
Tubuh Rara terkulai lemas, Jaejoong yang sempat terlena menghisap darahnya pun langsung berhenti. Mata merah menyalanya meredup dan hatinya terasa sakit.
Mengapa kau bisa menjadi sisi yang menyulitkan seperti ini, Rara? Kau itu ibarat Dewi kematian dan Malaikat kehidupanku. Jaejoong langsung mengangkat tubuh Rara dan menatap ke sekeliling.
"Untuk apa kalian repot-repot berada di bumi?" tanya Jaejoong bingung.
Kyungjae langsung mengambil tubuh Rara dan mendekapnya erat. "Velir Jaejoong. Jika gadisku mengalami suatu kesusahan nantinya akibat darahnya terhisap olehmu. Aku berjanji atas nama Istriku, aku yang akan membuat kematianmu jauh lebih mengerikan daripada terkurung di liontin tadi!"
"Yang Mulia!" seru para tetua bersamaan.
"Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi, karena bagiku, saat ini gadiskulah yang berharga!"
Jaejoong mengerjapkan matanya, "Apa maksud anda Yang Mulia! Gadisku kau bilang???" Nada Jaejoong meruncing naik, ia tak tahan ada yang mengklaim Rara selain dirinya.
"Ya! Dia gadisku! Itu berlaku selamanya!" Kyungjae langsung meninggalkan ruangan tersebut dan membuat pintu tertutup sangat kencang dengan kekuatannya.
Berengsek! Sekarang aku harus berduel maut dengan Raja duda itu hah? Jaejoong menggerutu sambil menatap kesal ke semua tetua. "Heh kalian! Pergi sana! Untuk apa kalian berada dekat-dekat denganku hah? Kalian ingin di cincang?"
Para tetua langsung berteleportasi meninggalkan Velir yang masih keadaan sinting itu. Amukannya dulu, sudah cukup membuat mereka kalang kabut. Apalagi jika Trio Velir bergabung dan bersama. Alih-alih ingin mendekat dan menjilat, mereka lebih memilih di tugaskan ke planet yang paling jauh daripada berurusan dengan ketiganya.
Percayalah, mereka adalah kombinasi terburuk yang pernah menghantui para tetua.
***
Kuas yang tengah melukis seorang wajah perempuan cantik itupun berhenti di udara. Sang pelukis terdiam saat mendengar penuturan dari abdinya. Wajah tampannya yang pucat menatap penuh tanya pada dinding merah menyala yang berada di hadapannya.
Bahkan, akupun tidak bisa menebak bahwa kau akan menyelamatkannya dengan hidupmu, Rara. Rasa panas memercik cepat dan membuat kuasnya hancur berkeping-keping. Kau memberikan darahmu, untuk Jaejoong? Dalam satu kedipan mata, semua barang disekitarnya hancur berkeping-keping.
"Velir Kyuhyun! " sang abdi langsung bersujud dengan tubuh gemetar, ia langsung paham satu hal, bahwa majikannya tengah cemburu.
"Pergilah!"
Tanpa pikir panjang, sang abdi langsung menghilang. Nyawanya lebih penting di bandingkan dengan apapun.
Kyuhyun telah kalah satu langkah lagi dari Jaejoong.
Satu geraman kesal, Kyuhyun langsung menghembuskan nafas dan berusaha untuk tetap tenang. Masih banyak langkah yang harus ia lakukan.
Upaya Kyuhyun sia-sia tatkala mendapatkan Jaejoong tengah menatap kesal padanya di tengah pintu.
Mencoba menjadi pemilik ruangan yang baik, Kyuhyun langsung mempersilahkan Jaejoong masuk dengan nada datar.
Jaejoong enggan melangkahkan kedua kakinya. Ia bersikeras diam di tempatnya.
"Apakah itu benar, Kyu? Kau ada hubungan istimewa dengan Rara?" nada tak terima itu dapat di dengar dengan jelas oleh Kyuhyun.
"Ya."
"Kyuhyun, kau harus tahu betul. Akulah yang pertama mencintai Rara! Jadi akulah yang berhak atas dirinya! Kaupun tahu tentang hal itu!"
Tidak, Jaejoong. Dari awal, aku sudah tahu ia takdirku. Aku telah jatuh cinta padanya, namun dirimu tiba-tiba mengatakan bahwa kau mencintainya. Kaulah yang penganggu!
"Berengsek!" Jaejoong langsung membenturkan tubuh Kyuhyun ke dinding, kemudian mengangkatnya tanpa merasa kesulitan sama sekali. "Kau ingin mati ya?"
Tawa sinis keluar dari mulut Kyuhyun, ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin, Jaejoong begitu tega kepadanya? Bagaimana mungkin, Jaejoong menikung takdirnya? "Jaejoong... apa kau tak tahu sama sekali? Jika Rara benar-benar telah terikat kepadaku?"
Jaejoong menggertakan gigi rapinya, "Aku tidak mau tahu! Yang ku ketahui adalah bahwa kau telah merebutnya dariku! Dasar makhluk sialan!"
Kyuhhyun tidak bisa membayangkan bahwa Vampire selembut Jaejoong bisa bertingkah brutal seperti ini. Tapi, Kyuhyun memahami, Jaejoong merasa dicurangi oleh orang yang ia percaya, sehingga ia mencari kesalahan agar puas.
"Jaejoong, hentikan. Kau hanya akan menyakiti Rara jika melukaiku. Ingat, kami sudah terikat."
Kedua mata Jaejoong menajam, Jaejoong ingin sekali membunuh Kyuhyun dengan sekali remasan. Namun, Ia tidak bisa melakukannya, karena sebagai sesama Velir tidak boleh saling membunuh atau kau akan mendapatkan kutukan yang tidak akan pernah terputus.
***
Selama beberapa hari Rara masih tak siuman. Jaejoong dan Kyuhyun sudah bulak-balik seperti setrikaan, mereka tak sabar mendapatkan info terbaru dari keadaan Rara.
Bahkan Kyungjae pun merasa risih seolah kedua Velir-nya adalah para suami yang menunggu kabar dari istri mereka bersama.
Memang, tidak ada larangan poliandri atau poligami di Irish. Akan tetapi tetap saja, hal tersebut masih tabu. Belum ada juga yang sampai kejadian seperti itu.
__ADS_1
"Ayahanda..." suara lembut itu membangunkan Kyungjae yang terjebak dengan pemikirannya.
"Aekelma?" Senyum hangat putri semata wayangnya membuat hatinya lega.
"Aku bertemu Ibunda. Bisa kau jelaskan padaku, dimana tubuh Ibunda? Aku harus membangunkannya. Kita harus menghemat waktu. Ibunda memberitahukan padaku, bahwa Jaejoong adalah kunci kesuksesan kita membangkitkannya. Itulah mengapa aku membebaskan Jaejoong. Jaejoong, bisakah kau membantu aku yang egois ini?"
Penjelasan Rara bersamaan dengan senyum tulus Rara membuat hantaman di jantung Jaejoong, ia tahu bahwa ia berperan sebagai kunci tapi ia memang tidak keberatan. Akankah? My Angel mulai membuka hatinya untukku? Jaejoong menahan rasa senangnya.
"Aku mau, tapi ada syaratnya."
"Katakanlah," Rara bangun dari tidurnya dan menatap Jaejoong dengan mata merahnya.
"Kau harus berkencan denganku tanpa adanya muslihat seperti waktu itu, seolah aku ini adalah orang yang kamu cintai. Hanya sekali saja, aku tak minta banyak. Apa kau keberatan?"
Rara tersenyum tulus dan menghampiri Jaejoong. "Terima kasih, aku tidak keberatan." Rara mencium pipi Jaejoong dan membisikan betapa tulusnya Jaejoong.
Kyuhyun yang menyaksikan itu mati-matian menahan rasa kesal. Ia ingin sekali mengajak duel Jaejoong dengan kematiannya di tangan Kyuhyun sendiri. Namun, itu tidak akan pernah ia lakukan. Karena melihat Jaejoong tulus membantu Rara dengan imbalan satu kali kencan saja.
Huh! Tetap saja! Rara itu milikku!
"Ayahanda, mari, kita bangkitkan Ibundha." Kyungjae yang sedari tadi melihat aura cinta di antara ketiga makhluk ini hanya bisa menangis bahagia. "Baiklah, ikuti aku dari belakang, aekelma."
Perjalan mereka dipenuhi keheningan. Rara bahkan merasa darah Kyungjae di tubuhnya perlahan mengubahnya menjadi Vampire. Meskipun ia tak acuh, akan tetapi ia merasa terganggu dengan semua inderanya yang meningkat secara tajam. Jika di perbolehkan memilih, ia ingin menjadi seorang penyihir saja.
Setelah sampai di ruangan dengan pintu berwarna emas. Tubuh Rara nyaris meluruh ke lantai karena masih kesehatannya belum stabil.
Jaejoong langsung menarik Rara ke pelukannya. "Bagaimana mungkin aku tega membiarkanmu yang belum pulih ini menuntaskan tugas yang Ratu berikan padamu?"
Di belakangnya, Kyuhyun menggemertakan giginya. Panasnya Irish tidak sepanas hatinya saat ini. Tapi, saat melihat senyum Rara, Kyuhyun berusaha menetralkan raut wajahnya.
"Kyuhyun, aku baik-baik saja. Jangan menatap Jaejoong seperti itu, aku tidak suka."
"Ya."
Jaejoong mengalihkan pandangan pada Kyuhyun. Ia sudah menahan rasa kecewa karena merasa dicurangi oleh takdir, sementara hanya begini saja Kyuhyun jelas sudah siaga untuk memenggalnya.
Setelah memasuki ruangan yang disegel oleh para ksatria terpilih Irish. Rara merasakan banyak sekali kesedihan mengudara. Ini adalah kesedihan Ibunda... langkah Rara terhenti, ia tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya.
Arah mata Kyungjae menunjuk ke kotak bedar di penuhi bunga-bunga es di depan Rara.
Keraguan tersirat di kedua mata Rara. Dipandangi olehnya semua Vampire yang ia sumpah akan dibinasakan olehnya. Memikirkan itu, Rara merasa dirinya sebagai pengkhianat.
"Aku minta maaf karena selama ini aku bersikap kasar kepada kalian. Memang tidak mudah memafkanku, namun aku harap kalian bisa berusaha menerima keberadaanku," suara Rara bergetar membuat para Vampire tersebut merasa terenyuh dan terharu secara bersamaan.
Tubuh mungil nan ramping itu terlentang dengan lubang menganga di jantungnya. Rambutnya yang berwarna hitam bergelombang panjang begitu indah membingkai tubuh tersebut. Siapa saja yang memandangnya pasti paham atas apa yang telah terjadi. Tubuh itu tengah sekarat. Bahkan sebentar lagi, tubuh itu mungkin akan mati.
"Ibu..." Rara terduduk sambil memegang bahu Moon, membuat Kyungjae yang berada di belakangnya menangis dalam diam.
"Ibu... bangunlah..."
"Ia tidak bisa bangun Nak."
"Aku harus bagaimana? Sampai dia bisa bangun?"
"Ibumu menyegel dirinya sendiri saat sekarat pada Perang Merah. Aku mendengarnya, ia mengatakan bahwa hanya dirimulah dan sang kunci yang bisa menyembuhkannya. Bila tebakanku benar, Jaejoonglah sang kunci itu, benar?" Rara mengangguk menjawabnya.
"Tapi... aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan ayah. Aku baru 18 tahun hari ini, aku belum dewasa. A-aku tidak tahu harus berbuat apa..."
Kyungjae menggeleng, "Bukan. Bukan itu masalahnya, bukan umurmu. Tapi, tekadmu yang bisa membebaskannya."
Air wajah Rara sedikit cerah mendengarnya, "Benarkah? Bisakah Ayahanda jelaskan bagaimana caranya?"
"Nak. Kau hanya perlu fokus untuk menyembuhkan saja. Selebihnya biar Tuhan yang mengatur semuanya. Jika Ibumu bisa kembali pada kita, berarti kita masih disayangi oleh Tuhan nak." Kyungjae mengeratkan pegangannya di kedua pundak Rara.
"Baiklah! Akan kucoba." Kedua mata Rara tertutup seiring dengan keheningan yang tercipta berkatnya.
Benang-benang berwarna putih dan hitam saling bertautan, seolah menari di udara. Jari kelingking Rara menekuk, membuat benang berwarna ungu membaur dan melilit ke arah tempat tidur ibunya. ******* nafas Rara terdengar lembut, gerak getar tubuhnya bagaikan penari berbakat.
Secara impulsif, tubuh Rara meliuk-liuk bagai angin yang berjiwa bebas. Tidak peduli dengan yang berada di sekelilingnya.
Sinar hijau, biru, merah, merah muda, kuning dan orens berpendar dari tubuh Rara lalu membentuk sepasang sayap berwarna indah. Sayap dengan semua warna dan terlihat begitu menawan.
__ADS_1
"Kupanggil asaku, demi ibuku, agar ia tahu, bahwa aku dan yang lain disini selalu menunggu..."
Rara memutari ranjang tersebut dan terhenti di atas kepala Moon.
"Kupanggil nafasku, demi ibuku, agar ia tahu, bahwa aku merindukannya selalu..."
Semua yang ada di ruangan itu terpana, karena kemampuan Rara. Belum pernah ada Penyihir manapun yang bisa melampaui Moon Light Pledeton. Bahkan Sang Raja, tak bisa menutup mulutnya karena terlalu takjub akan bakat alami puteri semata wayangnya.
"Kupanggil jiwaku, demi ibuku, agar ia tahu, bahwa aku dan ayahanda menginginkan kesembuhan dan kesadarannya seiring dengan semilir angin, hangatnya mentari, terangnya bulan dan sejahteranya Planet Irish beserta isinya dengan semangat yang menggebu..."
Tubuh Rara terkulai di lantai, tepat di hadapan Moon. Terkulai dengan posisi menyerong dua puluh lima derajat dengan posisi tubuh yang telungkup.
Semua mata menahan nafas. Tatkala melihat pergerakan kecil dari Sang Ratu. Jemarinya bergerak lemah begitu rapuh. Detik selanjutnya, tubuh Sang Ratu memilih untuk kaku kembali. Mengabaikan Rara yang hampir kehilangan nyawanya dengan menahan sesuatu yang memaksa ingin melesak keluar dari mulutnya.
"Aku sudah tak kuat lagi." Terbatuk, dengan darah yang keluar, Rara langsung terjatuh tak sadarkan diri.
Raja Irish langsung menangkup tubuh ringkih Rara ke dalam pelukannya. Darah yang merembes dari mulut Puteri semata wayangnya membuat wajahnya pucat. Tidak! Aku tidak mau kehilangan lagi! Nafasnya tersengal, ia mengutuki dirinya sendiri karena telah salah langkah. Ceroboh dan tolol secara bersamaan.
Rara mengerjapkan matanya, "Ayah...handa..." panggilnya pelan, "maafkan aku, aku tidak bisa membawa Ibunda..." nafas Rara putus-putus, ia tidak sanggup melihat wajah tampan Ayahnya berderai air mata.
"Jangan berani-beraninya kau meninggalkan aku sayang... jangan!" Rengkuhan Kyungjae semakin erat, ia tidak sanggup mengangkat wajah dan memimpin Irish lagi karena ketololannya sendiri. Dua kali dicurangi oleh takdir. "Kau anakku! Kau harus kuat! Setengah darah Alexandrite mengalir dalam tubuhmu, Sayangku."
Tubuh Rara mengejang kuat, buku-buku jarinya mengeluarkan darah, iris mata hitamnya menghilang terganti dengan warna perak pucat yang memutar seperti badai. Mulut Rara tak hentinya mengeluarkan darah.
Kyuhyun berjalan menghampiri perempuan yang ia kasihi. Mata merahnya meredup, tatkala melihat keadaan Rara yang begitu mengenaskan. Padahal, semalam, Rara dan dirinya sudah saling mengucapkan kata cinta satu sama lain. Di dalam hukum bangsa Irish, itu sama saja dengan pernikahan sakral dengan Tuhan sebagai saksinya.
"Istriku..." Kyuhyun duduk di hadapan Kyungjae, ia memaksakan diri untuk tak terintimidasi oleh tatapan tajam dari Ayah mertuanya.
"Apa kau bilang, Velir Kyuhyun?" Kyungjae berteriak tidak terima.
***
Alunan suara merdu membuat tubuh Rara tertarik untuk mendatanginya. Disana, banyak sekali para penyihir yang cantik dan tampan saling bertukar pandang penuh cinta.
Kau rupanya sudah kemari? Bukannya belum waktunya? Penyihir cantik berambut hitam itu menatap bingung ke arah Rara.
Memangnya aku dimana? tanya Rara.
Mereka semua tertawa renyah, merasa lucu.
Jika kau disini berarti kau sudah mati, Nak. Penyihir yang lain menimpali.
Mungkinkah ia si hybrid? Sahut si penyihir yanh sedang duduk dengan tatapan meneliti.
Hybrid? Aku? Aku tak ingat apapun tentang diriku. Tolong, jelaskan aku berada dimana saat ini?
Penyihir berambut hitam terbang ke arah Rara dan menangkup wajah Rara dengan kesepuluh jarinya.
Sedetik kemudian, matanya terkejut senang.
Kau adalah cicitku? Anak dari cucu nakalku, Moon. Betul bukan? Wajahnya terlihat sumringah seolah mendapatkan bonus gaji dua kali lipat.
Siapa itu Moon?
Para penyihir itu nampak khawatir atas apa yang terjadi pada penyihir muda di hadapann mereka. Mereka langsung mengerubuni mereka dan berusaha menghibur Rara.
Ya Tuhan, kasihan sekali anak ini. Apakah dia mati karena tidak sanggup menghapal mantera yang kuat sehingga hilang ingatan begini?
Rara menahan tawa, namun gagal. Akhirnya ia tergelak hingga air matanya menetes. Jadi ini yang di namakan kehidupan setelah mati? Sesama penyihir saling berkumpul dan meramal apapun yang terjadi di kehidupan sebelumnya, begitu?
Wah, Pledeton sepertinya ia benar cicitmu eh. Kata penyihir yang lain.
Hahaha... Penyihir yang bernama Pledeton itu langsung merapal mantera yang mengikat kedua tangan dan kaki Rara di udara.
Wah, berengsek. Apa maumu? Rara berkata kasar.
Wahhh... dia benar-benar mirip Pledeton ya saat pertama kemari, ucap penyihir yang tadi dan anggukan dari yang lainnya. Pasalnya Pledeton terkenal dengan kepribadiannya yang menjengkan, sombong dan kasar.
Diam kalian semua. Pledeton menaikkan sebelah bibirnya, keki. Ku duga, cicitku ini tidak pernah menggunakan kekuatan aslinya, sehingga ia mati tanpa ingatannya! Ckckck... Pledeton menatap curiga ke arah Rara. Kalian semua, bantu aku memunculkan sihir bawaannya. Lalu kita bisa tahu, apakah ia benar-benar mati disini atau hanya berkunjung saja. Seringai Pledeton.
***
__ADS_1