
"Mas kamu nginep di rumah kan?" Tanyaku sambil membereskan Lego yang berserakan di lantai ruang keluarga.
"Ya, malam ini aku ingin bersama Ara. Sudah lama aku nggak ngelonin Ara." Ucap suamiku sembari mengayunkan badan Ara ke atas, sementara Ara tertawa kegirangan.
"Iya mas, Ara sering panggil-panggil kamu. Dia sangat kangen kamu mas." Ujarku menatap Ara yang sedang riang bermain bersama ayahnya.
"Iya, aku tahu. Maafkan papa ya Ara." Bram mengecup pipi Ara.
"Pa...pa.. pa....ma....ma...ma.... Sayang papa. Sayang mama..." Oceh Ara lucu.
Ara terus menerus mengoceh sayang papa mama. Ara tertawa terbahak-bahak tiap kali ayahnya melemparkan Ara ke langit lalu menangkapnya. Binar mata Ara memancarkan cahaya seterang bintang di musim kemarau. Ara minta ayahnya lagi dan lagi melemparnya ke langit.
"Aku harap kita bisa seperti dulu lagi mas." Ucapku.
Suamiku terdiam. Entah apa yang suamiku pikirkan. Suamiku seperti menghindariku. Suamiku menjauhiku dan mengajak Ara bermain di kolam ikan. Mungkin saja suamiku menghindariku karena kejadian di kantor tadi pagi. Ah biar saja. Biar dia tahu rasa.
***
Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan detektif R di sebuah cafe.
__ADS_1
"Sudah kau dapatkan apa yang aku minta?"
"Sudah bu. Ternyata cukup sulit mendapatkannya. Saya hanya menemukan ini."
Aku segera membuka amplop coklat yang diberikan detektif R. Aku melihat foto-foto lama seorang anak kecil. Aku sangat terkejut. Aku terus melihat foto itu. Aku tak menyangka dengan apa yang kulihat. Foto itu wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang telah lama aku rindukan. Aku seperti masuk dalam pusaran air laut yang kencang. Kepalaku berputar-putar dan keringat dingin mengucur.
"Ibu baik-baik saja?" tanya detektif R.Β
"Detektif R dapat semua informasi ini dari mana?" Tanyaku sambil mengusap keringat dingin.
"Saya mencari latar belakangnya mulai dari mengikuti Fira dan menemukan rumahnya. Saya bertanya kepada tetangga sebelah rumah Fira. Saya berhasil bertamu ke rumah Fira hingga bisa mengambil beberapa foto yang dipajang orangtuanya di dinding ruang tamu."
"Ini bu alamatnya."
"Okay detektif R, terimakasih atas bantuannya. Saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Terimakasih juga sudah menggunakan jasa saya."
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah aku kembali membuka berkas itu dan memandang foto di dalam amplop coklat.
"Apa benar Fira adik kandungku? Kenapa mas Bram bisa menyukai Fira lagi setelah menikahiku?" Batinku.
Jika berkas ini benar, berarti adik kandung yang telah lama aku rindukan ternyata justru wanita yang telah merebut kebahagiaan rumah tanggaku. Mataku berkaca-kaca menahan air mata yang hendak mengalir dari kelopak mata coklat yang menawan.
"Besok akan aku coba pastikan lagi, apakah benar Fira adik kandungku?!" Batinku
"Siapa sebenarnya Fira itu? Kenapa di rumah Fira ada foto ini?" Gumamku berpikir mencari sesuatu yang mungkin untuk menjawab pertanyaanku.
"Aku harus mengecek sendiri ke rumah orangtuanya Fira. Aku akan pergi ke alamat ini." Ucapku sambil mengambil kunci sepeda motor di laci.
Aku memanaskan sepeda motor. Aku ketikkan alamat di Google Map. Lokasi alamat dekat dengan pantai Logending. Google Map aku setting di alamat pantai Logending. Sepeda motorku melaju kencang sekencang detak jantungku yang penuh penasaran tentang siapa Fira.
***
Tertarik meminang hijabnya hubungi WhatsApp 081227298941
__ADS_1