Wanita Masa Lalu Suamiku

Wanita Masa Lalu Suamiku
Episode 15 Siasat


__ADS_3

Aku terus menerus mengirimkan bunga Lili putih ke kantor Liana. Lama kelamaan Liana mengajakku untuk berbincang di luar tema pekerjaan.


"Bram, saya sebenarnya penasaran kenapa kamu tiap hari mengirimkan bunga Lili putih ke kantorku?" Tanya Liana suatu hari selesai rapat, ia menghampiriku.


"Bu Direktur, saya hanya mengucapkan terimakasih melalui bunga Lili putih itu. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya jika ibu tidak mengajak saya bekerja di sini." Jawabku tersenyum menatap bola mata Liana.


"Mengucapkan terimakasih untuk apa ya?! Saya merasa tidak melakukan apapun untukmu. Saya benar-benar tidak mengingat bahwa saya mengajak kamu bekerja di sini, karena begitu banyak orang-orang yang saya ajak bekerja bersama saya. Bagi saya tidak perlu mengucapkan terimakasih berlebihan seperti itu." Ucap Liana sambil menyeruput kopi hitam miliknya.


"Bagi ibu mungkin itu hal sepele. Namun, bagi saya itu hal yang sangat besar. Saya hanya berterimakasih saja Bu, apakah tidak boleh?" Tanyaku tersenyum menatap Liana lagi.


"Bukannya tidak boleh, hanya saja saya merasa mendapatkan balasan terimakasih yang berlebihan. Saya mengajak kamu tentu itu juga menguntungkan buat saya, benar begitu bukan? Kita simbiosis mutualisme, sama-sama untung." Ucap Liana tersenyum menyeruput kopi hitamnya di cangkirnya.


"Apakah ibu tidak suka saya kirimkan bunga Lili putih itu?" Tanyaku menyelidik.


"Sebenarnya saya suka bunga itu. Hanya saja saya agak kurang nyaman. Orang-orang kantor membicarakan soal siapa orang yang mengirimkan bunga Lili putih setiap hari untuk saya. Tiap hari mereka menggoda saya. Mereka mengira saya memiliki seorang kekasih. Mereka tidak tahu bunga Lili putih itu adalah hadiah darimu, staf admin di kantor ini." Ucap Liana sambil menggerak-gerakkan kursi putarnya.

__ADS_1


"Jadi ibu Liana yang secantik ini belum memiliki kekasih?!" Tanyaku berpura-pura tidak tahu bahwa Liana tak memiliki kekasih.


"Saya memiliki kekasih. Kekasih saya ya perusahaan batik ini." Ucap Liana tersenyum.


"Wah ibu bisa saja. Maaf ya Bu pertanyaan saya lancang." Ucapku sambil menundukkan kepalaku.


"Semua orang di kantor ini mengetahui bahwa saya tidak memiliki kekasih. Saya belum tertarik untuk menikah. Sekarang yang menjadi fokus saya ya bagaimana perusahaan ini bisa berkembang dan memberikan manfaat bagi orang banyak. Hanya itu saja fokus saya. Biarkan nanti jodoh saya datang dengan sendirinya." Ucap Liana menyeruput kopi hitamnya lagi.


"Iya Bu betul. Ibu harus fokus agar perusahaan ini terus berkembang dan maju pesat." Ucapku manggut-manggut.


"Ah ibu. Orang miskin seperti saya, mana ada wanita yang mau bu. Saya mah apa atuh, hanya rempeyek aja Bu." Ucapku tersenyum.


"Kamu bisa aja bercandanya. Uang memang perlu, tapi cinta itu juga kebutuhan. Hanya saja saya belum menemukan orang yang tepat untuk saya cintai." Ucap Liana tersenyum. Mungkin kamu juga seperti itu." Ucap Liana sambil mengaduk-aduk kopi hitamnya dengan sendok.


"Ya mungkin kita sama Bu. Barangkali kita jodoh Bu." Jawabku tersenyum.

__ADS_1


"Iya jodoh di perusahaan ini, tim yang solid itu kan seperti jodoh. Jodoh yang saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing." Ucap Liana tersenyum.


"Betul Bu, saya setuju itu. Tim di perusahaan kita itu ibarat jodoh. Saya tidak bisa membayangkan menjadi ibu, menjabat sebagai Direktur Utama. Ah seperti mimpi di siang bolong." Ujarku tertawa terkekeh.


"Masa depan siapa yang tahu. Barangkali suatu hari nanti kamu bisa menggantikan posisi aku menjadi Direktur Utama." Ucap Liana tersenyum.


***


R. Fardhany. S


22:31 WIB


Kamis, 19 September 2019


Cigaru Bersyukur

__ADS_1


__ADS_2