
"Saya menyesal, benar benar menyesal telah menumbal kan anak kandung saya sendiri" Ujar nya menangis.
Rara bertanya, "Maaf pak, kalo boleh tau, siapa anak yang bapak tumbal kan?"
"Risa.. Risa Amelia" Ujar nya.
"Risa?" Rara kaget.
Asep mulai menghela nafas...
*FLASHBACK ON*
-POV ASEP-
Saat itu keluarga ku sedang baik baik saja, terlihat harmonis tanpa ada masalah.
Sampai pada suatu hari, perusahaan yang aku kelola mengalami bangkrut hingga aku terpaksa menjual aset aset berharga.
Dan pada waktu itu, Sri meminta izin keluar rumah untuk menemui seseorang. Aku sendiri tak di beritahu orang yang ingin Sri temui.
Dan beberapa jam kemudian, Sri kembali dengan membawa senyum indah yang tak pernah ku lihat sebelumnya.
Aku bertanya, "Kamu habis dari mana Sri?"
Sri memanggil ku dan duduk di sofa, "Sini mas, aku kasih tau sesuatu" Ujar Sri.
Aku menghampiri nya dan dia mulai menceritakan sesuatu.
"Kamu jangan macem macem Sri! Risa itu anak kita!" Bentak ku setelah mendengar penjelasan Sri.
"Gapapa mas, lagian dia masih kecil, dan apa dia terlihat berguna di rumah ini?" Ujar Sri dengan senyum sinis.
"Ya tapi jangan melibatkan anak kita Sri! ingat! dia anak kandung kita!" Hardik ku.
"Kalo mas gak mau, maaf, dengan terpaksa aku harus mengorbankan salah satu nyawa di antara kalian" Ujar Sri.
"M-maksud kamu?" Aku kebingungan.
"Kamu mau di jadikan tumbal? atau Ica yang kita jadikan tumbal?" Ucap nya menatap tajam ke arah ku.
"Aku kasih kamu waktu sampai malam ini mas, kalo belum ada jawaban nya, maka aku lah yang berhak memilih di antara kalian!" Ujar nya berlalu pergi ke kamar.
Aku yang di berikan pilihan itu hanya diam dan tak tau harus mengatakan apa.
Aku hanya meneteskan air mata nya dan tak percaya bahwa istri ku telah terhasut oleh ilmu hitam seperti itu.
Tapi telinga ku seperti di bisikkan oleh sesuatu agar mengikuti kemauan Sri. Dan akhirnya, Aku mau juga untuk mengorbankan darah daging ku sendiri.
*****
Malam kini sudah tiba, Aku menunggu di mobil dan melihat Sri menarik paksa putri kecil ku. Risa terlihat menangis ketakutan. Mata nya di tutup dan tangan nya di ikat.
"Maaffin ayah Ca" Gumam ku dalam hati menitihkan air mata.
Sri dan Ica sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Mah, Ayah mana? Ica mau di bawa kemana mah?" Rengek Ica.
"Ayah di sini Ca..." Gumam ku dalam hati.
Di perjalanan Ica terus menangis mencari keberadaan ku. Aku ingin sekali mengeluarkan suara agar ia tenang tapi di larang oleh Sri.
"Ayah... Ica takut.. Ica mau di bawa kemana Mah? Mamah... Ayah mana mah?" Rengek Ica.
Aku yang mendengar itu hanya bisa menangis dalam diam.
Setelah 10 menit perjalanan, kami sampai di suatu tempat dan masuk ke dalam nya.
Di dalam terlihat seorang pria paruh baya sedang bersemedi dengan mulut yang komat kamit atau biasa di panggil dukun.
Aku mengikuti Sri berjalan di belakang dengan Ica yang di seret oleh Sri.
Tak lama Sri berbincang, Dukun itu memberikan pisau kepada Sri, dan ia memberi nya kepada ku.
"Kenapa kamu kasih ke aku Sri?" Bisik ku di telinga nya.
"Aku gak mau ngotorin tangan aku sendiri mas" Ujar nya.
"T-tapi aku gak bisa Sri, ak..." Ucap ku tertahan.
"Lakukan.. atau kamu yang akan ku jadikan persembahan!" Sanggah nya.
Aku gemetar, Sri menyuruh ku menancap kan pisau ini kepada anak ku sendiri. Sri terus memaksa ku untuk melakukan nya.
Dan akhir nya...
Ku tancapkan pisau tepat di dada Risa dan darah segar keluar dari dada dan mulut nya.
"Aaarrghhh... m-ahh" Ringgis Ica.
"A-yah... Sa-kii-it.." Lirih Ica.
Ica terus berontak seperti hewan yang habis di sembelih, namun aku terus memeluk nya dengan penuh penyesalan.
Tapi keadaan terpaksa membuat ku seperti ini.
"Maaffin Ayah Ca... Maaffin" Gumam ku dalam hati dan terus menangis sambil memeluk nya.
*FLASHBACK OFF*
.
Mereka semua terdiam mendengarkan cerita Asep.
"Apa? jadi selama ini.. Ayah yang bunuh Ica... kenapa Yah? kenapa?!" Ujar Karin dengan suara mirip Ica.
Rara menoleh ke arah nya dan ia melihat bahwa teman tak kasat mata nya itu sedang meminjam tubuh Karin.
"Ica? apa itu kamu sayang?" Gumam Asep.
"Kenapa Ayah lakuin itu sama Ica? Ica salah apa Yah?" Tanya Risa dengan air mata yang sudah mengalir deras.
__ADS_1
"Ma-maaffin Ayah Ca... Ayah menyesal melakukan nya, hukum Ayah sepuasmu Ca" Ujar Asep tertunduk sedih.
"Apa selama ini Ica pernah minta kemewahan ke Ayah? ngga kan? Ica gak perlu itu semua Yah, Ica cuma butuh kasih sayang Ayah sama Mamah, tapi kenapa kayak gini Yah? Kenapa?"
"Ica... Maaffin Ayah, Ayah menyesal Ca"
"Sudah terlambat Yah.. Ica harus nerima keadaan pahit sebelum waktu nya! Ayah jahat!" Bentak Risa menangis.
"Ica gak pernah mau maaffin kalian" Sambung nya.
Setelah Risa berkata seperti itu, Karin ambruk dan Gery yang berada di sebelah Karin, langsung menopang nya.
"Ica..." Lirih Asep.
Mereka semua mulai mengeluarkan air mata nya melihat drama Ayah dan Anak itu.
Ternyata, Risa Amelia anak kandung dari Asep telah di jadikan tumbal oleh orang tua nya sendiri karena keadaan ekonomi mereka yang sedang menurun.
Asep menyesali perbuatan nya, namun apalah daya, nasi sudah jadi bubur.
*****
Malam kini sudah berganti, matahari terang menampakkan sinar nya di ufuk timur. Rara membuka mata dan menyesuaikan pandangan nya yang masih buram.
"Jam 7" Gumam nya melihat jam di ponsel.
Rara bangun dan terduduk, ia melihat sahabat nya itu sedang tertidur pulas di sebelah nya.
Pak Asep sendiri sudah di antarkan pulang oleh Alex dan Peter semalam. Sedangkan Gery dan Adam menginap dan tidur di sofa ruang tamu.
Rara membiarkan Karin tertidur, ia masih terlihat lemah karena semalam Risa meminjam tubuh nya. Ia menuju kamar mandi untuk membasuh wajah nya.
Setelah selesai, Rara melangkah kan kaki nya menuju dapur untuk membuat sarapan.
Ia membuka lemari kecil dan melihat hanya ada Mie Instant dan telur. Lalu ia mulai memasak,
"Ra..."
Ia menoleh ke sumber suara dan mendapati Karin di ambang pintu dapur.
"Lo udah bangun?" Ujar Rara yang sedang fokus memasak.
"Hm... Lo masak apa?" Tanya Karin.
"Mie sama telur" Jawab Rara tanpa menoleh.
"Bikinin"
"Ih enak aja.. bikin sen..." Ucap Rara tertahan.
"Makasih Rara yang cantik" Ujar Karin melangkah kan kaki nya pergi dari sana.
"Ish, masih pagi udah ngeselin aja" Gumam nya kesal.
"Mending gue bikinin sekalian semua nya" Sambung nya.
__ADS_1
Selesai membuat sarapan, ia membangunkan sahabat nya yang lain serta Gery dan Adam yang masih tertidur pulas.