Vampir dan Penyihir

Vampir dan Penyihir
Irish Planet 2


__ADS_3

Suasana di ruang rapat hening, tatkala Kyuhyun melaporkan keadaan Planet Bumi secara detail. Beberapa Ketua Devisi menyarankan agar segera menguasai Bumi demi kelangsungan hidup Bangsa Irish. Apalagi Ketiian Jaag, dialah yang paling semangat mengatakan idenya.


"Lebih baik kita sesegera mungkin menguasai Bumi. Aku tidak sabar meneguk darah para manusia itu. Pada perang Hexvo ternyata ada beberapa manusia yang terlibat dalam memprovokasi terjadinya perang tersebut. Jangan di tanya, mengapa aku bisa tahu, itu adalah pekerjaanku. Lagipula saat ini aku sudah mendapatkan cukup bukti." Ketiian tersenyum sinis, membuat hampir semua yang berada di rapat tersebut terhanyut dalam kata-katanya.


Kyungjae hanya duduk diam. Meskipun tubuhnya berada di ruang rapat ini, tetapi jiwanya melayang ke ruangan Rara. Ia tidak sabar memeriksa tubuh Rara secepat mungkin.


"Aku tidak terlalu suka idemu Ketiian!" Kyuhnyun menggelengkan kepalanya, "lebih baik, kita menggoda mereka sehingga mereka secara sukarela menyerahkan diri mereka. Bukan dengan cara paksaan. Itu bukan cara kerja Bangsa Irish, Ketiian." suara Kyuhyun dingin, membuat mereka semua terdiam, termasuk Kyungjae. "Menurutku, itu adalah cara yang terbaik. Aku sebagai Velir, kurang setuju denganmu Tuan Jaag," timpalnya lagi.


Kyungjae tersenyum tipis mendengar perkataan Kyuhyun, memang sudah bukan keharusan Planet Bumi dikuasai oleh Bangsa Irish. Karena gadis yang ia cari sudah berada di pelukannya. Kyungjae berjanji, ia tidak akan melepaskannya lagi. Ia akan menjaganya dengan nyawa sebagai taruhannya.


Walaupun nanti akan banyak berita miring tentang dirinya, Kyungjae tetap tidak perduli. Ia lebih menyukai kebersamaannya nanti dengan gadis tersebut daripada vampire-vampire konyol di sekitarnya. Sungguh merepotkan!!! Pikirnya.


"Sekiranya sampai disini dulu. Aku mau istirahat." Kyungjae langsung bangkit dan meninggalkan ruangan tersebut, di ikuti oleh Kyuhyun.


"Yang Mulia, apakah ada hal yang lain yang ingin kau ceritakan kepadaku?" Kata Kyuhyun saat melihat Kyungjae tak henti-hentinya melempar senyum jenaka kearahnya.


"Seharusnya kau tanya dari tadi Hematile!" Pekik Kyungjae senang, ia memutar tubuhnya dan menghentikan pergerakannya. "Apa kau percaya takdir?"


Kyuhyun melongo mendengarnya, "Ma-maksudnya?" Kedua matanya mengerjap, "Maaf Yang Mulia, saya tidak begitu paham."


"Kau telah membawa gadis yang selama ini aku cari. Berkat dirimu aku tidak akan kehilangan dirinya lagi. Terima kasih! Aku akan menjaganya agar tidak kehilangannya lagi!" Kyungjae melanjutkan perjalanannya meninggalkan Kyuhyun yang terbengong dibuatnya.


Dia bilang apa tadi??? Kepala Kyuhyun langsung di dera pusing, bagaimana bisa ia tertimpa kesialan berturut-turut seperti ini? Kemarin ia bersaing dengan Jaejoong, sekarang ini ia bersaing dengan Rajanya sendiri.


Oh demi darah O+ favoritku!!! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar tidak rela!!!


Dalam satu tarikan nafas, Kyuhyun langsung menuju ke ruangan Rara. Ia harus membuat Rara menjadi miliknya. Dengan cara apapun!


"Hah! Kalian pikir kalian bisa menikungku huh? Tidak! Tidak akan pernah bisa! Hahaha..." Kyuhyun tertawa sumbang, membuat para pelayan yang melihatnya merinding ketakutan.


Rara masih terlelap, seolah enggan untuk bangun. Kyuhyun yang duduk di sampingnya menatapnya dengan penuh cinta. Kyuhyun tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, baginya Rara adalah yang pertama dan ia harap hanya satu-satunya yang mengisi hati bekunya.


"Rara... ireona(bangunlah)." Panggil Kyuhyun dengan lembut, ibu jarinya mengusap pipi Rara. "Apa-apaan si berengsek itu memantraimu seperti ini huh!"


***


Aku sungguh menginginkannya... bolehkah aku memilikinya? Pertanyaan bodoh berkelana kesana-kemari di pikiranku. Bagaimana bisa Rajaku membuat Rara tidak berdaya seperti ini? Apakah Rara adalah Istrinya yang menghilang saat tragedi mengerikan itu terjadi? Memikirkannya saja membuatku merinding ketakutan. Ku harap Rajaku itu salah.


Rasanya aku Vampir paling sial jika berhubungan dengan urusan percintaan.


Aku ingin mengecup bibir indahnya... Hasrat itu mendorongku, begitu liar memikat dan mengundangku dengan gemerlap pukauan tubuh Rara yang indah.


Aku ingin memilikinya untukku saja!!! Rasa frustasi menggerayangiku, meninjuku tepat ke ulu hatiku dan meninggalkan rasa mual yang tak tertahankan.


Ku kecup bibir indahnya, aku tidak sanggup lagi menahannya, aku tidak sanggup lagi kehilangannya. Rasa gila ini menghantuiku, memaksaku untuk membawa Rara kabur dan tinggal berdua saja bersamaku.


"Kau ini siapa Rara?" Suaraku bergetar, menahan rasa keingintahuanku yang siap tumpah, "apakah aku salah jika menginginkanmu untukku? Tapi mengapa Rara? Mengapa kau sangat jauh ku jangkau? Mengapa? Apa salahku? Coba katakan kepadaku Rara..."

__ADS_1


Malam ini, langit abu-abu di Irish menjadi hitam pekat. Seolah ia tahu, bahwa aku Velir Sang Raja tengah risau karena jatuh cinta.


Pagi yang gelap, selalu begitu. Irish adalah Planet yang tidak memiliki perbedaan yang signifikan antara pagi dan malam. Di planet ini, semuanya serba gelap bahkan menyeramkan.


Tumbuhan hanya tumbuh di dalam Istana saja. Seperti suatu keajaiban. Tapi, jika melihat ke luar Istana, siapapun akan tercengang dibuatnya. Tanah gersang berwarna hitam pekat dengan beberapa retakan berwarna merah menyala, udara disini tidak sebagus udara di Planet lainnya.


Akupun masih bingung mengenai hal tersebut. Mengapa? Para pendahulu kami memilih Planet semenyedihkan ini? Sepertinya mereka sangat bodoh.


Ku pijakkan kedua kakiku ke luar Istana. Mencoba mengakrabkan kembali diriku dengan Planet kelahiranku.


Keramaian di pusat kota terasa begitu manis. Semua Bangsa Irish tahu betul tentang ramalan yang melegenda, ramalan itu mengatakan bahwa Irish akan menjadi salah satu Planet yang begitu indah dengan tingkat populasi penduduk yang terpadat kedua segalaksi.


"Hey, apakah kau ingin membeli kalung buatanku?" Seorang bocah perempuan menyeret tubuhku untuk mendekati lapaknya, "kau harus membelinya, kalungku ini adalah kalung keabadian." Ia menyeringai dan memperlihatkan gigi taringnya yang lucu. Ia adalah Vampir muda yang sangat lucu.


Aku menahan senyumku, "Wah, kau pandai promosi ya?" Godaku sambil mengusap puncak kepalanya.


Kedua pipinya memerah, ia tersipu.


"Kau akan menyesal jika tidak membelinya!" Ancamnya dengan nada menakutiku.


"Wah, memangnya akan ada kutukan jika aku tidak membeli barangmu?" Aku menanggapi dan memasang wajah polos sementara ia menangguk dengan penuh semangat.


"Jangan ditanya! Hanya orang-orang yang beruntunglah yang kupaksa membeli daganganku!"


"Wah, wah, wah. Benarkah itu?" Aku tersenyum simpul, melipat kedua tanganku di dada. "Coba kita lihat, seberuntung apa aku jika membeli satu daganganmu."


"Baiklah, kalau begitu berikan aku satu pasang."


"Mau aku pilihkan? Atau kau pilih sendiri?"


"Bagaimana menurutmu? Kau kan pintar." Kataku sambil mengusap puncak kepalanya lagi.


Kedua tangan mungilnya memaksaku untuk menundukkan tubuhku. Ia menangkupkan kesepuluh jarinya pada wajahku, sedetik kemudian ia tersenyum tipis dan memilih barang dengan tangannya yang mungil.


"Sematkan cincin ini pada orang yang kau cintai. Jika ia takdirmu, cincin ini akan berpendar dan masuk ke dalam tubuhnya lalu membentuk sebuah tanda di tengah keningnya, tandanya bisa berbeda-beda tergantung pembawaannya. Jika ia orang yang suka bertarung, maka tandanya bisa berbentuk pedang, busur, anak panah, perisai, cambuk, atau barang-barang yang berhubungan dengan pertarungan. Jika ia orang yang suka dengan ilmu pengetahuan, tandanya bisa buku, atau pena dan yang berhubungan dengan itu. Jika ia orang yang tulus dan gemar menolong, tandanya bisa bintang ataupun tanda hati."


Aku terbengong mendengar penuturan bocah perempuan ini.


"Wah, keren sekali!" Pekikku, "Mengapa kau tidak menjadi seorang panglima dagang saja hm?" Gemas sekali rasanya, sehingga tanpa sadar aku telah mencubit pipinya dan ia mendelik marah. "Ups, maafkan aku ya. Habisnya kau menggemaskan sekali! Oh iya, apa gunanya cincinku?" Tanyaku lagi.


"Sama saja." ujarnya ketus sambil mengusap pipinya.


***


Setibanya di Istana aku langsung melangkahkan kedua kakiku menuju ruangan Rara. Letih seharian ini berkeliling di pusat kota, meskipun sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan takhayul atas barang pasangan -yang kata bocah perempuan tadi- abadi yang ada di saku celanaku ini.


"Velir Hematile." Salah satu ajudanku menyapaku dan memasang wajah serius.

__ADS_1


"Ya, Credd. Ada apa?"


Credd berdeham tidak enak, matanya melirik kesana kemari. Aku paham betul jika ia hanya ingin berbicara berdua saja denganku.


"Ikuti aku." Titahku sambil melangkahkan kakiku ke ruanganku.


Setelah sampai, aku langsung menyuruhnya duduk. Tubuhnya tegang, kurasa ia tengah mendapatkan kesulitan dengan satu level di atas hatinya yang tengah hancur.


"Velir Chrsycolla menghilang." Suaranya mencicit.


"Apa?!!"


Credd mengangguk, secara berlebihan. "Benar Velir, Tuan Chrsycolla menghilang. Rekan saya mengatakan bahwa, ia putus kontak dengan Tuan Chrsycolla, seolah Tuan Chrsycolla menghilang tertelan lubang hitam."


Aku bangkit dari dudukku. "Yang benar saja!" Makiku, "Ia tidak pernah seceroboh ini! Apa-apaan dia? Malah menghilang dalam situasi genting seperti ini!"


"Hamba tidak tahu, Vellir."


"Aku tahu itu!" Timpalku sinis, "kalau kau tahu, mana mungkin kau akan melapor kepadaku!"


Tubuh Credd terlonjak kaget mendengar bentakanku.


"Pergilah. Bilang pada rekanmu, jangan membocorkan berita ini pada siapapun. Termasuk Changmin. Cukup kita bertiga saja yang tahu. Jika aku sudah mengetahui apa maksud Jaejoong, aku akan mengambil tindakan sendiri. Bilang juga pada rekanmu, ia harus mengambil cuti dan merahasiakan semua ini. Kedudukan Jaejoong bisa terancam. Aku tidak suka rekanku tergantikan begitu saja karena masalah sepele seperti ini."


"Baik Tuan!"


Iris mataku memerah, "Ingat baik-baik Credd. Tidak ada yang boleh tahu. Apabila ada. Aku tidak akan segan untuk membunuh siapapun di antara kalian yang membocorkannya. Mengerti?"


"Me-mengerti Tuanku."


"Kalau begitu sana kau pergi."


Credd langsung berteleportasi, melaksanakan perintahku. Akan tetapi, aku masih bingung dengan laporannya. Bagaimana bisa Jaejoong bersikap semenyebalkan itu? Setahuku ia seorang abdi yang bertanggung jawab sama seperti aku dan Changmin.


"Jaejoong. Apa maksudmu melakukan semua ini?" Aku menggemertakan gigiku, "Jangan bilang kau pergi karena telah menikmati tubuh Rara dan kecewa karena tahu realitanya bahwa Rara adalah seorang penyihir lalu kau berkelana entah ke planet mana tanpa memperdulikan tugasmu!"


Kepalaku berdenyut, menahan amarah. "Sialan! Kau benar-benar sialan Chrsycolla!!!" Makiku.


"Wah kau kenapa Kyuhyun?" Suara polos itu membuatku mendelik ke arahnya.


"Aku? Hah! Aku baik-baik saja Rajaku!" Jawabku kesal tanpa memperdulikan hukuman apa yang akan aku alami atas kelancanganku ini.


Rajaku menggeleng, "Kau perlu relaksasi Kyuhyun. Wajahmu nampak seperti kakek tua renta yang siap di kubur. Benar-benar mengenaskan..." desahnya kemudian meninggalkanku begitu saja.


Siapa yang tua bangka hah??? Umurku saja berbeda Dua belas ribu tahun denganmu! Kau? Sudah Lima belas ribu tahun lebih!!! Jadi siapa yang tua hah???? Aku berteriak frustasi di dalam benakku.


"Oh terima kasih, Rajaku. Kau sangat menghiburku," aku mendecak jengkel.

__ADS_1


***


__ADS_2