
Tangan besar Kyuhyun membuka pintu dengan gerakan tergesa, ia langsung membisikan semuanya pada Kyungjae yang tengah berdiri tegap di atas panggung. Apakah benar begitu? Kyungjae menatap khawatir pada Kyuhyun, berharap kali ini ia terkena penyakit tuli.
Ya, benar Yang Mulia. Tuan Puteri adalah Onyx terbaru di Craish. Jika kita mengumumkan kehadirannya sekarang juga. Kita akan membuat para rakyat langsung lari tunggang langgang.
Kyungjae langsung memasang senyumnya. "Duhai rakyat-rakyatku yang kukasihi. Aekelma, tengah bingung atas semuanya. Beri ia waktu agar bisa beradaptasi. Kuharap kalian tidak keberatan jika upacara pengangkatannya di adakan lain hari." Para rakyat mendesah tak puas, mereka terlalu penasaran bagaimana rupa sang Princess. Namun mereka langsung membalikan badan dan bubar meninggalkan aula kerajaan tanpa bisa protes lebih lanjut.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Brendeel bingung. "Apakah terjadi sesuatu hal yang buruk pada Tuan Puteri?"
Ketiian menyahut sinis, "kemungkinan besar, Tuan Puteri belum bisa menerima darah kita yang berada di tubuhnya."
Kyuhyun melotot mendengarnya, "Tutup mulutmu, berengsek!"
"Sudah." Kyungjae nampak terpukul karena berita yang ia dengar dari sang Velir. "Sebaiknya, kita segera ke ruang rapat sekarang. Ada hal yang perlu kita diskusikan."
Secara serempak, para petinggi Irish langsung mengikuti jejak sang Raja dan Velir-nya. Mereka benar-benar butuh penjelasan yang kongkret mengenai batalnya upacara penting yang sudah ditunggu-tunggu.
Mereka semua duduk dengan badan tegap, memasang kuping dan memusatkan pengelihatan mereka pada Kyuhyun, meminta penjelasan.
"Princess adalah Onyx terbaru di Craish." satu kalimat itu membuat semuanya terhenyak kaget, "Ia merasa tidak pantas berada di sekitar kita ataupun di Craish. Ia pikir dengan hadirnya dirinya ke dunia ini, ia akan menabuhkan perang antar planet. Iapun masih segan memanggil, Raja dengan sebutan Ayah."
"Bagaimana princess bisa bersikap tak acuh seperti itu? Bukannya senang bertemu dengan Ayah kandungnya malah bersikap layaknya orang asing seperti itu." Frioneo bertanya sambil menekuk wajahnya.
Para petinggi Irish tergeming. Ketiian merasa mual sekaligus ngeri atas berita suka sekaligus dukanya. Ia mengumpat kuat-kuat. Dalam kosa kata terkasar, sehingga membuat kuping yang terbiasa mendengar perkataan sopan pasti bernanah.
Kyuhyun tersenyum manis di kursinya.
"Hey, Ketiin Jaag." panggilnya pelan. "Ada gerangan apa kau berani mengotori telinga Raja kita dengan mulut busukmu itu? Aku pikir keluarga Jaag sangat menjunjung tinggi yang namanya kesopanan. Ah..." Kyuhyun menyeringai buas, tatapan memangsa, "aku yakin ternyata semuanya hanya hisapan jempol belaka. Terlebih faktanya ternyata salah satu dari keturunan keluarga Vampire Jaag, mencemari nama keluarga yang terhormat itu."
Ketiian tersinggung mendengarnya. "Hey, Velir Hematile. Setahuku kau sangat benci akan bangsa Craish. Tapi, para telingaku mengatakan kau telah mencium satu-satunya bangsa Craish yang ada disini saat ia tidak sadarkan diri." Kyuhyun melotot mendengarnya, "Jangan memperkeruh suasana! Rara separuh Craish dan Irish! Kau tahu betul, aku mencintai Rara sebagai mana mencintai kehidupan abadiku. Lagipula rasa cintaku berbeda dengan dendamku Tuan Jaag!"
Wajah Kyungjae memerah mendengarnya. Sang Velir telah merusak nama baik Puteri semata wayangnya sambil mengutarakan perasaannya tanpa ia sadari.
Astaga! Apa dia tidak memantrai dulu ruangan Rara dengan selubung kekuatan miliknya?
Sebagai seorang Ayah, ia sama sekali tak keberatan jika punya menantu setampan dan secerdas Kyuhyun.
"Velir. Sepertinya kau sudah melakukan kesalahan fatal. Simpan baik-baik perasaanmu kepada aekelma, dan kuharap aku tidak lagi mendengar tentang masalah dirinya yang merupakan darah campuran dari musuh bebuyutan kita. Barang siapa yang menghina puteriku lagi. Aku akan langsung membunuhnya saat itu juga!"
Berbagai macam suara bergumam. Kebanyakan dari mereka sangat keberatan dengan ucapan yang dikatakan oleh Raja mereka.
Tapi, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Karena hukum di Irish adalah : Semua perkataan Raja adalah mutlak. Barang siapa yang melanggar wajib dihukum mati. Tanpa terkecuali.
"Aekelma, tidak tahu menahu tentang jati dirinya. Ia di besarkan tanpa kasih sayang. Yang kutahu, ia belum bisa menerima separuh darah bangsa kita yang mengalir di dalam dirinya." Kyungjae menghela nafas, ekspresi wajahnya begitu muram. "Apakah bangsa kita benar-benar terkutuk?" lirih sang Raja sambil menatap satu persatu bawahannya.
Kyuhyun menggertakan gigi. Ia juga paham kebingungan macam apa yang menimpa sang Raja Irish yang terkenal ramah dan selalu ceria itu. "Saranku adalah kita serahkan semua pada Princess. Segan rasanya, jika kita memperkeruh identitas dirinya dengan berbagai macam umpatan. Karena tak ada yang mau terlahir dari dua bangsa yang memiliki sejarah panjang sebagai musuh bebuyutan."
"Benar! Sebaiknya kita serahkan pada Princess. Aku yakin betul, beliau takkan tega hati untuk membumihanguskan kita semua. Karena mau tak mau, ia adalah sebagian dari bangsa Irish." Deis menambahkan.
Sebuah dehaman membuat mereka langsung menatap ke arah dimana suaranya berasal. "Bagaimana, jika kita masukan Tuan Puteri ke Akademi paling elit yang berada disini. Semisal, Cxaha?" usul Brendeel.
Setelah semua suara mengeluarkan pendapat masing-masing. Mereka semua sepakat, membiarkan Rara tenang dan akan memperbincangkan tentang Akademi jika Rara sudah menerima tentang identitas dirinya yang baru.
"Baiklah, sampai berjumpa lagi di rapat selanjutnya." Kyungjae berdiri lalu meninggalkan ruang rapat dan bergegas menuju kamar Rara.
Suara pintu di ketuk pelan, menandakan Ayahnya datang berkunjung. Rara berjenggit, tak mampu mengucapkan apa yang ia pikirkan. Ayahku seorang Vampire. Sampai pintu terbuka lebar, Rara masih saja bercokol dengan pemikirannya.
"Apa kabarmu, aekelma?"
"Cukup baik."
Kyungjae mengaitkan kesepuluh jarinya dipunggungnya, lalu memainkannya, ia sangat gugup berdekatan dengan anaknya. "Apa kau mau berjalan-jalan denganku? Menghabiskan siang ini sampai sore? Sa-sa-sambil bercerita tentang berbagai macam hal?"
Dahi Rara berkerut, heran dengan kegigihan Vampire bangsawan terkuat nomor satu yang tengah didepannya. Berhari-hari sebelumnya, ia selalu menolak apapun yang Kyungjae suguhkan.
Namun sekarang, ia merasa tak tega untuk menolaknya.
"Ah, ka-kalau kau tidak mau. Baiklah. Tidak apa. Be-besok Ayah akan kemari lagi untuk me..."
"Baiklah, aku mau." Rara langsung bangkit dan bersiap untuk merias diri. "Benarkah?" Kyungjae menatap anaknya dengan perasaan sumringah. "Kalau begitu, aku ada di Ruang baca. Jika selesai, kau kesana saja. Aku...eh Ayah menunggu."
Senyum membingkai wajah Kyungjae sampai ia menghilang di balik pintu. Wajahnya begitu bersinar seolah diterpa bintang yang berjatuhan. Rara belum pernah melihat seorang makhluk seperti Kyungjae sebelumnya. Rara mendesah, "Apa aku ceroboh? Terperdaya oleh dirinya? Sementara aku belum tahu betul bahwa aku benar-benar anaknya atau bukan." Ya, terkecuali bagian dimana aku menggigit dan hampir menghabiskan darahnya.
Tanpa sadar Rara bergidik, karena perubahan dirinya.
Ya, aku makhluk campuran.
Makhluk paling menjijikan yang pernah tercipta di antariksa.
***
Langkah kakinya lambat, berusaha untuk mengenali arsitektur yang terhias di setiap dinding Kerjaan. Pola-pola yang menguarkan kekuasaan, kemisteriusan dan keanggunan. Sangat mematikan. Rara berani jamin, ini adalah karya kuno yang terbuat dari tangan dingin sang maestro.
Semua tangan Vampire dingin, dasar bodoh! Giginya bergemeletuk, frustasi.
__ADS_1
"Princess..." salah satu dayang menunduk dan menunggu Rara untuk melewatinya. Namun, Rara sengaja. Ia tidak mau pergi. Ia ingin bercakap-cakap dengan Vampire perempuan pertama yang ia temui.
"Siapa namamu?" tanya Rara pelan.
"Diaslah, Princess."
"Berapa lama kau kerja disini?"
"Dari usia dua puluh tahun, Princess."
Tidak ada pertanyaan balik kepadaku? "Apa kau seorang Vampire?" Kuharap kau campuran juga, agar aku bisa berakrab-ria denganmu.
"Ya, Princess."
Keheningan menimpa mereka berdua. Rara paham, Diaslah tidak ingin melewati batas dan berusaha menutupi ketakutan yang menimpanya. Tubuhnya yang langsing itu gemetaran tanpa henti. Seolah dirinya berhadapan dengan seekor monster.
Monster... Satu kata itu berdengung hebat di dalam benaknya. Wajar saja jika para Vampire bersikap sedemikian rupa. Karena sepertinya kabar burung sudah beredar di Planet ini, bahwa Sang Onyx dari Craish akan membantai mereka semua.
"Berhentilah membungkuk, dan tataplah aku. Rasanya sangat tak enak jika aku berbicara dengan orang yang mengalihkan pandangannya dariku." secara spontan, Diaslah langsung menegakan tubuhnya dan menatap Rara. Tepat dikedua matanya. "Terima kasih, untuk tidak takut kepadaku." Rara tersenyum lalu meninggalkan Diaslah yang termangu menatap kepergiannya.
Kyungjae berjalan mondar-mandir. Ia tak sabar menghabiskan waktu siang yang singkat dengan puteri semata wayangnya. Namun, ini sudah dua jam ia menunggu dan Rara tak nampak sama sekali.
Apa aekelma tidak ingin pergi jalan-jalan denganku? Kyungjae mengetuk pelan dahinya. Tidak! Ia adalah seorang Onyx, Zam Ladlle atau apapun itu istilahnya, ia pasti menepati janjinya. Ia tidak akan ingkar.
"Yang Mulia." Kyungjae langsung melompat ke belakang, ia kaget karena mendengar suara sang Velir. "Astaga, Tuan Hematile. Kau mengagetkanku!" gerutunya.
"Benarkah?" Kyuhyun terdiam lalu terkekeh, "Sepertinya aku telah merusak konsentrasi anda. Jikalau begitu, maafkanlah hamba."
Kibasan tangan Kyungjae di udara membuat Kyuhyun semakin penasaran. Rajanya belum pernah bersikap seperti itu. Ada gerangan apa sebenarnya?
"Aku sedang menunggu aekelma." katanya lirih, seperti anak kecil yang tertangkap basah oleh cinta monyetnya. "Namun ia tak kunjung datang." suaranya sembilu, tertelan angin.
Kyuhyun langsung tertawa kencang. "Ya ampun!" ia mengusap wajahnya lalu menatap geli sang Raja. "Kerajaan ini besar, pasti ia tengah kesasar Yang Mulia."
"Ah!" Kyungjae menepuk jidatnya, "Kenapa aku tidak kepikiran sampai situ ya..."
"Karena anda sibuk dengan pemikiran anda, Yang Mulia. Saya dapat memahaminya."
"Ya terima kasih, bagaimana jika kita menjemput aekelma?" ajak Kyungjae semangat yang di jawab anggukan oleh Kyuhyun.
Kedua Vampire tampan itu menemukan Rara, karena indera penciuman mereka yang tajam. Terlebih, Rara sudah menghisap darah Kyungjae sebelumnya, sehingga baunya hampir mirip dengannya. Ternyata Rara ada di taman timur dalam kerajaan. Angin bersemilir, seolah bermanja pada Rara. Langkah mereka berdua terhenti tatkala melihat rambut biru Rara berpendar dan menampilkan kombinasi feminim yang cantik dengan bunga-bunga pink yang berada di sekitarnya.
"Rara..." Kyuhyun tanpa sadar mendesah pelan, membuat Rara langsung menatapnya. "Ya."
Kyungjae bingung, atas aroma cinta yang bertebaran di antara pemuda pemudi itu.
"Kau terlihat seperti peri taman yang berkilauan." Mendengarnya kedua pipi Rara langsung merona, "Sayangnya aku separuh Vampire dan penyihir." tanggap Rara dengan nada sinis.
"Mari kita habiskan waktu bersama!" Ajak Kyungjae sambil menghampiri Rara dan mengelus puncak kepalanya, "Tidak terasa, kau sudah sebesar ini, aekelma. Aku sangat menyesal tidak bisa menemani tumbuh kembangmu," senyum penuh kasih sayang dari Kyungjae membuat kedua mata Rara basah tanpa ia sadari.
"Ah..." suara Rara tercekat, sangking tersanjungnya.
"Ya Tuhanku! Kenapa menangis, aekelma? Apa ada perkataanku yang membuatmu sedih?"
"Bukan, bukan kesedihan yang aku rasakan. Tetapi rasa hangat seolah membanjiri perasaanku saat ini. Terima kasih. Aku belum pernah merasakannya." tersedu, Rara langsung menatap Kyungjae dengan wajah begitu binar, "Terima kasih telah menyayangi dan mencintaiku, Ayahanda."
Kyungjae langsung merengkuh Rara dalam-dalam. Ia begitu bahagia mendengar Rara telah menganggap dirinya. Seperti sebuah janji akan keajaiban yang ditunggu-tunggu, yang kemudian menepatinya begitu saja. Ia benar-benar bersyukur karenanya.
"Aekelma... kau tahu betul, aku selalu mencari dirimu selama kau menghilang di pelukan Ibumu," isak lirih itu keluar dengan sendiri, "ia mati-matian memperjuangkan dirimu, dengan mempertaruhkan nyawanya. Moon adalah perempuan pejuang nomor satu yang pernah kulihat. Ia tidak pernah rela, jika bangsa Craish menyerang kami. Karena, kebencian Craish pada Irish itu bukanlah sebuah kebenaran. Melainkan sebuah kesalahan fatal di masa lalu. Seharusnya perang Merah itu tidak pernah terjadi!"
Tubuh Rara gemetar, ia bingung. Sensasi hangat yang ia rasakan mendadak berubah menjadi sensasi dingin yang membuat seluruh bulu halus ditubuhnya seolah meremang. "Maksud Ayah? Cerita yang aku baca dalam buku-buku besar di perpustakaan utama di Craish itu adalah suatu kebohongan mutlak?" Kyungjae mengangguk. "Mereka tidak ingin, jika darah suci para penyihir menyatu dengan darah terkutuk para Vampire, mereka beranggapan kehamilan Moon adalah suatu petaka yang mencoreng nama baik Klan Pledeton. Sehingga, dengan sopan, mereka semua meminta izin untuk menyerang kami. Dalam sekejap mata, Irish hampir hancur. Pada saat itu, aku merasakan yang namanya akhir dari hidupku, saat aku melihat Istri dan anakku terpisah dariku. Sampai dimana, aku melihat Moon memeluk erat dirimu dan mengembuskan nafas yang terakhir..."
Bagaimana mungkin? Bangsa Craish Setega itu? Rara memeluk erat Kyungjae, membutuhkan perlindungan. "Berapa banyak korban yang berjatuhan?" tanyanya lirih. "Sekitar dua ratus dua ribu juta," Jawab Kyuhyun, "termasuk Ibuku."
Sangat brutas dan bengis... Rara terisak, membiarkan dirinya memikirkan semuanya. Sekarang, ia berada di pihak tengah antara Craish dan Irish. Ia tidak boleh gegabah. Ia tidak ingin salah mengambil sebuah keputusan, yang kemudian menyesal akhirnya. "Maaf... maafkanlah bangsa Craish. Aku tahu mereka salah telah menghancurkan planet tempat dimana kalian tinggal. Namun, aku tak tahu apa kebenarannya. Entah para petinggi Craish atau Irish yang salah. Untuk saat ini aku kebingungan. Aku tidak pernah bermaksud untuk meragukan pihak manapun. Tapi, aku saat ini belum siap mengambil langkah selanjutnya. Aku berjanji, aku akan memperbaiki kerusakan yang telah mereka buat disini..."
Kyungjae tersenyum seraya mengusap tangisnya, "Tak apa, aekelma. Butuh energi besar untuk memperbaiki Irish. Lagipula, Ayah paham betul atas apa yang tengah kau rasakan. Ayah harap kau bisa menemukan jawabannya, dan ayah harap kau bisa memutuskan apa yang harus kau lakukan pada akhirnya." Pelukan Rara mengendur, ia langsung menunduk dalam, tak kuasa menatap wajah Kyungjae.
"Aku akan memperbaikinya, Ayahanda. Dimana tempatnya?"
Wajah Ragu Kyungjae membuat Rara malu. Mengapa ia bisa sesumbar itu? Memangnya ia siapa? Ia baru akan genap berusia 18 tahun lusa hari, ia hanya makhluk hybrid yang kemampuannya tak seberapa.
Bahkan ia tidak bisa berteleportasi ke Craish, Bumi atau planet manapun. Iapun di culik oleh Kyuhyun kesini, dengan sangat mudah.
Rara menggertakan giginya, "Maafkan kelancanganku..." ia menunduk dalam-dalam.
Ia sangat malu.
Suara tawa renyah dari Kyungjae membuat Rara berjengit, "Aekelma, aku bercanda. Baiklah jika itu maumu, mari Ayah antarkan."
Mereka bertiga akhirnya sampai di tempat yang di tuju. Sekarang Rara mengerti, mengapa planet Irish berbentuk sabit. Ternyata, itu adalah akibat perang Merah yang pernah terjadi.
"Aku butuh mineral murni dari lima air terjun," Rara menutup matanya, "semua macam bunga," bunga dengan beraneka ragam warna dan bentuk tiba-tiba melayang di udara, mengitari tubuhnya. "Tolong bawakan secepatnya, mineralnya."
Kyuhyun langsung menghilang, Kyungjae mengirimkan telepati pada semua bawahannya agar menyiapkan sesuatu yang nanti Rara butuhkan. Sedetik kemudian, di belakang Rara sudah sesak dengan berbagai macam kalangan Vampire. Akhirnya Kyuhyun datang membawakan mineral murni yang Rara butuhkan. Ia menaruh tepat di samping Rara, memandangi Rara dengan tatapan takjub bercampur ngeri.
__ADS_1
Rara terlihat sangat berbahaya dan menggairahkan.
"Dengarkan aku, duhai sang nafas kehidupan..." Baju Rara terkikis sehingga menampilkan tubuh telanjangnya, rambutnya menjuntai dan memanjang, bulir-bulir bening berwarna hijau mengitari tubuhnya, seolah menutupi kepolosan tubuhnya.
"ambillah sebagian nyawaku sebagai bayarannya, karena aku telah lancang meminta sesuatu yang besar, sesuatu yang sangat tidak mungkin tercipta tanpa kehendak-Mu. Izinkan lah aku memperbaiki planet ini menjadi semula."
Para Vampire yang mendengarnya menitikan air mata. Mereka begitu tersanjung akan pengorbanan sang Princess, ia rela mempertaruhkan sebagian nyawanya untuk bangsa Irish.
Perlahan namun pasti. Tanah yang mereka pijak langsung bergetar, berderak, meraung dan melontarkan keengganan. Rasa panik menyerbu, semua langsung bersiap untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Namun, mereka percaya pada sang Princess.
Pada detik selanjutnya, bagian planet yang hancur tumbuh perlahan dengan warna hijau rumput yang indah. Rara merasakan tubuhnya nyeri tak tertahankan, terbatuk, ia tanpa sadar mengeluarkan darah kental. Inilah harganya... Rara tersenyum tipis, ia tidak akan menyesal merubah planet ini seperti Craish.
Karena di tempat indah yang mematikan itu, dirinya di besarkan.
Akhirnya, planet itu telah sempurna. Rara langsung terduduk lemas, matanya memancarkan aura kepuasan yang kentara. Kyuhyun dengan sigap meraihnya dalam rengkuhan. "Terima kasih, Princess..." bisik Kyuhyun sambil tersenyum, namun wajahnya kaku saat melihat darah yang menetes tanpa henti dari mulut Rara.
"Aku berhasil, Kyu..." Ia menampilkan senyum manis yang membuat hati Kyuhyun terasa di pilin.
Kyuhyun langsung ******* bibir Rara, ia menghisap darah yang melesak keluar terus menerus, berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan kekasih hatinya.
Kau akan selamat, mengerti? ujarnya sambil memberikan sebagian nyawanya untuk Rara.
Sampai, tubuh Rara terdiam tanpa gerak lagi. Sampai dimana suara-suara penuh kesakitan bergema di belakang mereka.
Sampai dimana Alexandrite Kyungjae langsung menghentakan Kyuhyun ke belakang dan memeluk erat tubuh Rara.
"Oh, Aekelmaaaaaaa!" suara sang Raja begitu sembilu, "Yang Mulia, hamba bisa menyelamatkannya!" Teriak Kyuhyun sambil menghampiri Kyungjae dan Rara.
"Jangan coba-coba!" desis Kyungjae, "Mengapa kau mengisap habis darahnya hah?" Taring Kyungjae mencuat keluar, wajahnya nampak dingin. "Baru beberapa hari aku bertemu dengan aekelma, dan kau dengan keji membunuhnya?" Kyuhyun menggeleng kuat-kuat, "Tidak! Bagaimana mungkin hamba bersikap selancang itu? Hamba mencintai Tuan Puteri, Yang Mulia. Bahkan hamba memberikan separuh nyawa hamba untuknya." Bulir bening berjatuhan di kedua mata Kyuhyun, sang Velir sangat terpukul atas tuduhan yang di layangkan padanya. "Aku sangat mencintai anak anda.."
Wajah terkejut Kyungjae membuat Kyuhyun tersenyum hambar, "Kematiannya adalah kematian hamba juga, tanpa hamba sadari, ia adalah jodoh hamba yang selalu hamba nantikan. Saat pertama bertemu, hamba sudah terikat padanya."
"Bagaimana bisa seperti itu?" suara Kyungjae tercekat, di tambah tubuh Rara semakin dingin, wajahnya memucat, menampilkan ekspresi kepuasan. "Seharusnya aku tidak membawanya kemari, ini salahku..." tangis sang Raja pecah.
*
*
*
Rara
Hai, Puteri kecilku... aku terlonjak mendengar suara feminim penuh kehangatan yang berasal dari belakangku. Siapa kau? Tanyaku tajam.
Astaga sepertinya para penyihir tua Bangka itu merubahmu menjadi semenyeramkan ini hm? Tawanya merdu, membuat bulu halus Rara meremang. Ia tahu ia tersihir oleh sosok perempuan cantik di hadapannya.
Aku Ibumu, sayangku...
Mata Rara terasa perih, tenggorokannya terasa tersumpal satu bongkahan batu panas, Ibu...! Mengapa kau meninggalkan Ayah begitu saja? Ibu jahat sekali! aku memeluknya erat, rasa hangat itu sangat terasa. Ha-ha-ha... Ayahmu payah! Celotehnya, Aku tidak mati sayangku, karena aku telah menyembunyikan hampir semua kekuatanku kepadamu...
Aku merenggut mendengarnya, Maksud Ibu?
Saat perang berlangsung, Ibu sengaja menyegel kekuatan aslimu dan mengisi tubuhmu dengan kekuatan ibu. Itu bertujuan, agar nanti kau bisa menyelamatkan ibu. Untuk hal itu nanti kau tanyakan pada Ayah cengengmu itu ya... namun, yang pasti sekarang kau harus tahu, kekuatanku akan terbangkitkan... dan itu adalah saat yang paling berbahaya.
Gemetar, aku mendengarnya. Bagaimana mungkin hidupku menjadi sepelik ini? Lantas aku harus bagaimana? aku bingung, apa yang harus aku lakukan? Aku masih tak mengerti...
Ibu tergelak, Kau tahu jawabannya, seorang Vampire tampan yang kau segel adalah jawabannya, ia bisa membimbingmu untuk mengetahui jati dirimu. Ia sebenarnya tengah sekarat juga, ia kelaparan. Kau harus memberikan sedikit darahmu.
Hidungku berkerut, Aku harus pasrah digigit oleh Jaejoong? tanyaku tak terima.
Ya! Dan sekarang, pergilah! Ibu melepaskan kaitan tanganku lalu menamparku dengan keras, membuat tubuhku terhuyung. Ibu... panggilku sedih.
Ibu hanya melambaikan tangannya di udara, Sampai bertemu lagi! ujarnya lirih.
Tubuhku langsung tertarik ke belakang, seolah tersedot oleh sesuatu.
Rasa pening menyambar kepalaku, rasa sakit menusuk tubuhku.
Oh Tuhan...
*
*
*
Tubuh Rara tersentak, menggelepar, ia tak sanggup menarik nafas, ia kehabisan tenaga untuk melakukannya. Kyungjae terbengong melihatnya, secepat kilat Kyuhyun langsung melesat kearah Rara dan menciumnya dengan lembut, mengembuskan nafas agar Rara bisa bernafas dengan lancar.
"Ahhh.." Rara mengerang lirih, "terima kasih Kyuhyun, berkatmu aku bisa hidup lagi." Rara tersenyum tipis lalu mengecup bibir Kyuhyun. "Maafkan keteledoranku ya semuanya..." Rara berbisik lirih.
Semua Vampire mendesah lega, ternyata proses perbaikan planet Irish tidak melayangkan korban. Kyungjae berucap syukur, anaknya masih di beri kehidupan oleh sang pencipta. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, aekelma!" Rara terkikik kecil mendengarnya, "Maaf."
Kyuhyun langsung melepaskan mantelnya dan menutupi tubuh polos Rara. Ia tak sudi, jika harus berbagi kemolekan tubuh Rara dengan siapapun.
Termasuk dengan Ayah Rara sendiri.
__ADS_1
"Aku ingin minta maaf, atas kebodohanku. Karena tak mengetahui batas kekuatanku. Apalagi ini bukan kekuatan asliku, ini adalah kekuatan pinjaman dari Ibuku."