
Menyeringai sambil menatap puas ke arah Rara. Pledeton kemudian merapalkan mantra pengecekan. Ia harus tahu mengapa Rara bisa sampai kesini. Padahal jelas-jelas keberadaannya bukan bagian dari dunia ini.
Kedua matanya mengerjap, ketika melihat adegan demi adegan yang telah Rara lalui. Rara masih menyumpahi Pledeton dengan kosan kata terkasar. Jika di ibaratkan, Rara seperti seekor kucing galak yang membenci mandi.
Para penyihir lain masih kebingungan, nampaknya mereka tidak mau mangambil kesimpulan yang impulsif.
"Mereka memanfaatkan keturunanku!" suara Pledeton meninggi.
"Mereka siapa?" tanya salah satu penyihir di belakang Pledeton yang bernama Leonor.
"Bangsa Craish! Bangsa kita!" kali ini Pledeton berteriak frustasi.
"Hey, kau gila ya! Bagaimana mungkin bangsa kita memanfaatkan gadis ini?"
"Jika kau melihat kenangan demi kenangan yang sudah aku lihat. Tentu kau akan setuju kepadaku! Sudah berapa lama kita mati huh?"
"Aku sudah berhenti menghitung, Pledeton," jawab Hekasia di ikuti gerakan mengangguk dari yang lainnya.
Pledeton merasa kesal bukan kepalang. Kali ini ia bermaksud untuk mencoba kembali ke dunia agar memberantas hama-hama gila yang berusaha memanfaatkan Rara. Namun, Pledeton tahu ia tidak punya kuasa untuk hidup lagi. Jika ia kembali pun ia akan menjadi skeleton yang menyeramkan. Bukan dengan tubuh yang utuh ketika ia masih menjadi seorang penyihir Agung.
"Jadi betul, penyihir muda ini dimanfaatkan oleh bangsa kita? Bangsa Craish?" tanya Yvonka sambil memgepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
Pledeton mengangguk mantap. Rambut hitamnya berkibar setelah keheningan menerpa mereka semua. Rara masih mengetatkan giginya rapat-rapat. Ia nampak frustasi melihat keadaannya.
Jadi mereka semua adalah bangsa Craish? Para penyihir terdahulu? ucapnya dalam hati.
Pledeton, Yvonka, Leonor dan Hekasia adalah nama yang unik dan sepertinya aku pernah membacanya dari buku sejarah bangsa Craish. Akhirnya kedua mata Rara terbelalak. Tatapannya pun berubah menjadi tatapan seorang fans yang bertemu idolanya.
"Kalian para pendiri!" pekik Rara senang bukan kepalang.
"Bagaimana mungkin aku lupa tentang kalian. Hey kalian semua nampaknya berumur layaknya empat puluh tahunan. Kalian tidak tahu seterkenal apa kalian semua di Planet Craish!"
__ADS_1
Semua mata takjub melihat perubahan penyihir muda di hadapan mereka. Mereka sudah tahu pasti bahwa para penyihir selalu berusaha waspada ketika baru sampai dunia ini.
"Apa kami memang seterkenal itu?" tanya Hekasia malu-malu.
"Tentu saja! Kalian mengalahkan ketenaran Malondra! Kau Hekasia kan? Hekasia Haihzob?"
"Ya, betul. Aku adalah Hekasia Haihzob."
"Kau adalah leluhur sahabatku, Eron Haihzob! Kau perlu tahu, Eron merupakan salah satu penyihir tingkat atas. Keturunanmu telah menjadi penyihir tingkat 3!" jelas Rara dengan menggebu-gebu akan bangganya ia menjadi sahabat Eron.
Hekasia menyunggingkan senyum puas. Rupanya keturunannya sangat membanggakan.
"Aku punya banyak cerita mengenai keturunan-keturunan kalian yang sangat mengagumkan! Namun, aku ingin bertanya terlebih dahulu pada Pledeton. Leluhurku yang berambut hitam ini."
Pledeton menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Mengapa kau memilih bunuh diri? Kau tidak tahu saja bahwa kau membuat para keturunanmu termasuk aku sangat malu akan ketidakpercayaan diri terhadap kemampuanmu itu! Boleh aku tahu alasannya?" tanya Rara sambil memiringkan kepalanya.
"Aduh, Pledeton marah lagi!" Yvonka terkesiap tatkala melihat ekspresi Pledeton yang seolah tertohok ulu hatinya.
"Jadi kau tidak bunuh diri?"
"Tidak, wahai keturunanku. Aku tidak bunuh diri. Sama sekali tidak! Sepertinya ada yang memalsukan kisahku," ucap Pledeton diiringi anggukan oleh para penyihir lainnya.
"Apakah kematianku sangat memilukan sehingga muncul spekulasi gila seperti ini?" tanya Pledeton pada Rara.
"Well, di buku sejarah di jelaskan bahwa kau menusukkan tongkatmu ke jantungmu. Secara sengaja. Se-nga-ja."
"Gila ya!" Pledeton berteriak tidak terima. Nafasnya naik turun, ia tidak habis pikir bagaimana kesalahpahaman seperti ini dibukukan, diterbitkan dan dipersebarluaskan.
"Aku berperang dan bangsa Irish sialan itu yang merapalkan mantra kepadaku, agar aku melakukan hal itu. Aku belum mati saat itu, karena memang aku sudah menyimpan jantungku di suatu tempat di Craish. Jadi pada dasarnya aku tidak memiliki jantung. Aku hidup dengan mengonsumsi mana bawaan lahirku. Kau selaku keturunanku tahu betul bahwa Pledeton terlahir dengan mana yang melimpah ruah serta kemampuan mengingat di atas rata-rata."
__ADS_1
"Ahhh, seperti itu ya cerita aslinya," Rara terpekur sejenak.
"Bisa kau lepaskan terlebih dahulu mantra di kedua kaki dan kedua tanganku? Aku ingin berbicara sambil duduk, bukan layaknya suatu pertunjukan seperti ini," pinta Rara dengan lembut.
Jentikan kedua jari Pledeton membuat tubuh Rara langsung jatuh ke tanah. Sedikit mencebikkan bibirnya pertanda protes Rara langsung mengikuti langkah pada pendiri bangsa Craish itu.
Mereka semua akhirnya duduk dan saling menatap satu sama lain.
"Hal malang nan mengerikan apa yang terjadi kepadamu, Nak? Sehingga kau bisa sampai di sini?"
"Sepertinya aku mati. Kekuatanku tidak cukup banyak untuk membuat Ibunda hidup kembali. Ibundaku Moon Pledeton, ia menikah dengan Raja bangsa Irish. Kyungjae apalah nama belakangnya aku lupa," Rara memijit pelipisnya kuat-kuat, berusaha mengingat.
"Yang ku ingat, aku muntah darah, lalu aku di telang kegelapan dan menemukan setitik cahaya, aku mengikutinya lalu aku berakhir disini. Bersama kalian semua."
Kali ini Yvonka tersenyum tipis. Wajahnya dipenuhi oleh senyuman yang penuh dengan banyak arti.
"Mungkin kau memang harus bertemu dengan kami. Biasanya Tuhan memang sejahil itu pada beberapa makhluk ciptaannya," selorohnya sambil tertawa dengan elegan.
"Adakah hal yang bisa kami bantu? Mumpung kau masih berada disini? Aku yakin kau belum mati," Hekasia menelurusi tubuh Rara dengan pandangannya.
Tubuh Rara memang berbeda dengan para penyihir disini. Para penyihir disini di kelilingi oleh cahaya hitam sementara Rara dikelilingi oleh cahaya keemasan. Untuk mereka semua. Itu merupakan fenomena baru yang mereka rasakan.
Akhirnya, mereka semua sepakat menceritakan pengalaman semasa hidup mereka satu persatu untuk berusaha mengoreksi beberapa kisah yang sudah tersebarkan pada bangsa Craish hingga saat ini. Mereka merasa kedatangan Rara bisa membetulkan kesimpangan kisah mereka semua.
Dengan wajah antusias, Rara akhirnya mengiyakan permintaan mereka dan berusaha fokus dari satu cerita ke satu cerita lainnya. Rara pikir kali ini, ia bisa memecahkan teka-teki yang selalu menghantuinya hingga saat ini.
"Pada dasarnya, kalian semua ingin nama baik kalian tidak tercemar dan aku mempunyai kewajiban untuk meluruskannya,kan?" mereka semua mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, namun sebagai gantinya aku hanya ingin tahu beberapa hal. Termasuk apakah aku akan hidup kembali? Jika iya, maka bagaimana caranya? Dan juga apakah kalian bisa mengetahui cara menyembuhkan Ibundaku, Moon Pledeton? Lalu Jika tidak, apakah aku akan tetapi bersama kalian?" tanya Rara penasaran.
Para penyihir tersebut terkekeh senang mendengar ya. Nampaknya, penyihir muda di hadapan mereka sudah melonggarkan kewaspadaannya. Mungkin ini adalah hari terbaik bagi mereka semua yang sedang menunggu reinkarnasi.
__ADS_1
"Kehidupan setelah kematian itu ada, Nak," jawab Pledeton dengan senyum tipis membingkai di wajahnya.