Wanita Masa Lalu Suamiku

Wanita Masa Lalu Suamiku
Episode 10 Pertemuan


__ADS_3

"Mohon maaf pak Rudyanto, kalau boleh tahu kenapa bapak menangis?"


"Ibumu Azqiya Saphyra adalah istri saya dulu yang hilang karena konflik waktu saya tinggal di Papua dan kamu anak kandung saya yang hilang. Selama ini saya cari kalian tapi tak pernah ketemu hingga 20 tahun." Air mata pak Rudyanto masih terus meleleh sesenggukan.


"Ja....ja...ja...jadi...pak Rudyanto itu bapak kandung saya yang selama ini saya cari?" Air mataku bergenang di kelopak mata.


"Bagaimana kabar ibumu nak?"


"Ibu sudah meninggal pak, 1 tahun yang lalu." Ucapku sedih.


"Meninggal karena apa?"


"Sakit jantung. Ibu selalu memikirkan bapak dan adik Liana yang hilang karena konflik di Papua. Hingga sering menangis sendirian di atas bantal. Lama-kelamaan ibu menderita sakit jantung. Oh iya pak, adik kandung Liana yang masih bayi usia 1 bulan bapak namai siapa? Waktu dulu bapak dan ibu belum memberi nama adikku. Apakah dia masih hidup?" Tanya Liana.


"Alhamdulillah masih hidup. Bapak beri dia nama Fira."


Hatiku berkecamuk antara sedih, senang, marah menjadi satu.


"Maaf, bapak menikah lagi demi adikmu agar ada yang mengurusi adikmu yang masih berusia 1 bulan saat itu. Karena tugas angkatan laut yang tak mungkin bisa membawa bayi. Bapak terus cari ibumu dan nak Liana hingga 20 tahun." Ucap pak Rudyanto dengan nada bergetar sambil menitikkan air mata. Matanya menerawang jauh mengenang masa lalu.

__ADS_1


"Ya sudah pak, Liana mengerti, saya pamit dulu pulang ya karena masih ada yang harus Liana kerjakan." Aku memeluk bapak erat sekali hingga tak terasa 1 jam lamanya. Kerinduan 20 tahun anak dan bapak yang terpisah membuncah.


"Iya nak, ini nomor telpon bapak, hubungi bapak ya biar kita bisa ketemu lagi. Sering-seringlah main ke sini. Istri kedua bapak juga baru meninggal 1 bulan yang lalu. Bapak merasa sangat kesepian. Sedangkan adik perempuanmu tidak pernah pulang ke sini karena terjerumus pergaulan bebas ala Amerika."


Aku diam seribu bahasa. Seolah tubuhku serasa tak memiliki tulang rangka lagi. Aura kelabu memancar dari badanku. Langkahku pun lunglai saat meninggalkan rumah pak Rudyanto.


***


Aku sampai di Teluk Penyu, rumah kediamanku. Aku melihat Bram Sinaga, suamiku yang sedang duduk.


"Maaf mas, aku mau minta cerai darimu dengan baik-baik."


"Kamu tak mungkin bisa poligami dengan Fira mas. Fira ternyata adik kandungku. Dalam Islam tidak boleh mengumpulkan kakak adik kandung dalam satu perkawinan. Kecuali yang terjadi di masa lalu, seperti kisah istrinya Khalifah Utsman bin Affan mempunyai istri Ummu Kulsum dan Rukoyah yang merupakan kakak adik kandung.


"Iniloh mas dalam al-Qur'an dijelaskan di surat An-Nisa ayat 23." Aku memperlihatkan aplikasi al-Qur'an yang ada di smarthphone sambil membacakannya.


"...Dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."


Suamiku tiba-tiba mengambil pisau dari sakunya dan menusuk perutku.

__ADS_1


"Diam! Aku sudah enggak mau lagi dengar ceramahmu! Aku sudah sakit hati denganmu karena jabatanku diturunkan jadi admin! Aku ingin menikah denganmu hanya karena kamu banyak harta! Jika kamu mati, hartamu pasti untuk suamimu ini!" Ucap suamiku dengan nada bengis.


***


Bersambung.


Akankah Liana selamat dari tusukkan pisau Bram yang murka karena tak bisa lagi menguasai harta Liana?


Kita tunggu episode selanjutnya ya.... :)


***


Buku Strong and Happy In the Time of Crisis  (Kuat dan Bahagia di Saat Krisis) salah satu referensi dari novel ini.


Mau meminang bukunya dan dapatkan 11 bonus luar biasa bermanfaat hubungi WA 081227298941



__ADS_1


__ADS_2