
Satu kesimpulan akhirnya bisa Rara tarik sambil berusaha mengingat bagian-bagian mana saja pada sejarah bangsa Craish yang melenceng mengenai cerita tentang para penyihir pendiri yang menatapnya penuh harap ini.
Entah siapa bilang keladinya. Namun Rara sangat yakin betul bahwa mereka harus bertanggung jawab atas segala hal yang telah terjadi. Suatu kesedatan jika cerita yang selama ini beredar tidak sesuai dengan cerita aslinya.
Rara mengembuskan nafas berat dan berusaha untuk menatap mereka dengan wajah bersemangat.
"Ku pikir, sepertinya ketika aku kembali nanti, aku harusnya membetulkan cerita tentang kalian agar kalian bisa melanjutkan perjalanan kalian untuk reinkarnasi," kata Rara berusaha meyakinkan mereka.
Leonor mengangguk semangat, "aku pikir gara-gara cerita tidak jelas itu, kita semua terperangkap disini tanpa proses yang jelas kapan kita akan bereinkarnasi kembali. Karena setahuku, ada beberapa hukum tak tertulis tentang keabsahan suatu cerita. Bisa jadi ini salah satunya!"
"Menjadi penyihir itu merupakan tugas yang sangat berat ya? Rasanya aku seperti di kutuk," ucap Yvonka sambil menghapus air matanya secara anggun.
Pledeton menatap Rara dengan cermat. Keturunannya sangat teramat jeli dalam menyatukan puzzle yang sedang mereka kerjaan selama ini. Bagaimana mungkin penyihir muda ini begitu berkharisma? Bahkan Rara tahu beberapa ilmu yang hanya para pendahulunya ketahui.
"Kau ini memang keturunanku ya, sangat menakjubkan," ucap Pledeton.
Rara tersenyum senang, di puji oleh Pledeton. Nafasnya terasa ringan, karena selama ini yang ia dapatkan adalah pujian semu belaka.
"Sudah kewajibanku, selaku Onyx aku harus melakukan hal yang harus aku lakukan. Meskipun aku tidak tahu berapa persen aku bisa kembali hidup lagi," ucap Rara.
"Nak, kami pun sama bingung denganmu. Tuhan macam apa yang memberikan beban sebegitu beratnya kepadamu, Nak. Semoga saja keturunanku selalu membantumu ya," jawab Hekasia.
"Eron adalah satu-satunya sahabatku. Kami tumbuh bersama. Bisa di bilang kami layaknya bocah kembar dengan berbeda kepribadian."
"Begitukah?"
"Ya! Eron sangat menakjubkan. Aku suka sekali berdiskusi dengannya. Kepintarannya membuatku nyaman berada di dekatnya. Jujur saja, berbicara dengan orang yang tidak terlalu pintar terkadang membuatku sangat frustasi."
"Aku memahami perasaanmu, Nak," jawab Pledeton cepat.
"Intinya, kau dan keturunanku dipertemukan dengan cara yang baik. Untung saja, keluarga Haihzob masih memiliki rasa kesetian yang tinggi. Tahu kah kau, Nak? Bahwa aku ini salah satu pengikut Pledeton?"
"Betulkah begitu?"
"Ya, aku dan Hekasia memiliki perjanjian kecil yang mana menjelaskan bahwa kami akan selalu bersama dalam masa sulit maupun masa kejayaan kami. Bisa di bilang sahabat selamanya, heh?" kekeh Pledeton sambil melirik Hekasia, melihat hal itu pun Hekasia itu terkekeh.
"Bahkan mati pun, kita tetap bersama. Ya Tuhan!" kekeh Hekasia lagi.
__ADS_1
"Kalian seharusnya tahu, para penyihir lainnya menganggap bahwa kalian berdua adalah pasangan lesbian," Yvonka menanggapi sambil tersenyum malu-malu.
"Mereka hanya iri tidak bisa menemukan soulmate mereka!" protes Hekasia.
"Soulmate itu di miliki oleh beberapa orang yang beruntung saja. Apalagi selaku penyihir, ketika kita memiliki soulmate mana kita akan melimpah ruah layaknya air terjun. Sangat di sayangkan, aku tidak pernah bertemu dengan soulmateku. Apa mungkin soulmateku sudah mati ya?" ucap Leonor.
Tersenyum tipis, Rara berusaha memahami letak pembicaraan asal para pendahulunya. Alangkah indahnya jika mereka mengetahui bagaimana peradaban planet Craish saat ini. Diskriminasi sudah tidak terlihat. Siapapun kau disana, selama kekuatanmu sangat besar, kau akan selalu mendapatkan sorotan yang mumpuni dan bahkan karirmu akan meningkat secara tajam.
"Jujur saja, meskipun aku tidak bisa kembali ke dunia lagi seperti aku memang di takdirkan untuk mati disini. Aku baik-baik saja. Karena aku percaya bahwa kematian setelah kehidupan itu ada. Makanya aku bertemu dengan kalian semua. Semoga saja Tuhan mengerti bahwa dengan menukar kematianku sepertinya Ibunda bisa hidup kembali. Aku tidak keberatan sama sekali. Hanya saja cukup disayangkan bahwa aku tidak pernah bertemu dengan Ibu kandungku sendiri."
Leonor menggeleng kuat-kuat. Mata satunya menangkap kesedihan dari ucapan Rara.
"Ku yakin kau akan bertemu dengannya. Mungkin sebentar lagi," ucap Leonor.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Nak. Jika kau tidak keberatan," Pledeton menatap Rara dengan cemas.
"Makhluk hybrid sepertimu, sangat langka terlahir dan hidup dengan normal. Kau tahu?"
"Jujur saja, aku tidak tahu."
"Pada zamanku, ada orang gila yang selalu berteriak bahwa suatu saat nanti akan ada anak hybrid yang bisa menyatukan planet Irish dan planet Craish. Dan jujur saja, bagiku secara pribadi itu merupakan hal yang mustahil, Nak. Mengingat segila apa para mahkluk bertaring itu menginginkan darah para penyihir. Mereka semua ingin kami tunduk dan menjadi budak mereka," ucap Pledeton secara hati-hati.
"Kau tahu, orang gila itu siapa?"
"Memangnya siapa?"
"Raja Irish, musuh bebuyutanku, si gila itu yang membuat perang berlangsung selama berribu-ribu tahun lamanya. Gara-gara dia di kedua belah pihak banyak mengalami kerugian," jelas Pledeton.
"Sepertinya pendahulu Ayahanda sangat gila!"
"Ya, betul sekali. Sangking gilanya ia terobsesi bagaimana membuat portal dari planet Irish menuju planet Craish. Memang di luar nalar Vampir tua bangka itu," celoteh Pledeton.
"Lalu aku melihat masa lalumu. Dari masa lalumu aku menyelam ke masa lalu seseorang yang bernama Malondra. Dia salah satu penyihir baik, namun ada satu kesalahan yang ia perbuat padamu. Ia membesarkanmu tanpa cinta. Padahal seharusnya anak hybrid harus esktra dalam segi penanganan tumbuh kembangnya. Jujur saja, aku sangat sedih melihat masa kecilmu, Nak."
Kerongkongan Rara terasa tercekat. Kedua matanya mulai menangis, ia tersedu-sedu sambil menggigit bibir bawahnya.
"Raja Vampir yang saat ini, Kyungjae. Dia di timpa kemalangan yang tiada hentinya. Kasih sekali. Lalu suamimu, Velir Kyuhyun, dia sangat mencintaimu. Dan satu lagi Velir Jaejoong, Vampir tampan ini juga mencintaimu melebihi nyawanya sendiri," rambut hitam Pledeton tertiup angin dengan lembut.
__ADS_1
"Sepertinya, kau diberkahi dengan memiliki satu pasangan hidup dan satu soulmate secara bersamaan. Sehingga, kau akan merana jika kehilangan salah satu di antara mereka," jelas Pledeton lagi.
"Maksudmu, jika aku hidup kembali, maka aku harus menikahi Jaejoong juga, begitu?"
"Tidak. Soulmate tidak seperti itu penjelasannya, sepasang soulmate bertemu hanya untuk saling melengkapi. Jika kau kembali hidup kau akan mengerti mengapa Jaejoong sangat terobsesi denganmu."
"Terus aku harus bagaimana?"
"Semua itu terserah kepadamu, nyamannya kamu bagaimana. Karena tidak semua orang memiliki soulmate. Hanya saja jika kau kehilangannya, kau akan merasakan kekosongan tak mendasar di dalam hatimu."
"Aku mencintai, Kyuhyun. Dan aku tidak ingin membuat Kyuhyun patah hati karena aku memiliki soulmate."
"Para penyihir yang beruntung memiliki soulmate, termasuk dirimu, Nak. Hanya saja seharusnya sesama penyihir. Namun kau malah memiliki pasangan dan soulmate yang sesama Vampir. Ini baru kejadian sebetulnya, di masa kami tidak pernah ada ceritanya."
Para penyihir lainnya mengangguk tanda setuju.
"Apa yang terjadi ketika aku melakukan hubungan badan dengan Kyuhyun?"
"Soulmatemu akan berteriak kesetanan karena mendengar desahanmu dari awal kau bermain hingga mencapai *******. Itu lah yang kurasakan ketika Pledeton berhubungan badan dengan pasangannya," jawab Hekasia cepat.
"Apakah ada cara yang dapat menangkan si soulmate itu?" tanya Rara penasaran.
"Ada. Yaitu dengan memegang tangannya ketika si soulmate satunya sedang berhubungan badan."
"Bajingan!" teriak Rara frustasi.
"Ini tidak bisa aku terima! Bagaimana mungkin aku Tega menempatkan Jaejoong di posisi itu?" tanya Rara malu setengah mati.
"Aku pun sama frustasinya ketika harus memegang tangan Hekasia ketika sedang birahi. Namun, masing-masing dari pasangan kami mengerti sehingga sudah biasa bagi kami melakukan hubungan badan ganda. Daripada aku berteriak seperti orang kesurupan? Jadi kami membuat suatu perjanjian dengan nyawa kami sebagai bayarannya. Untungnya para pasangan kami sangat pengertian sehingga kami berdua tidak kesusahan," jelas Pledeton.
"Tapi, Jaejoong mencintaiku!"
"Itu masalahnya. Jaejoong bisa tidak tahan melihat tubuhmu di kuasai oleh Kyuhyun. Itu posisi bagaikan neraka baginya."
"Ahhh, mengapa banyak sekali hal yang aku dapatkan sih?" tanya Rara frustasi sambil mengacak rambutnya.
"Intinya seperti itu. Namun, saat ini yang terpenting adalah bagaimana kami bisa mengeluarkanmu dari dunia isolasi ini?" Yvonka ambil inisiatif untuk mengembalikan topik ke awal.
__ADS_1
"Aku tidak tahu sama sekali," jawab Rara pasrah.