
Tiga puluh menit kemudian...
Pantai Teluk Penyu begitu sunyi di tengah malam ini. Hanya ada beberapa nelayan yang nampak di perahunya. Aku masih duduk di salah satu perahu nelayan yang ditinggalkan di bibir pantai.
Aku menangis tersedu sedan. Bibirku bergetar, sekujur tubuhku basah oleh guyuran air hujan tengah malam. Tangisku tersamar oleh hujan dan suara deburan ombak. Berjam-jam aku menangis hingga tubuhku menggigil kedinginan. Aku menatap langit yang gelap segelap hatiku. Hujan deras telah berganti rinai hujan dan hembusan angin malam yang menusuk tulang.
Aku beranjak dari tempat dudukku di perahu nelayan. Jalanku terhuyung diantara pijikan kakiku yang menembus pasir hitam pantai Teluk Penyu. Aku menatap sekitarku begitu sunyi hanya ada bunyi deburan ombak dan beberapa tukang ojek yang bercengkrama di pinggir jalan menanti penumpang turun dari bus malam.
Aku berjalan menuju pintu rumahku yang nampak dari kejauhan. Aku segera memasukkan kunci dan memutar gagang pintu hingga terbuka. Aku menuju kamar mandi membersihkan sisa-sisa pasir pantai di kakiku. Darahku mengalir di kamar mandi. Luka-lukaku di sekujur tanganku tak ku hiraukan perihnya. Hati di dalam sanubariku jauh lebih sakit daripada tanganku. Aku masuk ke kamarku, aku melihat Ara sedang tidur pulas.
"Ara, maafkan mama ya sudah meninggalkanmu sendirian di rumah." Bisikku terisak.
Aku segera mengganti baju basah dengan baju kering di lemari. Aku tak melihat ada sosok suamiku.
__ADS_1
"Apa suamiku juga ikut pergi? Setelah pertengkaran tadi. Ah peduli amat dengan lelaki sialan itu!" Aku bicara sendiri sambil mengganti bajuku dengan baju piyama.
Aku kini baru sadar tangannku terluka parah. Aku mengambil obat-obatan dari kotak P3K, Alkohol 70% dan kapas.
"Aaaaaaaaa....!" Aku menjerit saat alkohol 70% kusiramkan ke luka-luka di jemari tanganku.
Aku naik ke ranjang. Aku melihat Ara yang berusia 3 tahun sedang tidur sangat pulas. Aku bersyukur Ara tak terbagun mendengar pertengkaranku dengan suamiku.
Aku teringat hari-hari bahagiaku bersama suamiku. Hari pertama ketika Bram menikahiku, aku begitu bahagianya meskipun awalnya ibuku tak setuju aku menikah dengan Bram karena Bram mantan pemabuk. Bram berjanji berhenti meminum air haram sejak menikah denganku.
Aku sangat bahagia di awal-awal pernikahan. Suamiku begitu menyayangiku dan memanjakanku. Hingga aku menyerahkan semua tanggung jawab di perusahaan yang kurintis pada suamiku. Aku menyerahkan jabatan Direktur Utama pada suamiku dan memilih menjadi istri Bram yang tinggal di rumah mengurus keperluan suami. Aku begitu mempercayai suamiku.
Hari dimana aku hamil pertama adalah hari terindah dalam hidupku. Suamiku semakin menyayangiku ketika aku hamil anak pertama. Suamiku selalu menuruti apa saja keinginanku meskipun, aneh-aneh nyidamku.
__ADS_1
Sempat ketika di tengah malam, aku sangat menginginkan roti bakar. Aku merengek minta roti bakar. Serta merta suamiku keluar di malam hari mencari penjual roti bakar. Ternyata tak ada penjual roti bakar di tengah malam yang masih jualan. Suamiku membeli roti tawar, selai, mentega dan coklat toping di swalayan 24 jam di dekat rumahku untuk dibuat roti bakar. Jangan dibayangkan malam itu hujan sangat deras namun, suamiku tetap nekat membelikan roti bakar untukku.
Hujan deras di tengah malam seperti ini membangkitkan kembali memori indah saat suamiku membelikanku roti bakar dikala aku nyidam. Aku meneteskan air mata. Andai saja suamiku tetap menjadi suamiku yang dulu. Aku pasti bahagia seperti dulu. Pernikahanku kini sudah 5 tahun lamanya. Sudah 5 tahun aku hidup bahagia bersama suamiku. Kebahagianku terasa lengkap kala Ara hadir dalam dunia aku dan suamiku.
"Tak kusangka mas Bram berubah, kenapa mas berubah?" Aku menangis bertanya sendiri dalam keheningan malam.
"Akan kucari tahu Fira dan memberinya pelajaran agar tak menggangu rumah tangga orang lain!" Aku bersungut.
***
Tertarik meminang hijabnya hubungi WhatsApp 081227298941
__ADS_1