
Kini Rara dan yang lain sudah sampai di depan sekolah terbengkalai itu. Bangunan itu masih terlihat sama seperti kemarin, Gelap, Sunyi dan Mencekam.
Sarang hantu, mungkin sebutan yang cocok untuk bangunan ini. Bunyi hewan malam terdengar berirama, Burung gagak saling bersahut sahutan menyambut kedatangan mereka.
Saat Rara dan yang lain berjalan ke gerbang, ia melihat sosok hantu anak kecil menghampiri nya, "Kakak..." Sapa sosok anak kecil itu.
Rara tersenyum, "Iya, kenapa?" Ucap batin Rara.
"Jangan masuk kak, ada yang jahat"
"Iya, kakak tau, kamu siapa nama nya? ngapain disini?"
"Aku Dion kak, aku di sini lagi ma.." Ucap nya tertahan, dan seketika sosok anak kecil yang bernama Dion itu menghilang saat Karin memanggil Rara.
"Rara... pulang aja yuk, perasaan gue gak enak banget" Ucap Karin sambil mengelus tengkuk leher nya.
"Baru juga sampe, udah mau pulang aja, aneh"
Karin merengek, "Tapi perasaan gue gak enak, gue ngeliat ada dar..." Ucap Karin tertahan saat Rara menyanggah nya, "Sssttt, jangan sembarangan, udah ayo ah"
Kini mereka sudah berada di depan gerbang. Rama mulai membuka gerbang yang tak terkunci itu. Ia membuka nya dengan pelan dan hati hati.
"Permisi" Ucap Rama sembari melangkahkan kaki nya masuk ke dalam.
Karin terus merengek seraya menarik lengan Rara seperti anak kecil, "Emm Rara, udah yuk ah pulang" Kata Karin.
Rara yang mendapati Karin seperti itu langsung menatap nya, "Aduh Karin, lo apaan sih, kayak anak kecil deh" Ucap Rara berlalu pergi menyusul Rama di depan.
"Ih Rara... tungguin gue woi"
.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang mengawasi mereka. Orang itu berada di balik pohon yang besar dan memakai pakaian serba hitam.
"Kalian sudah berani datang lagi dan mencampuri urusan ku" Kata orang misterius itu dengan tangan yang mengepal.
Orang misterius itu berkata la gi, "Datang lah, wahai penguasa kegelapan, aku butuh bantuan mu"
Dan tak lama, sosok dengan tubuh tinggi besar, memiliki bulu dengan mata merah menyala, datang kepada nya, "Ada apa tuan memanggil ku?" Tanya sosok itu.
"Mereka kembali lagi, beri mereka peringatan agar tak mengacaukan rencana ku."
"Baik tuan, saya jalani sesuai perintah"
.
Mereka berempat mulai berjalan memasuki sekolah.
Dan Rama mulai menyalakan kamera nya dan berkata, "Oke guys, sekarang kita balik lagi ke sekolah ini, masih keliatan sama kayak kemarin, gelap, sunyi, serem. Dan malem ini kita mau coba eksplore ke bagian belakang sekolah"
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Rara.
"Kita ke belakang sekolah dulu" Jawab Rama dan di susul anggukan oleh yang lain.
Mereka berempat melangkahkan kaki nya menuju belakang sekolah, melewati tiap lorong yang di isi beberapa kelas.
Daun daun kering berserakan memenuhi lantai lorong itu, Pohon pohon yang menjulang seperti memiliki mata seolah sedang mengawasi mereka.
Saat berjalan di lorong itu, Rara melihat sesosok Pocong yang berdiri menghalangi jalan nya, "Jangan lewat situ" Kata Rara.
Rama mengarahkan kamera nya ke arah yang Rara maksud dan bertanya, "Kenapa emang nya Ra?"
"Ada Pocong ngehalangin jalan kita" Jawab Rara.
__ADS_1
Karin yang mendengar perkataan Rara pun mulai merengek ketakutan, "Heee... tuh kan apa gue bilang, pulang aja yuk" Ucap Karin.
Namun Rara menenangkan nya, "Sssttt dia gak ganggu, cuma berdiri aja ngeliatin kita, cuma gue takut kalo harus lewat situ" Kata Rara.
Rama terlihat menyipitkan kedua mata nya dan terus menatap ke arah yang Rara maksud, "Kok gue gak liat apa apa ya" Ucap Rama.
Rara yang mendengar perkataan Rama pun langsung menawarkan nya, "Mau?" Tanya Rara.
"Boleh" Jawab Rama.
Rara mulai membuka tangan nya dan meminta Rama untuk menggenggam nya, "Pegang tangan gue" Kata Rara, dan Rama mulai menggenggam nya.
Saat di genggam, "Astaghfirullah" Ucap Rama dan ia langsung melepas genggaman nya.
Rara yang melihat perubahan raut wajah Rama hanya bisa tersenyum, "Udah liat?" Tanya Rara dan Rama hanya menganggukan kepala nya lemah.
"Makanya jangan sok" Timpal Karin.
"Sssttt, udah ayo lanjut" Ucap Rara.
Siapa yang tidak takut jika melewati jalan yang di halangi oleh sesosok Pocong? Wajah nya menghitam, mata nya merah menyala.
Jika di perlihatkan dalam kegelapan, mungkin hanya terlihat kain kafan nya saja yang sudah kotor.
Rara dan yang lain melanjutkan langkah kaki nya melewati lorong yang lain untuk menuju belakang sekolah itu.
Namun, saat berjalan, ekor mata nya menangkap sosok yang sedang berlari.
"Apa itu?" Gumam nya dalam hati.
"Mungkin perasaan aja kali ya"
Kini mereka sudah sampai di belakang sekolah, Rara melihat banyak sekali sosok menyeramkan sedang berkumpul di sini.
Tapi mata nya seakan teralihkan dengan sosok wanita yang memakai seragam SMA. Ya, Sosok itu adalah Dinda.
Dinda menatap kedatangan Rara dan yang lain dengan penuh senyum bahagia, "A-khir-nya, k-am-u da-tan-g" Kata Dinda terbata sambil menutup lubang di leher nya dengan kedua tangan.
Rara merasa kasihan melihat Dinda yang sulit bicara, Ia juga terlihat kesepian.
Akhirnya Rara memutuskan memanggil Risa untuk mengajak nya mengobrol sedangkan dirinya akan melanjutkan perjalanan.
"Risa" Panggil batin Rara.
Risa muncul di sebelah Rara, "Apa?"
Rara menatap ke arah Dinda, "Lo bisa kesana gak?" Tanya Rara.
Dan Risa juga menatap ke arah nya, "Ngapain?" Tanya Risa.
"Temenin dia ngobrol"
"Males"
"Ih buruan, gue mau lanjut"
"Ck, iya iya"
Setelah Rara menyuruh Risa untuk menemani nya, Kini ia melanjutkan menyusuri tiap sudut gelap di belakang sekolah itu.
Karin yang berjalan merasakan kaki nya mengenai sesuatu, "Eh apaan nih?" Ucap Karin.
Rara dan yang lain langsung mengarahkan cahaya senter nya ke arah yang Karin maksud, "Sajen?" Ucap mereka saat melihat bahwa itu adalah Sajen.
__ADS_1
Sajen itu berada tepat di bawah pohon besar, yang saat ini mereka tengah berdiri di samping nya. Terlihat ada bunga, buah buahan, daging dan segelas kopi menghiasi nya.
Rama mengarahkan kamera nya ke Sajen itu dan membungkuk untuk melihat lebih jelas, "Ini sajen baru" Ucap Rama.
Karin bertanya, "Lo tau darimana kalo itu baru?"
"Kopi nya masih lumayan panas" Ucap Rama sambil memegang kopi yang ada di Sajen itu.
Rara menanggapi, "Berarti sebelum kita, ada yang udah kesini duluan?" Tanya Rara.
"Bisa jadi" Jawab Rama.
Rama masih memegang segelas kopi itu menatap nya, "Eh ini kopi nya boleh di minum gak sih? gue haus" Tanya Rama.
Drey menanggapi nya dengan dingin, "Kalo lo mau di teror, minum aja" Ucap Drey.
"Jangan sompral mulut nya woi" Kata Rara.
Rama mulai mengembalikan letak kopi itu ke tempat semula, "Hehe bercanda, sewot amat" Ujar Rama.
Setelah menemukan Sajen, mereka membiarkan sajen itu dan kembali menyusuri tiap sudut gelap untuk di eksplor.
Rama terus mengedarkan kamera nya agar tak kehilangan momen sedetik pun.
Halaman belakang sekolah itu terlihat seperti kantin, ada tempat duduk dan ada beberapa ruangan seperti kios.
Saat mereka ingin eksplor ke sana, tiba tiba terdengar suara teriakan seseorang yang begitu keras dari arah lapangan.
Teriakan itu sangat kencang hingga terdengar ke tempat mereka berada.
"AAAARGH"
Mereka yang mendengar itu berjengit kaget dan langsung menatap satu sama lain,
"Kalian denger?" Tanya Rama dan di susul anggukan kepala oleh yang lain sebagai jawaban.
"Ayo kesana"
Mereka berempat melangkahkan kaki nya menuju arah sumber suara itu.
Mereka berlari hingga kini berada di tengah tengah lapangan.
"Gak ada apa apa" Ujar Karin dengan nafas yang tak teratur.
"Tapi kalian denger kan?" Kata Rama juga dengan nafas ngos-ngosan.
"Iya" Ucap Rara.
Saat itu, Rama menyadari satu hal, "Bentar... Drey mana?!" Tanya Rama.
Rara dan Karin tak sadar kalau Drey tak bersama mereka, "Drey?" Gumam Rara dan Karin.
"Loh iya ya, Drey mana?" Ucap Karin.
Di tengah lapangan yang gelap dan mencekam, kini Drey menghilang.
Mereka yang panik dan takut mulai mengedarkan bola mata nya di setiap sudut gelap untuk melihat keberadaan Drey. Tapi sayang nya mereka tak melihat apapun.
"Drey bukan nya di belakang lo Rin?" Tanya Rara.
"Iya tadi ada, tapi pas kita lari, gue gak sadar kalo Drey udah gak ada di belakang gue" Jawab Karin.
"Aduh gimana nih"
__ADS_1
Di tengah kepanikan, Rama mencoba berusaha untuk tetap tenang dan tak mengambil langkah yang salah.
"Tenang, sekarang, kita fokus cari Drey, kita pegangan biar gak ada yang hilang lagi" Kata Rama dan yang lain menganggukan kepala nya sebagai jawaban.