Vampir dan Penyihir

Vampir dan Penyihir
I won't forget you


__ADS_3

"Jack, Jack, Jack! Kau kenapa Jack? Bicaralah padaku!" aku berlari sekuat tenaga melihat tubuh Jack terbujur kaku di bawah meja perpustakaan.


"Katakan padaku kalau ini semua adalah bohong!" aku mengguncang-guncang tubuhnya berharap ia hanya bercanda seperti biasa dan berkata. Kamu tertipu Randra! Sambil tertawa terbahak-bahak seperti biasanya. Namun tidak ada pergerakan darinya sedikitpun, membuatku yakin ia telah lulus kelas drama dengan nilai sempurna.


Tangisku tidak bisa ku hentikan begitu saja, apalagi wajah piasnya membuat hatiku terasa sakit. Seolah menganga dengan luka begitu dalam, tak terobati.


Jack sayang, bangunlah. Kau bahkan belum mendengar ungkapan cinta dariku...


Ku gigit kencang bibir bawahku seraya mengguncang-guncangkan tubuhnya kembali. Tanpa sengaja mata hitamku melihat lehernya yang terdapat dua bekas gigitan.


Apa ini? Jangan bilang ini?


"TIDAK!!!" Aku berteriak sangat kencang dan sontak membuat semua orang yang berada di luar perpustakaan langsung datang menghampiri.


"Kenapa Jack?" tanya suara yang sangat aku benci yang tidak lain adalah Malondra.


"..."


Aku tidak menjawab di karenakan shock sehingga aku hanya menggeleng lemah yang melihat ke arah Jack, sampai tubuhku terseret -karena dua orang kepercayaan Malondra menarikku kebelakang sehingga aku tidak melihat Jack dengan jelas lagi- tanpa perlawanan sama sekali.


Ra-ya... coba kau tebak, berapa banyak planet-planet di luar sana?


Ra-ya... aku merindukanmu! Mengapa kau lama sekali datangnya!


Ra-ya, lihat! Aku sudah bisa membuat diriku menjadi transparan...


Ra-ya... habiskan makanmu! Kau ini mau aku suapi ya? Dasar gadis manja!


Ra-ya kau ingin punya anak berapa?


Ra-ya, kapan kau merindukanku?


Ra-ya?


Ra-ya?


"Tidak! Jack! Jangan paksa aku untuk meninggalkannya! Aku tidak mau!" teriakku tidak terima atas tubuhku yang di seret paksa layaknya seorang buronan kelas kakap. Sama sekali tidak berkelas!


Sialan! Aku memekik dalam hati dan berusaha menghajar wajah Malondra dengan kekuatanku. Demi Tuhan! Malondra benar-benar membuatku murka. Apa dia tidak tahu bagaimana perasaanku? Aku mencintai Jack! Dia tahu betul bahwa aku tidak bisa meninggalkan lelaki yang aku cintai begitu saja. Aku benar-benar ingin mencekik lehernya hingga putus! Aku berontak sambil menendang-nendang udara kosong, mengabaikan tatapan tajam dari Malondra.


"Valves. Dayra. Bawa anak manja ini ke ruang Tooron Sekarang juga!"


Deg!


Titah Malondra membuat Jantungku mencelos, tidak pernah aku bayangkan dari yang sebelumnya bisa sampai masuk ke ruang terkejam di seluruh Planet Craish ini. Aku hanya bisa menangis sesegukan, seperti anak kecil berusia lima tahun yang kehilangan boneka kesayangannya. Terlebih aku menangis untuk pertama kalinya di dalam hidupku.


Malondra, mengapa kau sedingin itu padaku? Apakah aku ini adalah aib bagimu?


Sesak rasanya. Bagaikan amuba pengganggu yang selalu membuat Malondra malu. Malondra, aku benar-benar membencimu!


Aku berjalan lemah lunglai mengikuti dua penjaga, aku merasa beban itu bertumpuk semua dipundakku, ku perhatikan lantai demi lantai yang aku lewati. Valves dan Dayra mengapitku seolah enggan menyadarkanku dari sikap diamku. Mereka memang tegas dalam melaksanakan titah Malondra.


Aku tidak salah apa-apa? Aku bertanya dalam hati. Tidak sanggup untuk mengeluarkan suara.


Tidak siap. Tapi harus siap. Apa yang akan ku lakukan sekarang? Melihat pintu ruang Tooron yang gagah dengan menguarkan aura kekejian yang luar biasa itu membuatku ingin sekali lari dengan sihir teleportasi milikku dan menjauh sejauh mungkin.


Aku tak ingin masuk kesana!


Akhirnya mereka berdua meninggalkanku di depan pintu tanpa repot-repot bertanya basa-basi sekedar menumpahkan rasa kasihan.


"Kau menagis? Apa tidak salah?" Nada mengejek dari sahabat kecilku ini membuatku jengah.


Aku menatap lelaki berambut pirang itu dengan kalut. "Ya Eron, jangan katakan pada orang lain." Eron hanya menyeringai dan pura-pura terbatuk.


"Bagaimana jika aku menyebarkan isu, bawa calon Onix Bangsa Craish yang baru, menangis karena di bawa ke ruang Tooron? Hm?" Tanya Eron dengan seringaian nakal di wajahnya.


"Maka aku akan membuatmu Eron Haihzob sibuk seumur hidup dan membiarkanmu menjadi perjaka tua hingga kau mati dengan menyedihkan karena tidak mempunyai keturunan sama sekali. Nanti!" Jawabku ketus sambil mengancam. Serius, aku tengah kalut sekarang, bisa-bisanya si pirang dungu satu ini menggodaku?


"Sebentar saja. Aku meminta waktumu sebentar." Ia mengabaikan ancamanku. "Kau. Seorang penyihir tingkat satu menangisi lelaki mesum itu? Ckck... ada apa denganmu hm? Kau salah merapalkan mantera ya, sehingga kau jadi sinting sama dengan gila seperti ini." Eron berkata skeptis.


"Eron!" Bentakku kesal atas pernyataannya, yang mau tidak mau harus aku akui benar adanya.


Jack Garnet. Pria yang aku cintai, aku bahkan enggan memalingkan wajahku pada lelaki manapun jika ada dia di hadapanku atau di sampingku. Bagiku, kehadiran Jack adalah anugerah terindah. Aku benar-benar memujanya setulus hatiku.


Mengingat Jack, hatiku terasa perih dan sakit secara bersamaan. Aku terlalu mencintainya dan tidak ingin kehilangannya. Tapi, tadi baru saja aku memeluk tubuhnya yang tak bernyawa. Ia telah mati.


"Baiklah, apa kau siap masuk kesini Randra?" Eron bertanya sambil menghela nafas.


"Hmm, sepertinya begitu." Aku mencicit.


Aku hanya menghela nafas di karenakan Eron tahu bahwa aku tidak pernah masuk kesini, selama 17 tahun sepanjang umurku. Ini adalah pengalaman pertama bagiku. Tentu saja, aku ketar-ketir di buatnya.


Begitu pula, tidak ada yang pernah berani memanggilku dengan sebutan 'kau' selain Jack dan Eron. Aku bisa saja murka dan mengutuk siapapun itu yang berani memanggilku dengan lancang, hanya saja aku sudah bersahabat 12 tahun dengan Eron. Sehingga aku tidak bisa mengutuknya begitu saja, apalagi peraturan verbal Bangsa Craish begitu jelas, yaitu : setiap penyihir baik kalangan bawah, tengah maupun bawah, mereka tidak bisa mengutuk makhluk yang dekat dengan mereka. Terkecuali makhluk itu berkhianat.


"CEPAT MASUK!" Lagi-lagi Malondra membuat jantungku berdegup kencang.


Sejak kapan dia sudah disini? Dasar Malondra sialan!

__ADS_1


"Ya, Malondra." Dengan angkuh, aku menjawab bentakannya. Kita lihat siapa yang menjadi bidak catur saat di dalam nanti!


Semua penyihir tahu, jika seorang Pledeton menjawab suruhan ataupun pertanyaan seseorang dengan angkuh itu artinya ia tidak takut dengan apa yang akan terjadi kedepannya -termasuk dengan apa yang akan terjadi di dalam ruangan itu-. Meskipun pada kenyataannya badanku gemetar sangking takutnya, karena ruangan Tooron berada di balik pintu besar ini. Tepat di hadapanku.


Dengan keinginan yang kuat, serta tekad yang bulat. Aku langsung membuka pintu Tooron dengan kekuatanku. Sampai dimana pintu itu terbuka lebar, seolah mempersilahkan aku masuk lalu menutup kembali saat aku telah berada di dalamnya.


Hening. Atmosfer di dalam ruangan Tooron sudah mengatakan bahwa aku dalam keadaan terancam, sebisa mungkin aku datang dengan cara berjalanku yang terkenal anggun dan angkuh. Sehingga para petinggi di ruangan itu hanya tersenyum -lebih tepatnya senyum yang sangat licik, penuh kepalsuan dan hanya kamuflase belaka- melihatku datang dengan keangkuhan.


"Randra." Semua petinggi memanggilku dengan kompak.


Mereka semua berdiri dan membungkuk begitu dalam lalu kembali ke tempat duduk mereka. Semua mata menatapku dengan tatapan penuh spekulasi. Aku tahu jika mereka menginginkan jawaban dari mulutku mengenai keberadaanku di perpustakaan -tadi- dengan seorang Jack Garnet.


"Tenang kalian semua, ada angin apa kalian sehingga bisa kompak seperti itu!" Decakku sarkatis.


"Ehemm..."


Terdengar jelas mereka berdeham kesal atas ucapanku-yang berupa fakta, sungguh pemandangan yang menyebalkan! Ingin rasanya aku sihir mereka semua jadi katak. Aku memekik seraya menyumpahi mereka semua -tanpa terkecuali- dalam hati.


Kalau dalam satu detik saat aku menyeselaikan umpatan didalam hatiku ini, kalian tidak berbicara, aku akan benar-benar menyihir kalian agar menjadi katak! Untuk yang kedua kalinya aku memekik dalam hati.


"Randra, aku tahu tahap kepintaran anda itu sudah sangat tinggi sehingga anda bisa menyandang gelar dra dibelakang nama anda. Perkenalkan aku Scothdra pemimpin Divisi Keintelan." Dia berkata sangat sopan disertai keberdiriannya sambil mengganguk tanda menghormati ku.


Hey? Ada yang ganjal disini! Apa aku salah lihat? Aku berkata seperti itu dalam hati.


"Kau menginginkan jawaban apakah aku yang membunuh Jack Garnet begitu?" tanyaku dengan mata menyipit curiga.


"Bukan Randra, bukan seperti itu!"sergah Scothdra sambil mengusap wajahnya.


Akhirnya Scothdra berdiri tegak lalu menaruh telapak tangan kanannya di atas jantung, di ikuti oleh para pemimpin yang lainnya. Semuanya mengikuti gerakannya dan sehingga dengan refleks aku melakukan hal yang serupa -sebagai bentuk aku menghormati mereka semua-. Ya, akan sedikit ku jelaskan. Ndra itu adalah gelar untuk kaum Penyihir yang mempunyai nama dan berakhiran huruf vocal. Sedangkan, dra adalah yang mempunyai nama dan berakhiran huruf non vocal.


"Ada apa kalian semua memanggilku kesini? Ini tak lazim melihat kalian berani memanggil calon Onyx ke ruangan Tooron, Separah apa kesalahan yang telah kuperbuat hah?" Aku memaki mereka, menumpahkan rasa kesal.


Apa mereka tidak menyadari kalau aku sedang bersedih di karenakan Jack tewas begitu mengenaskan. Dasar petinggi-petinggi tua sialan! Aku tidak bisa berhenti mengumpat karena sikap mereka yang egois, mementingkan jawaban tanpa melihat situasi terlebih dahulu.


"Aku Falchondra, aku pemimpin Divisi Pengamanan."


****! Tadi pemimpin Divisi Keintelan? Sekarang pemimpin Divisi Pengamanan? Nanti apa? Jeritku dalam hati.


"Kami akan mengirim Randra ke Planet Bumi untuk melacak siapa sebenarnya yang bertanggungjawab karena telah membuat Jack mati secara mengenaskan." Lanjutnya kembali.


"Apa? Aku ke Bumi?" Aku menaikan dagunya, ia tidak terima. Bagaimana kalian bisa bersikap dingin seperti itu? "Hey apa kalian tidak memahami perasaanku hah? Apa kalian itu bodoh?" Sentakku kesal sehingga membuat mereka terkejut.


"Kami hanya membantumu." Falchondra menjawab dengan nada pelan di sertai anggukan yang lainnya.


"Apa kalian sangat membenciku hah? Sehingga harus melihat aku kesana? Apa kalian tidak punya otak? Bukannya Bumi hampir di kuasai oleh mereka? Bagaimana bila Bangsa Irish alias musuh negeri kita mengetahui aku bukan manusia pada umumnya dan dia bisa mencium bauku. Lagipula, kalian tahu betul bahwa saat ini aku tengah berkabung! Apa kalian ingin melihatku mati disana? Hah! Kalian benar-benar tidak punya hati!" Jeritku frustasi mengabaikan sikap tenangku biasanya. Sekarang aku lebih terlihat seperti anak lima tahun yang tengah menangis karena kehabisan cokelat favoritnya.


Ada keterkejutan di mata mereka semua. Namun detik selanjutnya mereka memakluminya karena kesedihanku akan kepergian Jack. Aku menarik dan mengeluarkan nafas dengan kasar, ku tatap satu persatu dari mereka semua. Sehingga tidak ada yang berani menatapku karena statusku yang sangat istimewa.


"Itu tidak akan terjadi Randra." Scothdra berkata lembut, menenangkanku tanda ia tahu bahwa aku sangat shock saat ini.


"Jelaskan!" Bentakku lagi.


"Dirimu mempunyai darah Pledeton, dikarenakan Randra merupakan keturunan dari bangsa Light and Dark, sehingga kamu di anugerahkan otak yang jauh diatas bangsa-bangsa lainnya di Craish ini. Sehingga kecil kemungkinan Bangsa Irish itu bisa mencium baumu." Jelasnya dengan raut wajah yang terlampau datar di sertakan dengan senyuman samar di bibirnya yang menenangkan bagi diriku.


"Dan aku tidak menerima kata tidak!" Malondra membuatku marah sehingga auraku terlihat merah oleh pemimpin yang lain.


"Aku tidak ingin menerima titahmu Malondra! Siapa kau? Sehingga dengan terang-terangan membentakku di depan semua pemimpin Divisi hah? Apa kau tidak sadar jika aku yang akan menjadi pemimpin Divisi Allvoc? Yang itu artinya bahwa aku akan menjadi Ratu baru di Craish menggantikan Maruel!" Bentakku sambil menunjuk wajahnya.


Dadaku naik turun sangking marahnya, terlebih lagi merasa terhina oleh ucapan lancangnya. Sehingga membuat langit yang tadinya cerah menjadi gelap sekali disertakan dengan guntur yang turun pertanda akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh bangsa Craish.


"Malondra! Segeralah minta maaf! Titahmu tidak berlaku lagi untuk Randra karena perbedaan status kalian berdua! Terlebih tingkat Randra sudah jauh sekali berada di atas kita semua!" Falchondra menatap geram Malondra di ikuti oleh tatapan-tatapan yang lainnya.


"Kau tak punya sopan santun, Malondra!" Benasdra mengerang.


Aku menatap Malondra dengan tatapan tajam. Mata hitamnya memancarkan ketakutan tatkala ia mengetahui siapa diriku yang sebenarnya.


"Ma..af maafkan.... aku... Randra," pucat pasi kulihat wajahnya yang menyebalkan itu.


Aku menaikkan alis kananku lalu berkata "Lihat saja hukumanmu setelah aku pulang dari Bumi nanti!"


Dengusan di hidungku memberikan efek shock theraphy pada mereka semua, apalagi aku memasang tatapan bengis bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar membuat semua orang di dalam ruangan ini diam membisu. Dengan langkah pasti akupun segera melangkah keluar pertanda aku benar-benar tidak ingin mendengarkan apa yang berada dalam mulut mereka.


Sialan, kupikir aku akan di hukum pancung di Ruang Tooron. Ternyata pemikiranku tak jadi kenyataan. Tapi, aku di suruh ke Bumi? Bertemu dengan para penghisap darah itu? Whoooaaa... apa ada hari yang lebih sial dari ini?


***


Dapatkah aku menatap wajahmu sedikit lebih lama Jack? Dapatkah aku kuat ketika melihat kau di kubur oleh tanah dan meninggalkan aku penuh sakit ini Jack? Tidakkah kau tahu? Aku merindukanmu, merindukan ejekanmu, merindukan senyummu, merindukan semuanya. Tidakkah kau sepertiku juga Jack? Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padamu. Tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata Jack. Tidak bisa!


"ARRGGGHHH." Aku melengguh tertanda sakit sekali, sesuatu di dalam dada kiriku ini terasa perih sekali.


Semuanya terasa sesak, terasa berlubang, lubang yang sangat besar sekali, sehingga membuat badanku serasa sakit semuanya dan tak terasa tubuhku bergetar. Apalagi dengan posisiku yang nyaris meringkuk seperti bayi di padang rumput berwarna biru langit ini.


"Randra, ini aku Eron."


Terdengar jelas suara lembut Eron di hadapanku. Aku langsung bangun malas dan duduk bersila saat melihat dengan jelas sosok Eron. Menyembunyikan efek kehilangan Jack darinya. Mata hitamku meredup tatkala aku mendengar Eron seolah ingin mengatakan sesuatu namun ia mengurungknnya. Sehingga kedua telingaku hanya bisa menangkap bahwa ia sedang bergumam sesuatu


"Hem?" Aku menjawab pertanda Eron jangan bertanya lagi.

__ADS_1


"Baiklah aku temani disini."


Eron bersila di depanku dan yang pastinya membuat perasaan aku sedikit tenang meskipun sebenarnya aku tidak menangis. Aku langsung memeluknya dengan erat dan menangis di pelukannya. Karena aku sangat tahu, bahwa Eron bisa merasakan ketidak-stabilan kekuatanku -yang membuat seluruh bunga di padang ini berdiri-.


Eron adalah temanku dari kecil. Kami berteman dari umur lima tahun. Jadi Eron sudah tahu kebiasaanku -meskipun ia nampak terkejut saat melihat aku bisa menangis dan seingatku mungkin ini adalah pertama kalinya aku menangis-. Saat ini aku dan Eron sama-sama berumur 17 tahun. Akhirnya aku melepaskan pelukanku di tubuhnya dan terdiam dengan pandangan kosong, seolah tidak ada Eron yang sedang duduk di hadapanku.


Saat ini aku bisa memastikan bahwa Eron sangat cakap dalam melihat situasi. Membiarkan diriku diam itu lebih baik dari pada bertanya ini dan itu, yang hasilnya akan bertambah membuat marahku meledak-ledak bahkan mengamuk. Apalagi dengan sejarahku saat berusia enam tahun yang membuat gedung Divisi AllVoc runtuh setengahnya, tentu saja Eron memilih membungkam mulutnya.


Dua jam berlalu, hanya keheningan yang tercipta di tempat ini. Tidak ada satupun kata yang terucap di antara kami. Kami hanya saling diam, terhanyut oleh pemikiran masing-masing.


"Aku mencintainya Eron."


Eron mendesah, "Aku tahu."


"Mengapa dirinya tega meninggalkanku? Apa salahku?"


Eron mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Ia tersenyum, nampak sekali ketampanannya seolah menyuruhku mengalihkan pandangan kepadanya bukan pada Jack.


"Ini sudah takdir Rara... takdir... kita tidak bisa protes. Rara, apakah kau sungguh-sungguh mencintainya?"


"Ya. Aku mencintainya." Jawabku tegas tanpa peduli atas air wajahnya yang tiba-tiba mengeruh.


"Mengapa aku merasakan sakit disini?" Eron meletakkan tanganku di dadanya. "Rasanya sakit Rara... kau tahu betul bahwa aku mencintaimu. Dengan entengnya kau mengatakan perasaanmu yang begitu dalam padanya tepat di hadapanku."


"Kau tahu betul bahwa aku hanya menganggapmu sebagai teman. Tidak lebih." Maaf, aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin kau dengar. Maaf karena aku tidak bisa mencintaimu. Maafkan aku Eron. Aku hanya menyayangimu sebagai teman.


"Oke, baiklah. Ap, apa kau mau melihat pe..." Eron tidak menyelesaikan kata-katanya sontak aku mendongkak menatap wajahnya pertanda dia harus menyelesaikan kata-katanya.


"Ehem... kau mau ikut ke pemakaman Jack?" tanyanya mantap.


"Ya, aku ingin melihat dia yang terakhir kalinya." Jawabku dingin, dan aku yakin Eron sudah mengetahui bagaimana perasaanku saat ini.


Eron adalah Penyihir tingkat 3 yang itu tandanya ia bisa mencium tekadku. Tekadku yang bersumpah demi segala macam nama suci, bahwa aku akan membabat habis makhluk yang berani membuat masalah denganku. Terlebih ini semua adalah bukan sekedar masalah kecil yang bisa di selesaikan dalam hitungan menit. Dalam eksistensiku selama di Craish, aku belum pernah merasakan murka seperti ini. Terlebih hal tersebut sangat menggangguku.


Ya! Aku sangat mencintai Jack!


Dan Eron tahu mengenai perasaanku ini.


Terlihat, Jenazah itu kaku. Menandakan miris yang melanda semua terisak perih, sakit meskipun hanya aku yang tidak menangis. Hanya aku! langkah demi langkah ku lewati beserta di iringi orang-orang yang menunduk saat melihatku, karena besok aku akan memimpin negeri ini. Sakit! saat besok aku akan menyandang gelar AllVoc yang tandanya aku akan menjadi seorang Ratu wanita pertama dan termuda di Planet ini.


Tapi aku tidak bahagia! Aku berencana membawamu Jack, membawamu menjadi Wakilku, bahkan aku menginginkan dirimu menjadi Suamiku, meskipun nanti akan banyak yang menentangnya! Meskipun kemampuanmu jauh di bawahku. Tapi aku tidak perduli, karena aku menginginkanmu. Hanya dirimu! Tapi mengapa kau menghancurkan aku Jack! Kau meninggalkanku huh?


Di saat aku benar-benar sangat mencintaimu...


Di saat aku benar-benar bergantung padamu...


Tak terasa lututku bergetar hebat sehingga tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, ingin rasanya aku berbalik arah dan berlari cepat meninggalkan area ini. Tuhan hukum aku apabila aku benar-benar terlihat bodoh di depan semua calon rakyat-rakyatku. Saat ku dongkakkan melihat kedepan dan melihat agak kesamping aku melihat seorang perempuan, perempuan yang begitu rendah, hina dan kotor di mata hitamku.


Ya, aku melihatnya! dan aku kenal siapa perempuan itu!


Berkat dirinya, saat ini aku teringat akan kejadian satu tahun yang lalu, dimana lelaki yang saat itu tengah bersamanya rela absen mengajarkanku teknik bela diri.


***


Suara apa itu? Aku bertanya dalam hati, pasalnya suara itu begitu aneh dan membuat seluruh tubuhku merinding mendengarkan erangan bahkan ******* dua makhluk berbeda jenis kelamin itu. Dengan dada yang bergemuruh, aku memberanikan diri mendekati pintu itu. Aku tersentak kaget melihat kedua tubuh yang berbeda kelamin itu menyatu, sedang apa mereka? Aku menatap mereka tidak percaya. Apa ini yang dimaksud hubungan **** itu? Aku kembali bertanya dalam hati. ****! Dasar cabul mereka.


BRAAAKKK.


Aku mendobrak pintu lalu menatap tajam kearah mereka.


"Kalian! Kalian melakukan hal terlarang! Apakah kalian sudah menikah?" Aku berteriak sangat kencang. Rasa cemburu itu melecut-lecut di hatiku.


Mata hitamku menatap jijik karena kenistaan mereka, dengan dada naik turun aku langsung melayangkan tatapan sinisku dan menyembunyikan perasaan kecewaku. Rasanya jantungku di remas oleh tangan tak kasat mata dan di cabut begitu saja. Semuanya terlalu menyakitkan kedua mataku berikut hatiku.


"Sayangra, ka.. kau.. kena... kenapa bisa masuk ke kamarku?"Jack bertanya dengan memanggil nama panggilanku darinya.


Aku sangat bisa mendengar dan aku tidak tuli. Suara Jack terdengar bergetar saat dia menjawabku dengan keringat yang bercucuran di pelipisnya. Apalagi fakta lain dengan adanya sihir 'melihat situasi' dan 'melihat pikiran dan hati' milikku membuat dapat membuat mereka berdua langsung di beri hukuman mati oleh tanganku sendiri.


Hah, memang aku peduli? Sama sekali tidak!


Bagaimana tidak? Orang yang selama ini aku puji dan aku sayangi malah melakukan **** dengan bahagianya! Apalagi dengan perempuan lain selain diriku. Sungguh aku merasa sangat cemburu, mengingat Jack hanya berani mencium kening dan pipiku, tidak pernah lebih.


"Seandainya yang kulihat saat ini bukan kau, sudah aku laporkan perbuatan kalian berdua ke AllVoc." Ucapku meremehkan lalu beranjak pergi dari dari tempat menjijikan itu. Seiring dengan hancurnya hatiku yang berkeping-keping.


***


Tuhan itu memang adil. Setidaknya Tuhan tidak hanya menjauhkan Jack dariku tetapi darimu juga perempuan yang kotor dan nista. Aku hanya tersenyum miring, sambil meneruskan langkahku untuk mendekat ke liang lahat didepanku, sehingga perempuan itu menunduk dan kulihat badannya bergetar.


"Siapa namamu?" tanyaku dingin dengan tatapan angkuh dan tajam.


"Flacyy, Randra." Sahutnya pelan dan aku tahu, hati dia tak menentu sekarang.


Perlahan kudekatkan diriku untuk berada tepat di makam Jack dan mengabaikan wajah ketakutan Flacyy. Tangisku berderai di iringi hujan seiring hatiku yang sudah tidak berbentuk lagi. Sedetik kemudian aku membaca mantra lalu memberikan mawar hitam dan berbalik meninggalkan tempat itu.


"Selamat Tinggal Jack, kuharap kau segera berenkarnasi dan kau tidak akan kemana-mana lagi."


"I won't forget you!"

__ADS_1


__ADS_2