Vampir dan Penyihir

Vampir dan Penyihir
Keluarga Zam Ladlle


__ADS_3

 "Aku hanya menemukan tiga Vampire di Bumi. Sialnya, aku tidak bisa melacak apapun dari mereka. Kemampuanku seakan tumpul jika berhadapan dengan mereka. Namun, dua di antara ketiga Vampire tersebut jatuh hati padaku. Terlebih, seolah Planet ini mengejekku, Vampire yang memiliki nama samaran Cho Kyuhyun itu malah membayangkan adegan-adegan erostis terhadapku. Kau pasti tahu bagaimana ia sangat menginjak harga diriku! Seumur-umur belum pernah ada yang membuatku semurka ini! Aku menginginkan kematian mereka bertiga oleh tanganku sendiri!"


   "Jikalau penyelidikan Zam Lad..."


   "Ada apa?" tanyaku spontan.


   "Maaf, waktu saya hanya lima menit disini. Sekitar empat puluh lima detik lagi adalah batas waktu saya. Jika melebihi itu, maka para Vampire itu bisa mengendus keberadaan saya dan pastinya semua rencana yang kami buat akan hancur berantakan."


  Belum sempat aku memprotes, tubuh Junsh sudah berubah menjadi sinar hitam dan masuk ke dalam cermin sampai auranya yang tadinya sangat kuat, sekarang terkikis detik demi detik hingga aku tidak bisa merasakan lagi auranya.


   "Sialan!" umpatku.


   Boo Ra semakin menunduk karena merasakan auraku yang membuat seluruh barang disini bergetar. Kemarahan, frustasi, merasa tidak di hargai,  kekecewaan, dan kesedihan adalah faktornya. Semua perasaanku bercampur aduk, tatkala aku merasakan jari lembut Boo Ra menyentuh bahuku sehingga menghantarkan perasaan dingin ke selutruh tubuhku. Aku tersenyum ke arahnya.


   "Terima kasih. Kau bisa ku andalkan Boo Ra." kataku tanpa embel-embel memanggilnya Eonnie seperti biasanya, "Aku harap aku bisa mengontrol kemarahanmu, Zam Ladlle."


  Aku mengehembuskan nafas letih, dengan gerakan refleks aku menyentuh tangannya yang berada di pundakku lalu meremasnya. "Dengan semua berkas ini, aku bisa tahu. Siapa dalang utama di balik kematian Jack Garnet, mengingat kematiannya yang sangat tidak masuk akal. Apalagi, Jack bukan penyihir biasa. Dia telah menjadi Penyihir tingkat 3. Tentunya kau juga tahu bagaimana kekuatannya kan Boo Ra?"


   "Hamba tahu, Zam Laddle."


   “Aku ingin ke kampus hari ini, antarkan aku ya?” pintaku sambil mencoba memecahkan keheningan di antara aku dengan Boo Ra. “Baik.” angguknya dengan formal seperti biasa.


“Baiklah, Boo Ra Kim. Kau boleh keluar”  kataku yang terkesan mengusir, namun aku terhenyak begitu mendengar jawabannya.


   “Terima kasih Zam Ladlle telah menyuruh saya keluar, sejujurnya saya ada rapat penting di perusahaan.” Katanya panjang lebar, di sertai dengan derap langkah yang meninggalkanku terbengong melihatnya menjauh lalu menghilang tidak terlihat lagi.


   “Dan kau masih saja se-formal itu padaku Boo Ra Kim” Aku memijit dahiku sambil membuang nafas lelah.


   Dengan berat hati aku melangkahkan diriku menuju kamar mandi, seraya ingin membersihkan seluruh tubuhku yang sangat lengket ini. Masalah Boo Ra, sepertinya dia plin-plan karena ia selalu saja memanggilku Zam Ladlle. Dan aku yakin, itu sudah menjadi kebiasaannya sebagai pesuruh di Craish.


Apa aku perlu menata ulang perihal tingkat yang telah ada?


   Setelah selesai mandi. Aku langsung berdandan dan pergi menuju kampus. Kedua kakiku berjalan dengan enggan. Mengingat aku tidak pernah berjalan kaki seumur hidupku. Dan jeniusnya Boo Ra, dia malah membawa benda kaleng itu tanpa berniat membelikanku satu. Pasalnya, hanya ada satu mobil yang berada di garasi rumahnya. Terlebih sangat boros tempat saat melihat garasi rumahnya yang sangat luas seperti lapangan sepak bola itu.


   “Aku ingin punya pacar!" teriak seorang manusia perempuan di depanku.


   Dengan memejamkan mata. Aku teliti lagi dandannya, berkacamata besar, gigi berbehel, rambut kuncir dua, baju oblong, rok panjang menutupi kaki. Hey! Aku menemukan setelan yang bagus! Sepertinya aku bisa menggunakan setelan seperti itu. Terlebih aku sudah jengah di tatap lapar oleh para Manusia yang berjenis kelamin lelaki. Dengan langkah sedikit tergesa, aku melangkahkan kakiku menuju dia yang masih terpejam.


   Bukankah itu aneh, meminta permintaan yang bisa dia dapatkkan sendiri? Rutukku dalam hati, lalu aku membaca name tag nya. “Kim Hyojung.” Suaraku keluarkan dengan pelan.


  Seraya belajar membaca huruf aneh yang mungkin bisa menyebabkan aku katarak lama-lama membaca huruf yang disebut “hangeul” oleh Boo Ra. Cukup, aku terlalu berlebihan sepertinya! Akan tetapi mengingat eksistensiku selama di Craish dan di Bumi. Aku bisa membaca berbagai macam jenais huruf yang bisa membuatku buta dalam waktu yang berkepanjangan.


   “Ne.” Dia menjawab sambil membukakan matanya perlahan.


   “KYAAAA, kenapa yang datang  malah perempuan?” ia berteriak di depan wajahku, dan parahnya kuah yang berada di dalam mulutnya sampai keluar menghujani wajahku.


Sialan! Aku kesal setengah mati karena ulahnya!


   Amarahku keluar begitu saja, terlebih tadi Junsh yang tidak menjelaskan dengan details tentang para Vampire itu di tambah pula perempuan yang berada di hadapanku. Demi Dewa Ares, dan Dewi Artemis. Aku bisa saja langsung membumihanguskan manusia perempuan ini sekarang juga.


   “DAMN.” Desis sambil menutup wajah lalu, mengambil kain lembut yang disebut tissu. “Mianhae...mianhae...(Maaf...maaf...)" Hyojung mencoba mengatupkan kedua tangannya lalu membungkuk berkali-kali. Tapi, usahanya dia-sia karena aku sangat marah sekarang. Bisa saja aku menyihirnya menjadi ulat lalu menginjaknya menjadi beberapa serepihan dan menginjaknya lagi sampai tak bersisa.


TAMATLAH SUDAH RIWAYATMU! Tanpa sadar aku menyeringai saat membayangkannya. Kau sudah membuat seorang Rara marah hari ini manusia perempuan! “Aku membencimu.” Desisku, sambil memperlihatkan smirk evil, dan memperlihatkan aura kemarahanku yang sudah memuncak.


   Angin mulai menghembus kencang, serta pandanganku tak lepasnya dari dirinya. Padahal, aku sudah tahu dia menyesal telah membuatku marah seperti ini. Akan tetapi amarahku yang tidak bisa keluar membuat dirinya terlihat bersalah di kedua mataku.


   "Matamu! Ya Tuhan! Matamu berubah menjadi pink! Kau tidak apa-apa? Sepertinya cuaca sangat buruk hari ini." Ia langsung menyeretku.


    Aku menepisnya, kebencian sudah sangat menumpuk di pikiranku. Tidak ada jalan lain selain merealisasikan ucapan hatiku tadi. Terlebih, aku tidak bersalah jika melenyapkan satu nyawa manusia.


    “Jegforbannerdegvil være... (kamu akan aku kutuk menjadi...)”


   “Apa yang sedang kau lakukan?” Sebuah suara di belakangku menyadarkanku.


  Ya, aku sadar ini bukan di Craish.


   “Kim Rara.” Teriak perempuan yang  tadi berlari menghentikan tindakanku. Dan, kini berada di depanku.


   Jika saja Boo Ra tidak lansung menunju tempat ini. Sudah pasti aku akan lansung terjerumus oleh kebencianku. Sebenarnya, aku tidak tahu alasan Boo Ra bisa datang kesini. Mengingat aku tidak melepaskan kekuatanku. Hanya sedikit yang aku keluarkan dan itu tidak berbahaya bagi makhluk Bumi. Meskipun itu hanya hipotesis sementaraku.

__ADS_1


   “Eonnie...” Ku pasangkan  wajah tanpa dosa.


   “Cepat berangkat ke kampus, sudah jam berapa ini hah?” Bentaknya galak.


Aku tidak main-main, Boo Ra terlihat sangat menyeramkan saat ini sehingga membuatku benar-benar merasa ketakutan.


   “Ne, dia perempuan menyusahkan.” Aduku sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah perempuan yang bernama Kim Hyojung. “Mianhae...(Maaf...)” Perempuan itu membungkukan badan.


   “Kau..."


   "... Aku bukan seorang lesbian PABO ! (BODOH !) ” Bentakku sambil menekan kata terakhir, “Eh?” Dia terlihat seperti orang linglung.


“Kau yang mengatakan 'kenapa yang datang malah perempuan?' ingat? Kau Kim Hyojung, aku tidak ingin berada di dekatmu karena pasalnya aku sangat membencimu, karena sikapmu yang telah merugikan aku dua kali.”


“Dua kali?” tanyanya polos.


   Entah perempuan ini polos atau bodoh. Aku tidak peduli, karena aku yakin IQ, SQ, dan EQ nya tidak seimbang. Terlebih lagi dengan tata busananya yang nyaris menggelikan. Aku tarik kembalik kalimatku tadi yang mengatakan 'Hey! Aku menemukan setelan yang bagus! Sepertinya aku bisa menggunakan setelan seperti itu'. Aku tekankan, aku menarik kembali kalimat itu.


   “Pertama, kau mengira aku seorang lesbian di otakmu. Kedua kau telah mengotori wajahku dengan air liurmu Hyojung-sshi.” Jelasku dengan penuh penekanan lagi dari setiap kata yang terakhir, kalimat yang telah aku keluarkan dengan segenap kemarahanku.


   “Ok! Sekarang saatnya kau ke kampus. Sudah telat Adikku yang manis.” Boo Ra berusaha melerai. Dan aku mendengus kearahnya sangking sebalnya, “Dan, soal perempuan ini biar aku yang urus!” Boo Ra menjelaskan lagi, diiringi dengan derap langkahku meninggalkan kedua perempuan itu.


Benar-benar malapetaka! Manusia perempuan sangat menjijikan! Bagaimana mungkin ia berpikiran seekstrim itu!


***


Kyuhyun


 


   Meskipun ini adalah jam sembilan pagi. Tak terasa, tenggorokanku kering sekali. Sepekan ini aku belum meminum darah manusia -yang berdosa- lagi. Aku akan mencarinya, bagaimana mungkin aku tidak mengurus perutku yang sudah keroncongan begini? Terlebih aku harus mempunyai kekuatan ekstra jika dengan mendadak ada panggilan dari Kyungjae. Mengingat jarak tempuh Planet Bumi dan Planet Irish sekitar 8.987.345km cahaya. Seolah ada beban yang tertumpuk di kedua bahuku, tanpa sadar aku sudah berada di taman kota. Mengedarkan pandangan seraya melihat-lihat apakah ada orang yang berdosa melewatiku. Seketika aku melihat seorang perempuan duduk di bangku tepi taman kota ini.


   “Mianhae, Jagi. Aku tidak bisa datang malam ini.”


   “Padahal aku ingin kau datang malam ini, apakah kau tidak kemana-kemana Jagi?”


   “Hufth... baiklah, aku padahal ingin menghabiskan waktu denganmu malam ini Jagi. Hati-hati ya di rumah. Saranghae Jagi-ya.”


   “Nado Saranghae.”


   Aku memperhatikan raut perempuan itu. Wajahnya yang penuh dengan kebohongan ketika sedang menelepon tadi, dan hal tersebut membuatku haus sekali. Nafsuku sudah tidak terbendung lagi. Dan, mungkin aku di tugaskan Tuhan untuk melenyapkan manusia-manusia seperti ini. Menghancurkan citra indah manusia-manusia di Bumi ini. Meskipun, aku tidak ingin melakukan hal seperti itu. Akan tetapi alangkah naasnya jika Bumi di huni oleh para Manusia yang sangat tidak bertabiat baik.


   “Chogiyo.” Aku mendekatinya dengan perlahan.


   “Ne...” Dia mendongkakkan wajahnya lalu melihatku terpukau.


 KENA KAU!


   “Kau sedang apa disini? Sendirian saja?” tanyaku sambil melihatkan senyum mautku.


   “Ehmm... aku, aku... aku sedang bingung saja,” ucapnya berbohong dan itu meningkatkan rasa gairahku untuk menghisap habis darahnya, "apa kau perlu bantuan?"


   Aku menahan rasa hausku yang meninggi, dengan pengendalian yang cukup kuat aku langsung duduk di sampingnya dan memandangi wajahnya dengan tatapan intens. Merayu dengan sedikit mengeluarkan aura sensual para Vampir pada umumnya.


   “Ikut denganku mau?” Rayuku dengan nada manis untuk membujuknya, “Ke...kemana?” Seketika senyum yang di lihat olehku, luntur begitu saja. Telah berganti dengan raut  wajahnya yang cemas.


   “Kalau tidak mau ikut tidak apa. Maaf membuatmu khawatir Agasshi, kalau begitu aku pamit.” Ucapku santai lalu berdiri dan bersiap meninggalkannya.


   Aku mempunyai janji dengan Hyunsik, akan tetapi aku tidak bisa melepaskan lelaki tampan ini begitu saja. Terlebih dia sangat menggoda dan tampan, nyaris seperti malaikat. Tapi, aku takut kalau dia adalah orang jahat. Ah, tidak! Dia adalah orang baik aku yakin itu. Maupun auranya bukan seperti manusia.


   Aku memang bukan manusia Agasshi. Jawabku jengkel dalam hati. "Tunggu, aku ikut!" putusnya mantap sambil menahan tanganku.


   BINGGO!


    Aku langsung menggenggam tangannya dan menatapnya dengan tatapan sendu, seolah aku membutuhkan teman makan pagi. Perempuan ini tersenyum dan menggandeng tanganku tanpa malu-malu. Jujur saja, aku cukup tertarik untuk mengajaknya bercinta. Akan tetapi, raut wajah Rara tiba-tiba muncul di hadapanku begitu saja. Seolah menertawakan keinginanku untuk bercinta dengan perempuan ini.


Kau? Bercinta? Dengan seorang manusia? Yang berupa makananmu? Oh... itu cukup lucu Kyu... Errr... membayangkannya saja sungguh menakutkan, Rara telah memonopoli pikiran dan hatiku!


Entah berkah atau musibah...

__ADS_1


   "Kenapa Tuan?" tanya perempuan ini. "Tidak apa." sahutku sambil tersenyum dan membuat kedua pipinya merona.


   Langkah kami akhirnya terhenti di hutan buatan. Aku membawanya menuju ke pohon yang besar namun rindang sekali. Suasana sepi sehingga membuat aku leluasa untuk menyerangnya kapan saja aku mau. Lalu sedetik kemudian aku menatap tajam dengan penuh gairah yang sudah menggelitik tenggorokanku ini.


   “Ja...jangan melihatku begitu...” Ucapnya pura-pura malu.


   Sebenarnya aku benci lihat perempuan seperti ini. Penuh kemunafikan. Aku mendekatkan tubuhku pada tubuhnya, sedikit menundukkan tubuhku. Karena pada hakikatnya dia lebih pendek dariku. Aku  menghembuskan nafasku di telinganya, lalu turun ke lehernya. Aku menjilatnya pelan, dan aku mendengar ******* bersamaan dengan badannya yang bergetar. ******* tersebut membuatku tambah menggila.


Aku ingin bercinta denganmu...


   “Tuan...” desahnya dengan penuh hasrat. Dia bukan Rara bodoh! Aku menggetarkan gigi, sambil menghirup nafas. Dia hanya makanan...


   Sedetik kemudian, aku langsung menancapkan taringku yang sudah keluar gara-gara ******* sialannya itu. Ada keterkejutan di kedua matanya, terlebih saat ini ia mendorong tubuhku dengan sangat kuat. Namun, bukan Vampire namanya jika dengan tenaga lemah seperti itu para manusia bisa mendorongku. Dengan cepat ku hisap darahnya, rasa hangat dan menggelitik turun ke kerongkonagnku, darahnya terasa sekali sangat menggairahkan di tenggorokanku. Jika dengan darahnya ia sangat menggairahkan, maka sudah pasti di atas ranjang ia sangat menggairahkan juga.


    Nikmat sekali. Aku melengguh dalam hati dan menguatkan cengkeraman di kedua bahunya.


   Aku menyukai rasa darah dari orang yang berdosa, rasanya sangat fantastic. Benar-benar membuat aku hilang kendali dan menimbulkan urat di tanganku yang kuat memegang bahunya. Bahkan saat ini pengendalianku menipis seiring dengan kenyataan bahwa aku selalu takut jika mangsaku berteriak. Akan tetapi aku sudah tidak perduli jika dia berteriak sekencang apapun itu. Setelah itu, tidak terdengar lagi teriakannya lagi, saat sedang asyik-asyiknya menghisap darah perempuan ini, tenggorokanku tercekat. Pertanda darahnya sudah habisku hisap.


   “SIAL!” umpatku kecewa lalu menjatuhkan tubuh perempuan itu yang sudah tidak bernyawa.


   “Pergilah dengan tenang, terima kasih sudah memenuhi tenggorokan dan perutku dengan darahmu yang menggairahkan itu Agasshi.” lalu aku menatapnya lama, dengan kekuatanku tubuh itu tebakar dengan sendirinya.


   Peristiwa saat ini bisa saja mempengaruhi eksistensiku di Planet ini. Akan tetapi, peristiwa yang berada di hadapanku membuatku sangat penasaran. Who’s that Girl? Saat aku melihat dimana aura tubuhnya keluar membuat mataku ini kepanasan melihatnya, dan seketika langit yang tadinya cerah menjadi mendung. Sekilas ku dengar dia berkata, namun terlihat lebih seperti kutukan. Apakah dia?


   DIA? Rara!


   “MALDO ANDWAE! (TIDAK MUNGKIN!)” aku berteriak sambil memegang kepala.


 ***


 Rara


   Darimana asalku? Siapa Ibuku? Siapa Ayahku? Aku membenci kehadiranku ini. Kenapa aku lahir di dunia ini? Mengapa aku sendiri disini? Aku merindukanmu Far  og Mor (Ayah dan Ibu). Di dalam bangsaku, menyebut mereka foledre (Orang tua) dengan sebutan itu. Namun, seiring waktu tujuh belas tahun aku hidup, aku hanya mengenal Malondra saja. Mengapa? Hanya Malondra? Padahal aku membaca pikirannya, dia sangat membenciku. Ya, aku rasa mengutuki diri sendiri itu merupakan tindakan yang pantas. Karena pada akhirnya, saat aku bertanya kepada siapapun itu tetap saja. Nihil jawabannya.


Karena aku tidak punya siapa-siapa.


Aku tidak pernah di rindukan.


Tapi, aku hanya di butuhkan.


   “Ah, aku menangis lagi...” Aku menghapus jejak bulir-bulir bening itu dari pipiku, menggunakan punggung tanganku.


   “Bagaimana rasanya memiliki foledre? ” tanyaku pada seseorang di belakangku.


   Boo Ra  bergeming diri di tempatnya. Namun aku sangat  yakin dia memahami perasaanku kali ini. Ya, dulu hanya Jack yang aku percaya. Untuk mencurahkan segenap keluh kesahku kini. Sekarang tidak ada seorang Jack Garnet yang berada di sampingku. Aku nyaris saja melupakan Eron Yin yang selalu ada saat aku meminta bantuan. Eron teman masa kecilku, dua belas tahun sudah aku mengenalnya. Namun, entah mengapa aku sangat percaya kepada Jack yang baru ku kenal daripada Eron sahabatku sedari kecil.


Dan aku merasa seperti pengkhianat.


    “Maaf Zam Ladlle, Gwenchana?” tanyanya khawatir. “Apakah aku terlihat baik-baik saja!” jawabku sarkastik, karena  dia tidak menjawab pertanyaanku. Tidak sopan sekali! rutukku dalam hati.


   Bukannya menjawab, Boo Ra malah menundukan kepalanya kembali. Di dalam hatinya, ia mati-matian mengutuk dirinya atas kelancangannya. Padahal sangat jelas aku hanya bertanya padanya, dan sialnya ia malah menjawab sambil mengajukan pertanyaan kepadaku.


   “Jawab saja pertanyaanku Boo Ra!”


   “Aku hanya mempunyai Ayah, dan Ayahku Kim Taemin adalah orang kepercayaan keluarga Zam Ladlle.”


   “Mwo? A..aku punya keluarga? ” tanyaku kaget sambil membalikkan tubuh menatap wajahnya yang tampak khawatir.


   “Eh,” dia tampak kaget lalu menutup bibirnya dengan tangannya.


   "Jelaskan secara details Boo Ra!” tukasku lalu aku menatapnya, ya aku bisa membaca sorot matanya yang menandakan kekhawatiran yang sangat besar.


   Akupun memahami perasaannya, dan aku membaca mengucapkan dua kalimat penting.


   “Jeg fortelle deg kraften av lys og mørke for å dekke alle som lytter til oss her. bare lukke det indre øyet eller staver de bruker. (aku perintahkan kepadamu kekuatan cahaya dan gelap untuk menutup siapa saja orang yang mendengarkan kami disini. tutup saja mata bathin atau mantera yang mereka pakai.)” Ku ucapkan mantera pelan, dan seketika kami berada di ruang yang tidak bergravitasi. Pertanda manteraku berhasil ku gunakan.


   “Nah sekarang, jelaskan secara jelas. Tanpa kebohongan, aku sudah cukup umur untuk tahu ceritanya.” Titahku seperti biasa. “Baik.” Boora mengangguk tanda patuh pada titahku.


   Ya, karena aku adalah Ratu dari Planet dimana dia berasal. Mau tidak mau dia harus mendengar titahku bukan?

__ADS_1


__ADS_2