
Di pagi hari, matahari kini sudah menampakkan sinar terang nya dari ujung timur. Kicauan burung terdengar saling sahut menyahut di pohon yang tumbuh tinggi.
Rara, Karin, Rama, dan Drey sudah siap dan rapih dengan seragam putih abu abu yang melekat di tubuh nya. Mereka sudah saling memaafkan dan saling mengerti semalam.
.
Di sekolah, mereka berempat menuju kantin sebelum jam pelajaran di mulai. Mereka sarapan untuk mengisi perut nya dengan nutrisi.
Sesaat di kantin, mereka sempat berada di suasana yang canggung karena kejadian semalam. Namun, Karin tiba tiba memecah keheningan mereka.
"Nanti malem kita ke sekolah terbengkalai itu lagi yuk" Ucap Karin saat mereka sedang sarapan di kantin.
Rara, Rama dan Drey yang mendengar perkataan Karin spontan menatap nya dengan alis bertaut.
Rama bertanya, "Lo gak lagi ke sambet?" Sedangkan Karin hanya menggelengkan kepala nya sambil tersenyum.
"Bukan nya lo gak mau lanjutin ini lagi?" Tanya Rama lagi.
Mendapat perkataan itu, Karin menarik nafas nya panjang...
"Gue suka banget hal mistis dan misteri, tapi gue takut soal hal kayak gitu. Tapi disini, gue juga punya kemampuan bisa liat masalalu seseorang, dan sesekali bisa liat sepenggal masadepan" Ucap nya.
"Maksud nya?" Tanya Rama kebingungan.
Karin tersenyum tipis dan melanjutkan ucapan nya, "Semalam sosok Dinda hadir di mimpi gue dengan wujud saat dia masih sekolah. Dia minta bantuan ke gue, bahkan ke KITA, tapi dia gak ngejelasin hal apa yang harus di bantu." Ucap nya.
"Awalnya gue nolak, tapi Dinda senyum ke gue dan bilang kalo tuhan ngasih gue kemampuan pasti ada maksud serta tujuan nya, dan gak mungkin buat hal yang cuma cuma. Akhirnya di situ gue sadar, emang ada hal yang harus di selesain" sambung nya.
Rara, Rama dan Drey yang mendengarkan cerita Karin, hanya diam terpaku tak menjawab.
"Gue cerita panjang lebar gak ada jawaban? ish, nyesel banget gue cerita" Ucap Karin cemberut.
Rara tersenyum melihat sahabat nya itu, "Kalo di suruh milih, mungkin gue lebih milih buat gak milikin itu semua, tapi... mungkin tuhan ngeliat kita kuat dan bisa ngehadapin semua nya, dan tuhan juga pasti ngasih kemampuan itu bukan ke orang yang sembarangan," Ucap Rara.
Karin menanggapi, "Lo bener Ra, gue nya aja yang gak sadar akan hal itu"
Rama yang merasakan suasana hati mereka sudah semakin jauh, mencoba mencairkan nya, "Mending lo kasih kemampuan nya ke gue, biar gue bisa liat masalalu mantan sama pacar nya dulu, haha"
__ADS_1
"Yee mau nya" Timpal Karin.
"haha"
.
Setelah selesai sarapan dan sedikit drama, mereka kembali ke kelas masing masing untuk melaksanakan pembelajaran.
Namun saat mereka belajar terdengar speaker yang ada di dalam kelas berbunyi.
*UNTUK SEMUA MURID SILAHKAN BERKUMPUL DI LAPANGAN SEKARANG*
"Aduh ngapain ke lapangan lagi sih" Ucap Karin.
"Gak tau, untung aja masih pagi, jadi gak terlalu panas, udah ayo" Ujar Rara.
.
Mereka berdua menuju lapangan dan terlihat sebagian murid sudah berkumpul dengan senyum mengembang, karena mungkin mereka lebih senang berkumpul daripada belajar.
Di lapangan semua murid mengarah ke satu arah dan terlihat Wakasek yang berdiri di sana.
"PAGI PAK" Sahut murid serentak.
"Oke, maaf sebelumnya mengganggu aktivitas belajar kalian. Disini bapak Gugun Hardianto, selaku wakil kepala sekolah, ingin memberitahukan, bahwa tiga hari lagi sekolah kita akan melaksanakan tur ke..." Ucap nya tertahan karena di sambut oleh sorak semua murid, "Woooo yeay"
Wakapsek itu tersenyum melihat murid yang terlihat gembira, "Bapak lanjut ya.. sekolah kita akan melaksanakan tur ke Yogyakarta selama enam hari. Untuk yang mau ikut serta tur tersebut, kalian bisa mengisi daftar nama dan kelas, saat panitia ke kelas kalian nanti" Sambung nya dan semua murid kembali bersorak.
Rara dan Karin bersorak senang, "Yey woooo gak sabar gue" Ucap Karin antusias.
"Iya gue juga gak sabar"
Setelah berkumpul, semua murid di kembalikan ke kelas nya masing masing untuk melanjutkan pembelajaran.
.
_____
__ADS_1
Tak terasa 8 jam sudah berlalu, kini mereka sudah berada di rumah masing masing dan mulai mengemasi barang barang untuk pergi ke Yogyakarta tiga hari mendatang. Rara dan yang lain sudah setuju untuk ikut serta dalam tur tersebut.
Di kamar, terlihat gadis cantik itu sedang mencari pakaian nya di lemari. Linda yang daritadi melihatnya, hanya berdiri sambil memperhatikan dari ambang pintu tanpa menegur nya. Putri kecil nya itu tak menyadari keberadaan Linda di sana.
Setelah kurang lebih lima menit Rara tak menyadari, Linda mencoba menghampiri nya.
*Puk* Linda menepuk pundak putri kecil nya itu dari belakang, hingga membuat putri kecil nya itu berjengit kaget.
Rara menoleh ke belakang, "Mamah... ih ngagetin Rara aja deh"
Kemudian Linda tersenyum dan mendudukan diri di ranjang nya.
Linda berkata, "Kan masih tiga hari lagi sayang ke sana nya"
Terlihat Rara masih sibuk mencari pakaian nya di lemari, "Tapi Rara takut lupa mah" Ucap nya tanpa menoleh.
Linda yang melihat nya hanya bisa menghela nafas, "Kayak nya gak sabar banget ya buat ninggalin mamah?" Ucap nya pelan.
Rara yang mendengar itu langsung menoleh ke Linda dan menghampiri nya, "B-bukan gitu mah... tapi.." Ucap Rara yang kini sudah berada di samping nya.
Linda tersenyum dan berkata, "Pokok nya Kamu baik baik ya di sana, mamah gak mau kamu kenapa napa Ra. Enam hari mungkin waktu yang sebentar buat orang lain, tapi buat mamah, itu seperti satu tahun kalau Rara gak di sini" Ucap nya dengan mata yang mulai berkaca kaca sambil mengelus lembut kepala Rara.
Rara menatap lekat Ibu nya dan terlihat setumpuk air sudah memenuhi mata nya. Sekali saja berkedip, benih air itu akan turun ke pipi nya.
"Mah, Rara bisa jaga diri kok, mamah gak usah khawatir ya" Ucap Rara dan terlihat benih air lolos dari mata nya.
Dan Linda yang mendengar perkataan Rara mulai memeluk nya erat dan berkata, "Ra, Mamah gak mau merasakan kehilangan buat kedua kali nya, cuma kamu yang mamah punya sekarang"
Rara membalas pelukan Linda di susul elusan lembut ke punggung nya.
"Mamah gak usah khawatirin Rara ya, yang kesana bukan Rara aja kok, kan ada temen Rara, ada guru, ada kepala sekolah, ada banyak deh pokok nya" Ucap Rara.
Linda melepas pelan pelukan nya dan menangkup lembut wajah Rara, "Janji sama mamah ya, jaga diri baik baik, kalo ada apa apa langsung kabarin mamah, okey?" Kata Linda.
Rara tersenyum manis ke Linda dan berkata, "Iya mah Rara janji"
Saat Rara meminta izin untuk pergi ke sana, Linda sempat melarang nya, namun Rara terus memohon dan merengek.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati, Linda mengizinkan nya. Linda hanya takut terjadi apa apa pada putri kecil nya itu, apalagi mengingat Haidar-suami nya dulu.