
"Mas, mas tak menghianatiku kan?!" Suara gigi-gigiku bergetar hebat menahan gejolak amarah.
"Liana, maafkan mas. Semenjak aku bertemu dengan Fira di acara reuni. Jujur kami seolah ditarik kembali ke masalalu kita dulu. Fira gadis yang ingin aku nikahi dulu. Hanya saja ibunya tak menyetujuinya. Aku tak berniat menghianatimu Liana. Sungguh semua itu di luar kendaliku. Aku tak kuasa menolak gejolak cinta lama bersemi kembali. Aku selalu terngiang wajah Fira, bahkan ketika aku bersamamu. Maafkan aku istriku. Maafkan atas kelemahan aku." Ujar suamiku sambil memelukku.
"Mas, jadi benar kamu telah berselingkuh?!" Ujarku terisak sementara air mataku menetes terus.
"Aku tak pernah bertemu Fira lagi. Kita hanya chatting di WhatsApp. Tak terasa cintaku padanya belum padam. Dia masih menungguku sampai sekarang. Meski Fira tahu, aku telah memperistrimu. Fira tak keberatan jika dia menjadi istri keduaku." Ujar Bram sambil menciumi pipiku yang basah air mata.
"Mas, kau ingin menduakanku, kau ingin poligami mas?! Apa salahku mas selama ini?! Apa aku kurang baik melayanimu?!"
"Liana sayang.... Bukan salahmu. Sama sekali bukan salahmu sayang. Fira tiba-tiba kembali dalam hidupku setelah lama kita tak pernah saling bertemu juga berkomunikasi. Jujur Fira adalah cinta pertamaku yang kandas karena ibunya Fira tak merestuiku menikahinya." Suamiku terus menciumi pipiku sambil memelukku lembut.
"Mas... Aku pernah bilang kan, jika mas ingin poligami, aku mengijinkan. Tapi, mas caranya nggak kayak ini. Mas bermain di belakangku. Mas menghianati kepercayaan aku. Mas membuatku tak percaya lagi dengan perkataan mas. Kenapa mas lakuin ini?!" Teriakku mendidih.
"Aku sebenarnya sudah sebulan ini ingin mengatakan padamu jika aku kembali dekat dengan seorang wanita. Wanita di masalaluku. Aku kembali mencintainya. Aku kembali ingin menikahinya. Maafkan aku sayang, aku tak bermaksud menyakitimu sama sekali. Aku minta maaf ya... Sayangku..."
"Tapi, mas...!"
Tiba-tiba mulutku sudah dibungkam dengan mulutnya. Suamiku mencium bibirku. Aku gigit bibir dia. Aku masih marah. Namun, suamiku terus saja menciumiku begitu ganasnya. Aku menyerah. Energiku sudah habis ketika menangis. Aku tak kuasa menolaknya. Entah kenapa aku begitu marah namun, di saat yang sama, aku juga menikmati ciuman itu. Sungguh mengesalkan!
Amarahku mereda. Sungguh mengesalkan ciuman dia bisa membuatku tenang. Dia sungguh tahu cara mendiamkan aku.
__ADS_1
***
Lima belas menit kemudian.
"Mas, baiklah... Aku setuju kau menikah lagi. Silahkan pilih jalan yang kau sukai dan aku juga pilih jalanku. Silahkan kau ijin dengan ibu bapakku untuk menikah lagi. Aku pun punya syarat, aku tak ingin serumah dengan istri barumu ataupun menghadiri pernikahan kalian. Jika akhirnya kita bercerai, hak asuh Ara anak kita, jatuh padaku."
"Baiklah Liana, aku setuju." Suamiku tersenyum.
"Aku juga menginginkan mas Bram bisa adil jika berpoligami."
"Aku akan berusaha adil Liana."
"Baiklah akan aku ikuti permintaan kamu. Maafkan aku Liana. Aku tak berniat menyakitimu. Kamu tahu itu." Bisik Bram sambil memelukku menciumi pipiku lagi
"Sudahlah mas, aku lebih menyukai mas poligami. Meskipun itu menyakitkan buatku. Tapi itu lebih baik daripada mas selingkuh di belakangku. Meskipun mas hanya chatting, tetap saja buatku terluka mas."
"Maafkan aku Liana, aku tak jujur sejak awal. Aku sudah berusaha mencintaimu, tapi tak kusangka jika cinta lamaku kembali mengganguku. Aku sayang kamu Liana."
"Sudahlah mas Bram. Tolong tinggalkan aku sendiri di kamar ini. Aku ingin sendiri, silahkan mas tidur di ruang tamu. Melihatmu menghianati kepercayaanku, membuatku semakin terluka." Aku melepaskan pelukan Bram.
"Maafkan aku, Liana sayang..."
__ADS_1
Bram hendak memeluk mencium bibirku lagi. Aku menghindar.
"Pergi mas ke kamar sebelah! Kumohon pergilah...!" Teriakku sambil menangis.
***
#ShareBoleh
#NoCopas
Silahkan tinggalkan jejak komentar kritik saran dan vote untuk mendukung keberlangsungan karya ini.
Salam cinta Allah
Fardhany
***
Ingin meminang bajunya hubungi WhatsApp 081227298941
__ADS_1