Vampir dan Penyihir

Vampir dan Penyihir
I have family? Why I've been alone!


__ADS_3

***


Rara


 


   “Anda adalah anak dari ketua aliansi Craish, Ibu anda adalah wanita yang terkuat. Namun, saat perang pada masa Jude, masa dimana kaum Irish menyerang bangsa kita. Ibu anda meninggal saat melahirkan  anda Zam Ladlle. Dan Malondra, mengasuh anda dengan penuh cinta Zam Ladlle.” Boo Ra menyudahi ceritanya lalu menatapku, sebenarnya ceritanya sungguh panjang dan penuh dengan tragedi yang mengerikan.


   "Penuh cinta katamu? Yang benar saja!" dengusku tidak terima.


   Aku ini benar-benar mahluk yang naas...


   “Malondra mengasuhku dengan penuh cinta? Mimpi saja aku malas membayangkannya! Dan kau dengan santainya mengatakan bahwa Malondra menncintaiku? Itu adalah kemungkinan terakhir Boo Ra.“ Erangku kemudian.


   “Apakah kau keberatan jika aku bertanya lagi?” tanyaku memastikan.


   “Tidak.”


   “Kalau begitu, siapa ayahku? Siapa ibuku? Siapa nenekku? Siapa Kakekku? Apakah aku punya adik? Apakah aku punya kakak?” tanyaku berurutan. Maaf Boo Ra, aku merepotkanmu. Namun, aku ingin tahu kebenarannya.


   “Setau saya semua keluarga Zam Ladlle tewas.” jawabnya singkat.


   “MWO?"  


   Aku terhenyak, mendengar pernyataannya. Hey, sekiranya aku tidak akan menumpahkan cairan bening yang ada di mataku lagi bukan? Karena pada kenyataannya aku mempunyai keluarga. Tapi rasa hangat membanjiri hatiku. Ya benar, setidaknya aku masih punya keluarga. Meskipun mereka semua sudah tewas.


   "Mian..." Boo Ra merasa tidak enak kepadaku.


   Namun, mengapa hatiku seperti teriris mendengarkan kenyataan yang lainnya. Kenyataan dimana aku hanya sendiri didunia ini? Kenyataan dimana aku di asuh oleh orang lain bukan oleh keluargaku sendiri. Kenyataan dimana aku tidak mengenal kasih sayang kedua orang tuaku.


   “I have family?  Why I've been alone!” Aku melanjutkan kata-kataku lagi, tubuhku bergetar. Tangan dan kakiku seperti mati rasa. Sakit. Ada yang sakit. Seluruhnya sakit.


   Aku memegang dada dengan erat. Aku punya keluarga? Apa benar?


   “Hanya anda yang tersisa dari keluarga anda Zam Ladlle, maka dari itu para leluhur kami, mendatangkan dirinya kepadaku dan ayah. Mereka mengatakan, kami harus menyembunyikan identitas anda serapat mungkin. Sampai waktunya tiba, saat anda siap mengetahui kebenaran ini. Dan sekarang, adalah saat yang tepat. Termasuk anda mendengar sejarah kelam Klan Pledeton,” ucapnya sepelan mungkin, mencoba menenangkan hatiku.


    Sungguh tersentuh aku mendengar Boo Ra berkata seperti itu. Dengan sekali gerakan cepat, kupeluk tubuhnya yang sejajar denganku, dan bisa di bilang tinggi badanku sama persis dengan 172cm orang-orang disini menyebutnya seperti itu. Ku cium aroma melati yang menguar dalam tubuhnya. Seperti tidak asing bagi indera pengelihatanku.


   “Silahkan lampiaskan perasaan Zam Ladlle pada hamba.” Hey, kau seperti mengetahuiku.  Kau seperti mengenalku, apakah dulu kita sempat akrab? Mungkinkah?

__ADS_1


   “Redlyn? (Kilat merah?)”  Tanyaku memastikan. Namun dia tidak bergeming.


    “Jawab aku!” Bentakku sambil memeluk erat padanya.


   “Ne...” dia mengangguk pelan.


   Seakan tertampar pada kenyataan aku menegang di tempat. Nafas Boo Ra terdengar tersendat di kedua telingaku. Dengan perlahan ku tatap wajahnya, sampai satu senyuman terukir di wajahnya.


   “Bogoshipo!” lirihku sendu, sambil menjatuhkan cairan bening yang ada di mataku lagi.


   Entahlah, itu cairan kebahagiaan atau cairan menyakitkan untukku. Yang jelas cairan itu terjatuh mewakili perasaanku pada kedua kata tersebut. Yang pasti kebahagiaanku dulu saat dua belas tahun lalu telah kembali  padaku, dan aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya lagi. Kehilangan satu kali saja sudah menyakitkan bukan? Redlyn adalah salah satu orang kepercayaanku semasa aku masih kecil.


  Sekarang aku tahu, harus berbuat apa selanjutnya. Dan yang pastinya, harus terbayarkan nyawa-nyawa bangsaku yang melayang pada perang sialan tersebut. Masa Jude adalah masa dimana para Penyihir menyimpan kekuatannya dan bertapa di ruang bawah tanah -di rumahnya masing-masing-. Seharusnya Masa Jude adalah masa pengingkatan kekuatan, bukannya perang yang menyakitkan dan menolehkan luka yang mendalam pada bangsa Irish.


   Seketika aku kembali kepada suasana di kamarku, pertanda bahwa sihirku telah buyar karena tangisanku.


“Yah, ketahuan.” Boo Ra mengerucutkan bibirnya. Selanjutnya kami berdua berceloteh layaknya Adik dan Kakak yang telah lama berpisah. Sekarang aku tidak sendirian lagi.


***


Kyuhyun


 


   “Annyeong Kyu.” Suara lembut itu membuyarkan lamunanku.


   Refleks, aku langsung menolehkan wajah tampan nan rupawanku ini kepadanya. Di hadapanku  Rara berdiri dengan senyum yang terukir di bibir mungilnya. Satu fakta yang sangat mengejutkan, Rara lah yang menyapaku.


   Apa aku sudah sampai kelas dengan begitu cepatnya? Bathinku terheran sambil terpukau dengan senyuman malaikatnya.


   “Kyu?” Panggilnya sambil mencoba mendekat padaku sambil menatap heran kepadaku.


   Sentuhan tangan di bahuku langsung menghantarkan sengatan listrik dan membuatku langsung kehausan. Astaga, aku tidak habis fikir. Bahwa hanya dengan sentuhannya saja bisa membuatku langsung kelaparan sekaligus kehausan seperti ini. Perempuan ini berbahaya! Aku sangat yakin itu. Terlebih, aku harus memastikan bahwa ia adalal bangsa Craish atau bukan.


   “Jaejoong menyukaimu,” ucapku tanpa sadar.


   “Mwo? Nugu? ” jawabnya bingung sambil meneliti wajahku penuh selidik.


   “Aku? Mengucapkan perkataan apa tadi?” Kataku memastikan sambil mengerjap-ngerjapkan mataku.

__ADS_1


   “Kamu mengucapkan kata 'Jaejoong menyukaimu' dan aku tidak mengerti, dengan pemikiran yang semacam itu. Apa kalian di tempat ini dengan mudah mengutarakan perasaan? Dan, apakah para lelaki harus menggunakan perantara. Contohnya seperti dirimu? ” ucapnya panjang lebar serta diberi penekanan pada kata' Jaejoong menyukaimu' dan 'harus'.


   “Memang kamu berasal dari mana?” Kataku ucapku memancing sambil tidak menghiraukan perkatannya.


   Rara menggeram lalu berkata. “Dari Antartika.”


   “Mwo?” Aku terlonjak kaget sambil menatap wajah cantik yang selalu ia pasang dengan datar dan dingin itu.


   Aku hanya mematung di pintu dimana, aku melihatnya menjauh kemudian duduk sambil melihatku penuh amarah. Oh No! aku membenci diriku sendiri telah membuatnya seperti itu, aku pusing seperti kehilangan pijakan sendiri. Tapi aku tidak boleh terbius dengan wajah cantiknya itu. Terlebih aku harus mengetahui siapa jati dirinya. Jati diri seorang Kim Rara.


   “Aku membencimu, dan aku tidak ingin dekat denganmu lagi Kyu, cukup sampai disini saja. Aku benci baumu yang menjijikan bagi hidungku. Aku membencimu menjadi pelantara cinta untuk Jaejoong, aku tidak ingin melihatmu lagi! Aku membenci semua tentang dirimu!” Pekiknya datar sambil menahan marah yang terlihat di wajahnya itu di mataku saat aku hendak duduk di belakangnya.


“Membenci bauku?” Aku berusaha menelaah, mana bau yang di maksud oleh Rara. Akan tetapi parfum yang kupakai setelah mandi tadi masih tercium sempurna.


   Aku memastikan bahwa Rara sejak dari awal hingga sekarang. Ia masih saja enggan melihatku, sebegitukah marahnya sampai diam membisu seperti itu. Seketika aku tercekat saat ia berdiri dan menuju ke luar kelas.


   “Mau kemana?” tanyaku secara spontan.


   Namun tidak dia gubris sama sekali, alhasil aku menjadi bahan lawakan bagi teman-teman sekelasku. Dengan cepat aku mengejarnya, dan aku lihat ternyata dia sedang duduk sendirian di kantin. Dengan di iringi tatapan-tatapan memohon dari lelaki-lelaki lain, untuk minta dilirik. Menggelikan sekali! Kataku dalam hati. Namun saat aku ingin menghampirinya. Tiba-tiba ada orang yang mendahuluinya. Yang tidak lain orang itu adalah Jaejoong. Akupun duduk tidak jauh dari meja dekat dengan meja Rara dan Jaejoong.


   “Annyeong.” Sapa suara yang tidak lain adalah Jaejoong, saudara sepupuku sendiri sekaligus musuhku. Ya musuh untuk mendapatkan perhatian Rara lebih tepatnya.


   “Ne, annyeong” Rara menjawab dengan begitu ramah sambil tersenyum. Ah, tidak! Jangan pasang senyuman itu, aku benci apabila dia tersenyum seperti itu kepada laki-laki lain! Pekikku tidak terima sambil melotot kaget.


   Jaejoong memasang senyum mautnya. “Sedang sendiri?” Jaejoong bertanya seperti itu sambil menyunggingkan kembali senyuman yang belum aku lihat kepada perempuan lain. Biasanya, dia hanya mengeluarkan fake smile untuk perempuan-perempuan yang dia anggap sebagai angin lalu saja. Tapi, menurut kedua mataku ini Jaejoong sangat tertarik kepada Rara. Aku yakin itu!


   Rara menatap Jaejoong untuk waktu yang begitu lama. “Kelihatannya?” jawab Rara polos sambil bertanya kembali.


   “Minum jus mangga. Ya kan? Rasanya bagaimana? Apa menyegarkan?”tanya jaejoong sambil menatap intens ke arah Rara.


   Aku bisa merasakan jantungku di remas oleh tangan tak kasat mata. Meskipun jantungku tidak berdetak, akan tetapi aku merasakan kesakitan yang belum pernah aku rasakan. Rasanya panas dan itu sangat mengganggu. Terlebih Jaejoong terlihat mengeluarkan aura sesualnya. Aku harus menghentikan kelakuan lancang Jaejoong. Aku tidak ingin Jaejoong memiliki Rara. Tidak! Rara milikku! Hanya milikku. Kataku dalam hati seraya mengklaim Rara sebagai milikku.


   Rara memutarkan kedua bola matanya. “Good, berarti matamu tidak buta,” seloroh Rara sambil meneguk manis jusnya tersebut.


   BINGGO!


   Tak sadar akupun mengepalkan tangan keatas lalu kebawah, tanda yes. Namun ternyata tingkah bodohku ini malah membuat seluruh penghuni kantin ini menatapku dengan tatapan penuh selidik. Termasuk dengan pasangan yang dari tadi aku perhatikan. Well, sedikit membuat keonaran tidak apa-apa kan? Sedetik kemudian aku hanya menyeringai.


   Aku menang!

__ADS_1


   Seorang Kyuhyun Hematile tidak pernah kalah oleh siapapun!


__ADS_2