
Kyuhyun
“Kyu...” panggil Jaejoong padaku.
Aku yang tengah asyik menatap bulan purnama langsung menatap ke arahnya dengan sebal. Pasalnya bulan purnama adalah suatu simbol istimewa bagi Vampir. Ya, bulan purnama adalah simbol bangsa Irish. Bagaimana tidak? Dulu petinggi kami menyerang bangsa Craish saat mereka sedang terlelap tidur. Namun, ada satu hal yang aku tahu pasti. Perang itu telah memisahkan Alexandrite Kyungjae –Raja Irish/Raja kaum Vampir- dari anak dan istrinya. Anaknya kemungkinan besar digembor-gemborkan meninggal, sedangkan Istrinya menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, sang Raja selalu saja menatapi bulan dengan pandangan yang sembilu.
“KYUUUU...” Suara lembut terdengar nyaring di telingaku.
Jika saja ada nominasi perusak suasana. Maka Jaejoong termasuk ke dalam rangking teratas dalam hal tersebut. Padahal tadi aku sedang mengingat sejarah bangsa Irish. Dan, si pengacau ini telah mengacaukannya!
“Kau ini mengganggu saja!” Umpatku dengan nada ketus. Dengan enggan dan perasaan sangat buruk, aku memindahkan posisi badanku untuk berpandangan dengannya. Aku melihat mata hitamnya berkilat marah saat melihat diriku dengan santai menanggapinya. Terlalu santai mungkin.
“Ah kau ini Kyu! Kedua kuping yang berfungsi sebagai alat pendengaran itu sepertinya berfungsi sangat baik, mengingat aku sudah memanggilmu sedari tadi. Dan sialannya kau dengan tampak serius dan terlihat bodohmu itu tidak menjawab. Coba jelaskan di bagian mananya dan bagaimana aku tidak kesal hah?” semburnya dengan amarah yang meletup-letup, bahkan wajah putihnya memerah karenanya.
Helaan nafas keluar begitu saja dari kedua lubang hidungku. Dengan wajah nyaris tanpa ekspresi, aku menatapnya dalam hitungan kurang dari tiga detik dan melihatnya duduk di sampingku dengan lipatan kaki kanannya yang berfungsi menumpu dagunya.
“Aku menyukai perempuan itu...” Desahnya pelan dan sambil menatapku penuh harap.
“Oh.” tanggapku tak acuh, “YAAA! (HEEIII!) Kau mendengarkanku tidak hah?”
Beginilah sifatnya, Jaejoong Chrysocolla. Seorang penerus Klan Chysocolla dengan segala bisikan kemenangan dan pujian yang selalu di limpahkan padanya. Semua perempuan maupun lelaki di Irish sangat mencintai dirinya. Tapi, sifat kekanakan dan cerewetnya ini selalu ia tunjukan hanya kepadaku. Bahkan sadisnya, ia selalu memanfaatkan puppy eyes-nya saat meminta sesuatu. Jujur saja, jika John Chysocolla Sang Hakim bukan Ayah kandungnya. Sudah jauh-jauh hari aku merealisasikan keinginanku untuk melenyapkannya.
“Keureom (Tentu), Tuan Muda Chrysocolla. Apa maumu? Setahuku kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Terhitung saat ini adalah pertama kali aku mendengar bahwa kau mengungkapkan perasaanmu, dan siapa perempuan beruntung itu?” tanyaku dengan lirih, "Vampire cantik mana yang beruntung telah membuatmu bertekuk lutut hm?"
Frustasi. Hanya satu kata itulah yang sedang menggerogotiku saat ini. Terlebih, pandangan hidupku seolah teralihkan oleh perempuan -yang di juluki 'Angel of Love' oleh para Manusia- yang bernama Kim Rara. Aku hanya tidak habis pikir, aku baru pertama kali berjumpa dengannya dan aku langsung membayangkan hal-hal erotis oleh kelakukan nakalnya di pikiranku. Serta Tuan Muda manja di sampingku ini tengah merengek dan terlihat sedang frustasi juga.
Tapi mengapa aku merasakan firasat yang tak enak? Seolah, aku akan merasakan pukulan telak... tepat di relung jiwaku?
“Kim Rara” Jaejoong berkata nyaris seperti berbisik. “Oh... dia.” sahutku tanpa sadar. “MWO???”
Jika perang Hexvo di Irish bisa membuatku kaget, maka pengakuan yang baru saja ia ucapkan padaku membuatku nyaris terjungkal ke belakang. Mengingat aku dan Jaejoong sedang terduduk di tepi balkon yang berada di luar kamarku. Tapi, aku sudah menduga, bahwa Jaejoong benar-beanr jatuh hati pada perempuan bahaya itu. Mengingat ini baru pertama kali Jaejoong menjadi terlalu banyak bicara seperti ini dan itu semua karena seorang perempuan yang bernama Kim Rara? Adik Kim Boo Ra yang nanti selalu mendapatkan nilai 100 dari setiap mata pelajarannya. Jangan di kira aku diam saja, saat melihat Rara bisa menjawab soal yang di berikan Sonsaengnim di kelas tadi. Aku menyuruh Changmin untuk mencari tahu soal Rara. Ternyata hasilnya sangat fantastis. Seorang perempuan yang hanya setinggi kupingku memiliki IQ, EQ, dan SQ yang tidak bisa terhitung. Terlalu jenius. Sampai aku bisa mengatakan bahwa Rara itu adalah bangsa Irish yang tersesat ke Planet Bumi.
Vampire yang terlalu istimewa untuk di benci. Dan jujur, aku benci pada dirinya karena bisa membuatku lepas kendali seperti bocah ingusan.
__ADS_1
“Jangan dia! Jangan! Kau tidak boleh dengannya! Jangan! E-eh maksudku, mengapa harus dia? Padahalkan aku tidak ingin kau menyukainya. Aku tidak suka itu! Kau harus menjauhinya!"
Aku berkata dengan dada yang naik turun seiring desiran angin yang kencang, seolah menamparkau pada kenyataan. Bahwa aku dan Jaejoong sama-sama jatuh cinta pada perempuan yang sama. Aku bisa mempredisikan bahwa terlihat sekali wajahku memerah karena menahan amarah.
“Eh? Maksudmu? Kau menyukaiku?” jawab Jaejoong sambil bertanya padaku. “Hah?”
“ANDWAEEE(JANGAN)!” Jaejoong mengerang frustasi. Mata hitamnya berubah menjadi merah darah lalu ia melangkah mundur ke belakang dan berlari meninggalkanku yang sedang mematung kebingungan menatapnya. Aku mengumpat tatkala mengingat apa yang Jaejoong ucapkan kepadaku.
"Astaga aku ini normal Jaejoong! Mana mungkin aku ini belok karena menyukaimu. Kau salah kira. Yang aku sukai itu perempuan yang kau sukai juga. Bukan dirimu. Terkutuklah kau yang pernah tidur bersama sang Dewi kecantikan, sehingga dengan kejinya pikiranmu bisa berpikiran sangat sempit."
“Sebenarnya yang salah itu siapa?” tanyaku pelan.
Aku menatap pintu yang terbuka lebar akibat ulahnya. Mengapa dia menyukai Rara juga? Apakah aku harus bersaing dengan Jaejoong juga? Dua pertanyaan di kepalaku ini menambah kadar kefrustasianku. Ya Tuhan, aku sangat tidak ingin membuat situasi ini menjadi parah, terlebih lagi Rara seperti mempunyai aura sensualitas tingkat tertinggi dan sangat kuat. Sehingga membuat aku, Jaejoong dan Changmin menginginkannya. Meskipun aku tidak tahu perihal Changmin, karena aku tidak terlalu dekat dengannya karena satu hari di masa lalu. Satu hari yang bisa membuat hubunganku yang sangat dekat dengan Changmin merenggang hingga saat ini.
***
Rara
“Zam Ladlle, anda sudah bangun?” tanya Boo Ra dengan lembut.
"Ne, aku lelah sekali, Eonnie. Kemarin makhluk penghisap darah itu membayangkan hal-hal erotis kepadaku. Aku benar-benar ingin mematahkan lehernya dengan Unos milikku.” jelasku sambil menggeram rendah.
Perempuan yang berada di kananku ini adalah Boo Ra Kim. Klan Kim yang sangat rendah dengan tingkat 10, yang menjadikannya hanya sebagai pesuruh di Craish. Mengingat Klan Kim sangat payah dalam hal sihir. Mereka hanya bisa meracik obat dan menjadi budak bagi Klan tingkat 9 sampai tingkat 1. Aku yang mempunyai darah Pledeton sebagai tingkat 1 termurni di Craish, sangat menjelaskan mengapa sangat istimewanya diriku. Terlebih, aku adalah satu-satunya Penyihir yang bisa mempunyai Unos yang sangat langka.
Unos terbagi menjadi 3. Pertama adalah Unos Galka, Unos Galka adalah Unos yang di punyai oleh keluarga penyihir tingkat 9 sampai 6. Kedua adalah, Unos Saprhanizo, Unos Saprhanizo adalah Unos yang di punyai oleh penyihir tingkat 5 sampai 2. Ketiga dan yang terakhir adalah Unos Aritāṉa, Unos Aritāṉa adalah Unos yang hanya di miliki oleh Penyihir tingkat 1. Berbeda dengan Unos Aritāṉa lainnya, Unosku memiliki nama tersendiri yaitu Unos Rijedak. Hal tersebutlah yang membuat diriku menjadi Putri kesayangan Onix terdahulu, Crisilla. Sehingga Unos Rijedak menjadikan satu-satunya diriku yang mempunyai kekuatan nyaris sebesar Planet Craish. Tidak seperti Unos lainnya yang berwarna hitam, merah, hijau, atau warna lainnya. Unosku bisa berubah-rubah warna sesuai dengan keinginanku. Jika Unos yang lain lebih mengendalikan dan bersifat menghancurkan, maka Unosku lebih di kendalikan dan bersifat menyembuhkan serta menghancurkan.
“Apa? Siapa yang bverani bersikap tidak sopan seperti itu? Aku akan mematahkan lehernya kalau begitu!” Boo Ra memekik tidak tahan di iringi dengan desisan tidak terima.
Ia memang seorang pesuruh, namun di Bumi dia adalah orang yang berpengaruh. Aku bisa saja memberikan setitik darahku untuk Boo Ra dan menjadikannya langsung melejit naik menjadi Penyihir tingkat 3. Terlebih, aku bisa merasakan kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya jika aku berdekatan dengan dirinya.
Sesuatu yang selalu aku impikan.
Mimpi terjalang yang tidak akan pernah aku miliki sampai kapanpun.
__ADS_1
Kombinasi perih dan pahit karena satu kata dengan seribu makna, yakni, keluarga.
"Tidak perlu di pikirkan. Aku akan membereskannya sendiri," aku tersenyum menenangkannya, “Ne, Zam Ladlle!”
Dia menjawab perkataanku dengan sopan, dan hal tersebut sangat mengangguku. Sedetik kemudian aku tersentak hebat, mengapa jadi aneh begini? Mengapa aku marah padanya dia berkata sopan begitu padaku. Padahal mengingat statusnya, ia seharusnya bersikapn seperti itu padaku. Aku merasa asing jika ia memanggilku dengan sebutan Zam Ladlle, aku merasa sangat tidak rela jika ada jarak antara aku dan dirinya.
"Boo Ra. Ingatlah permintaanku kemarin. Bahwa disini, kau hanya memanggilku dengan sebutan Rara. Tidak dengan Zam Ladlle atau Randra. Kita sudah menyepakatinya bukan? Aku harap otakmu itu tidak terbentur oleh tembok beton." sindirku dengan tajam, "Baik!"
Anggukan Boo Ra sangat bersamaan dengan datangnya aura dari cerminku -cerminku menjadi media yang bisa mengantarkanku kembali ke Craish ataupun ke Bumi-. Aura hitam menguat seiring dengan siaganya Boo Ra di sampingku. Aku menyela sikap waspadanya hanya dengan mengangkat tangan ke udara. Sebuah sinar hitam keluar dari cermin itu, berpendar dengan kilauan perak di yang menyerpih laksana kristal. Selanjutnya sinar-sinar hitam itu berkumpul dan menyatu serta berubah menjadi wujud yang tidak aku sukai.
"Junsh Black."
"Hamba, Yang Mulia." ia menjawab dengan menaruh telapak tangan kanannya di dada dan membungkuk dengan khidmat.
Mengapa ia kemari? Aku tak memanggilnya! Jangan-jangan si Malondra sialan itu biang keladinya! umpatanku di dalam hati, membuat wajahku menjadi sangat dingin terlihatnya, karena Boo Ra langsung menunduk dan tubuhnya gemetar.
Aku mengangguk lalu menatap Junsh dengan tatapan tajam. Tatapan mengintimidasi jika aku tidak menyukai seseorang. "Siapa yang menyuruhmu kesini?" Tanyaku sengit tanpa basa-basi, "Hamba datang karena keinginan hamba kembali Yang Mulia. Tolong jangan berburuk sangka seperti itu. Sikapmu membuat hatiku terluka." ujarnya sambil tersenyum dengan dimple di kedua pipinya.
Merasa terkejut. Aku langsung turun dari ranjangku dan menuju di mana tempatnya berdiri. Dengan mata memincing curiga aku mengendus baunya yang sangat familiar di hidungku. Dehaman Junsh membuatku menghentikan kegiatanku.
Ya Tuhan, tanpa sadar aku mengendusnya seperti seekor anjing!
"Zam Ladlle, sungguh manis dan sopan sekali perilaku anda." sindirnya halus dengan senyuman di wajahnya.
Aku mendengus kasar sambil melipat kedua tanganku di dada. Dengan enggan, aku menyeringai dan melihat sorot ketakutan di mata hitamnya.
"Apakah seluruh keluargamu, baik keluarga jauh maupun keluarga dekat mempunya dimple seperti itu? Rasanya kebetulan sekali jika aku tidak bisa membedakan dirimu dengan seorang Jack Garnet. Kalian terlalu sama. Nyaris tanpa perbedaan sedikitpun. Tidak ada bedanya sama sekali, seolah Tuhan Yang Maha Esa menertawai kemampuanku ini." jelasku sambil berjalan memutari Junsh dan berdiri di tempatku semula.
Tubuh Junsh menegang. Aku yakin, ia tengah menyiapkan berbagai macam penjelasan yang bisa kuterima. Namun, aku memilih mengabaikannya karena aku tidak mood untuk mendengarnya. "Baiklah, ada apa?" tanyaku akhirnya.
Raut wajah cemas dan takut itu tergantikan oleh raut wajah bangga -terlampau bangga menurutku-. Ia membaca sebuah mantera sehingga ada beberapa tumpukan berkas di tangan kanannya. Aku mengernyitkan dahiku tidak suka, menyuruhnya untuk menjelaskan.
"Devisi Perkembangan Bumi, semoga Zam Ladlle tahu dan tidak lupa akan Devisiku. Ini adalah riset yang kami gunakan untuk mengetahui bagaimana para bangsa Irish tersebut bisa datang ke Craish lalu menetap di Bumi. Keluarga Hematile dan Chrysocolla yang berada di balik semua ini." jelasnya.
__ADS_1
Aku menaikan alisku pertanda keberatan. Mengapa ada makhluks semenyebalkan si Junsh ini? Apalagi dia ini anggota yang baru bergabung.