Vampir dan Penyihir

Vampir dan Penyihir
Minumlah darahku


__ADS_3

"Apa maksudmu, aekelma?" Sang Raja Vampire bingung mendengar penuturan anak semata wayangnya. Rara hanya tersenyum, "Tadi aku bertemu dengan Ibu." tanggapnya, "Ibu bilang, aku harus menyelamatkan seseorang yang telah kusakiti. Tapi, aku masih bingung atas semuanya. Haruskah aku menyelamatkannya?"


"Hah?" Tanpa sadar Kyuhyun menyuarakan keheranannya. "Setahuku, disini tak ada yang kau sakiti Princess."


"Benar! Tidak ada yang kau sakiti! Sekarang, mari kita istirahat." Kyungjae langsung merampas Rara dari Kyuhyun, matanya bak mata elang buas dan langsung berteleportasi.


Bagi Kyungjae, Rara adalah prioritasnya.


Masa bodoh dengan Felir kesayangannya.


Dasar Ayah posesif... Kyuhyun tersenyum kecil lalu memerintahkan semua Vampire yang berada di belakangnya untuk membubarkan diri. Suara protes terdengar bervariasi, namun Kyuhyun mengabaikannya. Saat ini, kepulihan Rara adalah yang utama baginya.


Tidak ada hal yang lain yang lebih penting selain itu.


"Raja kita pasti cemberut saat mengetahui rakyat-rakyatnya nakal seperti kalian." ia bersidekap, "Kalian seharusnya menyiapkan hadiah yang banyak untuk Princess, bukannya berprotes ini itu! Karena dirinya, sekarang planet Irish menjadi utuh seperti sedia kala!"


Salah satu Vampire menyahuti, "Benar apa yang dikatakan oleh Velir. Mari kita siapkan hadiah yang banyak untuk Princess. Karena, kita sekarang tahu. Princess tidak akan membinasakan kita!"


"Princessa ada di pihak kita!!!"


"Ya! Mari kita bersiap-siap! Hadiah yang indah dan cantik sangat cocok untuk Princess."


"Hidup Princess!"


Kyuhyun melihat kepergian rakyat Irish dengan perasaan yang acak. Perpaduan unik antara madu dan getah, manis namun menyakitkan. Karena, entah bagaimana caranya berita tentang Rara yang akan membinasakan seluruh Vampire itu bocor. Kyuhyun tengah memikirkan siapa dalang di baliknya.


Tubuh tinggi kokohnya terdiam begitu lama, akhirnya ia menoleh ke belakang dan melihat hamparan hijau luas yang di hiasi bunga-bunga cantik di atasnya dengan wajah muram. Rara hampir mati membuat Irish menjadi utuh seperti semula, dan Vampire sialan yang-entah-siapa itu sangat lancang sekali! Seharusnya hanya para anggota kerajaanlah yang tahu perihal ini! Perasaan Kyuhyun menjadi was-was, ia takut Rara akan mendapatkan kendala suatu hari nanti.


"Ibu..." Kyuhyun bergumam pelan, Izinkan aku untuk memilih takdirku mencintai, menyayangi dan melindungi Rara Bu... Aku sangat menginginkannya... Mata Kyuhyun terpejam seiring doa terpanjat pada mendiang Ibunya.


Kilat-kilat membenturkan diri mereka di langit abu, menandakan eksistensi planet Irish yang semakin menyeramkan. Meskipun Irish adalah salah satu dari 1.890 planet besar yang terkutuk dan tak layak huni. Entah apa yang terjadi di masa lalu, Kyuhyun berharap, Irish akan selalu ada hingga triliunan tahun ke depan.


Serta dalam hati kecilnya, Kyuhyun berharap bahwa ia bisa memiliki Rara seutuhnya.


Seulas senyum tipis membingkai indah di wajahnya.


*


*


*


Kepala Kyungjae berdenyut nyeri, ia tak sanggup berkata apapun lagi. Di sekitarnya, para tetua menatap tajam Rara. Mereka semua tahu betul bahwa Rara telah melakukan suatu kesalahan yang fatal.


Menyegel salah satu dari ketiga Velir sang Raja? Yang benar saja!


"Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?" Brendeel menggeleng, "Maksudku adalah, bagaimana anda seleluasa itu melakukannya? Apakah kami para Vampire disini melukai anda? Ah... apakah ada Vampire yang melukai anda saat anda berada di Bumi?"

__ADS_1


Rara menggeleng pelan, "Kalian tak pernah melukaiku. Kalian semua makhluk yang baik menurutku. Maafkan kesalahanku, karena suatu peristiwa aku jadi membenci kalian semua tanpa terkecuali. Tanpa sadar, ternyata aku adalah separuh dari Vampire. Aku sungguh menyesal, telah melakukan hal ini."


Rara berdiri, ia lalu melepaskan kalungnya di atas meja dan menunjuk ke arah liontinnya, "Disini ada Jaejoong." Para tetua Vampire langsung menatap tajam padanya. Rara mengabaikannya, ia bimbang haruskah ia melakukan apa yang Ibunya suruh?


"Kupanggil kau, Esthonp. Duhai kau sang pembuka segel."


Suara berderak muncul dari langit kamar Rara, awan hitam berputar-putar di atas mereka semua lalu seekor naga berwarna hitam legam dengan mata ungu menyala turun dengan wajah malas. Para tetua Vampire berikut Kyungjae melongo takjub di buatnya.


"Demi Moonlight Pledeton Alexandrite!" Para tetua langsung duduk bersimpuh sambil menatap sang naga.


"Bagaimana kau bisa mempunyai seekor naga?" desah Kyungjae seraya menampilkan senyum cerah.


Pasalnya, naga itu adalah hewan kuno yang tidak pernah mau berkompromi dengan makhluk dari planet manapun terkecuali makhluk itu punya sesuatu yang istimewa.


Ya, sang naga adalah hewan pemilih yang cerdik.


Kau memanggilku lagi, bocah? Kenakalan macam apalagi yang telah kau perbuat? Esthonp membentangkan sayap-sayapnya hingga membuat para tetua Vampire kewalahan karena anginnya.


"Ya, kau benar. Aku memang selalu berbuat nakal." Ujar Rara tertawa kecil, "Tolong bukakan segel ini, nanti aku janji akan menemuimu di planetmu dan bermain dengan para anak-anakmu."


Awas kau kalau bohong! Anak-anakku sudah rewel ingin bertemu denganmu. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang mogok bicara padaku. Sungguh mengesalkan! Esthonp mendelik, ia berpura-pura marah pada gadis cantik di bawahnya.


"Ya, ya, ya. Sekarang bantu aku ya." Esthonp mendengus, "Kau kan tahu betul bahwa aku belum pernah ingkar janji," Rara tersenyum lebar, "pegang kata-kataku. Aku pasti akan memenuhi janjiku kali ini."


Kalau kau berbohong, aku tidak akan segan-segan mengabaikan dirimu jika kau memanggilku lagi. Ancam Esthonp tak main-main.


Sendirian.


Di dalam kehampaan.


Jaejoong sudah menahan segala hasrat yang menyergapnya. Ia bahkan bertahan hidup dengan menggigit dirinya sendiri dan menghisap darahnya. Namun, ia tahu bahwa ia sudah mencapai batasnya, sehingga ia tidak bisa terus-terusan makan dari tubuhnya sendiri.


Jujur, ia dahulu sangat membenci para Vampire siapapun itu yang menghisap darahnya sendiri demi bertahan hidup. Sepertinya, kali ini Jaejoong menambahkan dirinya sendiri ke dalam daftar terbaru dari para Vampire yang ia benci.


Sungguh ironis sekali.


Rara... Jaejoong memanggil pujaan hatinya dengan suara seperti tercekik. Mengapa kau setega itu kepadaku? Mengapa kau tak memberikan kesempatan kepadaku agar menunjukan rasa cintaku kepadamu terlebih dahulu? ******* Jaejoong terdengar berat, kali ini pun isak tangis tak bisa ia hentikan.


Rasa kecewa bercampur rindu tengah mengisi hatinya saat ini.


"Apakah kau telah menuntaskan dendammu itu pada seluruh bangsaku?"


Hening.


Tidak ada yang menjawab.


Jaejoong pun tahu, bahwa hanya ia sendirian disini.

__ADS_1


Tak ada siapapun yang menemani.


"Kau memang sangat cerdas, Rara. Karena akupun tak pernah menyadari bahwa di otak cantikmu itu, berbagai macam taktik telah kau persiapkan. Salah satunya adalah untuk memperdayaiku lalu menangkap ku kan?" Ia mengelap kasar airmatanya, "Mungkin jika kau membebaskanku, aku dapat memilikimu seutuhnya. Aku akan membuatmu merasakan apa itu yang dinamakan kesakitan. Aku jamin itu!"


*


*


Esthonp mencakar liontin dengan cakaran di udara. Cakar tersebut berwarna merah, dengan serat hijau yang mengitarinya. Liontin pun retak. Satu, dua, tiga... pada retakan yang keempat  akhirnya keluar cahaya menyilaukan yang membuat liontin hancur seketika.


"Oh tidak! Apa yang tengah kau lakukan Esthonp?" Rara menangis, "Jaejoong! JAEJOONG!"


Semua yang di ruangan itu menunduk sedih. Sang naga tak berhasil membebaskan Jaejoong, hal tersebut menandakan seberapa kuatnya mantera yang telah Rara tanamkan pada liontin tersebut.


Bahkan Vampire terkeji seperti Brendeel Quuy pun merinding.


Ehem... kupikir kau harus berhenti menangis, bocah. Esthonp menggeleng pelan, "Keji sekali kau menghancurkan liontinku! Ada satu nyawa yang penting disana! Kau harus menyelamatkannya! HARUS!"


Esthonp mendengus sambil melipat tangan di dada. Inilah yang tak kusukai dari makhluk berkaki dua seperti kalian. Wajah sang naga nampak muram,  Aku sarankan, nanti kalian belajar lebih giat tentang kaumku yakni para naga. Aku bisa kerepotan sendiri jika harus menjelaskan sesuatu yang panjang lebar serta membuang waktu berjam-jam. Mata ungunya semakin menyala, seperti laser. Vampire itu masih berada di dimensi lain, sebentar lagi ia akan tiba.


Rara mengerjapkan matanya, lalu mengedarkan pandangannya. "Dimana dia?"


"Aku bebas!" Suara Jaejoong sangat kecil sekali, ia melangkah namun jatuh tersungkur. Ah, ia telah tiba kurang dari satu detik rupanya... sangat sebentar... sang naga mendesah pelan. Wajah Rara takjub saat melihat pria tampan yang nampak sangat mengerikan ini. "Jaejoong!" panggil Rara lega.


Apa yang ku katakan adalah suatu kebenaran, wahai makhluk berkaki dua... Esthonp mendelik dan terbang ke langit kamar lalu menghilang bersamaan dengan awan hitam tadi.


"Aku lapar..." Insting Jaejoong sangat frustasi menginginkan darah.


Namun, Jaejoong langsung terdiam, saat melihat Rara melangkah ke arahnya dan tersenyum manis kepadanya. "Jangan tersenyum seperti itu lagi kepadaku, Rara!" Ia memandang Rara dengan wajah sembilu.


"Maafkan aku... aku dibutakan oleh dendam. Kau boleh membenciku. Tapi aku tahu kau telah sekarat. Kau boleh meminum darahku, sampai habispun aku tak keberatan. Karena semua yang telah terjadi pada dirimu, adalah murni kesalahanku. Ku mohon... sekarang dirimu tengah tak bisa kompromi, Jaejoong."


Mata merah Jaejoong menyipit curiga. "Di malam kita berkencan, kau membenci kaum Vampire kan? Ada angin apa kau berubah menjadi malaikat suci hah?"


Berhenti berprotes ria, Jaejoong! Aku tak ingin kau mati gara-gara diriku! Telepati Rara yang tiba-tiba itu membuat Jaejoong kaget. Kau bisa menggunakan telepati? tanya Jaejoong bingung. Ya, dan sekarang aku ingin bertanggung jawab atas kesalahanku. Aku tak peduli kau melabeli aku makhluk macam apa! Sekarang, hisaplah darahku dan hiduplah...


Entah kenapa, rasa lapar terlalu mendominasi daripada gengsinya. Jaejoong langsung berusaha berdiri tegak lalu secara perlahan menghampiri Rara. Ia mengelus leher Rara dan menciumnya dengan begitu lembut. "Kau akan sangat merasa kesakitan, apa kau tidak keberatan?" Jaejoong bertanya sambil mengecup-ngecup pelan cekungan leher Rara. "Ya, cepatlah. Jangan membuatku merasa menyesal karena telah menawari Hal ini kepadamu!"


Para tetua dan Kyungjae belum sembuh benar dari rasa terkejut, sekarang rasa terkejut mereka bertambah karena Rara tanpa pikir ulang menawarkan darahnya sendiri untuk menyelamatkan Jaejoong. Bahkan para Vampire bangsawan di masa lalu belum pernah ada yang sudi darahnya di bagi secara gratis. Namun, untuk kasus yang terjadi di antara Rara dan Jaejoong, setidaknya, Rara mau berkorban untuk menyesali perbuatan sebelumnya.


Ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Jaejoong langsung mengeluarkan taringnya, ia menancapkan taringnya secara perlahan sehingga membuat tubuh Rara gemetar. Perih seperti ditusuk-tusuk yang dirasakan  Rara, hal itu membuat nafasnya pendek-pendek. Sialan! Sakit sekali! Jaejoong yang mendengarnya langsung menghentikan aksinya. Kau tidak bisa membatalkannya, My Angel.


Tenaga yang tadinya penuh berangsur-angsur tak bisa lagi Rara rasakan. Seluruh sendi tubuhnya bahkan berdenyut-denyut perih. Aliran darah seolah terseret ke atas lehernya. Matanya tak henti menguraikan airmata.


Semoga, Tuhan memaafkan segala kesalahanku...

__ADS_1


***


__ADS_2