
Perjalanan yang kutempuh sekitar 1 jam 30 menit dari pantai Teluk Penyu Kabupaten Cilacap menuju pantai Logending Kabupaten Kebumen. Aku menikmati perjalanan ini. Sepanjang perjalanan pagi ini, aku mengendarai sepeda motorku sendirian dan menikmati hamparan lukisan alam yang indah. Suara deburan ombak pantai Logending menyambutku, memberi irama nada alam yang syahdu diantara suara kendaraan yang lalu lalang.
Tepat pukul 08.00 WIB aku tiba di lokasi wisata Pantai Logending. Rumah orangtua Fira yang akan aku kunjungi sudah dekat. Aku mematikan mesin sepeda motorku. Aku turun dari sepeda motorku. Aku memarkirkan sepeda motorku. Aku bertanya pada penduduk lokal.
"Nuwun sewu pak. Kulo badhe tanglet, alamatipun niki pundi nggih?" (Permisi pak. Saya mau tanya, alamat ini mana ya?) Tanyaku sembari menyodorkan sebuah kertas yang berisi alamat rumah orangtua Fira.
"Oh pak Rudyanto. Niku mbak, lurus mawon ngetan 100 meter. Mêngke onten Gapura abang, mlebet mawon." (Oh pak Rudyanto. Itu mbak lurus terus ke timur 100 meter. Nanti ada Gapura merah, masuk aja)
Cukup banyak orang di jalan kutanya. Ternyata cukup mudah mencari alamat rumah Bapak Rudyanto. Beliau seorang mantan Laksamana Angkatan Laut. Wajar saja beliau ini begitu mudah dicari.
Aku membelokkan sepeda motorku di Gapura Merah. Ada orang dipinggir jalan. Aku turun dan menanyakan alamat lagi.
"Nuwun sewu bu, niku bener griyonipun pak Rudyanto?" (Permisi Bu, itu bener rumahnya pak Rudyanto?)
"Njih leres." (Ya benar.)
Aku memarkirkan sepeda motorku di halaman rumahnya. Aku menuju pintu rumah.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Ucapku sembari mengetuk pintu rumah berwarna coklat tua yang terbuat dari kayu Jati.
"Pintu rumah yang cantik dengan ukiran indah khas Jepara." Gumamku.
Daun pintu berderit perlahan. Bunyi gesekan daun pintu dengan lantai yang nyaring terdengar diantara desau angin kemarau bulan September.
Nampak menyembul tangan berkulit coklat keriput sedang menarik daun pintu. Muncullah sosok laki-laki bertubuh kurus, berjalan tegap, jangkung dengan rambut putihnya yang mendominasi menyemburat diantara rambut hitamnya.
"Cari siapa?" tanya lelaki berambut putih, suaranya berat.
"Apa benar ini rumahnya bapak Rudyanto?"
"Maaf pak, saya Liana, pengusaha batik dari Cilacap. Bolehkah saya bertamu?"
"Pengusaha batik? Cilacapnya mana nak?" Seketika mendengar kata Cilacap membuat pak Rudyanto tertarik.
"Cilacapnya dekat Teluk Penyu pak." Jawabku sembari tersenyum tulus.
__ADS_1
"Silahkan nak Liana masuk." Ucap Pak Rudyanto ramah.
Aku duduk di atas kursi kayu jati dengan ukiran Jepara. Ruang tamu berukuran 2x3 meter ini nampak etnik dengan kursi 4 buah yang terbuat dari kayu jati. Aku duduk berhadapan dengan pak Rudyanto.
"Nak ini...se...per...ti su...dah saya kenal sebelumnya, tapi lihat dimana ya. Mohon maaf, boleh saya tahu nama ibu dari nak Liana?" Tanya pak Rudyanto dengan nada terbata tak sabar.
"Nama ibu saya Azqiya Saphyra." Jawabku sembari memperlihatkan senyum bibir mungilnya.
Seketika pak Rudyanto menitikan air mata yang begitu deras hingga tak terbendung di kelopak matanya yang mulai mengeriput.
"Loh kok pak Rudyanto nangis?" Batinku kaget melihat lelaki seorang angkatan laut yang sampai bisa menitikkan air mata sebegitu deras. Pasti ada beban berat di pundaknya.
***
Buku ini salah satu referensi dari novel ini.
Mau meminang bukunya dan dapatkan 11 bonus luar biasa bermanfaat hubungi WA 081227298941
__ADS_1