti tidak banyak hal yang kau lewatkan."


Arion tak langsung menjawab . Pria itu merasa masih ada ganjalan di hatinya , tapi kemudian memilih mengabaikannya.


" Austin ?" Suara Yasmine memanggil dari kaki tangga segera membuat keduanya berpaling ke arah anak tangga di bawah.


"Bisakah kau mengatakan pada mamah kalau aku belum bangun? " pinta Austin


"Kau baru pulang ?"


Austin mengibaskan telapak tangannya di depan wajahnya," Kenapa kau masih saja terheran Arion, kau hanya hilang ingatan ,bukan tidak memahami kakak terbaikmu ini, kan?"


Austin berjalan melewati Arion, langkahnya terhenti ketika tatapannya menangkap sesuatu di lantai .


" Apa ini ? " Austin membungkuk dan memungut sebuah benda berkilau di lantai.


Arion berkerut , matanya melebur mengenali benda tersebut adalah kalung yang ia berikan pada Sheila malam itu. la pun mengambilnya dari tangan Austin.


" Kalung Sheila? " tanya Austin

__ADS_1


Arion mengangguk," Semalam aku memberikan padanya . Kenapa bisa ada di sini?" .


"Sepertinya dia menjatuhkannya." sahut Austin


"Austin? "


Suara panggilan Yasmine membuat Austin menghilang dalam sekejap di balik pintu kamarnya . Meninggalkan Arion yang masih bertanya - tanya . Mungkinkah Sheila menjatuhkannya tadi malam dan mencarinya pagi-pagi sekali ?


Tapi ... tadi malam saat ia haus dan kehabisan air putih . Ia turun ke bawah dan tidak melihat benda ini di sekitar sini.


"Arion.. " panggil Yasmine


"Ah, ya mah? "


"Sedang apa kau disini? " tanya Yasmine


"Bukan apa-apa mah. Mamah mau kemana? "tanya Arion mengalihkan pembicaraan


" Apa kakakmu masih tidur? Maksud mamah kakakmu Austin. "


"Mamah bisa mengeceknya sendiri. "


Yasmine mengangguk dan berjalan menuju kamar Austin yang berada di sebelah pojok sana.


***


"Apa hari ini kau mulai bekerja? " tanya Friz melihat pakaian Arion yang sudah rapi meski kedua tangannya diperban. Arion mengangguk, "Ya , kakek . Arion benar-benar hampir gila jika mengurung diri lebih lama lagi di kamar. "


"Secepat ini ? Kau yakin keadaanmu sudah baik - baik saja ? " Sekali lagi Arion mengangguk dengan keyakinan penuh.


"Arion bisa bekerja dengan satu tangan. Mungkin dengan rutinitas itu akan memudahkan Arion mengingat beberapa hal."


Friz terdiam sejenak melirik kearah Sheila sejenak sebelum kemudian mengangguk singkat . " Baguslah.. "


"Dan Arion membutuhkan Sheila . Bolehkah selama beberapa hari ini Sheila menemaniku?" tanya Arion yang membuat kedua mata Sheila melebur , menatap waspada ke arah Erland yang duduk tepat di depannya.


"Kau punya sekretaris yang jauh lebih tahu hentang pekerjaan , Arion. " jawab kakek Friz


"Sheila memiliki pekerjaannya sendiri , Arion" Yasmine berkata dan melirik ke arah Erland yang duduk di sampingnya , tampak tak mengatakan apa pun . Dan malah siluk dengan isi di piringnya .Sedangkan Sheila tampak bingung .


" Sheila akan membantu kakekmu. Akhir - akhir ini pekerjaan kakek banyaknyang tertunda karena kecelakaanmu , Arion. "


"Ya , tapi masih ada Erland yang bisa membantu kakek "


Yasmine terdiam.


" Erland ?Apa kau memutuskan bekerja di sini?"


Erland mengangguk, " Ya. Karena akulah yang akan menggantikan pekerjaan kakek. "


"Lalu perusahaan mu di Singapura? "


"Aku bisa mantaunya dari sini."


"Jadi kau memutuskan tinggal di sini? " sekali lagi Erland mengangguk


"Kenapa kau mendadak ingin pindah di sini,sekarang?" tanya Arion yang mendadak dipenuhi rasa penasaran.


" Sekarang ? Tak ada perbedaan aku melakukannya sekarang atau nanti . Kau tahu usia kakek sudah semakin tua . Dan terlalu tua untuk mengurus semua hal besar di sini . Kau dan Austin sibuk dengan pekerjaan kalian masing - masing . Ah , aku lupa kau melupakan sesuatu yang ppenting. "


" Erland. " Suara Friz dan Austin berbarengan Yang langsung menciptakan keheranan di mata Arion.


"Ada apa ? Sesantu penting apa yang kulewatkan ? " Arion Friz dan Austin secara bergantian . Dan rupanya tak hanya Austin yang terlihat membeku. Mamanya dan Sheila juga sama.


" Apa yang sudah kulewati Erlan?" Erland tak langsung menjawab .


Ketegangan merubah suasana di meja makan. Seringan tersamar di ujung bibir merasakan seluruh anggota keluarganya tampak menunggu dengan harap - harap padanya .

__ADS_1


"Kau tau kakek kemampuan nya semakin menurun . Jadi ... akulah yang akan menggantikannya . "


Ketegangan tersebut segera hilang digantikan oleh kelegaan , terutama Sheila.


"Kakek masih belum sepenuhnya memberikan posisi itu padamu , Erland," sela Friz.


Erland tersenyum. " Ya , Kakek . Erland tahu . Erland akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan Kakek.Bukannya Arion dan Austin sudah mempercayakan posisi lemahul aku ? "


"Aku? " Arion mengernyit .


"Ya , itulah hal penting yang kau lupakan . Apa sekarang kau merasakan itu bukan keputusan yang tepat? " ujar Erland


"Aku masih ingat, beberapa kali kau membantu situasi genting di perusahaan utama. Aku tahu kau bisa diandalkan dibanding kami berdua."


Erland mengangguk, melirik ke arah Sheila yang sejak tadi hanya mengarahkan wajah kebawah demi menyembunyikan kegugupannya.


"Ya, aku memang-"


"Cukup pembicaraan tentang pekerjaan . " S


Yasmine menyela


bantuan ketiga anak-anaknya untuk segera menandaskan isi piring masing-masing dan kemudian berangkat ke kantor. Setelah makan pagi selesai. Arion menarik lengan Sheila dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya . Berkata akan mengantarnya ke kantor sebelum berangkat ke kantornya sendiri .


"Sheila?"


" Ya?" Sheila mengangkat wajahnya dari layar ponsel .


Diam - diam membaca pesan yang dikirimkan oleh Erland . Bahwa pria itu akan menunggunya di ruangan barunya saat sampai di gedung .


"Apa kau merasa tidak meninggalkan sesuatu ? "


Sheila tampak berpikir , kemudian menggeleng .Arion terdiam sejenak . " Kehilangan sesuatu? "


Sheila kembali menggeleng . Arion mengenyit . Segurat kecewa tersumur di wajahnya . Mungkin dia memang kehilangan ingatannya , tapi mengingat Sheila tak pernah melupakan apa pun hadiah yang ia berikan. "


"Kenapa, Arion? "


Dengan seulas senyum tipisnya , Arion menggelengkan kepalanya . Menghela napas dalam hati , ketika ganjalan di hatinya muncul kembali . Bagaimana mungkin Sheila kehilangan sesuatu dan justru tidak menyadarinya.


"Sayang? "


"Y-ya? "


" Setelah malam itu , mungkinkah sesuatu terjadi dengan kita berdua ? "


" Apa maksudmu , Arion?"


"Apakah hubungan kita memburuk sebelum kecelakaanku ?"


Sheilaberusaha keras menyembunyikan kepucatan yang menyiram wajahnya dengan pertanyaan Arion yang begitu tiba - tiba.


"Apa maksudmu , Arion ? Kenapa kau berkata seperti itu ? " Arion menggeleng .


"Aku hanya bertanya. Mungkin aku melewatkan sesuatu. Entah sesuatu yang buruk atau baik? Aku tidak tahu mana yang lebih buruk."


Sheila memutar tubuhnya dan meraih kedua tangan Arion. Menggenggam kedua tangan besar tersebut dengan tangannya yang mungil dan penuh kelembutan .


"Semua baik-baik saja, Arion. Tak ada yang perlu kau khawatirkan."


"Kau yakin?"


"Tentu saja, Arion."


Arion terdiam, menatap wajah Sheila sekali lagi kemudian berkata, " Baiklah. Kau tahu aku selalu memercayaimu, kan? "


Hati Sheila serasa diiris dengan kepercayaan yang bahkan sudah ia khianati sebelum memberikannya, " Kau selalu begitu, Arion. " Sheila tersenyum lembut namun berbeda dengan hatinya yang ingin sekali berteriak pada Arion apa yang telah terjadi pada hubungan mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


EITS TINGGALKAN JEJAK DULU:>


__ADS_2