Vampir dan Penyihir

Vampir dan Penyihir
Irish Planet 3


__ADS_3

Di dalam kamar yang bernuansa merah muda itu, Kyungjae lagi-lagi menatap sendu pada Rara yang kini tengah tak sadarkan diri.


Satu tarikan nafas, gaun yang membungkus tubuh Rara langsung hilang begitu saja. Yang tersisa hanyalah dalaman yang begitu tipis.


Di baca olehnya sebuah mantera kuno para Raja terdahulu. Setitik demi setitik berkumpulah sebuah energi lembut yang membuat pendar-pendar hitam bercampur merah menyala saling mencambuk satu persatu. Sampai dimana, pendar-pendar itu masuk ke dalam tubuh Rara begitu saja.


Dahi Kyungjae berkerut di buatnya. "Apa-apaan? Manteraku masuk begitu saja?" tanya Kyungjae keheranan.


Apakah memangĀ  seperti ini...? Pikirnya di dalam hati.


Sekitar sepuluh detik ia masih bercokol dengan pemikirannya. Tiba-tiba tubuh Rara mengejang dan berubah menjadi berkilat merah, lalu rambutnya berubah menjadi warna biru langit.


Benar dugaanku, ia adalah gadis kecilku! Pekik Kyungjae kegirangan di hatinya sambil mengucap kata syukur berkali-kali.


Di Bangsa Irish, ada tradisi yang secara turun temurun di gunakan. Yakni, jika seorang anak di pertanyakan siapa ayahnya, maka sang ayah harus memantrainya dengan mantera kuno. Jika tubuhnya berubah menjadi warna merah, maka ia adalah anak kandungnya. Jika tidak berubah maka ia bukan anak kandungnya. Bisa di bilang, sang ibu telah berselingkuh dari sang ayah.


Kembali ke Kyungjae, ia tengah senyum lebar dan mengembalikan gaun yang tadi ia hilangkan pada Rara. Ia yakin betul, bahwa Istrinya memberikan sedikit kekuatan agungnya sampai rambut yang hitam legam itu berubah menjadi warna biru langit. Warna rambut yang melambangkan garis darah sang penyihir agung.


Sky Pledeton. Itulah nama sang penyihir di masa lalu yang selalu membuat Kyungjae kesal bukan kepalang. Sky selalu aja merecoki kemanapun ia pergi. Pernah suatu waktu, Kyungjae sedang duduk sambil terpekur meratapi langit Planet Irish yang begitu memilukan. Tiada keindahan disana, yang ada abu-abu gelap dengan guntur berwarna merah silih bersahutan.


Disana, Sky. Berdiri dengan angkuhnya, rambut birunya terlihat mencolok bagaikan satu warna baru diantara warna yang mendominan Irish. Ia kemudian menjentikkan jarinya. Membuat Kyungjae di dera rasa panik karena melihat tanah di bawahnya bergetar. Detik selanjutnya, mulut Kyungjae hanya bisa menganga saat melihat hamparan bunga beraneka warna tersuguh indah di depannya.


"Indah..." puji Kyungjae tulus.


Sky menaikan dagunya ke atas, ekspresi angkuh. "Apa sih yang tidak bisa aku lakukan?" selorohnya sambil mendekati Kyungjae. "Kau sang pangeran Vampire itu kan?" tanyanya dengan pandangan menilai.


Kyungjae mendelik, "Bukan urusan penyihir mengetahui silsilah kaumku!"


Sky tertawa riang. "Wah, angkuh seperti yang di beritakan ya." ia menghapus air mata yang berada di sekitar matanya, "Apakah kau tidak tahu siapa aku?"


"Tidak."


Jawaban singkat itu membuat Sky langsung memekik tak terima.


"Come on, aku ini yang telah mengalahkan seluruh pendahulumu termasuk Ayahmu. Tidakkah kau tahu aku seorang bintang?" jelasnya dengan nada menghakimi.


Kyungjae mengangguk, "Pledeton ya?" tanyanya dengan nada tak suka. "Untuk apa kau menginjakan kakimu lagi disini? Mau pamer lagi hah?" teriak Kyungjae kemudian. Sebagai seorang Pangeran ia tahu betul sepak terjang dari penyihir agung itu.


Sky Pledeton, sang penyihir agung dengan kejeniusannya, ia adalah seorang legenda. Bangsa Irish sangat membencinya dan bersumpah akan mengenyahkannya jika ia berani membuat suatu keributan lagi. Karena yang terakhir, ia telah membuat seperempat planet Irish menghilang.


Sky mengibas tangannya di udara. Ia tersenyum senang.


"Aku tak mau menambah daftar kekalahan kaum kalian lagi hahaha..." Sky tertawa riang.


Kyungjae mendengus kasar. "Kau benar-benar cari mati ya!"


"Tidak kok. Aku tidak mau mati." Sky balas teriak, "Umurmu masih seumur jagung, 1000 tahun? Kau bisa apa sih?" ejeknya enteng.


"Kau mengibarkan bendera perang antar Planet hah? Lagipula umurkan bukan segitu! Sudah salah berisik pula!" teriak Kyungjae kewarasannya hampir hilang.


Kali ini Sky terdiam. Ia sengaja memandang wajah belia yang begitu tampan itu dengan seksama. Mengapa si bodoh Goldian malah melahirkan putra yang macam begini? Pikirnya.

__ADS_1


"Tenang, bodoh. Aku kesini hanya mengatakan bahwa keturunanku yang akan melawanmu. Aku sudah bosan bermain-main. Aku ingin segera mempunyai keturunan. Karena kematian itu datang tanpa permisi bukan?" ujarnya dengan wajah berpikir.


Kyungjae terpekur, "Kau? Bercerita kepadaku? Hal-hal yang bukan urusanku? Omong kosong macam apa ini?" desisnya.


"Aduh, tenyata kau memang benar-benar bodoh ya pangeran." desah Sky pelan, "Aku begini karena sudah menganggapmu teman. Karena hanya kau yang memuji sihirku disini."


"Maksudmu?"


"Hamparan bunga itu." ada jeda sebentar, "Aku pernah membuatnya di masa lalu akan tetapi kaummu malah menembakan tombak ke arahku. Padahal maksudku hanya untuk mempercantik planet malang milik kalian ini."


"Benarkah begitu?" sangsi rasanya mendengar biang keladi dari semua kekacauan berkata semanis itu.


Sky mendelik keki, "kau pikir aku ini tukang bohong hah? Ah sudahlah. Silahkan tunggu waktu sampai kau nanti bertarung dengan keturunanku. Sampai jumpa."


Ditempatnya, Kyungjae hanya menatap kepergian Sky dengan mendengus lembut.


"Jadi, dia kesini hanya untuk... membuat planet kami agar lebih indah? Membuang tenaga cuma-cuma, begitu? Dia kan menyeberang portal, perlu tenaga dan kekuatan tentunya." geleng Kyungjae tak percaya, "Siapa sih yang bodoh sebenarnya? Dia atau kaumku?"


Begitulah pertemuan pertama antara Sky Pledeton dan Alexandrite Kyungjae.


Mengingat keping lucu yang membawa senyum tersendiri baginya, rasanya seperti baru saja kemarin terjadi.


Apalagi kenangan pahit bercampur pedih serta sedikit manis tentang istrinya selalu berputar sendiri di kepalanya. Saat ini ia melihat kemiripan yang begitu kental antara Rara dan Moon.


Rara mewarisi rambut hitam legam dan kulit putih pualam darinya, sementara wajah yang bak boneka itu bagai duplikat Istrinya.


"Hey gadis kecilku, bagaimana bisa kau bertahan sejauh ini karena berjauhan denganku?" alis Kyungjae terangkat, dadanya berdegup kencang. Ia sangat ingin memeluk erat gadis kecilnya lalu menciumi puncak kepalanya berulang-ulang kali.


Bagi Vampire campuran, susah kemungkinan untuk hidup jika berjauhan dengan orangtuanya. Apalagi Rara bisa hidup dengan sangat baik tanpanya ataupun Moon.


Ini adalah kedua kalinya Sang Raja Irish menangis, ia bahkan tak peduli jika nanti ada yang mendengarnya bertingkah konyol seperti ini.


"Glessaggavaa..." bisiknya lembut membuat Rara perlahan bergerak dan mengambil posisi siaga begitu ia melihat pria menyebalkan yang berhasil-entah keberuntungan semata- karena membuatnya tertidur begitu saja.


Senyum merekah Kyungjae membuat Rara mengernyit, sebal. Dia sinting huh? Maki Rara dalam hatinya dua detik kemudian.


"Tidurmu nyenyak gadisku?" ucapnya lembut seraya menggerakan tangannya untuk mengusap rambut Rara.


Akan tetapi sang pemilik rambut hitam legam itu langsung menolaknya mentah-mentah. Tatapannya menghardik seolah Kyungjae mempunyai virus mematikan yang bisa membuatnya meregang nyawa meski hanya seujung jari menyentuhnya.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu sialan!"


Kyungjae mendesah kecewa. Sebagai seorang Raja yang notabenenya adalah seorang Ayah kandung tentu sangat menyakitkan di tolak oleh darah dagingnya sendiri.


"Tak apa. Kau boleh bersikap semaumu, karena itu memang salahku hingga menyebabkan kau bersikap seperti tadi. Jujur saja, sangat menyakitkan untukku. Akan tetapi sekali lagi aku tekankan, aku memaklumimu." Kyungjae menatap Rara dengan teduh. Hati Rara merasa diremas kuat oleh tangan tak kasat mata, membuat kendali pikirannya sesaat menjadi melunak tanpa ia sadari.


Sadar! Dia sama dengan si Cho Kyuhyun brengsek itu! Alarmnya kembali menyadarkan.


Risih adalah satu hal yang paling tak disukai oleh Rara, dan sekarang baru kali ini ada yang bisa membuatnya merasa seperti itu. Dari bajunya, Rara bisa menilai bahwa pria di hadapannya ini bukan Vampire sembarangan.


"Memangnya apa kesalahanmu? Sehingga kau sebegitu menyesalnya dan mentolelir sikapku? Aku benar-benar tak mengerti." suara sarat akan sarkasme Rara lontarkan begitu saja. Ia tak peduli jika nanti dirinya akan di hukum pancung atau apalah itu di Planet terkutuk ini. Rara hanya ingin pergi secepatnya dari planet ini.

__ADS_1


Kedua mata merah Kyungjae terpejam. Berusaha menelan semua kata-kata manis yang berada di kerongkongannya. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin para penyihir itu tak mengajarkan anak semata wayangnya sopan santun? Bukannya kesopanan adalah segalanya bagi mereka? Saat perang Hexvo pun, mereka meminta izin saat menyerang kemari.


Tapi, sekian ratus tahun berlalu, rupanya ada yang berubah. Para penyihir yang ia kenal cerdik dan sopan sekarang berubah menjadi tukang menyalak dan membentak. Sungguh ironis sekali.


"Kau adalah seseorang yang sangat aku cintai," ujar Kyungjae dengan lembut sampai membuat Rara merinding di buatnya.


Oh sialan! Dia jatuh cinta kepadaku begitu? Maki Rara dalam hatinya sehingga ia mendengus kasar.


"Sumpah ya, demi kedua orangtuaku beserta seluruh keluargaku yang telah meninggal. Aku tak pernah bertemu denganmu, apalagi membuatmu sampai menyatakan perasaanmu kepadaku, bahwa kau mencintaiku. Sungguh, aku geli mendengarnya. Karena sudah ada tiga Vampire termasuk dirimu yang mengatakannya. Sesial apa aku? Mendapatkan pengakuan cinta dari kaum kalian hah?"


Ada keterkejutan di kedua mata merah Kyungjae. Hatinya terasa mencelos. Ia memilih mengabaikan protes anaknya.


"Kedua orangtuamu meninggal?" suara yang terhempas angin itu membuat Rara merasa kasihan. Namun, sedetik kemudian ia menggeleng dan mendengus lagi.


"Maaf, bukan bermaksud curhat. Anggap saja kau tak mendengarnya. Itu adalah hal paling aku jaga, karena aku tak ingin berbagi kesedihan dengan makhluk apapun itu jenisnya, apalagi makhluk seperti kaummu." tandasnya sambil berdiri dan duduk di tepi jendela.


Kyungjae tersenyum kecil. Bahkan saat marah pun mirip, di tambah dengan tingkahnya yang langsung duduk di tepi jendela. Nafas Kyungjae terasa berat, kali ini ia tak kuasa menahan sesak karena merindukan Istrinya.


"Apa kau percaya? Bahwa aku benar-benar mencintaimu?" wajah kaku Kyungjae membuat Rara menatapnya horor.


Dia sudah sinting ya? Menyatakan cinta padaku untuk yang kedua kalinya dengan mimik mengerikan seperti itu? Secara impulsif tubuh Rara bergidik karena merasa ngeri.


***


Panas yang meletup di hatinya membuat Kyuhyun langsung membuka pintu kamar Rara dan membuat Kyungjae mengerjap kaget.


"Ya Tuhan, Tuan Hematile! Ada apa dengan dirimu? Kemana kesopananmu itu hah?" Kyungjae mengelus dadanya dengan lembut.


Kyuhyun bergeming, ia memilih bungkam lalu menatap Rara yang di balas dengan buangan muka oleh perempuan itu.


"Apa tubuhmu tak di sentuh oleh Rajaku?" pertanyaan mutakhir itu membuat Kyungjae yang mendengarnya langsung mengerjap beberapa kali sampai ia menepuk dahinya sendiri.


"Sekarang aku tahu. Mengapa kau selalu bersikap aneh Tuan Hematile. Ternyata kau menaruh hati pada gadisku eh?" ucapnya polos.


Wajah Kyuhyun yang seputih salju itu akhirnya berubah menjadi semerah delima. Ia tak sadar sudah bersikap di luar kendalinya.


Bagaimana ini? Kyuhyun terdiam di tempatnya, tetap pada posisinya, memandang Rara dengan wajah mengeras namun memerah.


Kedua kupingnya mendadak gatal, Rara langsung menatap Kyungjae dengan tatapan membunuh.


"Hey kau Raja Irish!" Panggilnya dengan nada tinggi, "Uhm... Ya?" sahut Kyungjae, "Siapa bilang aku ini gadismu hah? Kau minta ku sihir jadi amuba hah?" teriaknya dengan nada naik satu oktaf.


Belum sempat menjawab pertanyaan Rara, Kyungjae semakin tidak mengira bahwa dirinya akan melihat Rara mendekati Kyuhyun.


"Dan kau!" desis Rara, "Palingkan wajah terkutukmu dari diriku. Aku tak sudi kau memandangku dengan tatapan sialanmu itu!" umpat Rara kuat-kuat sambil menghentakkan tangannya sehingga membuat Kyuhyun terpelanting ke dinding.


Dinding itu menganga karenanya.


Luar biasa? Velir-ku kalah oleh gadis manisku hanya dengan sebuah hentakan? Ucap Kyungjae takjub di dalam hatinya. Kedua matanya tak henti mengerjap dibuatnya.


"Dengar! Aku tidak peduli dengan 10% kekuatanku yang bisa kugunakan disini, atau bahkan hanya 0,1%. Jika bisa membuatmu menutup mulut lancangmu itu, aku takkan segan untuk melukaimu." kali ini ucapannya di tujukan pada Kyungjae.

__ADS_1


"Kau tidak bisa melukaiku sayang, itu tidak mungkin terjadi. Karena kau adalah..." anakku yang sangat aku cintai.


***


__ADS_2