
Rara dan Rama di buat bingung oleh kejadian di sekolah terbengkalai itu.
Pasal nya, ini adalah Vlog pertama mereka tapi sudah mendapat beberapa kejadian mengerikan.
Kini mereka memutuskan ke kamar untuk beristirahat. Tangan dan kaki nya terasa pegal saat menggotong Drey di sekolah tadi.
*Cklek*
Kamar pintu di buka dan memperlihatkan Karin yang sedang bermain ponsel dengan raut wajah yang sulit di tebak. Rara mencoba menghampiri dan mendudukan diri di sebelah nya.
"Rin..." Panggil Rara.
Karin meletakkan ponsel nya, "Maaf Ra, tadi gue emosi" Kata Karin.
Rara menghela nafas nya, "Semua terjadi gitu aja Rin, gue juga gak tau, mungkin kalo gue dengerin ucapan lo, sekarang kita gak bakal kayak gini" Ujar Rara.
Karin memeluk Rara yang ada di sebelah nya, "Gue cuma takut Ra.. gue gak mau kita kenapa napa" Ungkap nya menangis.
Rara yang mendapati Karin menangis itu langsung membalas pelukan nya serta menenangkan, "Gue ngerti maksud lo Rin, maaf ya gue gak dengerin kata kata lo" Ucap nya sambil mengelus punggung Karin.
"Aduh... sedih banget sih, jadi pengen ikut pelukan juga" Ujar Risa yang tiba tiba muncul dari jendela.
Rara yang melihat Risa itu langsung bergerutu, "Bisa pergi dulu gak?" Mata Rara melotot menatap ke arah Risa. Sedangkan Risa hanya memeletkan lidah nya dan menghilang.
"Rese banget jadi orang.. eh bukan orang deh.. Hantu" Gumam Rara dalam hati.
"Udah ya, mending lo tidur Rin, tenangin pikiran lo"
Karin melepaskan pelukan nya, "Iya Ra" Ucap Karin sambil menyeka air mata nya.
Setelah saling memaafkan dan mengerti satu sama lain, mereka memutuskan untuk tidur dan menjemput alam mimpi nya.
Karin sudah tertidur nyenyak, terlihat dari nafas nya yang teratur. Sementara Rara yang merasakan Karin sudah tak bergerak pun membuka mata nya.
Namun saat membuka mata, Rara di buat kaget dengan kemunculan Risa yang kini sudah berada beberapa centi lagi dengan wajah nya. "AAAK" Teriak Rara.
Karin yang mendengar teriakan Rara langsung menggeliat, "Ngghhh, Aduh Ra jangan berisik kek" Gerutu Karin seraya menutup kepala nya dengan bantal.
"Eh.. iya m-maaf Rin"
Ia kesal dengan Risa yang selalu muncul tiba tiba hingga membuat nya kaget, "Lo kalo nongol gak usah tiba tiba bisa gak sih?!" Gerutu Rara.
Risa hanya tersenyum, "Abis muka lo lucu kalo kaget gitu"
Rara membangunkan tubuh nya, "Minggir lo dari depan gue" Kata Rara dan Ia mulai berjalan ke sofa dekat jendela yang ada di kamar itu.
"Ish, galak banget jadi cewe, pantes gak ada yang mau" Gumam Risa.
Rara yang mendengar gumaman itu, langsung menoleh dan menatap tajam Risa, "Hehe engga engga" Ucap Risa sembari menghampiri Rara.
Kini dirinya membuka jendela dan menatap langit yang indah. Kedua tangan nya di lipat dan menopang dagu mungil nya itu. Mata nya menatap lekat bulan dan bintang yang bertabur di sekitar nya.
Kini kedua teman yang berbeda alam itu tengah terdiam menatap indah nya langit malam.
__ADS_1
"Indah ya" Kata Risa, dan Rara hanya tersenyum menanggapi perkataan Risa tanpa mengalihkan pandangan nya.
Di tengah keheningan mereka, tiba tiba Rara berkata, "Gue kangen papah" Ucap nya sambil tersenyum dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Andai aja papah masih ada, gue mau peluk papah sekenceng keceng nya" Ucap Rara dan terlihat benih air lolos dari ekor mata nya.
Risa yang melihat air mata Rara mengalir ke pipi itu mencoba mengusap nya. Tapi tak bisa, tangan nya hanya menembus pipi mulus milik gadis cantik itu.
"Ra.." Panggil Risa pelan dan pemilik nama itu langsung menyeka air mata nya.
Risa bertanya, "Kapan terakhir kali lo liat papah lo?" Ucap nya yang kembali menatap langit.
Rara yang mendengar pertanyaan itu mulai menarik nafas nya panjang...
.
*FLASHBACK ON*
Di halaman rumah, terlihat Rara yang berumur empat tahun sedang bermain sepeda dengan di temani seorang pria yang memperhatikan nya sambil duduk di balai bambu.
"Mas Haidar... liatin Rara tuh, takut jatuh, jangan main hape terus" Ucap seorang wanita kepada pria itu yang sedang asik memainkan ponsel nya.
Pria yang bernama Haidar itu menoleh dan menatap nya, "Iya istriku Linda... yang paling cantik" Ucap Haidar manja. Sedangkan wanita yang bernama Linda itu hanya menggelengkan kepala nya dan masuk ke dalam rumah.
Haidar menyimpan ponsel nya di saku dan langsung memperhatikan putri kecil nya yang sedang bermain sepeda itu, "Hati hati sayang... awas nanti jatuh" Ucap Haidar.
*BRUK*
Sepeda roda tiga yang di bawa Rara itu jatuh, hingga membuat nya menangis, "Aduh... aaa hiks"
Rara yang menangis, menunjuk luka pada lutut nya dan berkata, "Papa.. cakit hiks"
"Cup cup cup, jangan nangis ya... Anak papah kan kuat.. huuff huuff" Ucap nya sambil meniup pelan lutut Rara yang lecet.
"Udah ya jangan nangis lagi okey? kita beli eskrim yuk, Rara mau gak?"
Raut wajah Rara seketika berubah saat mendengar kata eskrim.
"Es klim? ayo pah, Aku mau" Ucap nya dengan air mata yang masih membekas di pipi nya.
Haidar mengusap bekas air mata Rara, "Nah gitu dong, gak usah nangis lagi ya, anak papah jeyek kalo nangis, senyum duyu coba" Ucap Haidar dan Rara mengembangkan lebar senyum manis nya.
"Ihh cantik nya anak papah, dan sekarang... ayo kita beli eksrim" Ucap Haidar antusias.
"Lesgooo"
Haidar dan Rara menuju supermarket untuk membeli eskrim.
*****
Sesampainya di sana, Rara langsung menghampiri eskrim yang terpajang disana, "Papah... aku mau yang toklat" Ucap nya sambil menunjuk eskrim yang terhalang oleh kaca.
"Ohh.. anak papah mau yang toklat? bentar ya papah ambil dulu"
__ADS_1
Haidar mengambil eskrim yang di tunjuk oleh Rara.
"Yang ini? hm?" Tanya Haidar dan Rara menganggukan kepala nya manja, "he'em"
Setelah membeli eskrim, mereka kembali pulang.
Di perjalanan, Haidar menyetir dan terlihat sibuk dengan seseorang yang berada di sambungan telfon nya.
"apa?! aduh kamu gimana sih, bisa kerja gak sih?! pokok nya jangan di apa apa kan dulu sebelum saya datang, tu... AAAA"
*CKIITT* .... *DUGH*
Mobil yang di bawa Haidar bertabrakan dengan mobil yang melaju dari arah berlawanan. Tubuh nya terjepit hingga tak bisa bergerak.
Haidar masih sempat membuka mata dan melihat Rara disebelah nya yang sudah tak sadarkan diri,
"Ra..raa sa..yang" Lirih Haidar yang mencoba meraih putri kecil nya itu dengan tangan kiri dan sisa tenaga yang masih tersisa.
Namun perlahan, kini pandangan nya mulai kabur dan menggelap.
.
Di lain tempat, Rara melihat Haidar yang terbaring dengan alat bantu nafas di sebelah nya, "Papah?" Ucap Rara.
Rara kecil mengedarkan kepala nya melihat seisi ruangan, dan terlihat juga Linda-Ibunya tengah menangis, "Mamah?"
"Dok... tolong anak dan suami saya dok... hiks"
"Kami akan melakukan yang terbaik, sekarang ibu keluar dulu agar kerja kami maksimal"
"Engga dok, saya mau nemenin anak dan suami saya.. hiks"
Namun suster terpaksa mengeluarkan Linda dari ruangan itu.
Linda duduk menunggu di kursi luar ruangan dengan tangis yang tiada henti nya, "Rara... Mas... hiks"
Setelah lama menunggu, akhir nya ...
*CKLEK*
Linda yang mendengar pintu terbuka itu langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar, "Gimana dok? anak dan suami saya? baik baik aja kan?" Ucap Linda dengan penuh harap.
Namun dokter hanya memasang raut wajah pasrah dan menggelengkan lemah kepala nya.
"Engga.. engga... dokter pasti bercanda kan? Anak dan suami saya gak mungkin meninggal.. Iya kan?" Ucap Linda dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mereka, namun nyawa suami anda tak tertolong"
Linda yang mendengar ucapan itu langsung masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Haidar yang sudah terbujur kaku.
"Maaassss... Kenapa kamu ninggalin aku mas? kenapa ninggalin aku sendirian?... hiks... Bangun maaasss" Tangis Linda sejadi-jadi nya sambil memeluk Haidar.
Linda terus menangis dan menggoyangkan jasad yang sudah tak bernyawa itu, "Maass... bangun maasss"
__ADS_1
Sedangkan Rara kecil yang melihat Ibu nya sedang menangis pun ikut menangis di samping nya sambil memeluk Ayah nya. Namun pelukan itu hanya menembus tangan nya.
*FLASHBACK OFF*