Wanita Masa Lalu Suamiku

Wanita Masa Lalu Suamiku
Episode 12 Pisau Berdarah


__ADS_3

Aku hanya bisa terpaku sambil menangis histeris. Aku masih tak menyangka suamiku tega menghunuskan pisau ke perutku.


"Siap-siap ya Liana, pisau ini akan aku cabut dan kutusukkan lagi lebih dalam agar kau segera pergi ke surga." Ucap suamiku melotot sambil tersenyum dingin saat selesai membersihkan pisaunya dengan kapas yang dibasahi Alkohol 70%.


Aku mengambil apapun di sekitarku. Terambillah kain taplak yang berada di atas meja. Dengan sekuat tenaga kain itu kusabetkan ke wajah suamiku.


"Aaaaaah! Mataku!" Kain itu persis menyabet bola mata suamiku yang sedang melotot. Seketika suamiku memegangi matanya dengan tangannya. Cengkraman tangan suamiku di badanku pun lepas.


"Tolooooong! Toloooong! Toloooong!" teriakku histeris melolong keras di siang hari bolong.


Aku berlari ke arah pintu depan. Pintu kubuka sekuat tenaga sambil berteriak minta tolong. Sementara pisau masih menancap di perutku. Darah segar merembas diantara bajuku.


Tanganku gemetaran, kunci pintu tak terbuka-buka. Kulihat di belakangku suamiku mengejarku ke arah pintu. Tiba-tiba pandanganku remang-remang semua menjadi gelap. Aku jatuh tersungkur.


***

__ADS_1


"Bu ada apa?! Ibu baik-baik saja?!" Teriak pak Satpam menggedor-gedor pintu.


Kulihat Liana pingsan di lantai. Aku panik. Aku memikirkan segala cara untuk bersih cuci tangan dari kejadian ini. Aku melihat ke segala arah. Kulihat ada meja kaca dan kursi yang jatuh saat Liana tadi kabur. Tiba-tiba terlintas ide brilian untuk menutupi perbuatanku. Aku berjalan mendekati meja. Aku segera menggulingkan meja kaca itu.


"Praaang!" Kaca-kaca itu pecah berhamburan berloncat-loncatan di lantai. Aku mengambil satu bongkahan pecahan kaca itu.


"Aaaaah tolong! Tolong! Tolong!" Teriakku keras sambil menggoreskan pecahan kaca ke tangan kiriku.


Aku mendekati Liana. Aku mengambil kalung berlian milik Liana yang terpasang di lehernya dan memasukkannya ke dalam saku celanaku.


"Astaghfirullah!" Pak satpam terperanjat melihat ada pisau menancap di dalam perut majikannya. Satpam di rumahku langsung sigap masuk menuju ke arah pintu depan.


"Tolong pak! Tolong!" jeritku histeris.


"Iya pak, saya telponkan ambulan ya pak. Sabar ya pak." Kata pak satpam sambil mengambil smartphonenya di sakunya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum. Halo ambulan. Tolong darurat segera datang ke Cilacap ya, di dekat pantai Teluk Penyu. Ada pasien yang terluka parah perutnya tertusuk pisau. Tolong cepat ya! Terimakasih." Ucap pak Satpam dengan nada khawatir.


"Apa yang terjadi pak? Apa ada maling?!" tanya pak satpam curiga sambil melihat keadaan ruang tamu yang kacau berisikan kaca pecah di lantai.


"Iya pak tadi ada maling. Sepertinya maling itu kepergok oleh ibu. Maling itu langsung menusuk ibu pakai pisau. Saya mendengar dari ruangan kerja saya, ibu menjerit minta tolong. Saya langsung lari ke sini. Saat saya mau menolong ibu, maling itu menyerang saya lalu kabur entah kemana." Jawabku sambil meringis menahan sakit di tangan kiriku yang luka dan mengeluarkan darah segar.


Sementara itu aku lihat Liana hanya terdiam terbujur pingsan di lantai dan air matanya membasahi pipinya.


Pak satpam bergerak mencari-cari orang yang telah melukai majikannya di seluruh ruangan rumah. Semua pintu dan jendela dicek satu per satu, namun nihil. Tak ada siapapun. Pak satpam segera menelpon polisi atas kejadian ini.


***


Reader bisa dukung saya dengan beli jualan saya di https://www.azraproperti.net/?agen\=397


Info lengkap hubungi 081227298941

__ADS_1



__ADS_2