Wanita Masa Lalu Suamiku

Wanita Masa Lalu Suamiku
Episode 14 Dendam Sedalam Samudera


__ADS_3

"Teet! Teet! Teet!" Bunyi alat AED menunjukkan denyut Jantung Liana masih belum kembali.


"Shock!" Petugas melakukan lagi kejut listrik lalu RJP.


"Ayolah Liana terus sajalah tertidur selamanya." Dalam hatiku bergumam berharap Liana meninggal dunia.


Terbayang kata-kata sumpah serapah Liana setelah kutusukkan pisau ke perutnya. "Kau akan mendapatkan petaka karena melakukan ini Bram!" Apakah aku benar-benar akan mendapatkan petaka seperti sumpah serapah Liana? Bulu kudukku berdiri. Ah seharusnya tadi aku tusukkan pisaunya ke Jantungnya Liana agar dia langsung meninggal seketika.


Keringat dinginku mengucur deras. Aku benar-benar tegang tiap kali petugas ambulans melakukan "shock" seolah-olah dadaku juga sedang dilakukan hal yang sama. Aku masih melihat Liana menutup matanya. Liana belum juga sadarkan diri.


Sementara mobil ambulans meraung-raung suaranya begitu nyaring dan melaju sangat kencang menandakan pasien yang dibawa adalah jenis pasien gawat darurat. Semua kendaraan bermotor di jalan raya Gatot Subroto menyingkir semua memberikan jalan untuk ambulans.


"Lihat saja Bram, kau akan membusuk di penjara karena melakukan ini!" Kata-kata Liana tiba-tiba terdengar di telingaku. Aku bergidik ngeri membayangkan aku membusuk di penjara. Ah pikiranku benar-benar kacau. Semua diluar ekspektasiku. Tak kusangka Liana bisa mendapatkan pertolongan seperti ini.

__ADS_1


Tapi kenapa ya melihatnya berkali-kali mendapatkan "shock" aku justru menikmati Liana merasakan kesakitan. Biar saja Liana mendapatkan rasa sakit yang mendalam. Rasa sakit hatiku dan dendamku sedalam samudera.


Aku masih ingat betapa dermawannya Liana ketika menjadi pengusaha sukses dan kaya raya. Hampir setiap seminggu sekali Liana mengadakan santunan untuk fakir miskin dan yatim piatu. Aku mengenalnya ketika aku mendapatkan santunan darinya. Aku yang tak memiliki pekerjaan dan menjadi fakir miskin lalu dia tawarkan pekerjaan.


Aku menjadi admin di perusahaan batik milik Liana. Liana sebagai bos menjadikan karyawannya seperti sahabat. Bahkan Liana diperlakukan seperti Ratu Inggris yang begitu dihormati. Hanya saja Liana saat itu belum juga memiliki suami. Aku tahu ada orang di kantor yang menyukai Liana tapi Liana hanya menganggapnya sebagai tim saja. Aku dulu begitu terobsesi untuk menaklukkan hati Liana karena ingin menguasai harta Liana.


Aku sudah lelah terus menerus menjadi miskin. Aku pun memutuskan untuk mendekati Liana. Apapun yang diperintahkan Liana, aku lakukan dengan sempurna. Aku mencari tahu semua hal yang disukai Liana. Aku memberikan hadiah bunga Lili putih di kantornya setiap hari tanpa ada nama pemberi bunga selama setahun.


"Bram, benarkah kau yang melakukan ini selama satu tahun? Mengirimkan bunga Lili putih ini." Tanya Liana sambil menunjuk telunjuknya ke Bunga Lili putih di mejanya.


"Iya Direktur Utama." Jawabku sambil menundukkan kepala.


"Terimakasih ya Bram. Saya sangat menyukai bunga Lili putih. Sejak ada bunga Lili putih itu saya sangat bahagia dan itu semua membuat saya semangat bekerja. Bagaimana kamu tahu kalau saya menyukai bunga Lili putih?" Tanya Liana dengan mata penasarannya.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan memberikan Liana rasa penasaran yang lebih besar.


***


Fardhany


22:17 WIB


Rabu, 18 September 2019


Cigaru Bersyukur


__ADS_1


__ADS_2