Vampir dan Penyihir

Vampir dan Penyihir
Ini adalah jebakan


__ADS_3

Rara


   Aku melihat Kyuhyun sedang menguping pembicaraanku dengan pria cantik ini. Yang tidak lain adalah Jaejoong. Aku sangat mengakui jika Jaejoong itu sangat cantik untuk ukuran pria. Dengan tinggi 180 cm, rahang yang tegas, kulit yang seputih salju, mata yang berwarna hitam, bibir yang kecil namun penuh dan berwarna merah muda, dan pinggang yang ramping. Hal itu sangat menggangguku saat melihat makhluk penghisap darah yang terlalu cantik untuk seukuran pria ini. Terlebih aku harus memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Kyuhyun menyesal telah berbicara yang tidak-tidak tadi. Demi para Onix terdahulu, aku benar-benar kesal pada Kyuhyun.


   Dasar Kyuhyun!


   Maunya apa dia?


   Memangnya aku tidak tahu jikalau dia mengikutiku sampai kantin huh? Tch,dasar menyebalkan!


   “Um...”


   Terdengar gumaman kecil dari bibir Jaejoong. Aku langsung menatapnya dengan wajah di pasang ramah, sepertinya aku harus memikirkan segala kemungkinan jika aku bisa menangkapnya dan membunuhnya dengan segera. Oh tidak! Aku belum boleh membunuhnya karena aku harus membawa mereka ke Craish terlebih dahulu.


   “Iya kenapa?” tanyaku lembut.


   Aku sunggingkan senyumku sambil menatapnya intens. Jaejoong membalas senyumanku, ia kemudian menghembuskan nafasnya dan mengusap rambutnya ke belakang dengan gesture yang seolah mengatakan 'I catch you baby' kepadaku. Meskipun aku heran mengapa aku belum bisa sepenuhnya membaca pikiran dan hati ketiga Vampire ini.


   “Nanti malam ada rencana tidak? Aku mau mengajakmu keluar malam ini.” Jaejoong menatapku penuh perhatian seakan tidak siap menerima penolakan.


   "Bagaimana ya..."


   Dengan sengaja aku memberi jeda panjang sambil menatap dirinya yang seperti kaget atas jawaban yang aku berikan. Dengan wajah murung, ia mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya. Sepertinya Jaejoong tidak ingin aku menolaknya, akan tetapi aku akan sedikit jual mahal pada lelaki ini.


   "Aku ada hutang setumpuk buku yang harus ku baca," aku pura-pura menolak dengan senyuman manis di wajahku.


   Lama-lama aku merasa muak karena selalu memasang senyum palsu terus menerus di Planet ini. Sepertinya aku telah menciptakan pribadi yang baru sekarang, aku yang dulunya tidak pernah dendam sekarang aku telah menaruh dendam kesumat pada bangsa Irish karena telah membunuh Jack, orang yang aku cinta. Dulunya aku tidak pernah berbohong, sekarang aku menjadi penipu handal. Dulu aku tidak pernah menanggapi lelaki-lekaki yang tertarik kepadaku, sekarang aku menanggapi dengan semangat. Dulu aku selalu berbaik hati pada semua makhluk, tapi sekarang aku sangat picik. Aku menyadari perubahan drastis pada diriku.


   "Tolong dipikirkan masak-masak..." Ia tersenyum simpul menatapku dengan tatapan memohon.


   “Ta-tapi."


   Jaejoong memasang wajah memohon seperti Eron. Tatapannya mengingatkanku pada Eron yang selalu memohon di ajari sihir olehku. Apalagi aku tidak tahan pada tatapan yang seperti itu.


  "Please?"


  "Baiklah, baiklah aku mau ikut.” aku sunggingkan senyum kecil sambil mengangguk kearahnya.


   “Ah, yang benar?”tanya Jaejoong memastikan.


   Nada bicaranya terlihat  sangat bahagia. Ya apa salahnya aku buat dia bahagia, sebelum aku segel dia. Haha!


   “Benar. Aku tidak bohong kok. Tenang saja.”


   “Jam tujuh ya di depan kammpus.”


   Aku mengangguk lalu tersenyum kembali kearahnya. Dia mengembangkan senyum menawan khas bangsanya. Yeah, bangsa Vampire. Namun, efek senyuman itu membuat seluruh perempuan di kantin ini menahan nafas.  Aku hanya memutarkan kedua bola mataku menatap jijik kearah perempuan-perempuan kelebihan hormon yang siap menerjang lelaki cantik dihadapanku ini. Aku pun berdiri dan memandangnya.


   “Baik, aku pamit ya. Sampai ketemu nanti,” aku membungkukkan badanku lalu tersenyum dan menatap dia penuh makna.


    Kedua kakiku meninggalkan Jaejoong dan sekilas menatap Kyuhyun yang pura-pura sedang menatap ke arah kumpulan lelaki-lelaki yang sedang bercanda gurau. Lalu sedetik kemudian dia menatapku.


   Deg!


   Aku buang tatapanku kearah yang lain. Sambil meneruskan langkahku yang tertahan karena menatapnya. Dan aku sesali itu. Memang benar ya kata pepatah itu. Penyesalan itu datangnya di akhir.


   Aku membuka pintu rumah dengan perasaan sedikit baikan. Terlebih aku sudah mendapatkan satu mangsa yang ada di tanganku. Aku tinggal menjalani rencanaku. Menyihir mereka ke dalam kalungku dan pulang ke Craish dengan perasaan bangga. Aku pulang dengan langkah arogan. Karena pada kenyataannya aku akan melangkah lebih maju untuk menuntaskan dendamku pada bangsa Irish.


   Jaejoong.


   O Jaejoong kemungkinan besarnya adalah nama samarannya.


   Lelaki cantik itu akan ku biarkan untuk menikmati saat-saat terakhirnya melihat bagaimana nikmatnya pemandangan di Bumi. Aku sudah bosan memasang tampang malaikat yang mengatakan aku baik-baik saja namun pada kenyataannya keadaannya tidak baik. Dendam ini terlalu besar untuk ku sembunyikan. Apalagi aku harusnya menyadari bahwa ada satu Vampire yang tidak bisa menerima kehadiranku.


   “Aku pulang!” 


    Setelah menutup pintu aku mengedarkan pandangan. Berharap Boo Ra ada di sekitarku. Namun, kenyataannya nihil. Maka kuputuskan untuk segera ke kamarku. Memilih untuk merilekskan tubuhku yang sedang letih ini.


 ***


Kyuhyun


   “Jaejoong Chrysocolla!” Panggilku dingin saat menatap wajahnya yang berbinar seperti mendapatkan harta karun.


   “...”


   Merasa kesal tidak ada jawaban. Dengan langkah panjang aku langsung menghampirinya yang sedang terduduk di ruang tamu. Mata hitamku berkilat kesal, karena Jaejoong bersikap acuh seperti ini.


    “Jaejoong!” Bentakku dengan nada yang tinggi..


   “Eh iya?” Jaejoong menjawab dengan polosnya. Seperti mengatakan coba kau ulangi lagi.


   “Kamu! Ada keperluan apa dengan perempuan itu?” tanyaku tidak sabar, berusaha mati-matian mencoba membaca pikirannya.


   Serius!


   Saat ini aku benar-benar ingin mencekik Jaejoong!


   Jaejoong menatap diriku dengan kerutan di dahinya, matanya yang hitam tiba-tiba berubah warna menjadi biru cerah. Membuatku nyaris melompat karena kaget. Aku  baru sadar Jaejoong memiliki warna mata seperti Elisabeth Alexandrite, Ibu Raja Alexandrite Kyungjae. Terpesona akan mata biru cerah yang memancarkan kemisteriusan tingkat tinggi.


   "Sejak kapan kau memiliki mata biru cerah itu?" tanyaku was-was sambil menunjuknya dengan jari telunjukku.


   Pasalnya itu adalah mata yang langka bagi bangsa Irish. Seperti warna mata kuning, hitam dengan titik-titik kecil berwarna ungu di sekitarnya, dan mata ungu pekat. Semua warna mata langka itu ada 4 dan yang mencengangkan  adalah ternyata Jaejoong memiliki mata tersebut.


   Jaejoong menaikkan alisnya dengan wajah datar. Mata biru cerahnya terlihat 100 kali menyeramkan dari pada mata merah biasanya. Sampai-sampai bagian tengkukku meremang saat ini juga.


   "Aku adalah Vampire yang nyaris kehilangan matanya. Apalagi dengan keadaanku yang masih rentan saat itu, aku di jahili oleh temanku yang menaburi bubuk berlian di kedua mataku. Katanya mataku akan bisa melihat keadaan Planet yang lainnya. Apalagi, aku ingin melihat Planet Craish di setiap bagiannya tanpa ada yang tersisa."


    "Berapa umurmu saat itu?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


   "Tujuh tahun, anggaplah aku bodoh. Aku bahkan menuruti mereka saat mereka mengikat kedua tanganku ke belakang dengan kain. Dalam Klan Chrsycolla, akulah yang terlemah Kyu. Aku hanya bisa menggerakan barang-barang di sekitarku. Sebagai Vampire kecil, aku sangat lambat. Apalagi aku selalu sakit-sakitan."


   "Kau masih terlalu dini saat itu," gumamku sambil menaikkan kedua kakiku ke atas dan bersila.


   Jaejoong mengangguk, "benar sekali! Aku memang terlalu dini, aku terkadang ingin kembali pada masa lalu dan menghajar mereka. Akan tetapi, jika aku bisa kembali ke masa lalu. Maka aku tidak akan ada disini sebagai salah satu kebanggaan dari keluargaku. Aku pasti masih lemah dan sakit-sakitan."


   "Pantas saja, aku rasa ada yang beda denganmu. Kau mengapa tidak bilang pada Alexandrite bahwa kau memiliki mata yang sama dengan mendiang Ibunya? Terlebih Alexandrite bisa saja memasukkanmu pada The Eye of Irish. Kau bergabung dengan Marlina, Theo, dan Suzy."


   "Aku tidak ingin membahayakan keluargaku. Bukankah menjadi salah satu anggota itu aku harus bersedia kehilangan seluruh keluargaku? Sahabatku? Orang tuaku? Adik-adikku si kembar Gisa dan Giza? Saudaraku? Tidak, terima kasih. Aku masih ingin bersenang-senang." ucapnya sambil mengernyit dan menatapku yang mengangguk setuju kepadanya.


   “Tadi kau bilang, Perempuan?” tanyanya sambil menambah kadar kernyitan di dahinya tanda tidak paham.


   “Haruskah ku ucapkan namanya Jae?” aku menjawab sambil bertanya seraya mengerang kemudian.


   Jaejoong menatapku lalu wajahnya seperti berpikir sesuatu.“Oh my angel of love?” tanyanya sambil tersenyum simpul.


   Kalau seandainya aku adalah perempuan maka aku akan terpesona karena senyum simpulnya sepupuku ini bikin deg-degan. Dan seandainya dia adalah perempuan maka aku yakin saat ini aku akan mencium bibir merahnya.


   AKU BILANG APA TADI?


   “Menjauhlah dariku Kyu!” bentaknya.


   “Hah?” Aku melongo tidak paham.


   “Aku membaca pikiranmu, Kyu!” Jaejoong menjelaskan alasannya dan aku menyadarinya.


   “Aku tidak bermaksud membayangkan aku jadi perempuan atau kau jadi perempuan! Sumpah!” Jelasku sambil memegang kepala dengan kesepuluh jariku.


   Mata biru cerahnya menatapku dengan kecurigaan yang dalam. Aura tubuhnya yang dingin tiba-tiba membuat tubuhku kaku dan tidak bisa di gerakkan.


   "Aku harap seperti itu!” Ketusnya, sambil berlangkah pergi.


   “Hey! Mau kemana lagi kau? Aku belum selesai berbicara!”


   “Aku mau menyiapkan kencan perdana ku dengan Rara.” Nada bicaranya terdengar sarkatis.


   KENCAN PERDANA?


   Dia bilang seperti itu kan?


   HAH!


   APA?


   “APA?”


   Setelah beberapa menit berlalu, aku baru bisa menggerakkan badanku dan meloncat kaget bukan main mendengar pernyataannya. Jaejoong benar-benar mengajakku untuk berperang. Gertakan gigiku tidak bisa aku tahan kembali. Rasa Marah, tidak rela, kesal berkecamuk di dadaku. Aku sakit.


   SAKIT.


   Rasa itu lebih parah ketika penyegelan kekuatanku!


    Lebih sakit...


   Lebih menusuk...


  Seakan terpatri jelas dalam hati suci murniku ini!

__ADS_1


   Mendengar Jaejoong berkencan dengan Rara membuatku tidak rela. SANGAT TIDAK RELA. Aku mengeratkan cengkeraman di dadaku menahan perih yang menjalar di setiap torehan luka ini. Mengingat Rara akan pergi berkencan dengan Jaejoong. Sungguh sangat menyebalkan! Aku benar-benar ingin mematahkan leher mulus milik Jaejoong. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kulkas tempat minumanku berada.


   Ku tuangkan darah O+ yang dicampur sedikit dengan wine agar pikiranku bisa melayang buana pergi kemanapun ia mau. Tanpa ada pernah rasa mau aku untuk mengejar apa yang harus aku inginkan.


   Aku kesal?


   Jawabannya sangat kesal!


   Aku sedih?


   Jawabannya sangat sedih!


   Aku marah?


   Jawabannya sangat marah!


   Aku patah hati?


   Hah... jangan di tanya itu sudah terjadi!


   Karena seorang Kim Rara yang sudah meleburkan keinginannku untuk mendekatinya. Jangankan patah hati, hatiku ini saja sudah hangus di dera percikan api kebencian dari setiap tatapannya. Mengingat Rara, entah kenapa hatiku selalu bergejolak. Meskipun pada akhirnya hatiku selalu bebisik sesuatu hal aneh seperti 'Bunuh siapa saja yang menghalangimu untuk mendapatkan Rara!'


    Atau...


   Bisikkan yang lainnya 'buat dia menjadi milikmu seutuhnya' dan tentunya aku sangat hafal betul aroma menggoda milik Rara. Seakan aroma Rara selalu menggoda dan mengelitikki kerongkonganku untuk menancapkan taringku di lehernya. Namun, yang pasti aku tidak akan pernah merealisasikan apapun keinginan horor yang bersemayam silih berganti di otakku.


 "Rara..." Nafaku tercekat saat memanggil namanya.


   Nama indah seperti melody tersendiri bagi hati beku milikku. Seakan tidak pernah ada melody lain yang pernah menyentuh dan melelehkan hatiku tersebut.


   Ya, hatiku sudah meleleh...


   Meleleh oleh tatapannya...


   Mata hitam indahnya...


   Wajah tirus cantiknya...


   Tubuh mungil putihnya...


 "Rara..." Suaraku tersendat saat merasakan gelenyar aneh yang saat ini hinggap di hatiku. Namun, aku baru benar-benar menyadari satu hal...


   "Aku benar-benar telah jatuh pada pesonamu Kim Rara..."


   Dan disaat aku merasakan benar-benar telah jatuh pada pesonanya pada saat bersamaan aku telah patah hati olehnya. Patah hati karena Rara berkencan dengan Jaejoong.


   "Jaejoong..."


   Nafasku tersengal, ku kepalkan kedua tanganku menahan amarah yang siap membludak untuk siapa saja yang berani mendekatiku saat ini juga.


   "Aku ingin membunuhmu." Desisku penuh kebencian, dan bersamaan dengan warna iris mataku yang berubah warna menjadi merah. Semerah darah.


 ***


Rara


   Aku hanya terdiam mematung didepan kaca. Entahlah, hatiku seperti memanas mendengar Kyuhyun jadi kantor pos cinta bagi Jaejoong. Lelaki cantik itu. Aku saja iri menjadi perempuan dengan kecantikan yang terpahat di wajahnya. Tubuhnya saja ramping. Aku mendengus mengapa tubuhku saja kalah rampingnya dengan pria cantik itu.


   “Mau kemana?” Boo Ra bertanya kepadaku.


   “Eh, eonnie” Aku memasang ekspresi kaget saat bertemu pandang dengannya.


   “Kencan?” tanyanya dengan mimik penasaran.


   “Bukan.” Elakku.


   “Lantas?”


  “Aku akan menangkap salah satu dari mereka,” kataku lalu menyeringai.


   “...”


   Tidak ada jawaban yang di lontarkan oleh Boo Ra. Aku hanya tertawa dalam hati. Begitu menyeramkan kah diriku? Diriku yang sebenarnya... yang terpenjara dalam topeng kepalsuan yang aku buat. Kepalsuan yang selalu aku berikan kepada seluruh mahluk yang tidak mengetahui sisi gelapku. Sangat menyeramkan. Hal yang selalu membuatku berdiri dengan tompangan sisi gelapku. Semakin hari semakin kuat.


  Aku semakin Kuat untuk menuntut keadilan. Keadilan akan orang yang paling aku cintai. Jack. Aku akan mengeluarkan sisi gelap bagi yang menginginkannya.


   Dendam. Satu kata yang telah merubahku menjadi seperti ini. Satu kata yang mempengaruhi pandanganku. Pandanganku tentang mahluk yang diberi julukan ‘Vampire’. Satu kata yang telah menggerogoti hatiku dengan sisi gelapnya. Dan. Aku tidak akan berhenti. Sampai semua terbalaskan.


   Aku tertawa lantang. Sarat akan kepedihan, kesedihan, ketidakrelaan, kesenggsaraan. Nada-nada yang kutuangkan dalam tawaku hanya terdengar dengan nada yang mengerikan. Dipenuhi aura gelap. Sangat gelap. Ku tatap Boora dengan senyuman sinis yang tersungging dibibirku.


   “Aku tidak akan berhenti.” Kekehanku terdengar lagi.


   “Anda sudah berubah Zam la...”


   “Aku berubah karena ingin menghukum mereka yang telah merenggut semua yang aku punya! Dari orang tua ku, keluargaku, dan...” aku memberi jeda sebentar, lalu membuang nafas,   “... Jack! Bagaimana aku bisa duduk manis tanpa beban??” jelasku dengan sarat akan kefrustasian.


   “Tapi, Zam Lad...”


   “Panggil aku Rara! Bisakah?” Aku memotong sanggahannya. Cukup sulit bagiku mendengar sanggahan dalam bentuk apapun itu. Aku tidak ingin mendengarnya.


   “Baiklah... Rara, aku takut bauku tercium oleh hidung mereka.”


   “Tenang, aku sudah menghilangkan baumu dengan sihirku tanpa sepengetahuanmu.” Jelasku dengan tatapan -Apa kah kamu tidak menyadarinya? Dasar benar-benar bodoh-.


   “Oh... Sukurlah.” Boo Ra melepas nafas lega.


   “Mereka harus membayarnya! HARUS!” Desisku dengan penuh ambisi.


***


   Terlihat seorang lelak bertubuh ramping sedang menyandarkan badan didepan mobilnya. Rambut yang biasanya ku lihat terponi like harajuku style itu, sekarang terlihat sangat rapih dengan model cepak yang bertengger tampan dikepalanya. Well, aku saja tidak bisa mengedip. Dia bertambah cantik dan tampan seperti biasanya. Dia benar-benar seperti berlian berkilauan di malam hari. Kulit wajahnya bertambah mengkilat diterpa sinar rembulan. Seakan rembulan mengiyakan bahwa dia salah satu mahluk paling menawan di dunia ini. Mengingat mahluk menjijikkan seperti dirinya memang selalu terlihat memikat. Benar-benar terhilat aura pemikat yang tidak pernah tergoyahkan.


   Sial!


   Aku tidak akan mudah terpesona oleh mahluk menjijikan sepertimu!


   “Apakah tidak bosan melihat wajah tampanku ini my angel?” Ejeknya.


    “Ah... aku ketahuan,” aku pura-pura merasa gagal lalu mengerucutkan bibirku.


   “Kamu tambah cantik dengan gaun ungu muda itu, serasi sekali dengan kulit indahmu. Membuat setiap lelaki yang berada di dekatmu pasti akan menggenggam tanganmu dengan erat. Apalagi mengingat kadar kecantikanmu yang, ehem... sangat cantik. Aku yakin setiap pria yang melirikmu tidak akan berpaling darimu.” Pujinya tulus disertai dengan rayuannya.


   Aku tahu aku cantik! Aku memekik dalam hati.


   “Terima kasih, Jaejoong juga sangat tampan dengan tuxedo hitam dan dasi berwana merah darah itu. Seakan menggoda setiap wanita untuk merengkuhmu.” Kataku dengan jujur. Tapi, mengingat warna merah darah yang aku ucapkan barusan sukses membuatku sedikit mual.


   “Oh god, Rara pandai menggoda ya?” Jaejoong menaikan halis sebelah kirinya.


   “Siap?” tanyanya.


    “Siap untuk apa?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.


   “First date?”


   Selanjutnya Jaejoong membungkukkan badannya sambil mengeluarkan tangan kananku. Berharap aku menangkup uluran tangannya. Last date of course! Tambahku berbicara dalam hati. Ku berikan senyumanku, lalu menerima uluran tangannya itu. Jaejoong menggenggam erat tanganku, seakan menyatakan kepemilikannya terhadapku. Aku tahu dia telah masuk ke dalam perangkapku. Perlahan kami jalan memasuki gedung Kyunghee University ini dengan langkah kaki yang selaras.


   “Lihat langkah kaki kita saja sehati.” Jaejoongpun tersenyum setelah mengatakannya.


   “Hahaha... sepertinya,” sahutku lembut menyembunyikan rasa malas yang menghampiriku.


   Well, sebenarnya bukan sangat malas. Mencium baunya yang menyeruak masuk ke rongga hidungku seakan membuatku mencium bau yang paling menjijikan yang aku hiarup. Bahkan makanan gosong saja lebih mendingan.


   “Tutup matamu.” Pinta Jaejoong ke arahku.


   Memilih menurutinya, aku langsung pejamkan kedua mataku sambil mengikuti langkahnya. Terdengar suara ruangan terbuka, dan aroma bunga mawar menyeruak di ruangan ini. Aku memberhentikan langkahku. Lalu melepaskan genggamannya.


  “Boleh ku buka Jaejoong?” pintaku sambil meminta izin kepadanya.


   “As your wish my angel.”


   My angel?


   Aku bukan malaikat Vampire bodoh!


   Aku melayangkan umpatan-umpatan dalam benakku. Vampire satu ini benar-benar... penggoda dan pencetus nama-nama panggilan yang aneh. Sejak kapan aku ini ‘my angel’ baginya? Sungguh membayangkannya saja sudah malas. Apalagi itu jadi kenyataan.


   Perlahan ku buka mataku dengan perlahan. Aku melotot ke arah pandangan yang tersuguh didepanku. Dua buah kursi berwarna merah sedang berdiam diri seakan memintaku untuk duduk manis di atasnya. Di tambah dengan meja bundar bertaplak pink disertai dengan satu lilin berbentuk yang nyala diatasnya. Ruang yang tadinya perpustakaan itu di sulap dengan cepat menjadi terlihat seperti ‘private room’ yang sarat akan nuansa romantic dan sweet.


Jikalau aku ini jatuh cinta kepada Jaejoong, aku pasti berteriak histeris seperti...


‘Oh god jaejoong you are really so sweet’ 


   Or


  ‘I cant explain this...’


  Or

__ADS_1


  ‘You are so romantic jajeoong.’


   Dan ungkapan-ungkapan yang sangat rendahan yang di ungkapkan oleh perempuan-perempuan yang sedang mengalami insiden ‘jatuh cinta’ yang mengharapkan ini semuanya. Sayangnya aku tidak. Mengingat insiden ‘Balas dendam’ yang lebih terlihat dengan ‘Dendam kesumat’ yang aku layangkan ke makhluk-makhluk menjijikkan sepertinya.


   Dengan berpura-pura kaget ku takupkan kesepuluh jariku kemulutku. Sambil menatap Jaejoong lalu beralih lagi ke arah meja romantis.


   “Jae... ini...” Ucapku dengan nada terbata.


   Jaejoong tersenyum lalu berkata “Ini buat kamu my angel.”


   Panggillan itu lagi!


   Uggghhh.. Menjijikkan!


   “Oh, te... terima kasih Jaejoong.”


   Aku pura-pura gugup sambil memandangnya. Dengan senyuman puas di wajahnya, Jaejoong merasa ia telah berhasil meluluhkan hatiku, apalagi luapan perasaan bahagianya yang membuat aura di sekitar tubuhnya berwarna merah muda. Terlebiuh aku bisa merasakannya, karena aku peka terhadap perasaan seseorang dan bisa melihat aura. Oh, ralah makhluk ini bukan orang, tetapi Vampire.


   Sebentar lagi....


   Tinggal menunggu waktu yang pas...


   “Ingin dansa denganku?” Ajaknya.


   Aku menaikkan alis kananku, mengupayakan bahwa ekpresi yang aku keluarkan adalah ekspresi tidak yakin.


   “Aku?”


   Jaejoong mengganguk “Siapa lagi yang ada di ruangan ini my angel?” sambil bertanya ia berusha mendekatiku.


   “Aku tidak bisa.” Tolakku dengan halus, sebenarnya aku sangat takut bersentuhan dengan mahluk menjijikan seperti dirinya.


   “Aku yang akan mengajarimu.” Ia tersenyum sambil memintaku untuk mempercayainya.


   Aku menghela nafas dengan sebal. “Baiklah.”


   “Mari.”


   Jaejoong memberikan tangan kanannya dengan gerakan gentle seraya membungkukkan badannya. Dengan cepat aku terima uluran tangannya.


   Aku tersenyum saat menata mata hitam pekatnya yang menatapku dengan penuh kagum dan tatapan memuja. “Tanganmu selalu dingin?” tanyaku dengan polos, mengabaikan pada kenyataannya aku tahu makhluk seperti apa dia ini.


   Ck! dasar vampire...


   Jaejoong terkikik geli atas pertanyaanku “Aku selalu kedinginan apabila dekat denganmu my angel.” Kilahnya dengan percaya diri, tanpa memperdulikan dengusan di hidungku.


   “Oh begitu.”


   “Kamu wangi my angel.”


   “Haruskah aku menjawabnya?”


   “Hahaha... tidak perlu, aku hanya memujimu.”


   “Baiklah, pujianmu aku terima.” Ujarku dengan malas.


   Kami menggerakkan kaki dengan langkah-langkah dasar dansa. Meskipun aku mahir dalam dansa. Mengapa aku harus berpura-pura tidak bisa dansa? Mengingat aku adalah seorang penguasa Craish. Gaya dansaku sudah pasti sangat elegant dan berbeda dengan bangsa manusia pada umunya. Jadi aku tidak mungkin menggali lubang kuburanku sendiri kan? Membongkar dengan cara terang-terangan di depannya. Lebih baik seperti orang bodoh saja.


   “Dansa tanpa music?” tanyaku pura-pura merajuk.


   Jaejoong menggeleng pelan dengan gaya yang berkelas. “Tidak juga.” Katanya.


   “Lantas?”


   “Dansa dengan desiran angin dan suasana heningnya malam ini sebagai lagunya.”


   See? Mahluk-mahluk bangsa Irish benar-benar pandai memikat hati setiap perempuan.


   Pantas saja... para leluhurku begitu nafsu membumi hanguskan mereka semua! Ck! ternyata... mungkin inilah salah satu alasannya.


   Dengan sengaja aku selalu menginjak kakinya. Jeajoong hanya tersenyum simpul seperti mengatakan ‘kau melakukannya lagi?’ Entah sudah yang keberapa kalinya. Aku tidak peduli.   Apabila dia menatapku, ku jawab dengan senyum polosku yang seakan berkata ‘Maaf, itu tidak sengaja’.


   Langkah kami pun berhenti, dsiran angin menyibakkan rambutku. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku melihatnya. Dia ingin menciumku dan berharap aku membalasnya. Percaya diri sekali dia.


   “Mau apa?” Nada dingin ku lontarkan begitu saja ke arahnya.


   Jaejoongpun gelagapan, dia tidak mundur atau melanjutkan keinginannya. Kedua pipinya bahkan merona saat melihat tatapan menusuk dari mata hitamku.


   “Bolehkah?” Izinnya dengan suara serak.


   “Boleh apa?” Aku tidak menjawab permintaan izinnya malah bertanya balik kearahnya.


   “Um... men..”


   “Menciumku?” Potongku.


   “Eh... I... iya...”


   Aku tersenyum dengan penuh kemenangan. Mengingat kemampuan kepekaan Vampire atau bangsa Irish akan sihir tidak fokus apabila sedang diatas hasrat yang menggebu.


   “IN YOUR DREAM.” Aku berteriak. Lalu membaca mantera penyegel.


   “Tersegellah wahai kau jiwa yang terkutuk."


   Dan dalam sekejap Jaejoong telah tersegel dalam liontinku yang berbentuk bunga tulip.


   “Apa ini? Rara... aku dimana?” Jaejoong mengedarkannya kekanan dan kekiri melihat dimana dia berada.


   “Kau aku segel. I got you, Jaejoong.” Aku menjawab pertanyaannya dengan seringaian yang pasti tidak bisa Jaejoong lihat.


“Seharusnya aku tahu, bahwa kau bukan manusia biasa! Sialan! Sialan kau dasar perempuan penyihir! Sialan!” Jaejoong menggedor-ngedor di dalam liontin kalungku.


   Aku terkekeh geli dengan kepintarannya yang begitu lamban. “Good boy, aku memang penyihir.” Aku menyeringai penuh kepuasan saat menatap liontinku sedang beradu pandang dengannya sedangkan Jaejoong hanya menatap sendu ke arahku.


   “K-kau... menyegelku? Salahku apa Rara?” Tanyanya dengan nada yang sangat sedih.


   Sesedih itukah?


   “Hahaha... Vampire busuk. Matilah kamu disana.” Ejekku.


   Dia menggedor-gedor dinding liontinku dengan tenaganya. “Sial. Kamu benar-benar mempermainkanku.” Sungut dia dengan nada frustasi yang tidak terkira.


   “Kalau iya kenapa?” Ejekku sambil menatapnya.


   “Kamu tidak mempunyai rasa kepadaku?”


   Jaejoong berkata dengan nada yang sangat datar namun raut penasarannya tercetak jelas di wajah cantiknya. Ada perasaan bersalah saat aku menatap mata hitamnya. Aku dapat merasakan Jaejoong benar-benar tulus kepadaku. Aku belum pernah dicintai sepenuh hati seperti ini sebelumnya. Bahkan Jack hanya mendekatiku karena ia adalah pembimbingku, tidak lebih. Satu pemikiran membuatku tersentak. Aku telah dicintai, diinginkan bahkan aku dibiarkan menjadi satu-satunya bagi Jaejoong. Kataku dalam hati dengan wajah keruh.


   Aku menangis tatkala melihat mata hitam Jaejoong yang tengah menatapku. Sedetik kemudian mata hitam itu melebar saat melihat tangisanku.


   "Jangan menangis, my angel." hibur Jaejoong dengan lembut.


    Aku sempat merasa tersentuh oleh kata-katanya. Tidak! Aku tidak boleh melupakan apa yang bangsanya lakukan pada Jack. Tidak boleh! Aku mengusap air mataku dengan kedua telapak tanganku.


   “Rasa apa?” tanyaku pura-pura tidak mengerti sambil memasang wajah sepolos mungkin.


   “Suka atau cinta.”


   “Tidak,” aku menjawab cepat


   “Hahahah... sialan bodohnya aku.”


   Kedua telingaku dapat memastikan bahwa Jaejoong telah sakit hati atas tindakannya. Apalagi suara tawanya sangat hambar, seakan tanpa kehidupan ditelingaku.


   “Ya, kamu dan bangsa-bangsa Irish itu adalah bangsa yang paling bodoh yang pernah aku temui.”


   “Bukan... Kami bangsa paling jenius.”


   “Bukan Jenius! Licik lebih tepat menurutku.” Sanggahku.


   “Yang bodoh hanya aku.”


   Aku mengangguk setuju. “Ya aku tahu itu.”


   “Aku bodoh karena...” Suaranya terdengat tercekat seakan habis dimakan oleh jeda waktu.


   “Karena apa ?” aku menyeringai melihatnya.


    “Karena jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu.”


    Untuk kesekian kalinya aku hanya menutup mata dan telingaku tidak akan pernah terpengaruh oleh ucapan-ucapan penuh cinta yang bangsa Irish. Yang harus aku lakukan hanya satu. Yaitu, membalas dendam atas kematian Jack pada bangsa Irish. Aku tidak boleh lemah. Apalagi aku adalah seorang Onix sekarang.


   "Terima kasih, aku tersanjung." Aku memberikan senyum kecilku.


   "Aku tahu kamu penyihir saat aku berada didekatmu. Namun, pesonamu benar-benar memabukkan siapa saja yang melihat ke arahmu Rara... aku harap dengan berkorbannya aku. Kamu tidak akan membuat tumbal lagi ke arah siapaun itu yang notabenenya adalah bangsa kami bangsa Irish." Jaejoong berkata dengan panjang lebar sambil menangkupkan kedua tangannya didalam liontin.


   "Aku harus menyelesaikan semuanya!" desisku dengan nada berbahaya lalu menatap tajam Jaejoong yang terlihat membeku.

__ADS_1


"Nyawa dibayar nyawa!" ucapku lalu menyeringai.


__ADS_2