Vampir dan Penyihir

Vampir dan Penyihir
Hanya milikku


__ADS_3

Rara


   Hari ini aku menjadi pemimpin bangsa Craish. Aku menatap nanar tubuhku yang di lapisi gaun berwarna peach dengan yang melekat menandakan keanggunanku, mahkota yang melekat di kepalaku berupa ciri akulah yang memiliki Planet ini sekarang. Meskipun pada kenyataannya aku sudah tidak mempunya gairah untuk melakukan hal apapun lagi. Selain menghabisi seluruh kaum terkutuk itu dengan kedua tanganku sendiri. Karena sejatinya gairah hidupku adalah Jack.


   "Zam Ladlle." Seorang penjaga menundukan tanda ia meminta izin untuk berbicara padaku.


  "Ya," jawabku dingin. "Ada perintah dari masing-masing Devisi yang di curahkan dalam satu surat ini." Ia menyerahkanku sebuah gulungan kertas yang aku tahu apa maksudnya, aku menatapnya dan ia segera menunduk sekali lalu pergi beranjak dari depan wajahku. Kubuka gulungan kertas itu dan perlahan ku baca kata demi kata.


   To : Zam Ladlle


   Kami sudah mendiskusikan tentang semuanya, kami harap Zam Ladlle mengerti dan pastinya menjalankan permohonan kami. Karena hanya Zam Ladlle yang bisa datang ke Bumi. Karena kekuatan dan kecerdasan kami tidak sebesar Zam Ladlle. Terimakasih atas pengertiannya.


   -All Devisi -


   Aku terhenyak dan tersenyum getir dan hanya menghela nafas untuk kesekian kalinya. Akhirnya, aku harus berangkat ke Bumi juga. Ucapku dalam hati sambil memandangi pantulan diriku yang berada di cermin. Di dalam sana, aku terlihat sangat cantik. Bahkan Julian sang malaikat tampan itu pasti akan memohon aku untuk menjadi pendamping hidupnya. Sayangnya aku tidak tertarik pada malaikat.


   "Dasar petinggi-petinggi tua bangka sialan!" Aku menggumam pelan lalu mendecih, mata hitamku memincing tidak suka.


   Aku membayangkan menyihir mereka semua menjadi katak dan menginjaknya sampai menjadi serpihan-serpihan daging hancur, tapi aku tidak bisa melakukan itu meskipun aku adalah seorang Zam Ladlle sekarang.  Dengan menahan nafas kesal, aku mengucapkan mantra untuk menuju ke ruangan Tooroon.


Aku hanya terdiam melihat mereka yang merasa kaku atas kedatanganku, aku hanya tersenyum mengabaikan pikiran-pikiran mereka yang merecoki kedua telingaku. Dengan dagu terangkat, aku menatap mereka satu persatu, walaupun mereka tidak berani menatapku secara langsung dan memilih menundukkan kepalanya, menghindari tatapanku.


   "Jelaskan apa yang harus aku lakukan?" tanyaku penuh wibawa dan terkesan menyindir.


   "Ee..." Keas tergagap setelah melihat pertanyaanku di tujukan kepadanya.


   Aku menatapnya dengan tatapan sengit, "aku tidak meminta pernyataan bertele-tele!" Tukasku cepat tanpa ampun.


   "Anda harus tinggal di Bumi dengan Boo Ra yang bermargakan Kim, meskipun di dunia kita dia hanya seorang pesuruh tapi kenyataannya dia adalah wanita yang cukup pintar dan mempunyai kedudukan yang berpengaruh, pastinya anda harus berpura-pura menjadi adiknya di Bumi. Selanjut anda akan menjadi seorang mahasiswa yang berumur 17 tahun yang sesuai dengan usia Zam Ladlle, ada data yang cukup akurat dan kita semua bisa memanipulasi semua data dengan mantera kita semua." Jelas seseorang yang baru saja aku lihat


   "Siapa kamu?" tanyaku curiga.


   "Perkenalkan aku Junsh hari ini aku menjadi Devisi Perkembangan Bumi, jadi anda akan benar-benar selalu berhubungan denganku Zam ladlle."


   Nada pelan dari suaranya yang tidak asing membuatku terdiam seketika, aku melangkahkan kedua kakiku menuju mejanya, sementara lelaki yang bernama Junsh itu menatap penuh yakin padaku. Namun sekilas, kubaca matanya ada kilat rasa senang, puas, dan dendam membara. Siapa dia? Kemampuan memblok ungkapan hati dan pikirannya benar-benar mengejutkanku. Kemampuannya nyaris sama dengan kemampuan Jack. Setahuku, dalam beberapa ribu tahun terakhir tidak ada yang bisa memblok ungkapan hati dan pikirannya secara sempurna selain Jack.


Lantas, aku terhuyung ke belakang.


  "Siapa sebenarnya dirimu hah?" tanyaku berang sambil memmbacakan mantera dan melayangkan Unos kepadanya.


   "Tahan Randra!" sergah Scothdra sang pemimpin Devisi Keintelan itu sambil menghempaskan Unosku ke arah lain. Sehingga membuat empat buah meja besar hancur seketika.


   "Jelaskan! Siapa makhluk ini! Aku sangat mengenal kemampuannya! Demi para Onix sebelumku! Aku tidak pernah melupakan kemampuan seorang Jack Garnet!" jeritku tidak percaya sambil merubah mataku dengan mata warna merah. Mereka semua terkejut bukan main, melihat perubahan di mataku.


   Semua langsung memberikan mantera penenang kepadaku, dengan tubuh letih aku terduduk lemas dan merasakan sesak nafas di paru-paruku. Aku mendengar ada beberapa dari mereka yang mengatakan 'lepaskan matera itu', 'dia adalah Zam Ladlle' dan berbagai macam perkataan yang merecoki kedua telingaku.


   "Randra, dia adalah Junsh Black. Saudara jauhnya Jack Garnet."


   "Aku tidak percaya!"


   Kali ini Keas menatapku dengan tatapan memelas, "Percayalah pada kami Zam Ladlle. Apa gunanya jika kami membohongimu? Terlebih saat ini kau telah menjadi seorang Onix di Planet ini. Apakah kami bisa mengkhianati sang Onix? Pikirkanlah dengan pikiran yang tenang, aku yakin bahwa dirimu masih tidak menerima kepergian Jack. Kami pun sama Zam Ladlle, kami pun merasakan sedih, dan sakit yang sama. Pikirkanlah baik-baik. Tolonglah, berpikir sejernih mungkin."


  "Baiklah. Sekarang lepaskan mantera kalian atau aku akan menghancurkan tubuh kalian semua dengan Unos Gamma milikku!"


  Aku bisa merasakan aliran udara dalam tubuhku dan mengambil nafas panjang. Terlebih lagi, seluruh pemimpin Devisi ini berjumlah sembilan orang. Terlebih mereka semua adalah Penyihir tingkat tinggi dengan berbagai macam gelar dan kecakapan masing-masing. Tentunya aku harus berpikir secara matang-matang dengan merealisasikan ancamanku. Rasanya hanya sekitar 1% aku bisa menghancurkan tubuh mereka semua dengan Unos Gammaku.


   "Ya, baiklah," Sahutku dengan malas sambil memutarkan kedua mataku, terlebih kesal karena kenyataan bahwa aku lemah.


   Aku berusaha menyindir mereka lagi 'kalian benar-benar biadab menyuruh seorang petinggi untuk menginjakkan kaki ke Bumi'.


   "Aku akan segera berangkat ke Bumi dan pastinya aku inginkan setiap hari laporan harus datang kepadaku. Aku tidak menerima bahwa ada oknum yang melakukan titah yang aneh-aneh dan yang pastinya kalian harus mengertikan posisiku yang tidak bisa datang setiap saat kala negeri ini butuh. Yang terpenting adalah kalian harus memikirkan rakyatku. Beri mereka kelayakan, sehingga bangsa kita akan menjadi bangsa yang cerdas dan mahsyur." Ucapku tegas kepada mereka semua diruangan ini tanpa menyuarakan kata hatiku tadi.


   "Baik Zam Ladlle." Mereka mengangguk di karenakan takjub akan semua kata-kataku.


   "Dan satu lagi, aku tidak akan memaafkan siapa saja yang membohongiku dan mengkhianatiku. Aku pastikan dia akan jera." Aku mengarahkan tatapan sadisku pada Junsh Black dan menghilang meninggalkan mereka dengan mimik takut kecuali satu orang yaitu Scothdra, karena dari matanya menunjukan kesetiaan dan pengabdian yang sangat teramat tulus.


 ***


Planet Bumi


   Aku berjalan di antara kerumunan orang-orang yang memakai pakaian aneh? Dimana ini? Apakah di bumi sama seperti di Craish? Memakai gaun, tapi mengapa semua orang menatapku heran? Apa mereka terpesona oleh penampilanku? Aku terbelalak kaget karena melihat segerombolan orang-orang aneh yang sedang datang berjalan dengan tegap menuju kearahku dengan beberapa alat yang mengeluarkan bunyi nyaring.


   "Sial! apakah mereka tidak tahu kalau aku ini seorang Onix pertama perempuan yaitu Zam Ladlle." Rutukku dalam hati dan segera berlari dari menjauhi mereka, aku rasa menyebalkan sekali apabila bertahun-tahun di Bumi.


   Apa ini? England ? Oh... jadi di Bumi mereka di namakan England. Aku mengambil kesimpulan atas semua data yang aku dapati.


   Senyum manis ku utarakan pada semua orang yang menatapku kagum. Tapi sumpah demi Neptunus, Dewa Brahma dan Shinta sekalipun aku tidak suka dengan penjaga di belakangku yang memakai bulu-bulu di kepalanya dan hampir menutupi wajahnya. Lalu memakai baju kebebanggannya yang berwana merah dan celana panjang warna hitam. Aku tadinya pikir selera orang England tidak buruk. Tapi pada kenyataannya selera mereka sangat bagus! Akan tetapi aku tidak ingin tinggal di sini lebih lama lagi.


   Sejenak aku berpikir ada tangan yang menyeretku menjauhi kerumunan. Sumpah demi apapun itu, aku akan menyihir orang asing ini.


   "Maaf Zam ladlle." Desahnya seperti ketakutan dan aku mengenal suara lemah lembut yang penuh keibuan itu.


   "Boo Ra Kim, kenapa kamu memakai baju aneh seperti itu?" Jawabku sambil memekik kaget dengan tata busananya, tanpa memperdulikan keringatnya yang mengucur saat aku bertanya polos seperti ini.


   "Ini pakaian saya di bumi Zam Ladlle," jawabnya cepat.


   "Tapi mereka memakai pakaian yang sama seperti ku!" aku berkata tidak mau kalah.


   "Baik, nanti saya jelaskan." Boo Ra menyeretku lagi dengan tenaga kuat, memaksaku untuk segera menjauh dari sini.


    Hey! Taukah kau menyeretku?


   Maksudku menyeret seorang ONIX! dan SEORANG ZAM LADLLE!


   Aku bersumpah aku akan mendidikmu Boo Ra Kim! Aku bersumpah akan hal itu dan akan melakukannya!


   Jika tadi aku berada di tempat ramai nyaris tidak ada udara, sekarang aku berada di sebuah ruangan yang sangat sarat akan perabotan aneh dan sangat sempit. Dengan badan setengah limbung, aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku dan mencoba untuk mencari udara setelah fase saat Boo Ra yang menyeretku.


   "Dimana ini?" tanyaku polos, "ini rumah saya di bumi Zam ladlle," jawabnya dengan nada lembut.


   "Lebih bagus ruangan penyimpan bajuku!" Nada yang aku katakan sangat datar, lalu aku menatap sekeliling. Aku kaget saat melihat wajahnya yang sangat teramat takut atas ketidaknyamanan ini.


   "Maaf Zam Laddle, aku tidak bermaksud membuat anda tidak nya..." belum sempat dia selesai berbicara sudah ku potong dengan cepat.

__ADS_1


   "Ya, aku tahu, karena dasarnya di Bumi tidak seluas di Craish, maaf bila ucapanku menyakitimu." Aku berkata tulus dan tersenyum kepada Boo Ra Kim, mungkin dia terlihat kaget akan ucapan permintaan maafku.


   Tidak pernah ada Onix sebelum aku yang mengatakan maaf. Karena segala ucapan Onix adalah kebenaran. Hal tersebutlah yang membuat para Onix sebelumnya di kutuk Tuhan karena keangkuhannya. Aku akui jikalau diriku ini sangat angkuh, akan tetapi aku angkuh itu pada posisinya dan itu seimbang dengan kemampuanku.


  "Tidak perlu meminta maaf seperti itu Zam Ladlle." Dia pun melongo tidak percaya.


   "Bagaimanapun juga disini aku tidak punya apa-apa dan kamulah yang berkuasa atas aku. Maka abaikan saja tingkatanku dan tingkatanmu di Craish mulai saat ini, jujur saja aku bosan jika harus selalu bersikap formal setiap detik. Bisakah kau bersikap setidaknya seperti seorang teman."


   "Baik Zam Ladlle." Angguknya lagi.


   "Panggil aku Adik atau Rara saja, karena aku disini aku akan menjadi Adikmu mulai sekarang." Ucapku lagi.


   "Baik." Terlihat kagetnya dia menatapku.


   "Apa panggilan Adik di England ini?" tanyaku ingin tahu.


   "Dosaeng Zam Ladlle, tapi maaf saya ingin meralat, ini bukan England tapi Korea. Tadi anda tersesat makanya saya memberanikan diri untuk menyusul Zam Ladlle dan saya menggunakan Teleportasi untuk kembali lagi kesini." Tuturnya sambil menjelaskan panjang lebar. Mungkin terlihat bingung akan bagaimana menjelaskan kepada orang yang seperti diriku.


   "Aku tahu, jadi kamu tidak perlu menjelaskan, karena aku bisa membaca pikiranmu Boo Ra Kim, Panggil aku Dosaeng saja atau namaku saja pada kenyataannya kamu lebih tua dariku." Pintaku.


  "Baik sa...saeng." Ucapnya terbata dan sontak membuat aku tertawa melihatnya, kau lucu sekali Boo Ra Kim!


   "Jangan menertawaiku." Jawabnya sambil mempunyai wajah merah padam seperti tomat.


  "Apa panggilan Kakak disini?" tanyaku lagi. Sambil mengalihkan pembicaraan.


   "Eonnie."


   "Baiklah aku akan memanggilmu Eonnie." kataku santai dan terlihat wajahnya langsung pucat pasi, dan kau tidak bisa menolakku Boo Ra Kim. Lalu aku berjalan dan mencari-cari pintu untuk kamarku.


   "Ka.. kamarmu disi...ni." Jawabnya masih takut-takut.


   "Baiklah, siapkan aku baju sepertimu ya, aku rasa lebih enak untuk bersantai." Perintahku dengan nada  datar dan masuk ke ruangan itu.


    Sepertinya dia pergi meninggalkanku, kataku dalam hati saat ku mendengar derap kakinya menjauh dari kamar ini.


***


Kyuhyun


   Sepertinya aku akan gagal untuk bisa datang ke Craish. Ah, bagaimanapun mana mungkin lelaki tampan sepertiku datang begitu saja tanpa ada seseorang yang aku kenal yang berasal dari Craish. Terlebih lagi dengan sensor mereka yang terkenal tajam seperti yang lainnya. Aku bisa mengatakan bahwa jika ada bangsa Irish yang masuk ke Craish, kematianlah jawabannya. Mereka semua tidak pernah bersikap ramah kepada kaum kami. Jujur saja, itu membuatku begitu ingin membabat habis mereka semua tanpa sisa. Itupun jika aku bisa melakukannya. Sayangnya aku tidak sepandai itu untuk menghancurkan suatu planet.


   "Begitu membosankan disini! Adakah hal yang menarik di Bumi ini?"


   Ku tekan asal sambil ganti-ganti saluran televisi yang berada di depanku ini. Sungguh tidak ada yang membuatku tertarik, lalu perhatianku tertuju pada seorang perempuan yang memakai gaun berwarna peach ibarat dirinya seorang Ratu, memakai mahkota yang baru aku lihat sebelumnya. Kedua mata keemasanku ini nyaris saja copot jika tidak ku pegang dengan erat-erat. Ada gelenyar aneh tatkala aku melihat wajah cantik itu di hadapanku.


   "Ya Tu-Tuhan! Cantiknya!" Gumamku perlahan dan memastikan, dimana berakhirnya sang malaikat yang telah merebut hatiku untuk yang pertama kalinya


   "Kyuhyun sedang apa kau? Aku memanggilmu dari tadi Babo (Bodoh)!!"


   Aku tersadar dari ketertarikanku pada televisi karena suara merdu saudaraku yang menyebalkan ini. Sekilas informasi saja, saudaraku ini benar-benar menyebalkan tingkat Dewa. Bahkan para Dewa dan para Dewi saja mengutuknya memiliki wajah secantik perempuan. Mengingat dia telah tidur bersama dengan Dewi Aphrodite, sehingga secara tidak langsung aura sensual dan kecantikan sang Dewi tertempel di dirinya. Bahkan aku sangat membencinya saat terkadang aku terpesona oleh wajah lembutnya. Padahal dia adalah seorang lelaki, dan aku terganggu dengan kehadirannya.


   Mengganggu saja!


   "Kamu kenapa? Tumben sekali jika seorang kutu perempuan betah berada didepan televisi?" Jaejoong mengikuti arah pandanganku.


   "OMMO (Ya Tuhan)! Hey kutu perempuan, tumben sekali kau menaikan level perempuan di tahap fantastis seperti ini." Teriaknya antusias, dan aku yakin dia terpesona oleh sosok malaikat yang berada di depan memandu pasukan Inggris itu. Aku menatapnya yakin.


   Sebutan kutu perempuan memiliki arti pecinta perempuan, atau lebih tepatnya penggemar perempuan. Jaejoong dan Changminlah yang memberikan sebutan itu kepadaku, meskipun terkadang aku ingin memenggal kepala mereka berdua karena memberikan sebutan aneh seperti itu.


    "Neomu yeoppo. (Sangat cantik.)" pekiknya lagi.


   "Binggo."


   Jeritku tak kalah histerisnya, kami hanya ingin menatap Wajah itu namun beberapa detik kemudian wajah itu tidak ada lagi, seperti hilang ditelan angin. Aku dan Jaejoong pun saling pandang tanda bingung kemudian mencari kebenaran yang sebenarnya.


    Ada yang janggal disini!


   "Aku haus sekali ketika tidak melihat dia lagi Kyu..." Jaejoong berkata seraya menelan ludahnya, dari tatapannya ia  begitu terlihat nafsu sekali kepada wanita berwajah sang malaikat itu.


  Hal tersebut membuatku terhenyak. Selama empat ribu tahun eksistensinya di Irish dan seratus tahun di Bumi, Jaejoong tidak pernah haus hanya karena melihat seorang perempuan. Bahkan tidak pernah sekalipun. Dengan wajah datar aku berusaha menutupi perasaanku. Lebih baik aku mulai menyelidiki tentang perempuan tadi.


   "Cari saja minumanmu!" jawabku enteng disertai dengan gertakan taringnya yang mulai keluar.


   "Arrgghhtt dia membuatku gilaaaa!" Erangnya frustasi.


   Bertambah satu hal yang mengerikan lagi. Perempuan cantik tersebut berhasil membuat seorang Jaejoong Chrysocolla mengerang frustasi. Ingatkan aku untuk memberikannya apresiasi saat menemuinya nanti. Apa mungkin dia menemukan darah yang cocok sebagai nikotinnya? Entahlah aku hanya melihat dia berlalu dengan beberapa kosa kata kasar dan meninggalkanku dalam kesendirian .


***


 Rara


   Andaikan Jack masih ada? Mungkin dia sekarang akan memujaku. Menemani hari-hariku dan yang pastinya aku tidak mungkin menjadi sesosok perempuan yang menggunakan pakaian model aneh yang nanti akan aku kenakan, kaget saat ingat benda yang disebut televisi itu menayangkan tentang kejadian yang sangat terlalu berlebihan aku disebut "angel of love". Sedangkan aku...


   Buugghh.


   Satu suara membangunkan lamunanku, sehingga membuatku meloncat dan nyaris kehilangan jantungku. Dengan wajah kaget, aku menatap Boo Ra sinis lalu mengangguk seraya melihat ia langsung bersujud akibat keteledorannya.


  "Maafkan saya Zam Ladlle" Tuturnya lembut.


  "Ya ada apa? Boo Ra Kim."


   "Ini semua yang harus ka.. kamu kenakan, dan pastinya harus kam.. mu mempelajari lagi tata cara orang Bumi." Boo Ra bergemetar, ia takut membuat suatu kesalahan, makanya ia berusaha sesopan mungkin.


   "Ne, eonnie, (Ya, kakak) panggil aku saja Rara arra?" Ucapku karena menyadari kekhawatirannya.


   Ada keterkejutan di kedua mata cokelat pekatnya. Apalagi kudapan bening di kedua matanya membuatku nyaris mengucapkan mantera pembuat sapu tangan agar mengusap kudapan bening tersebut. Namun, ia sudah menjetikkan jarinya dan mengambil sapu tangan yang tengah mengambang di udara lalu mengusapkannya pada kedua matanya.


   "Baik Rara." ia mengangguk, sepertinya sudah mulai biasa.


   "Kau berlebihan Boo Ra," desahku. "Hem... margaku apa?" tanyaku polos.


   "Sudah pasti Rara sama denganku, Ra Ra Kim atau orang-orang disini memanggil Kim Ra Ra." Ucapnya.

__ADS_1


   "Ne..." Kuanggukkan kepalaku antusias.


   "Apa Rara tidak risih? Tentang kedatangan pertama kalimu itu yang salah tempat?" tanyanya ingin tahu.


   "Biarkanlah, mungkin mereka baru melihatku." Aku mengucapkan itu seraya memakai baju yang dia berikan.


  "Neomu yeoppo. (Cantik Sekali.)" Jeritnya sangat riang.


   Aku tersenyum lalu menatapnya. "Gomawo (makasih), segera antar aku ke tempat yang bernama kampus itu." Perintahku.


   Dengan santai seraya menggunakan barang yang disebut Tas, sepatu high heels, dan pastinya aku menggunakan baju yang menurutku 'Sangat tidak nyaman' Kataku dalam hati. Namun apa boleh buat ini semua demi Jack, Jack Garnet adalah satu-satunya lelaki yang aku cintai.


   Dan disinilah aku. Aku berdiri sambil menatap tajam pada Kyunghee University. Di sampingku Boo Ra terkikik geli karena wajahku yang di tekuk sedari tadi saat aku berada di dalam benda kaleng, yang di sebut mobil oleh Boo Ra. Aku benar-benar kesal dengan apapun yang sangat lambat termasuk benda kaleng itu. Jika di Craish biasanya aku akan langsung menggunakan Tapin, dengan mengatakan nama tempat dan membayangkan bentuknya, Tapin tersebut yang langsung melesat dengan kecepatan cahaya. Kurang dari satu detik aku sudah sampai di tempat tujuan. Tapi, benda kaleng yang bernama mobil ini mengantarkan kami berdua dengan waktu sangat lama, yakni satu jam. Rekor terlama dalam perjalanan selama kehidupan 17 tahunku.


   "Nama tempatnya aneh dan jelek." Umpatku kesal.


   "Sabarlah Zam Ladlle."


   "Sudah ku bilang panggil aku Rara saja!" Bentakku lalu membuka pintu benda yang membawaku ketempat ini lalu memandangnya.


   "Ini benda namanya apa?" tanyaku dengan penuh dengan keingintahuan yang terlontarkan begitu saja.


   "Mobil Ra-ya. Aku sudah menjelaskannya padamu saat berada di perjalanan tadi. Semua Manusia memakainya, dan inilah yang tercepat."


   Aku menghentakkan kakiku  ke tanah, "apanya yang tercepat? Benda kaleng ini sangat lambat! Jika saja kau tidak menghalangiku untuk menggunakan sihir, aku sudah pasti akan sampai kesini kurang dari 2 menit. Meskipun tanpa Tapin milikku!"


   "Dan membiarkan Manusia gempar dengan kedatanganmu yang tiba-tiba itu? Jangan harap aku akan membiarkannya!"


   Ck! Benar-benar menyebalkan!


   "Ayolah, jangan menekuk wajah cantikmu itu Ra-ya. Mari, kita berkeliling." Ajaknya sambil berada di sebelah kananku.


   Akupun hanya melihat sekilas dan sebenarnya sangat teramat tidak tertarik dengan tempat ini. Aku hanya bisa mengehela nafas berat, dan melangkahkan kedau kakiku. Baiklah demi Planetku, bangsaku dan tentunya rakyatku! Kataku dalam hati. Aku tersadar saat mencium bau ini. Bau yang sangat aku benci namun aku terbiasa mencium baunya.


   "Ternyata ada mereka disini." Ucapku sarkatis seraya menuju kearah mereka.


   "Ya, Ra-ya. Tentunya mereka adalah Vampir menyebalkan dan memiliki tingkat tertinggi. Terlebih jika Vampir biasa yang datang ke Planet ini bisa mati kapan saja, mengingat batas ruang di antar galaxy yang sangat luas. Aku bisa merasakan bahwa mereka adalah ancaman yang cukup serius."


   Aku mengibaskan tangan kiriku ke udara, "aku tidak ingin mereka menjadi ancaman untukku. Mereka hanya tiga ekor larva." ejekku sambil menyeringai ke arah Boo Ra.


***


Jaejoong


   "OMMO! (Ya Tuhan!)"Aku memekik dan menghentikan langkahku.


   Semoga saja semuanya baik-baik saja. Aku berdoa dalam hati, terlebih aku adalah Jaejoong Chrysocolla, seorang lelaki tampan, sensual dan perkasa. Aku bisa mengajak Dewi Aprhodite tidur bersama di ranjangku, dan aku bisa menaklukan sepertiga perempuan di Planet ini dan di Irish. Aku yakin jikalau aku bisa menaklukan perempuan yang sedang menatap tajam ke arahku ini.


   Dia tidak sekedar cantik. Dengan tinggi yang 172cm dengan bobot tubuh yang pas yakni 50kg. Aku bisa saja meremukkan semua tulangnya dan langsung menawan selamanya di dalam istanaku. Apalagi warna kulitnya yang sangat putih seperti salju itu memintaku untuk menjilati seluruh tubuhnya dan tanpa berniat untuk menyisihkan untuk siapapun. Rambut dan mata yang hitam legam sekelam malam itu membuatku nyaris pingsan hanya dengan menatapnya.


   "Tch... aku sudah tidak kuat lagi." Erangku tertahan saat melihat dia berjalan dengan seorang perempuan disebelahnya.


   DEG!


   Aku merasakan hatiku sangat berdebar kencang sekali, OMMO! Aku harus bagaimana ini?  Mengapa malaikatku dan seluruh manusia dibumi ini menyebutnya "Angel of Love." Yang sangat misterius dan sekarang tiba-tiba datang ke kampus ini. Namun, aku tidak menghiraukannya. Yang jadi permasalahannya adalah apakah dia akan masuk kampus ini? atau sekedar lewat?


    Dan dia itu sebenarnya siapa?


  Karena... Bagiku... Sosoknya terlalu bersinar  tidak seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Dan begitu tak lazim berada di Bumi yang hina ini. Ia lebih cocok tinggal di Irish dan menjadi salah satu bagian dari bangsa kami.


  Dengan langkah pasti, aku meneruskan langkahku lalu melempar senyum ke arahnya dan berjalan dengan matap, meskipun seluruh badanku bergetar karena auranya. Bagiku, perasaan macam ini dapat di gambarkan seperti 'kau sedang memburu seorang pemburu'. Di sampingku Changmin hanya memandang sang Angel of Love dengan wajah datar, sesekali ia memincing curiga sambil mengendus-endus layaknya seekor binatang.


   "Jaga attitudemu Changmin!"


   ***


Kyuhyun


   "Annyeong. (Selamat pagi.)" Suara lembut dari perempuan yang berada disampingnya menyadarkanku yang tergila-gila akan pesonanya.


   "Ehem..." Changmin mendehem seraya mencairkan lamunanku. Sepertinya hanya Changmin saja yang tidak terpengaruh oleh aura kedua wanita ini.


   "Annyeong Haseyo." jawabku dengan semangat bersamaan dengan Jaejoong.


  Ishhh... dia mengikutiku saja! Apa sebenarnya yang ada di otak mesumnya itu? Benar-benar lelaki menyebalkan!


   "Boleh bertanya? Kelas analisa elektronika jaringan dimana ya?" Perempuan berambut cokelat di sampingnya bertanya dengan lembut.


   Namun aku tidak ingin mendengarkannya. Karena, aku ingin mendengarkan perempuan cantik berambut hitam yang menatap datar kearah kami bertiga. Seakan dia menolak memuja kami, lelaki-lelaki tampan dan rupawan yang di gilai di Kyunghee University ini. Tentunya sikapnya merobek kepercayaan diri yang kami punya hingga saat ini, karena sejauh manapun belum pernah ada yang menolak pesona kami.


    Hey, Cantik... cepat berbicara! Umpatku dengan frustasi didalam hati sambil meliriknya.


   "Ikut saja denganku, aku dikelas itu juga." Jawabku terdengar seolah tidak peduli.


   "Oh, Gamsa Hamnida. (Oh, Terima kasih.)" Dia tersenyum simpul.


   Hey? kenapa lagi-lagi perempuan itu hanya menatap seolah tidak mengerti? Poloskah dia? Atau ...


   "Eonnie, kau pulang saja." Akhirnya dia membuka suara.


    DEG!


   Itu suaranya! itu suaranya! Aku mendengarnya! Ya, aku mendengarnya berbicara! Sangat jelas malah.


   "Ne, (Ya,) maaf aku titip dosaengku ya, ne annyeong." Kata perempuan berambut cokelat seraya membungkuk lalu pergi menjauh dari pandagan kami.


   Seketika kami berempat, aku, Jaejoong, Changmin dan perempuan ini di selimuti oleh kedinginan. Mata hitam perempuan ini menatapku dengan tatapan 'Apa kau lihat-lihat? Tidak sayang umur ya?'.  Jujur saja, tatapannya nyaris seperti sang algojo yang akan memvonis hukuman mati. Aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua mataku dan memilih untuk diam.


   Glekk.


   Kurasakan Jaejoong dan Changmin menahan nafsu mereka untuk menerkamnya. Memangnya aku tidak! Aku menjerit frustasi dan menatap Jaejoong dan Changmin secara bersamaan. Perihal kedatangan 'Angel of Love' di kampus ini. Apalagi auranya yang sangat bersinar itu membuatku nyaris ingin menerjangnya dan membawanya ke ranjangku sekarang juga.


   "Annyeong haseyo, Kim Rara ibnida, Bangap sebnida, mohon bantuannya." Terdengar lagi suara malaikatku yang sangat merdu di telingaku dan menatap kami penuh arti.

__ADS_1


   Matanya yang berwarna hitam kelam sangat meneduhkan menatapku seakan minta dilindungi. Sedetik kemudian aku dapat merasakan seluruh sel tubuhku menginginkannya, menginginkannya untuk menjadi milikku. Hanya milikku.


__ADS_2