UNPACTED MARRIAGE

UNPACTED MARRIAGE
Bab 22 : Terulang Lagi


__ADS_3

Hai, kembali lagi diceritakan ini.. so...


...HAPPY READING📖...


Mata Sheila baru saja terpejam ketika samar - samar ia mendengar suara pintu yang dibuka , langkah kaki mendekat dan pintu kamarnya yang bergeser pelan .


Sepertinya Arion meninggalkan sesuatu dan kembali untuk mengambil nya..batinnya di antara rasa kantuk yang mulai melapisi kedua matanya .


Tetapi mendadak sesuatu yang menarik dibalik selimut membuatnya kembali membuka matanya dan hendak berbalik .Tubuhnya ditahan dengan kedua lengan yang memeluknya dari belakang.


"Erland? "


Sheila nyaris memekik dengan keras. Tentu saja Sheila kenal dengan lilitan ini.


"Ya , siapa lagi ? " Erland langsung menenggelamkan wajahnya di cekungan leher Sheila .


Suhu tubuh Sheila begitu menyengat saat bersentuhan dengan suhu tubuhnya yang normal , tapi anehnya Erland sama sekali tidak merasa terganggu dengan hal tersebut .


"Erland Apa yang kau lakukan di sini , bagaimana jika Ari-"


"Dia sudah masuk ke rumah. "


"Tetap saja kau tidak bisa seenaknya menyelinap masuk ke paviliun. Bagaimana jika Arion tiba-tiba kembali untuk mengambil barang dan.. "


"Well, aku sangat merindukan istri ku tidak diranjangku. Aku merindukanmu hingga kelelahan. " Sheila memutar matanya jengah.


"Hanya karena satu malam ini aku tidak kembali ke kamarmu? Bahkan seharusnya kau tau aku lebih merindukan tempat tidurku disini, Erland. "


Sheila sedikit malas untuk kembali ke kamar Erland, apalagi harus bersembunyi dari pandangan Arion. Dan berakhir setiap pagi ia harus bangun lebih awal untuk kembali ke paviliun. Itupun jika beruntung ketika Erland tidak menahannya dan membuatnya dalam masalah seperti yang terakhir kali.


Erland terkekeh kemudian berbisik di telinga Sheila," Apa kau tahu ada cara yang lebih efektif bagi pasangan untuk menurunkan demam ? "


Sheila tak butuh tahu , jawabannya sudah terlihat jelas dengan telapak tangan Erland yang mulai menyusup ke balik pakaiannya .


"Bahkan cara ini justru akan semakin meningkatkan keintiman kita sebagai pasangan suami istri. Bukankah itu bagus untuk perkembangan hubungan kita yang ... akhir - akhir ini harus dibiarkan merenggang karena, Arion? "


'Bukankah seharusnya Erland yang menjadi orang ketiga dalam hubungannya dan Arion?'' sengit Sheila hanya dalam hati.


"Aku harus bersabar , itu tidak akan berlangsung lama . " Erland memberi jeda sejenak .


"Sepertinya ingatan Arion akan segera kembali, dan aku tak perlu menyelinap ke kamar istriku seperti pencuri." lanjutnya


Sheila terkesiap, memutar tubuhnya dan menatap wajah Erland dengan kedua mata yang membeliak terkejut. " Apa maksudmu ,Erland?"


"Hmm , dia mulai menanyakan sesuatu kepadaku . Dia merasa ... sepertinya kita menyembuyikan sesuatu di belakangnya . " Erland menampilkan ringisan tipisnya


"Kau tahu , terkadang perasaan memang tak bisa dibohongi bukan . Kupikir firasat bertahan hidup masih bekerja dengan baik dari terluka untuk kedua kalinya . Dan ya, kita memang menyembunyikan fakta menarik ini darinya. " Tangan Erland mulai bergerak mengelus kulit telanjang Sheila di bagian perut dengan gerakan yang menggoda .

__ADS_1


"Hentikan, Erland." Sheila bergerak cepat menangkap dan menghentikan tangan Erland dari balik bajunya .


"Lalu apa yang kau katakan padanya , Arion?"


"Sekarang bukan saat yang tepat untuk membuka semuanya . Kau tahu kan..jangan mengalihkan pembicaraan." Seringai tersungging di ujung bibir Erland akan kegelisahan yang begitu jelas di raut wajah Sheila.


"Kau bahkan lebih menghawatirkan luka hati Arion ,ketimbang dirimu yang sedang sakit, ya?" Mulut Sheila segera terkatup rapat.


"Well, kalau begitu kita akhiri pembahasannya di sini. Karena aku lebih menghawatirkan keadaan istriku. Dan merasa bertanggung jawab untuk menyembuhkannya." Erland menarik wajah Sheila mendekat dan langsung menyambar ******* di bibir wanita itu sebelum Sheila sempat menolak.


Tangannya kembali bergerak dengan lihai di balik pakaian Sheila , menyentuh kulit panas wanita itu yang tak kalah membaranya dengan gairahnya yang bergelora untuk wanitanya. Ya, tubuhnya selalu bergairah dan menginginkan Sheila lebih besar. Semakin besar dan terus menerus menginginkan Sheila yang sudah menjadi candu baginya.


Panas dan panas yang saling bercampur, keringat keduanya yang saling melumuri tubuh keduanya. Membawa keduanya pada puncak kenikmatan yang dilepas secara bersamaan .


Saat Erland menarik tubuhnya dari Sheila, pria itu menjatuhkan tubuhnya di sisi istrinya lalu. memutar tubuh Sheila hingga berbaring miring memunggunginya, kemudian menempelkan seluruh punggung wanita itu di dadanya. Memeluk tubuh mungil Sheila dengan lengannya dan lengan lainnya sebagai bantal .


"Sekarang tidurlah," bisiknya di tengah napas Sheila yang masih terengah-engah.


Kening Sheila berkerut .Tak biasanya Erland melakukan penundaan di sesi pertama aktifitas panas mereka .


"Sepertinya akulah yang membuatmu kurang istirahat di malam hari hingga sakit." Wajah Sheila memerah. Baru saja dia memikirkan hal yang sama.


"Kali ini aku akan membiarkanmu tidur lebih awal ." Erland menenggelamkan wajahnya di tengkuk Sheila .


Mengecup leher wanita itu sekali kemudia mulai memejamkan matanya.


"Erland? "


" Hmm ? "


"Jangan tinggalkan-"


" Kissmark di sini .“ Erland malah sengaja menggigit kulit lembut leher Sheila.


Seketika Sheila menggeliat kan tubuhnya dan Erland kembali merapatkan tubuh mereka. Terkekeh di permukaan tengkuk Sheila.


”Semakin kau mengingatkanku, aku jadi semakin tertarik melakukannya, Sheila. Kau tahu aku suka tantangan ." Sheila membeku .


"Mungkin dengan begitu, ingatan Arion akan segera pulih. " sekali lagi Erland terkekeh .


"Kalau begitu pejamkan matamu dan segera tidur, Sheila. Karena sepertinya aku mulai memikirkan sasaatu yang lain jika kau tak juga tidur. " tentu saja Sheila langsung memejamkan matanya sebelum hal itu terjadi.


*


*


" Bangunlah, Erland. Kau harus segera pergi Arion sebentar lagi datang. "

__ADS_1


Dan tepat ketika ia baru menyelesaikan kalimatnya , suara kunci diputar dari arah ruang depan membuat Sheila membeku. Dan ketegangan semakin menyelimuti ketika lungkah kaki di luar kamar semakin mendekat.


"Erland! "


Sheila turun dari tempat tidur dan menyeret tubuh Erland yang terlihat menggerutu karena waktu tidurnya terganggu. Menyeret tubuh itu kedalam kamar mandi. Jantung Sheila benar-benar berhenti berdetak ketika pintu kamar mandi tertutup bersamaan dengan pintu kamarnya yang terluka. Dan wajah Arion muncul .


" Kau sudah bangun ? " Arion menyapa Sheila sambil tersenyum lebar


"Aku membawakanmu sarapan pagi. "


Sheila mengangguk sambil mengusap keringat di keningnya . Tetapi ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap pakaian Erland yang jatuh di lantai di sisi tempat tidur , tubuhnya kembali membeku.


"Arion?! "


Langkah Ario yang sudah setengah sampai di samping tempat tidur terhenti . Terheran dengan kepucatan di wajah Sheila. Wanita itu setengah berlari ke arahnya dan menangkap nampan di tangannya .


"Bisakah kau keluar sebentar?" Kalimat itu meluncur begitu saja , sementara kepalanya berputar mencari alasan .


" A - aku ... aku ingin ke kamar mandi . " kemudian nymbur pakaian Erland yang ada di lantai dan memastikan tak ada jejak keberadaan Erland di kamarnya .


Arion membiarkan tubuhnya didorong oleh Sheila ke arah pintu . Sheila lalu menutup pintu kamar tepat di depan wajah Arion. Detak jantung nya berdebar kencang , Sheila pergi meletakkan nampan sarapannya ke meja , sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Erland menggeram rendah , kemudian menyeringai .Sheila baru saja membuka puntu kamar mandi ketika pinggangnya disambar oleh Erland dan tubuhnya didorong ke dinding .


" Lepaskan , Erland , " sergahnya sambil memiringkan wajahnya . Membuat bibir Erland mendarat di pipinya.


"Ada Arion di depan, Erland , " delik Sheila mendorong dada telanjang Erland menjauh.


"Sekalian mandi?"


"Tidak, Erland," tegas Sheila.


Dirinya benar-benar merasa tidak enak dengan apa yang telah dilakukannya di belakang Arion. Membuatnya tak berhenti merasa telah menghianati cinta Arion yang begitu tulus. Sheila merasa seperti wanita yang tengah melakukan perselingkuhan tepat di depan matanya.


"Kau tahu aku tak suka penolakan. "


Erland menurunkan celananya . Membuat pria itu sapenuhnya telanjang di depan Sheila.


Sheila melotot tajam dan mengalihkan wajahnya kearah lain dengan wajah merona . Pria itu benar - benar tak punya urat malu , umpatnya dalam hati .


Sheila pun melempar pakaian Erland ke lantai dan langsung meraih gugung pintu . Namun, dalam satu kali gerakan yang singkat, Erland kembali membawanya berdiri di bawah shower sebelum sempat menyentuh pintu . Dan Sheila terkejut ketika tiba - tiba air shower mengguyur tubuh keduanya saling menempel di dinding. Sheila dapat merasakan benda lunak panjang itu mengenai pahanya yang hanya mengenakan gaun tidur diatas lutut. Arghhhh.. bisa gila lama-lama Sheila...


"Keterlaluan kau , Erland. " desis Sheila.


Bersambung....


Hayoooo...Janji nggak ngesalting? hahahhaha just for fun guyss.. ini hanya cerita 😎 Tinggalkan jejak ya

__ADS_1


__ADS_2