
KEPUTUSAN YANG SULIT
BRUK
Arion melompat ke arah tempat tidur. Mendaratkan tinjunya tepat ke hidung Erland hingga tubuh keduanya tersungkur ke lantai . Yasmine yang bahkan sudah memperkirakan baku hantam itu tak akan terelakkan tetap saja dibuat terkejut oleh suara tinju Arion yang begitumengerikan. Wanita paruh baya itu menjerit histeris.
“Kenapa kau diam saja, Austin?!” bentaknya pada Austin yang malah bersandar di dinding dengan kedua tangan bersilang dada.
Ia justru terlihat menikmati pertunjukan Erland yang kini berhasil mendorong tubuh Arion hingga jatuh ke lantai, namun tidak membalas tinju sang kakak.
Erland tahu dirinya salah dan berhak mendapatkan tinju dari Arion. Austin pikir itu urusan keduanya . Menghentikan Arion dengan kemarahan sebesar itu juga bukan ide yang bagus. Dan sepertinya kakeknya pun memikirkan hal yang sama , meski tampak mulai berpikir keras menghadapi kejutan pagi cerah ini .
Arion benar-benar diambang kemarahan saat ini.Jika dirinya masuk kedalam pertengkaran itu, bisa dipastikan bahwa tubuhnya akan ikut babak belur bahkan jauh lebih parah karena menjadi penyaluran emosi keduanya.
Sheila pun ikut berteriak histeris, sekaligus tak bisa berkutik karena selimut besarlah satu-satunya benda yang menutupi ketelanjangannya.
Beruntung, di tengah baku hantam antara Arion dan Erland di lantai.
Yasmine yang panik berlari menghampiri dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai yang tidak tahu bagaimana kain itu bisa ada di sana. Kemudian membantu Sheila untuk berpakaian sambil sesekali berteriak ketika melihat Arion menyerangkan tinju pada Erland.
Erland tak membiarkan Arion meninjunya lagi. Pria itu menangkap tinjunya , dengan bibir berdarah , Erland menyeringai.
"Sudah cukup , Arion." Erland mendorong tubuh Arion dari perutnya dan melompat berdiri .
Sambil menyeka darah di hidungnya menggunakan punggung tangan . Sepertinya tulang hidungnya patah . Rasa sakitnya sedikit menusuk , seorang pria memang butuh sebuah tanda kan? Dan ini bukan yang pertama kalinya hidungnya patah .
"Berengsek kau, Erland. Sejak awal aku sudah tak memercayai kata - katamu.Kau tak semurah hati itu untuk melepaskan berlian begitu saja. " sembur Arion tajam
Erland mendengus.
"Kalau begitu kau juga sudah menggambarkan hal semacam ini akan terjadi, kan? Jadi kenapa kau terkejut."
"Brengsek! "
Arion kembali melompat berdiri dan siap menerjang ke arah Erland.
"Hentikan kalian semua!" teriakan memenuhi seluruh ruangan
__ADS_1
Gerakan Arion terhenti meski kedua matanya masih dipenuhi bara amarah. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Arion, Erland. Keluar sekarang juga . Kita bicara di bawah . "
Ketegasan yang mengubah nada suara dan semua ekspresi di wajah Friz tak memberi kesempatan bagi kedua cucunya tersebut untuk membuka mulut . Friz berbalik dan melangkah keluar mengikuti dengan ekspresi datar.
Sebelum pergi Arion menyempatkan melihat Sheila yang dibantu oleh mamanya dengan wajah tertunduk . Tak berani mengangkat pandangannya . Ia pun tak tahan bertatapan dengan Sheila. Terlalu malu pada dirinya sendiri karena tak sanggup melindungi wanita itu .
Erland mengambil kaos polonya di lantai dalam perjalanan ke pintu kamar. Sama sekali tak menoleh ke arah Sheila dan Yasmine di tempat tidur.
Erland mengakui bahwa dirinya sungguh- sungguh memang licik. Tetapi memang keberuntungan sedang berpihak untuknya. Bagaimana mungkin ia akan menyia -nyiakan kesempatan tersebut .
Sheila terisak kembali. Dengan tangan bergetar berusaha menahannya namun tidak berhasil.
"Kamu harus kuat, Sheila. Tante tidak akan memarahi apalagi membencimu. " ucapan lembut itu
"Kita lihat apa yang terjadi sebenarnya nanti. " sambung Yasmine berusaha menguatkan.
Setengah jam kemudian, Sheila dan Sofia yang tak henti-hentinya menghela napas mendesak gadis itu menuruni anak tangga. Membawa Sheila memasuki ruang tengah yang menyelimuti keheningan meski keempat pria sudah duduk mengelilingi meja.
Kakek Friz di sofa tunggal. Austin dan Arion di sisi kanan, lalu Erland yang lukanya sibuk dibersihkan oleh pelayan bersandar di punggung sofa sebelah kiri dengan sikap santainya. Satu - satunya yang dipenuhi ketenangan di antara ketegangan yang menggantung di udara di sekeliling ruangan .
Yasmine mendesah lagi , tak tahu apa yang harus dikatakan pada anak tengahnya tersebut . Kemudian pandangannya beralih pada Arion. Seandainya ia tahu wasiat keluarga itu, mereka tak akan berakhir seperti ini dengan mengingat bagaimana watak anak keduanya itu.
Dalam rangkulannya, kepucatan di wajah Sheila benar-benar tak tertolong lagi. Membuatnya merasa sangat bersalah pada gadis malang ini hingga terjebak di antara kedua anaknya . Mendudukkannya di ujung sofa memastikan jaraknya sejauh mungkin dari Arion ataupun Erland .
"Erland, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." suara bijaksana Friz memecah keheningan yang tetap bertahan sejak keempat pria itu duduk mengelilingi meja .
Erland melirik ke arah kakeknya. Mengangkat tangan pada pelayan untuk berhenti lalu menegakkan punggungnya.
"Apa yang harus Erland jelaskan , Kakek ? Bagaimana kami berakhir di tempat tidur ? Atau ... " Pandangan Erland beralih ke arah Arion yang digelapi emosi .
" ... Ketidakadilan ini ?" lanjut nya
Friz mengangkat tangannya ke arah Arion yang sudah siap melompati meja dan meluncur ke arah Erland.
__ADS_1
"Apa maksudmu , Erland? Bukankah kau sudah melepaskan semuanya sebelum rencana pernikahan ini diputuskan ? "
"Sejak awal sayembara ini tidak adil untukku , kan ? Apakah aku salah ? "
"Keberatanmu sudah tak berlaku. " geram Arion dengan bibir yang menipis tajam dan keras .
"Kakek sudah berusaha untuk membuat semuanya menjadi adil dengan makan malam kalian ? Yang berakhir tak lebih dari setengah jam untukku." keras Erland kemudian menatap Arion kemudian Austin.
Austin tampak gelagapan ditatap setajam itu oleh adiknya . Ia mengangkat kedua tangannya , "Kenapa ? Apa kesalahanku ? "
Erland mengungkapkan , kembali membocorkan sang kakek dengan keseriusan yang lebih dalam dari sebelumnya antara Sheila, Arion, dan Austin .
"Sejak awal aku tak diberi kesempatan untuk menang , tidak berlebihan jika aku memanfaatkan kesempatan yang datang , kan ?"
"Tetap saja apa yang kau lakukan pada Sheila tidak bisa dibenarkan , Erland !" Yasmine menyela dengan nada peringatan .
"Aku tak menjebaknya . Kalian bisa memeriksa CCTV . Sheila lah yang masuk ke dalam kamarku , dan aku ... " tatapan Erland mengarah kepada Austin.
"Kau tahu aku juga sedang mabuk saat naik ke kamarku . Semua terjadi begitu saja tanpa bisa kau cegah."
"Jangan bohong, Erland! " gertak Arion .
"Untuk apa Sheila mendatangi kamarmu! "
Seringai Erland naik lebih tinggi , kemudian beralih ke Sheila dengan mata nanarnya menatap mereka semua . Mencoba mengingat apa yang terjadi . Semua tatapan yang mengarah ke arahnya , ditambah kekecewaan yang tersirat dalam tatapan Arion benar - benar menekannya .
Sheila hanya ingat , ia meminum pesanan minuman yang ditinggalkan oleh Austin di meja dan setangkai mawar merah yang ditempeli nota merah muda dengan tulisan tangan Arion . Kemudian ia naik ke lantai atas dan melihat Austin , kemudian ... Sheila tak mengingat apa pun setelah rasa pusing yang perlahan semakin menusuk lehernya .
"Tak ada apa pun yang terjadi dengan kami . " ucapnya keras, Sheila berusaha terdengar penuh keyakinan namun tetap saja suaranya bergetar luar biasa .
"Tak mengingat apa pun bukan berarti tidak ada yang terjadi , kan ? "
Kalimat Sheila yang rentan tersebut dipatahkan dengan begitu mudah oleh Erland . Bibir Liana seketika terkatup rapat . Wajahnya merah padam oleh amarah dan rasa malu. Ia benar - benar tak ingat dan membayangkan apa yang terjadi dengan mereka berdua semalam.
Erland, jika benar terjadi aku akan membencimu seumur hidup
...BBERSAMBUNG...
__ADS_1