Wanita Masa Lalu Suamiku

Wanita Masa Lalu Suamiku
Episode 19 Tanda Tangan


__ADS_3

"Eh.... Umm.... Sebentar dok, saya sedang baca surat persetujuan operasinya." Bram pura-pura membaca untuk mengulur waktu.


"Sudah cepat tanda tangani saja!" Dokter itu semakin geram.


"Iya dok sebentar." Bram pura-pura hendak menandatangani dan sengaja menjatuhkan pulpen di tangannya untuk mengulur waktu.


"Huft....! Cepat pak ditandatangani! Pasien dalam bahaya. Apa saya harus mengoperasinya tanpa surat persetujuan operasi Anda?!" Dengus kesal sang dokter melihat ulah Bram dan jiwa kemanusiaannya membuncah.


Bram masih mencari-cari pulpen yang terjatuh untuk mengulur waktu agar Liana tak terselamatkan. Tentu saja Bram menahan senyumnya. Sebenarnya Bram ingin sekali tertawa terbahak-bahak dengan kemenangannya dan mempermainkan nyawa Liana.


"Biar saya yang tanda tangan surat persetujuan operasi. Saya ayah Liana." Tiba-tiba pak Rudyanto ada di samping dokter dengan membawa pulpen. Serta merta surat di tangan Bram dirampas oleh pak Rudyanto.


"Sreeet! Sreeet! Ini pak suratnya." Pak Rudyanto menyerahkan ke dokter.


Dokter segera berlari ke ruang operasi dan memulai melakukan operasi. Sementara itu Bram membeku dalam diam tak berkutik melihat ayah Liana ada di dekatnya. Dewi Fortuna tak lagi berpihak padanya. Degup jantung Bram berdegup tak karuan. Bram mati kutu.


"Kamu suami Liana?" Tanya pak Rudyanto datar.


"I....I.... Iya...." Bram terbata ada desir ketakutan yang merambat di darahnya. Bram merasakan aura ayah Liana bukanlah orang biasa.


"Bagaimana kejadiannya sampai anakku ditusuk orang?" Tanya pak Rudyanto penuh selidik.

__ADS_1


"Saya tidak tahu pasti. Kejadiannya sangat cepat. Saya juga sempat diserang oleh orang bertopeng itu saat mau menyelamatkan Liana." Ujar Bram seraya memegang lengan kirinya yang terluka memakai perban untuk menunjukkan bahwa Bram juga korban.


"Apa Liana punya musuh?" Kening pak Rudyanto mengernyit memikirkan segala kemungkinan motif pelaku penusukan pisau pada perut anaknya.


"Saya kurang tahu pastinya. Tapi mungkin saja ada musuh. Mengingat Liana begitu sukses membesarkan sayap bisnis Batiknya. Mungkin saja ada kompetitor yang tidak suka hingga ingin menghabisi nyawa Liana." Ujar Bram sebisa mungkin memberikan jawaban yang masuk akal agar dia tidak dicurigai sebagai pelakunya.


"Hmmm.... Tadi pak Satpam sudah menghubungi polisi setempat. Kamu juga nanti akan dimintai keterangan oleh polisi karena kamu berada di tempat kejadian perkara." Ujar pak Rudyanto sambil duduk di kursi tunggu ruangan operasi.


Sementara itu di dalam ruang operasi.


"Suntik pasien dengan bius." Ujar dokter pemimpin operasi Liana.


Obat bius disuntikkan ke tubuh Liana.


Tim dokter yang menjadi pengawas di luar kaca operasi segera menghubungi pak Rudyanto dan Bram untuk melakukan donor darah. Keduanya dicek golongan darahnya, namun hanya pak Rudyanto yang cocok dengan darah Liana. Beruntung pak Rudyanto segera datang ke rumah sakit.


"Pisau bedah." Ucap pemimpin operasi.


Salah satu tim operasi memberikan pisau bedah. Perut Liana perlahan-lahan dibedah mengunakan pisau bedah yang berukuran kecil. Beberapa saat darah segar mengalir. Pisau yang menancap di tubuh Liana pelan-pelan dicabut.


"Serangan jantung! Segera lakukan CPR" Pemimpin operasi memberikan interuksinya pada timnya sementara ia mengambil pisau di dalam perut Liana.

__ADS_1


"Tet! Tet! Tet!" Suara sirene penanda serangan jantung berbunyi meraung-raung.


Tim dokter operasi mulai panik.


"Ayolah kembali normal..." Semua tim dokter berdoa dalam kepanikan.


Selang beberapa menit serangan jantung mereda dan tim dokter bernafas lega.


"Selamat pak, anak bapak selamat dari maut. Namun, sayang sekali pasien koma." Ujar pemimpin dokter operasi mengabarkan pada keluarga Liana di pintu keluar operasi.


#ShareBoleh


#NoCopas


Silahkan tinggalkan jejak komentar kritik, saran dan vote untuk keberlangsungan karya ini.


Salam cinta Allah


Fardhany


11:11 WIB

__ADS_1


Sabtu, 11 April 2020


Cigaru Bersyukur


__ADS_2