Wanita Masa Lalu Suamiku

Wanita Masa Lalu Suamiku
Episode 16 Lili Putih


__ADS_3

Melalui bunga Lili putih perlahan tetapi pasti kedekatan aku dan Liana terjalin dengan indah. Setiap selesai rapat Liana selalu mengajakku berbincang.


Aku ingin segera mengambil hati Liana. Aku tahu persis sainganku di kantor banyak, banyak yang jatuh hati pada Liana. Entah itu karena kekayaannya yang melimpah, kecantikannya, maupun terpesona dengan kebaikan hati Liana yang memukau dan menarik hati.


Kini aku mencoba membuat surat-surat kecil berisi kata-kata semangat yang kuletakan di tangkai bunga Lili putih. Aku dengar dari rekan kantor kalau Bu Direktur Liana sangat menyukai membaca karya sastra. Buku-buku di kantornya penuh dengan buku koleksi karya sastra dan buku bisnis. Tentu saja Liana pasti menyukai kata-kata penyemangat yang akan aku kirimkan di bunga Lili putih.


"Teruslah menjadi wanita dengan hati putih seputih bunga Lili ini." Tulisku di secarik kertas yang kusematkan di bunga Lili putih saat meletakkannya di kantornya.


"Pak Bram, terimakasih ya hadiahnya dan kata-kata penyemangatnya." Ucap Liana menghampiriku saat istirahat makan siang di kantin kantor.


"Iya Bu, semoga ibu suka dengan hadiah kecil saya." Ucapku tersenyum.


"Bapak sudah makan?" Tanya Liana.


"Ini baru mau mengambil piring Bu." Ucapku hendak menuju tempat piring.


"Mari kita makan bersama pak." Ajak Liana.

__ADS_1


"Boleh bu." Ucapku tersenyum.


Setiap hari kedekatan kita berubah semakin dekat. Kita berbincang layaknya sahabat, bukan sebagai atasan dan bawahan lagi. Obrolan yang Liana perbincangkan seputar bisnis. Aku hanya menjadi pendengar setia saja. Liana juga mengajak karyawan lain untuk makan bersamanya. Suasana kekeluargaan di perusahaan ini terasa kental.


Suatu ketika aku coba mengetes perasaan Liana dengan tak mengirimkan bunga Lili putih. Aku ingin tahu bagaimana respon dia. Tiba-tiba saat makan siang Liana mendekatiku.


"Pak Bram tumben tidak mengirimkan bunga Lili putih lagi, kenapa? Apa tokonya tutup?" Ucapnya tersenyum.


"Enggak Bu, saya lupa. Belakangan ini saya begitu sibuk. Maafkan saya Bu. Apa ibu merindukan bunga Lili putih dari saya?" Tanyaku.


"Hmmm... Bagaimana ya...? Serasa ada yang kurang saja di kantorku. Sudah setahun ini kamu selalu mengirimkan bunga Lili putih, tiba-tiba aroma itu hilang rasanya ada yang aneh." Ucapnya tersenyum dengan rona merah di wajahnya.


"Eh pak, saya enggak minta loh!" Sergah Liana.


"Saya suka kok Bu melihat ibu bahagia menikmati bunga Lili putih pemberian saya." Ucapku tersenyum.


"Wah bapak bisa saja. Saya pamit dulu ya mau kembali ke kantor saya, masih banyak yang harus saya lakukan." Ucap Liana sambil berlalu meninggalkanku.

__ADS_1


"Aha! Aku berhasil mengambil hatinya diam-diam." Teriakku dalam hati.


"Tetap semangat berbuat kebaikan seperti semangat mekarnya bunga Lili putih." Hari kedua aku menuliskan lagi kata-kata indah di selembar kertas kecil ini untuk kusematkan di bunga Lili putih.


Aku tahu hati wanita itu bagaikan bunga yang lembut. Ketika aku mendekatinya dengan hati-hati dan penuh kelembutan, wanita itu dengan sendirinya akan merasakan kenyamanan berada di dekatku. Tinggal menunggu waktu saja wanita itu akan menyerahkan hatinya secara sukarela.


"Bunga Lili putih ini melambangkan kesucian hatimu." Hari ketika aku menuliskan lagi di selembar kertas kecil, namun kali ini kertas itu aku berikan parfum aromaterapi kesukaan Liana.


***


Fardhany


17:42 WIB


Senin, 23 September 2019


Cigaru Bersyukur

__ADS_1



__ADS_2