Wanita Masa Lalu Suamiku

Wanita Masa Lalu Suamiku
Episode 17 Kertas


__ADS_3

"Shock!" Aliran listrik menyambar jantungku.


Sama seperti ketika pagi hari aku menemukan tumpukan kertas berbentuk hati di bunga Lili. Aku buka satu persatu kertas itu, kata-kata itu benar-benar mengagetkan jantungku seperti tersambar listrik.


"Keindahan bunga Lili putih mewakili keindahan dirimu." Aku membaca tulisan itu dengan hati berdebar-debar lalu aku balikkan kertas lagi ada tulisan lanjutan.


"Bu Liana, pertemuan kita sepertinya sebuah takdir. Hadirmu bagiku seperti seorang malaikat yang menaungkan sayapnya padaku." Aku buka lagi kertas itu.


"Bunga-bunga Lili putih ini mewakili diriku. Melalui bunga Lili putih ini, aku ingin mengenalmu lebih dekat." Jantungku semakin berdebar-debar kencang saat membalikkan kertas.


"Aku tak bisa memberikan dirimu kekayaan, aku hanya bisa memberikan hatiku. Maukah engkau menerima hatiku ini untuk menjadi pendamping hidupmu?" Wajahku merona merah seketika dan jantungku seolah-olah berhenti berdetak.


Pak Bram menyatakan perasaannya padaku dan melamarku. Aku bingung dengan perasaanku saat ini. Melihat tulisan ini membuatku melayang ke atas langit ke tujuh. Tanpa kusadari. Perlahan tetapi pasti, pak Bram telah mengambil hatiku dengan sangat lembutnya.


Selama ini tak pernah ada laki-laki yang bisa menyentuh hatiku begitu lembutnya. Aku tersihir oleh kata-kata dari pak Bram yang dikirimkan melalui bunga Lili putih. Namun, aku sungguh-sungguh tak percaya, pak Bram berani menyatakan perasaannya padaku.


Seharian ini aku tak bisa fokus untuk bekerja. Melihat bunga Lili dan kertas-kertas itu membuatku berpikir jauh ke depan. Apakah aku akan menerima lamarannya? Aku tak berani menunjukkan wajahku pada pak Bram. Aku masih berpikir untuk menerimanya ataukah menolaknya. Meskipun sebenarnya hatiku berkata iya, namun aku tak yakin.


Aku mencoba mengesampingkan semua gejolak jiwa ini. Tumpukan berkas-berkas pekerjaanku harus aku selesaikan. Tak terasa aku bekerja hingga malam. Kantorku terasa sunyi, mungkin semua orang kantor sudah pulang. Tiba-tiba,

__ADS_1


"Tok! Tok! Tok!" Pintu kantorku diketuk oleh seseorang.


"Masuk." Ucapku pelan sambil menatap layar laptopku.


"Bu Liana maafkan saya, saya mau bertanya jawaban ibu." Tanya Bram.


"Hmmm... Bagaimana ya Bram?" Jawabku bingung.


"Bagaimana apanya Bu?" tanya pak Bram.


"Apa kamu serius dengan apa yang kamu lakukan ini?" Tanyaku.


"Saya serius. Saya benar-benar ingin mempersunting ibu menjadi istri saya. Apakah saya harus berlutut seperti ini. Bu Liana, maukah engkau menikah bersamaku?" Jawab Bram sambil berlutut.


"Baiklah, saya akan segera datang ke rumah orangtuanya ibu Liana untuk melamar ibu Liana." Teriak Bram kegirangan.


"Hust! Jari telunjukku menyentuh bibir memberikan isyarat agar dia bicara pelan-pelan.


"Saya sangat senang ibu Liana memberikan kesempatan ini pada saya." Ucap Bram.

__ADS_1


"Seperti katamu, mungkin pertemuan kita adalah sebuah takdir." Jawabku sambil tersenyum.


"Iya takdir yang indah." Ucap Bram sambil tersenyum.


"Sekarang sudah malam, sebaiknya kita pulang. Saya juga sudah lelah." Ucapku sambil membereskan berkas-berkas di meja dan mematikan laptop.


"Apakah saya boleh mengantarkan ibu pulang?" Tanya Bram.


"Maaf pak Bram, kita belum halal. Sebaiknya kita tak bersama sebelum halal." Ucapku.


"Baiklah saya akan sabar menunggu saat dimana kita sudah halal." Jawab Bram.


***


Fardhany


06:49 WIB


Selasa, 01 Oktober 2019

__ADS_1


Cigaru Bersyukur



__ADS_2