Wanita Masa Lalu Suamiku

Wanita Masa Lalu Suamiku
Episode 4 Gejolak


__ADS_3

Tiba-tiba, smartphone Bram berbunyi dan Bram mengangkatnya.


"Ada apa sayang?" Nada suaranya begitu lembut mesranya. Nada suara yang tak pernah ia ucapkan padaku. Hatiku begitu sakit mendengarnya.


"Mas Bram, teganya kau berkata sayang di telpon. Istrimu masih di kamar mas. Baru aja kamu sepakat untuk tak berkomunikasi dengan wanita itu, kenapa kamu melanggarnya?!"


"Li...Li...Lian... Kamu mendengarnya?!" Tanya suamiku bola matanya melotot tak percaya.


"Tentu saja aku dengar mas Bram!" Teriakku serta merta merebut smartphone Bram dari tangannya.


"Hai wanita ga laku! Apa kamu segitu gak lakunya! Sampe suami orang mau kamu rebut!" Bentakku menggelegar bagai petir di siang bolong.


"Plak!" Bram menampar pipiku.


"Mas teganya kau menamparku hanya karena wanita ****** itu!" Jeritku terisak.


"Plak!" Suamiku kembali menampar pipiku.


"Plak!" Aku membalas tamparan suamiku. Seraya meninggalkan dia di kamarnya.

__ADS_1


"Duar!" Pintu dibanting hingga dinding bergetar hebat.


Aku berlari ke luar rumah sambil menangis. Malam itu hujan turun begitu deras di pesisir Pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap. Aku keluar dari rumahku yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari bibir Pantai Teluk Penyu.


"Mas kau akan menyesal telah melakukan ini padaku! Lihat saja nanti!" Teriakku ke arah deburan ombak malam di tengah guyuran hujan deras sambil menangis.


"Mas Bram brengsek! Akan kubalas sakit hati ini mas!" Teriakku keras diantara derasnya hujan dan bunyi deburan ombak tengah malam.


Aku meninju pasir-pasir pantai yang basah terkena guyuran hujan. Pasir pantai yang tak tahu apa-apa menjadi sasaranku.


"Bak! Buk! Bak!" Tinju itu menyatu dengan suara air hujan dan jeritan tangisanku yang memecah kesunyian malam.


"Braaaaaaam kurang ajar! Bak! Buk! Bak! Buk" Teriakanku semakin tak terkendali.


Aku tak menghiraukan perihnya tanganku yang mengeluarkan darah segar di atara pasir pantai. Rasa sakit di hati ini jauh lebih besar daripada luka di tangan ini.


Aku terus menerus meninju pasir-pasir pantai yang tak bernyawa. Teriak-teriak di antara bunyi deburan ombak yang menghantam pasir pantai.


***

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian...


Aku lunglai. Suaraku hilang ditelan deburan ombak. Aku merebahkan diri di atas pasir pantai. Hujan kini langsung mengguyur wajah putihku yang penuh pasir. Pasir-pasir itu berloncat-loncatan saat aku tonjok. Pasir pun seolah-olah sangat ketakutan. Lava panas di hatiku meletus tak terkendali.


"Aaaaaaaaa....!" Aku berteriak mengeluarkan gejolak jiwa.


Lima belas menit kemudian....


Aku basah kuyup. Aku membuka mataku. Mataku pedih penuh pasir. Aku beranjak membuang pasir-pasir pantai. Aku mencoba menstabilkan diri.


Nafasku naik turun tersengal-sengal. Paru-paruku seperti mau pecah. Darah segar mengalir dari mulutku. Tamparan suamiku begitu kuatnya hingga membuat bibirku pecah mengeluarkan darah segar.


Aku beranjak mencari tempat berteduh. Aku melihat ada beberapa perahu nelayan yang ditinggal pemiliknya. Aku berjalan terhuyung-huyung menuju perahu. Langkahku gontai. Mataku berkunang-kunang.


Perahu nelayan kunaiki. Hujan kembali turun deras seperti meriam kecil-kecil berjatuhan dari langit. Pasir basah membuatku sesekali terjatuh. Malam ini, aku begitu kacaunya. Aku duduk di perahu nelayan. Badai di pantai seolah-olah mewakili kegilaan malam ini.


***


Tertarik meminang hijabnya hubungi WhatsApp 081227298941

__ADS_1



__ADS_2