
#Cuap-cuap author
Hai pembaca WMS gimana kabarnya? Semoga selalu dalam kasih sayang Allah, ^_^
Maaf ya kalau updatenya lama. Aku memikirkan cerita ini mau dibawa kemana biar seru dan pembaca puas. Jadi berkali-kali aku ubah ide-ide cerita di otakku untuk episode ini. Semoga pembaca suka, ^_^
Selain itu yang bikin lama karena ternyata aku baru melahirkan anak kedua ^_^ Badan kadang ga bisa dikompromi, penginnya istirahat karena ngurus dua balita yang jarak usianya berdekatan.
Oh ya, sedikit bocoran nih. Kalo ada pembaca yang jeli di episode sebelumnya ada latar yang diubah. Coba inget-inget ada yang ganjal ga? Yup, latar yang awalnya konflik di Aceh, eh di paragraf selanjutnya kok di Papua, hehehe ^_^
Begini ceritanya, awalnya aku memang mau buat latar konfliknya di Aceh. Tapi, tiba-tiba berubah pikiran. Karena apa? Karena Aceh sering dipakai latar novel dan aku pengin mengenalkan lokasi lain di Indonesia, ^_^
Okay, udah dulu cuap-cuapnya. Kurang lebihnya dan kalau aku ada salah atau khilaf, aku minta maaf ya, ^_^
Salam hangat
Fardhany
----------------
Review episode
Akankah Liana selamat dari tusukkan pisau Bram yang murka karena tak bisa lagi menguasai harta Liana?
#Lanjutannya
__ADS_1
Ambulan berbelok masuk ke rumah sakit. Petugas ambulan memasukkan Liana ke ruang IGD. Beberapa dokter di ruang IGD segera berlari memeriksa luka Liana.
"Segera operasi!" intruksi salah satu dokter ke dokter lain setelah memeriksa luka Liana. Pasien harus segera dioperasi. Kalau pasien tidak segera dioperasi keselamatannya terancam. Apa bapak keluarganya?" Tanya dokter pada Bram.
"Saya suaminya dok. Bagaimana dok?" tanya Bram.
"Kalau begitu tolong segera bapak mengurus persyaratan dokumen pasien ya pak untuk menyetujui operasi. Tolong cepat ya pak. Kondisi pasien kritis! Pasien harus segera dioperasi. Kalau pasien tidak segera dioperasi keselamatan pasien terancam!" Ucap dokter.
Bram terdiam saat membaca dokumen persyaratan operasi Liana. Bram sengaja mengulur waktu agar Liana tak tertolong. Bram tersenyum.
"Sekarang hidup dan matimu Liana berada di selembar kertas yang ada di tanganku." Bram bersenandika tersenyum penuh kemenangan.
Sementara dari rumah Liana, pak Satpam menghubungi pak Rudyanto.
"Iya benar ini saya. Maaf ini siapa ya?" Tanya pak Rudyanto heran karena ada panggilan dari nomor tak dikenal.
Ini saya satpam Bu Liana, anaknya pak Rudyanto. Bapak dimana sekarang? Anak bapak sekarang di IGD karena perutnya kena tusukan pisau entah oleh siapa. Bapak tolong segera ke rumah sakit umum Cilacap. Sepertinya Bu Liana tadi kehabisan darah banyak dan perlu transfusi darah untuk memperlancar operasi anak bapak." Ujar pak Satpam menjelaskan tujuannya menelpon pak Rudyanto.
"Saya segera ke rumah sakit." ucap pak Rudyanto seraya berlari mengambil kunci mobil di mejanya.
Pak Rudyanto benar-benar gugup dan melajukan mobilnya sangat kencang seperti pembalap. Entah kenapa desiran firasat di hatinya bertalu-talu menandakan alarm anak perempuannya ada dalam ujung maut. Berkali-kali pak Rudyanto menyalip beberapa kendaraan di depannya dan mengklaksonnya.
Sementara itu di rumah sakit Bram masih mengulur waktu sambil tersenyum penuh kemenangan hingga tiba-tiba dokter mengagetkan Bram.
"Pak buruan tanda tangani surat persetujuan operasi. Istri bapak sudah diujung maut!" Sentak seorang dokter laki-laki yang melihat Bram belum juga memberikan berkas persetujuan operasi.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG
Akankah Liana bisa dioperasi tepat waktu?
***
NB: Percakapan ada yang aku tambahkan agar lebih detail dan bisa kebayang oleh pembaca.
#ShareBoleh
#NoCopas
Silahkan tinggalkan jejak komentar kritik dan saran untuk kelanjutan dan perbaikan karya ini :)
Salam cinta Allah
Fardhany
11:59 WIB
Jumat, 10 April 2020
Cigaru Bersyukur
__ADS_1